Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 23:


__ADS_3

...Happy reading 🥰......


Aku membuka mata dan berusaha untuk berdiri tapi sialnya aku terlalu lemas. Dengan luka yang memenuhi sekujur tubuhku mustahil bagiku untuk pergi menyelamatkan Tama.


"Maafkan aku Tama, tidak seharusnya aku pergi meninggalkanmu."


Aku memukul mukul dadaku saat merasa sesak di hati. Bayangan saat Tama yang berusaha melindungi diriku dari amukan mereka terekam dengan jelas.


Karena kebodohan ku Tama dibawa pergi. Dan kini, aku sendiri tidak tahu berada dimana sekarang.


"Kamu sudah bangun?" tanya seseorang.


Aku bersiap mengambil ancang-ancang. Walaupun tubuhku penuh dengan luka tapi tidak akan aku biarkan siapapun mendekat!


"Kamu tidak perlu takut. Percayalah aku tidak berniat jahat." ujarnya sambil berusaha mendekati diriku.


Amara: "Sayangnya aku tidak percaya!"


Aku pun akhirnya tetap memaksakan diri untuk bangun dan akibatnya aku terjatuh.


"Hei! sudah kubilang aku bukan orang jahat!"



"Lepas!" bentak ku sambil menatapnya dengan tajam.


"Oke, baiklah aku lepaskan." ujarnya sambil mengangkat tangan.


Aku memperhatikan sekeliling. gelap dan berdebu, lebih tepatnya mirip seperti gudang tidak layak pakai.


"Ini dimana?" tanyaku.


Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mendengar pertanyaan dariku. "Mmm... ini rumahku. Maaf jika buruk." jawabnya.


Aku menghela napas. "Jadi apa mau mu?"


Dia terdiam lalu menatap tubuhku dari atas hingga bawah. "Tidak ada. Tadi aku hanya berniat menolong saat melihat dirimu yang dikejar oleh para warga."


Aku terdiam. "Hanya itu?"


"Ya." jawabnya.


Aku memperhatikan nya dengan seksama. Tidak ada yang aneh dengannya. Dan jika dilihat lihat seperti dia sangat mirip denganku. Hanya saja apa yang dia lakukan disini. Dia benar benar terlihat berbeda dengan mahkluk kebanyakan yang tinggal disini.


"Apa kamu benar asli sini?" tanyaku penasaran.


"Ya. Aku mungkin terlihat berbeda dari mereka semua tapi percayalah aku juga sama sama mahkluk Neo. Hanya saja aku terlahir berbeda dan itu membuat mereka mengasingkan diriku. Bukankah kamu juga sama?"


Aku berbalik. Tentu saja kami berbeda, aku dari Bumi dan dia dari sini, planet Neptunus. Tapi aku tidak bisa memberitahu siapa diriku yang sebenarnya. Lebih baik aku mengiyakan saja.

__ADS_1


"Hmm..." jawabku.


Dia tersenyum. "Jadi apa yang telah kamu perbuat hingga mereka menyerang mu sampai seperti ini." tanya dia.


"Aku hanya berusaha untuk menikmati perayaan tapi sialnya jubahku terlepas dan tahu tahu aku begini." Amara.


Tapi kemudian dia justru malah tertawa. "Wah, kamu nekat sekali. Jika aku jadi kamu lebih baik aku bersembunyi. Mereka sangat tidak suka kepada kaum seperti kita. Kita ini adalah kaum minoritas, jadi jelas kamu akan kalah telak jika berani macam-macam dengan mereka."


Aku hanya bisa terdiam mendengar hal itu. Jadi mereka adalah kelompok mahkluk yang dikucilkan. Tidak mengherankan jika aku diserang seperti itu karena mungkin saja mereka berpikir bahwa aku sama seperti kaum ini.


Tapi tentu saja ini bukanlah alasan yang sebenarnya.


"Jika begitu aku pergi sebentar." Dia.


Aku mengangkat tangan berusaha untuk menggapai tangannya. "Hmm..ada apa?" tanyanya.


"Siapa namamu?" tanyaku.


Dan lagi lagi dia tersenyum. "Namaku adalah Leonard."


"Jika begitu terima kasih, Leonard." ucapku berterimakasih.


Dia terdiam menatapku dengan tatapan mata yang tidak terbaca. "Hmm...sama sama mahkluk Bumi..." Dan setelah mengatakan itu dia pun menghilang.


Aku terdiam mematung. Ternyata dia tahu siapa aku yang sebenarnya...


