
...Happy reading.......
"Jika kamu bertanya mengenai pengertian Dewa itu sendiri aku tidak terlalu nyakin dengan maksudnya. Tapi menurut penilaianku Dewa dan Dewi adalah mahkluk istimewa yang derajatnya lebih tinggi daripada pada manusia"
"Derajat yang lebih tinggi? kenapa manusia malah menganggap derajat Dewa dan Dewi lebih tinggi, bukankah kalian yang menciptakan pemikiran tentang Dewa dan Dewi?"
"Aku tidak terlalu nyakin apakah benar bahwa Dewa dan Dewi benar benar berasal dari pemikiran manusia, tapi jika ditinjau dari berbagai sumber Dewa dan Dewi merupakan perantara antara Tuhan dengan ciptaan-nya. Mereka bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan dengan sempurna,tidak memiliki sedikitpun celah kesalahan. Mereka memiliki emosi dan dapat mati ataupun abadi. Mereka bisa tiada jika mereka kalah dalam suatu pertempuran"
"Mereka biasa dijelaskan ataupun digambarkan seperti manusia setengah binatang ataupun mitologi Yunani kuno. Berbeda dengan Tuhan. Tuhan sendiri memiliki pengertian bahwa sesuatu yang sangat sempurna, sesuatu yang menciptakan seluruh alam semesta, tidak memiliki celah dan tidak dapat digambarkan ataupun dijelaskan dengan pemikiran apapun. Setidaknya itulah pemikiranku"
"Ada satu hal yang belum aku mengerti"
"Apa itu?"
"Apa tujuan kalian yaitu manusia menyembah mereka?"
"Sebenarnya tujuannya bisa dijelaskan secara sederhana. Yaitu untuk kepentingan manusia itu sendiri. Jelas, bukan?"
Anak laki laki itu kemudian tertawa. "Ya. Sangat jelas"
Kemudian dia berdiri dan memberikan tangannya kepadaku. "Ayo, kita harus segera kembali ke waktu yang seharusnya"
Aku tersenyum dan menggenggam tangannya. Aku merasa tidak akan butuh waktu yang lama untuk jatuh hati kepada mahkluk ini.
Aku menutup mata, lebih tepatnya saat mahkluk ini menyuruhku melakukannya. Tapi aku bersyukur, karena jika aku tidak melakukannya aku rasa aku akan jatuh sakit. Karena dapat kurasakan getaran yang sangat hebat disekitar kami berdua.
Flop!
Aku membuka mata saat kudengar suara letusan gelembung. Kupikir itu waktu yang tepat.
Dan, ya. Dugaan ku ternyata benar.
Kini kami berdua kembali berada ditempat yang seharusnya. Berada diruang kepala sekolah, dan tepat diposisi masing-masing, tidak ada sama sekali yang berubah.
Anak laki laki itu masih terus saja tersenyum dan karena hal itu membuatku begitu merasakan gemas yang luar biasa.
Gemas yang ku maksud dalam pengertian yang sangat buruk.
__ADS_1
"Apakah kamu bisa berhenti tersenyum, karena itu sangatlah menganggu!" ujarku dengan ketus.
"Aku pikir justru ini sangat berguna untuk tetap jauh darimu. Karena aku harap lain kali kamu bisa mengendalikan perasaan yang kamu pendam. Aku tidak ingin melibatkan perasaan kedalam misi ini" jelasnya.
Jujur, perkataan nya sedikit membuatku merasa kecewa. Tapi sudahlah, lagipula cinta bukan segalanya.
"Aku akan berusaha mengendalikan perasaan ini. Tapi sekarang ayo kita berpikir secara logika. Jika aku menuruti keinginan mu, apa yang akan kamu berikan?"
Kini, aku akan memulai permainan yang sebenarnya.
Kulihat mahkluk ini tersenyum devil, meremehkan diriku. "Kalian yang bernama manusia memang pantas dikatakan sebagai mahkluk rendahan"
Aku membalas ucapannya dengan cara tertawa. Aku menatapnya dengan tatapan yang tajam tapi sangat menusuk.
