Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 19:


__ADS_3

...Happy reading.......


Entah bagaimana bisa perasaan ini menguasai diriku. Ya, mungkin saja, karena aku haus akan kasih sayang. Sesuatu yang ingin kudapatkan.


Tama memejamkan mata dan mengelus rambutku. Tangannya yang terasa hangat dan lembut membuatku nyaman.


"Jika itu adalah syaratnya maka aku harus mengabulkan nya, bukan?" tanya Tama kepadaku.


Aku mengangguk tanda mengiyakan.


Tama: "Baiklah tidak ada pilihan lain. Aku Anamra Tamaka berjanji untuk tidak mati demi melindungi Amara Airi Melasti."


Aku tersenyum mendengar janji yang telah dia ucapkan. Walaupun terbesit dalam pikiran ku bahwa mungkin saja suatu saat nanti Tama akan mengingkari janji ini, tapi setidaknya saat ini aku sudah mulai merasa tenang.


Aku menghapus air mata ini dan menarik napas berusaha untuk tenang.


Setelah beberapa saat kemudian, dirasa aku sudah kembali tenang, Tama menghampiri peri dan bertanya apakah dia setuju untuk melakukan ritual Pistos demi kami berdua.


Peri menghela napas. "Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain. Baiklah, aku akan melakukannya untuk kalian. Tapi ingatlah, akan konsekuensi yang sedang menunggu terutama kamu, Tama!"


Tama: "Saya mengerti yang mulia."


Peri menuntun kami berdua menuju sebuah tempat.


Hingga akhirnya kami pun sampai...



Walaupun ini adalah pemandangan yang indah tapi entah mengapa aku merasa tidak terlalu tertarik lagi. Mungkin karena perasaan ku yang bercampur aduk antara sedih dan bingung.


Peri kemudian menyuruh kami berdua untuk berjalan kearah lingkaran dan berdiri disana. Aku di sisi kanan dan Tama di sisi kiri.


Peri: "Dengarkan aku dengan baik. Apakah kalian berdua telah sepakat untuk melakukan ritual ini?"


Aku menatap Tama, dan Tama mengangguk. "Iya, kami berdua siap!" dan dengan lantang kami berdua menjawabnya.


Tama: "Baiklah sekarang aku akan memulai ritual Pistos..."


Peri memejamkan mata dan mulai berkomat Kamit membaca mantra. Melihat hal itu Tama menyuruh ku untuk ikut juga memejamkan mata.


Peri: "Amara Airi Melasti, apa kamu bersedia menerima Anamra Tamaka sebagai pelindung yang akan melindungi dirimu untuk setia semati hingga titik darah penghabisan!'


Amara: "Ya, saya bersedia!"


Peri: "Anamra Tamaka, apakah kamu bersedia untuk menjadi pelindung bagi tuanmu Amara Airi Melasti dan menerima konsekuensinya?"


Tama: "Ya, saya bersedia!"


Jantungku berdetak dengan kencang tidak terkendali. Situasi ini benar benar tidak bisa aku bayangkan sebelumnya.


Disini aku dan Tama sedang melakukan sumpah Pistos. Tidak peduli seberapa bahaya konsekuensi yang akan ditanggung oleh Tama, tapi dia tidak peduli.


Dengan mantap Tama mengiyakan semua syarat sumpah Pistos tanpa rasa ragu.


Dan oleh karena itu terbesit dalam benak ku...


"Apa alasan sebenarnya Tama melakukan semua ini..."

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu sebuah buku yang melayang tepat di antara aku dan Tama mengeluarkan sebuah cahaya.


Cahaya yang bersinar begitu terang.


Di tengah situasi ini peri berjalan mendekat ke arah Kami berdua dan mengucapkan sesuatu.


Peri: "Sekarang kita sudah sampai di bagian penutup. Sekarang sayat lah telapak tangan kalian berdua dan biarkan darah kalian jatuh menetes mengenai buku itu."


Aku terkejut mendengar hal itu. Apa? kami berdua harus menyayat telapak tangan?


Tapi sebelum aku menyadarinya Tama sudah lebih dahulu berdiri di depanku. Dan dengan tanpa ragu dia menyayat tangannya lalu


Srett!


"Ahkk!"


