Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 33:


__ADS_3

...Happy reading 🥰.......


Aku terus memperhatikan sekitar, berjaga-jaga dari segala


kemungkinan. Saat ini kami berdua berhasil kabur dari jangkauan Alvero tapi tetap saja itu bukanlah hal yang bagus.


Sudah berbagai cara dilakukan untuk bisa keluar dari istana ini tapi sialnya penjagaan nya terlalu ketat sehingga mustahil bagiku untuk bisa keluar.


Ditambah lagi keadaan Tama yang sekarang semakin mempersulit rencana untuk meloloskan diri dari tempat ini. Aku menghela napas panjang berusaha untuk tetap tenang. Tidak masalah, apapun yang terjadi aku pasti bisa menemukan solusi dari semua masalah ini.


Ku hampiri Tama disaat mana di dalam tubuhku sudah cukup. Aku bisa saja langsung menyembuhkan Tama dengan teknik penyembuhan tapi aku tidak bisa melakukannya. Karena aku harus menyimpan banyak mana, berjaga-jaga dari situasi terburuk.


"Kamu tidak perlu repot-repot menyembuhkan ku. Aku bisa sembuh dengan sendirinya." ujar Tama.


Ha!


Ingin sekali aku tertawa saat mendengar apa yang dia katakan. Langsung saja tanpa belas kasihan aku menarik tangannya.


"Ahkkk sakit!" teriak Tama saat merasakan sakit akibat tangannya yang kutarik.


Aku tersenyum sinis. "Tidak perlu berpura-pura kuat di depanku. Lihatlah, padahal aku hanya menarik tangan mu dan kau sudah berteriak kesakitan seperti itu. Coba bayangkan saja jika tiba-tiba Alvero dan Sagarantana tiba tiba muncul dan langsung menyerang. Mungkin kau bisa langsung mati di tempat." Ocehku.


Mendengar ocehan ku Tama hanya bisa cengengesan. Aku yang melihatnya hanya bisa menatap nya dengan gemas. "Dasar tukang merepotkan!"


Aku memegang tangan Tama dan memfokuskan seluruh aliran mana dan langsung mengirimkan nya kepada Tama. Sebuah tulisan mantra Yunani kuno pun tertulis di seluruh tubuhnya diikuti dengan cahaya putih.


Dan tidak lama kemudian luka ditubuhnya menghilang. Aku pun membuka mata.


Tapi...


"Eh?" aku terdiam mematung tidak tahu harus berbuat apa. Wajahku seketika dibuat merah merona. Jantungku berdetak tidak karuan. Saat ini wajah kami berdua terlalu dekat. "Apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan nada yang setenang mungkin walau berbanding terbalik dengan jantungku.


Dan karena hal itu pun aku membatin. "Oh, ayolah...saat ini jantungku dan pikiran tidak bisa diajak kompromi"


Aku memejamkan mata, saat ini pikiran nakal tiba-tiba saja bermunculan.


"Aww!" aku meringis merasa sakit sembari mengusap pelan keningku.


Dan Tama hanya bisa tertawa kecil saat melihat ekspresi malu ku. "Dasar cabullll!" protes ku tidak terima saat Tama justru mengerjai ku.


Dan Tama hanya menggelengkan kepala melihat wajahnya ku yang sudah semakin memerah.


Aku pun yang merasa malu hanya bisa menutup muka menutupi wajahku yang sudah merah merona bagaikan tomat.


Sambil tertawa Tama berkata, "Kamu yang mesum. Aku tahu kamu baru saja berpikiran nakal tentang ku. Jangan berbohong, ekspresi mu sudah menggambarkan nya dengan jelas."

__ADS_1


Aku yang mendengar nya hanya bisa tersenyum malu. "Memangnya kenapa! kamu sendiri yang bertingkah aneh. Tentu saja aku langsung berpikiran yang tidak-tidak!" jawabku.


Aku tahu ini memalukan, tapi tetap saja aku tidak bisa mengelak. Karena Tama justru akan semakin menggoda ku. Dan daripada aku semakin merasa malu lebih baik ku akui saja.


Tapi sayangnya suasana nyaman ini tidak bertahan lama. Karena dengan cepat suasananya langsung berubah tak kala Tama berbicara serius denganku.


Dia berkata, "Sebelumnya aku minta maaf karena diriku kamu mengalami kesulitan. Tapi disisi lain aku juga merasa senang, karena kini kamu sudah mengalami banyak peningkatan yang signifikan. Tapi tetap saja kamu tidak boleh lengah, karena semua yang kamu lakukan akan ada akibatnya."


"Mungkin saat ini akmu belum merasakannya. Tapi dimasa yang akan datang kamu pasti akan mengerti. Oleh karena itu jangan pernah sembarangan menggunakan kekuatan mu kecuali sebagai bentuk perlindungan diri."


"Dan satu hal lagi yang ingin kukatakan. Bahwa apapun yang terjadi jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada orang lain. Aku mengatakan hal ini karena aku mengenal dirimu, Amara."


