Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 29:


__ADS_3

...Happy reading 🥰.......


Aku terdiam, menatap mereka yang masih tertidur pulas. "Sepertinya obat itu bekerja dengan baik." aku tersenyum. Tidak ada yang perlu aku sesali.


Ini sudah menjadi keputusan ku. Dan apapun resikonya akan ku tanggung. Termasuk jika harus dibenci oleh mereka berdua. "Maaf, tapi aku terpaksa melakukan semua ini. Aku tidak bisa membiarkan Tama ditahan oleh mereka lebih lama lagi."


Aku berjalan pergi, dengan hati yang ragu. Berusaha berpikir bahwa ini adalah keputusan yang tepat.


Aku terus berjalan, mengikuti arahan peta yang diberikan oleh mereka. Hingga pada akhirnya aku sampai di suatu tempat. "Ini terlihat seperti rumah bordil." ucapku pada diriku sendiri.


Aku menelan ludah. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Jika mereka berani macam-macam dengan ku. Aku akan langsung membunuh mereka semua di tempat ini.


Ketika kaki ini melangkah masuk, bau menyengat dari alkohol dan wewangian tercium. Aku menutup hidung, merasa mual dengan bau ini. "Bagaimana bisa mereka menyukai bau seperti ini."


Tapi apa boleh buat...


Lalu tiba-tiba seseorang datang menghampiri ku. Terlihat seorang pria yang berpakaian seperti wanita, dia bertanya, "Apa yang nona manis butuhkan disini? kami memiliki banyak pelayanan termasuk pria dan juga... wanita." ujarnya dengan senyuman yang ambigu.


Mendengar nya saja sudah sangat menggangu. Ditambah lagi dengan tingkah nya yang menggoda benar benar membuatku merasa risih. "Tidak, terima kasih." jawabku singkat lalu pergi meninggalkan dirinya.


Aku berjalan menuju resepsionis. Lalu menyerahkan sebuah kartu. Tidak lama kemudian si resepsionis langsung memanggil seseorang. "Tolong antarkan dia." titah si resepsionis.


Pelayan pria itu pun menurut. "Mari ikuti saya."


Kami berjalan pergi begitu tiba di depan sebuah pintu, pelayan itu melihat ke sana sini. Seperti tidak ingin ada orang lain yang melihat. Dan tebakanku bahwa itu adalah sebuah pintu rahasia. Dan ternyata benar, dibalik pintu itu terlihat sebuah tangga yang menurun ke bawah.


"Silahkan masuk, mereka sudah menunggu nona." ujar pelayan tersebut sambil memberikan ku sebuah obor.


"Terima kasih."


Aku menelan ludah, gelap dan dalam. Setidaknya itulah gambaran nya. Aku langkah kan kaki ini dengan pelan sembari memperhatikan sekeliling. Tembok tembok ini terbuat dari tanah yang mengeras. Dan ditambah lagi, semakin dalam kamu masuk maka semakin menipis tingkat oksigen.


Aku menghela napas. Tidak ada salahnya berpetualang sedikit.


Cukup lama aku berjalan hingga akhirnya terlihat sebuah pintu diujung sana. Aku membukanya dan kini terlihatlah suasana rumah bordil ini yang sebenarnya.


Begitu banyak orang disini. Dan tembakan ku mereka adalah para masyarakat kaya atau mungkin para penjabat kerajaan Neo yang sedang berjudi.


Ini semua tidaklah asing bagiku. Karena ketika kamu masuk kedalam dunia politik, kamu akan melihat betapa kotor dan liciknya mereka.


Begitu aku masuk semua mata tertuju padaku. Mereka terus saja menggoda dan mengajakku untuk bermain bersama dengan mereka. Bahkan sampai ada yang memaksa ku.


"Lepas!"

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan nona. Lebih baik nona manis ini menurut saja, hmm..."


Aku menggenggam erat tangan ku. Sekarang aku sudah tidak bisa menahannya lagi!


Gubrak!


Aku meninju dan memukul pria kurang ajar itu hingga membuatnya terbanting keras ke lantai.


"Sial!" kini mereka semua benar benar memperhatikan ku.


"Berani kau!" bentak pria itu tidak terima.