Aku meringis saat telapak tangan ku telah tersayat. Lalu kemudian Tama memegang tanganku dan mengarahkannya kepada buku tersebut, hingga darah kami berdua menetes jatuh ke dalam permukaan halaman buku.


Tapi...


Begitu darah kami berdua tepat mengenai buku tersebut semua berubah menjadi gelap.


Hingga pada akhirnya...


Sebuah cahaya keluar, bukan dari buku melainkan dari luka tanganku!


Lalu sinar ini mengelilingi tubuhku dan ...


Wushh...


Seketika penampilan ku berubah...




Dengan gaun putih dan seuntai mutiara yang menghiasi rambutku, aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi.


Tapi hal yang lebih mengejutkan adalah dimana Tama berlutut dan memegang tanganku.


Dia mencium tangan ini dan menatap mataku dengan dalam. "Mulai saat ini saya, Anamra Tamaka bersumpah untuk setia semati demi melindungi tuanku Amara Airi Melasti."


Aku tersenyum haru. "Baiklah..."


Tama tersenyum dan berdiri. Tapi tidak lama kebahagiaan ini berakhir.


"Ahkk!"


Aku langsung terjatuh lemas dan bersamaan dengan itu gaun yang kupakai pun memudar lalu menghilang. "Amara!" teriak Tama dengan cemas.


Dia langsung menangkap tubuhku sebelum aku benar benar terjatuh.


Tama melihat ke arah peri, bertanya apa yang terjadi. "Apa yang terjadi pada Amara, yang mulia?"


Peri: "Hai ini terjadi karena Amara adalah seorang manusia. Dan manusia lemah terhadap sumpah seperti ini."


Mendengar hal itu Tama menatap diriku. "Maaf..."

__ADS_1


Aku yang tidak tega melihatnya tertunduk merasa bersalah mengusap lembut wajahnya. "Tidak apa, aku pasti baik baik saja. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan pengorbanan mu."


Tama memegang tanganku lalu sebuah cahaya keluar. "Sekarang aku akan mengobati lukamu."


Tidak butuh waktu yang lama luka ditangan ku sudah sembuh. Tapi tidak dengan rasa sakit ini.


Dan aku pun tidak sadarkan diri...


...~~...


Aku membuka mata dan melihat sekeliling. Sepertinya rasa sakit ini sudah menghilang. Tapi dimana aku?



Aku sedang terbaring...


Eh?


"Aaaaaa!"


Aku berteriak terkejut ketika melihat ke arah jendela. Ini gila bagaimana mungkin aku tertidur tepat disebelah pemandangan yang menyuguhkan tata surya.


Ya tapi ini bukanlah sesuatu yang mustahil, mengingat aku sedang dimana.


Tapi tetap saja!


Ah, andaikan aku membawa kamera aku nyakin aku pasti akan mengabdikan momen ini.


Tapi kemudian aku teringat sesuatu. Ya, sebelumnya aku jatuh pingsan setelah melakukan ritual Pistos. Tapi sekarang mereka berdua dimana?


Aku pun berjalan mencari mereka. Dan katakan selamat tinggal pada kamar ini.


"Goodbye kamar, aku pasti akan merindukan mu."


Setelah beberapa saat telah berlalu akhirnya aku menemukan mereka berdua yang sedang mengobrol.


Dan tentu saja dengan pemandangan yang luar biasa mempesona.



"Ada apa ini, sepertinya kalian berdua berbicara serius sekali."


Mendengar suaraku Tama menghampiri ku dan berniat memapah ku. Tapi tentu saja aku menolak. Memang nya aku selemah apa sampai Tama harus memapah ku?


Amara: "Tidak perlu. Aku baik baik saja Tama."


Aku berjalan mendekati peri dan menunduk hormat. "Salam yang mulia."


Mendengar salamku peri justru tertawa sinis. "Sepertinya kamu masih memiliki rasa hormat ya?"


Ah, lagi lagi dia bersikap menyebalkan!


Amara: "Tentu saja yang mulia. Dan saya berterima kasih kepada yang mulia karena telah membantu kami berdua melakukan sumpah Pistos."


Peri lalu tertawa dan mengelus rambutku. "Tentu saja, jika bukan aku lalu siapa lagi?"


Mendengar hal itu kamu berdua lalu tertawa bersama.

__ADS_1


Ya, sepertinya dia tidak terlalu buruk untuk peri yang angkuh.


Bersambung....


__ADS_2