Di suatu tempat, di istana kerajaan Neo.


"Buka gerbangnya! aku ingin melapor kepada Baginda Sagarantana! " Teriak seseorang dengan sombongnya.


Para prajurit penjaga gerbang pun mengangguk dan membukakan gerbang.


Orang itu pun langsung bergegas dan membungkuk hormat ketika dihadapan dengan sang penguasa Neo. Sagarantana.


"Hamba sudah menangkap Anamra Tamaka sesuai perintah anda yang mulia!"


Yang mulia Sagarantana yang mendengar hal itu pun tersenyum. "Bagus, bagus sekali, kamu memang benar benar bisa diandalkan, Alvero..."


"Tentu saja yang mulia penguasa Neo." jawab Alvero.


Yang mulia Sagarantana pun berdiri dan menatap Alvero. "Jika begitu bawa aku sekarang ke tempat dia berada. Aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajah penghianat itu!" titah yang mulia Sagarantana.


Alvero menunduk hormat. "Tentu saja yang Mulia. Mari hamba antarkan."


Mereka berdua pun pergi untuk menemui Tama tentunya dengan pengawalan yang sangat ketat.


Hingga akhirnya mereka pun tiba di tempat Tama berada.


Terlihat Tama sedang duduk termenung dengan tangan yang terikat borgol khusus.

__ADS_1


"Salam, apa kabar mantan saudaraku." ujar Sagarantana menyapa.


Melihat kedatangan Sagarantana bersama Alvero. Tama pun mengamuk. "Beraninya kamu mengkhianati kepercayaan ku, Alvero!"


Sementara itu Alvero hanya terdiam tidak peduli.


"Astaga apa ini. Jadi dia orang kepercayaan mu Tamaka?" tanya Sagarantana.


Tama yang merasa kesal pun hanya bisa terdiam.


Sagarantana berjalan mendekati Tama. "Bagaimana rasanya menjadi buronan, menyenangkan bukan? dikejar dan diteror oleh rakyat yang selalu kau bela itu."


Tama menggenggam erat tangannya. "Diam!"


Melihat ekspresi wajah Tama membuat Sagarantana semakin senang. Lalu kemudian dia melemparkan sesuatu.


Brak!


Terlihat sebuah jubah berwarna hitam yang sudah tidak berbentuk dengan banyaknya lumuran darah.


Tama menggeliat saat melihat hal itu. Matanya berkilat menandakan rasa amarah yang sudah memuncak. "Beraninya kalian!" bentak Tama.


"Aku sudah mendengar tentang mahkluk bumi itu. Kalau tidak salah namanya adalah Amara, bukan?" Sagarantana.


"Jangan pernah kalian berani berani menyentuhnya!" teriak Tama.


Sementara itu Sagarantana justru semakin kencang tertawa. "Kamu lucu sekali mantan saudaraku. Tapi tenang saja karena sepertinya nasib baik sedang berpihak kepada mahkluk bumi itu. Tapi tentu saja tidak dengan luka yang ada di tubuhnya."


Mendengar semua itu Tama menggedor gedor pagar penjara tapi sialnya penjara itu dilapisi oleh sihir khusus yang justru malah melukai Tama.


"Ahkkk!" rintih Tama yang kesakitan.


Tapi walaupun begitu Tama berusaha bangkit. Dia menatap sahabatnya Alvero orang yang dia percayai. "Kenapa, kenapa Alvero? kenapa kamu mengkhianati ku!"


"Kamu tidak perlu bersikap seperti itu, mantan saudaraku. Lebih baik kamu beristirahat Karena besok adalah hari yang penting bagimu." Sagarantana.


"Apa maksud mu?" Tanya Tama.


Sagarantana tertawa dan menatap Tama. "Karena besok adalah hari dimana aku akan menghisap seluruh mana milikmu!" ujar Sagarantana dengan sombongnya.


"Apa yang telah terjadi, tidak akan pernah aku lupakan, Alvero. Ingatlah bahwa suatu hari nanti aku akan membalas apa yang telah kamu lakukan padaku." ujar Tama dengan mata yang berkilat kilat.


Mendengar hal itu Alvero tersenyum. "Dengan senang hati aku akan menunggu hari dimana kamu membalasnya." jawab Alvero.


Brak!


Gerbang pun ditutup, menyisakan Tama seorang diri yang kini justru sedang tersenyum. "Kamu memang benar benar bisa diandalkan, Alvero..."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2