"Meskipun kita baru saling mengenal satu sama lain tapi aku tahu bahwa kamu adalah orang yang baik dan peduli terhadap orang lain tapi semua itu tertutup oleh gengsi yang kamu miliki. Walaupun kamu licik dan bisa bersikap kejam tapi aku nyakin sekali, suatu hari nanti orang orang akan mengerti alasan kamu melakukannya."


"Karena kamu akan selalu dikelilingi oleh orang baik..." ucap Tama panjang lebar padaku.


Mendengarnya aku hanya bisa tersenyum. Aku melihat Tama yang kini justru terdiam.


Jangan terlalu pede, hanya karena aku menolong mu kamu langsung berasumsi bahwa aku adalah orang baik.


Jika di dunia ini ada Hero dan villain maka aku akan memilih untuk menjadi villain. Apa yang aku lakukan hanya untuk diriku sendiri.


Dan apa yang aku lakukan adalah demi keuntungan ku sendiri. Aku tidak sebaik itu.


Aku adalah seseorang yang bisa melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku adalah aku.


"Amara bersiaplah! sepertinya sebentar lagi kita akan bertarung untuk hidup dan mati!" titah Tama tak kala saat terdengar sebuah suara yang besar yang menggelegar


Dapat ku duga bahwa itu adalah suara dari meriam yang di tembakkan. Dan tidak lama kemudian...


Duar!


Aku dan Tama sontak saja langsung menghindar saat sebuah bola meriam raksasa tiba tiba saja mengarah kepada kami berdua dan seketika tempat persembunyian kami berdua langsung hancur lebur.


Aku sedikit merasa ngilu, bayangkan jika kami berdua telat sepersekian detik saja. Sudah dapat dipastikan tubuh kami tidak berbentuk lagi.


Dan kini terlihat dari seberang sana, Sagarantana sedang tersenyum puas. Dengan tatapan yang merendahkan dia menyuruh para prajurit untuk menyerang kami.


Tidak butuh waktu lama kami berdua langsung diserang habis-habisan oleh bola meriam raksasa.


Aku dan Tama langsung berusaha menghindar tapi sialnya bola meriam yang menyerang terlalu banyak!


Tidak ada cara lain kami harus bertarung.


Flop!

__ADS_1


Aku menghilang dan langsung muncul tepat di hadapan para prajurit dan


Boom!


Aku langsung menyerang mereka semua dengan bola air berisikan petir. Sontak saja tubuh para prajurit langsung bergetar dengan hebat akibat aliran listrik dari bola air ku.


Sementara itu disisi lain Tama juga sedang bertarung dengan hebat. Tanpa belas kasihan Tama langsung mengeluarkan sebuah jurus dimana yang membuat kepala prajurit langsung terpenggal.


Melihat nya aku langsung bergidik ngeri. Sekarang, saat ini istana telah berubah menjadi lautan darah.


Serangan demi serangan terus saja kami berikan tapi tetap saja para prajurit itu justru semakin bertambah banyak.


Aku mengusap keringat peluh di wajahku. Jika ini terus saja terjadi kami berdua akan kalah karena kelelahan. Ditambah lagi kini dari seberang sana yang jauh ribuan bukan!


Melainkan jutaan para prajurit sedang berlari ke arah kami.


Aku menelan ludah melihatnya dan di saat yang sama tiba-tiba saja Garansatana langsung bertindak dengan tangannya sendiri.


Dia langsung menyerang Tama sehingga membuat Tama langsung terhempas ke belakang.


Aku berteriak terkejut tapi karena hal itu membuatku tidak fokus sehingga sebuah bola meriam berhasil menyerang ku.


Untung saja tepat di detik-detik terakhir aku berhasil membuat bola meriam itu hancur jika tidak, mungkin saja saat ini tubuhku yang sudah hancur berkeping-keping.


Tapi kemudian...


"Ahkk!"


Aku berteriak saat Sagarantana juga ikut menyerang ku. Aku langsung terjatuh dan kini pergerakan kami berdua telah dikunci oleh Sagarantana.


Aku bergeliat berusaha untuk melepaskan diri tapi semua itu sia sia.


Tidak ada pilihan lain aku terpaksa melakukan hal itu...


Aku menatap wajah Tama. Seolah mengerti Tama pun mengangguk.


Kami berdua memejamkan mata dan memfokuskan aliran mana kami berdua untuk bersatu. Kini sebuah cahaya gelap keluar dan seketika awan berubah menjadi gelap.


Suaran guntur dan petir terdengar menggelegar di mana mana. Kami membuka mata dan sedetik kemudian kami berhasil mengubah situasi.


Kini kami berdua telah menghilang bersama dengan Sagarantana.


Dan tepat di detik-detik terakhir aku sempat mendengar...


Teriakan demi teriakan terus terdengar. Dan kini mereka semua telah tiada.

__ADS_1


Jutaan prajurit itu telah tiada dengan sia sia...


Bersambung....


__ADS_2