"Memangnya kenapa?!" balasku tidak kalah keras.


Melihat temannya di hajar olehku beberapa orang ikut bergabung, membantu pria tersebut. "Beri dia pelajaran!"


Aku tersenyum. "Jangan salah paham, tapi aku ini sama sekali tidaklah lemah!"


Mereka semua maju, tapi sebelum mereka menyentuh ku, aku menyerang mereka terlebih dahulu tepat di titik-titik vital. Sehingga tidak butuh waktu yang lama, mereka semua sudah terkapar tidak berdaya


Bruk!


"Hei, apa ini? apa hanya segini saja kemampuan kalian, hah!"


Pria itu bergidik ngeri dan...


Brak!


Ku Jambak rambut pria itu lalu langsung ku banting tubuhnya tubuhnya dengan keras ke lantai.


"Ugh!" rintih pria tersebut. Terlihat sebuah darah segar mengalir keluar dari mulutnya dan tidak lama kemudian dia tidak sadarkan diri.


Melihat hal itu, beberapa temannya yang masih bisa bertahan membawa pria itu pergi. Tapi...


Apa yang terjadi?


Aku hanya membanting tubuhnya tapi kenapa dia sampai muntah darah seperti itu?


Hingga aku sadari, bahwa sedari tadi tanda di tanganku terus saja menyala.


Ah, sekarang aku mengerti. Aku tidak hanya menyerang nya secara fisik saja. Kekuatan ini juga menyerang tubuhnya dari dalam juga. Dapat aku perkirakan sepertinya ada beberapa organ tubuhnya yang rusak. Dan itu juga sepertinya berlaku kepada mereka.


Karena tidak ada satupun dari mereka yang kembali terbangun.

__ADS_1


"Sudahlah, aku tidak peduli sekalipun mereka mati, pasti itu akan menjadi anugerah bagi orang lain." ujar Amara.


Bukankah pasti ada saja orang yang menginginkan kematian mereka. Dan anggap saja mereka sedang beruntung, karena orang yang mereka benci telah tiada. Walaupun aku tidak nyakin sepenuhnya.


Tak...Tak...Tak...


Terdengar sebuah suara langkah kaki mendekat menghampiri ku. Aku berbalik dan ternyata benar, seorang pria bertubuh besar terlihat berjalan ke arahku.


"Ikut denganku." dan aku pun hanya menurut.


Entah kenapa, aku seperti sudah mengerti cara mereka.


Mungkin saja karena mahwa bergenre kerajaan yang ku baca disalah satu aplikasi yang terkenal. Aku jadi tahu apa saja yang harus kulakukan.


Sepertinya saat aku kembali ke bumi aku akan berterima kasih pada aplikasi itu. Dengan membaca beberapa mahwa mereka.


Aku menggeleng kan kepala, apa yang sedang kamu pikirkan, Amara? ini bukanlah saatnya!


Hmm... sekarang aku harus fokus!


Mungkin karena aku yang terlalu sibuk berpikir hingga tanpa sadar kini kami berdua telah sampai. "Dimana ini?" tanyaku.


Tidak ada siapapun disini. Sunyi dan sepi, benar benar suasana yang mengganggu. Seperti saat ketika kamu membuka pintu lalu kemudian...


Dor!


Sebuah peluru menembus otakmu dengan tepat sasaran. Aku bergidik ngeri membayangkan hal seperti itu terjadi. Karena pada dasarnya aku belum mau mati!


"Kenapa kalian menemui ku di tempat seperti ini. Apa kalian berniat membunuhku?" tanyaku ceplas-ceplos.


Tapi pria itu hanya terdiam. "Sepertinya kamu bisu." ujar ku.


"Kamu boleh berpikir seperti itu." jawabnya.


"Hah! kamu tidak bisu!"


Aku melihat sekeliling, siapa tahu mereka benar benar akan membunuhku. Jadi aku bisa memperkirakan apa yang harus kulakukan ketika melarikan diri.


Pletak!


Saat suara pintu terdengar menandakan aku sudah bisa masuk. Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi aku langsung masuk tanpa permisi.


Lalu ku arahkan pistol ini tepat ke arahnya. "Hai, apa kabarmu, Alvero?"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2