"Tapi bukankah mahluk rendahan ini sangat berguna bagi kalian. Oh, ayolah tidak perlu berbasa-basi, karena aku nyakin kalian yang berpikir lebih tinggi dari kami sekalipun pasti menginginkan sesuatu, bukan? sesuatu yang kami miliki tapi tidak kalian miliki"
"Ingatlah satu hal tentang manusia, tuan. Kami sangat serakah atas segala sesuatu tapi kami sangat pintar dalam menyembunyikan nya. Jika kamu tidak percaya mari kita buat sebuah permainan"
Makhluk itu terdiam, merasa penasaran. "Permainan apa yang kamu tawarkan?"
Mendengar usulan ku mahkluk itu tertawa. "Kamu pikir aku bodoh? Kamu adalah isi dari buku itu sendiri. Tidak perlu diragukan lagi, apa yang terjadi pada dirimu adalah isi dari buku tersebut. Dan jika kamu bertanya tentang akhir dari isi buku tersebut, dengan mudah aku bisa membantu mu dalam menjawabnya"
Aku terdiam, berusaha memikirkan jalan lain. Ku rasa, aku tidak bisa meremehkan mahkluk didepan ku lagi. Karena bagaimana pun dan kapanpun dia bisa saja melenyapkan diriku bahkan membuat ku terhapus dari garis waktu dan takdir.
Melihat aku yang terus saja terdiam, mahkluk ini pun berdiri. "Hei, apa kamu tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa aku bisa membaca pikiranmu?"
Aku tertawa kecil ketika akhirnya mendengar pertanyaan yang sudah ku nantikan.
"Kenapa kamu tertawa?"
Aku dapat melihat dari raut wajahnya yang mulai merasa terganggu.
"Hei, bukankah kamu tadi bilang bahwa kamu bisa membaca pikiranku. Lantas bagaimana bisa kamu melewatkan pikiran ku yang satu ini. Kini aku mulai meragukan kemampuan yang kamu miliki"
Makhluk itu terdiam sejenak dan menatap diriku sekilas hingga akhirnya...
"Hahahaha...kamu ternyata pintar juga. Tidak kusangka kamu sudah menyadari kelemahan ini"
__ADS_1
Aku pun ikut tertawa mendengar hal tersebut. "Bukankah setiap ada kekuatan selalu ada saja kelemahan yang mengikuti. Kupikir ini sudah menjadi rahasia umum"
"Baiklah aku menerima permainan yang kamu usulkan. Aku harap kamu tidak mengecewakan diriku kedepannya. Dan perihal bayaran itu adalah hal yang mudah"
Aku mengangkat alis, mempertanyakan apa yang mahkluk ini maksudkan.
"Ini ambillah..."
Aku pun mengambil barang yang dia berikan, Terlihat seperti sebuah kartu. "Apa ini?"
"Kamu bisa membeli apapun dengan kartu itu. Aku membawa nya dari planet tempat asalku. Aku sudah mengatur alat itu untuk berfungsi di bumi sebagaimana mestinya. Jadi tidak kamu perlu merasa khawatir, tapi ingat untuk bijak dalam mengunakan nya. Kamu tentu saja bisa membeli beberapa pulau tapi itu bukan ide yang bagus"
Aku mengangguk tanda mengerti. "Tapi hanya ini saja?"
"Tentu saja tidak, bayaran yang sebenarnya akan diberikan setiap kali kamu berhasil menuntaskan sebuah misi"
Aku memutarkan bola mata merasa takjub sekaligus pusing. Tapi saat ini aku tidak perlu memikirkan semua itu.
Karena lihatlah, aku baru saja menjadi manusia yang paling beruntung. Kini aku berhasil menuntaskan masalah perekonomian semua orang. Aku tertawa senang dengan pencapaianku.
"Baiklah, aku sudah mengerti dan perihal misi yang akan kamu berikan, kutunggu secepatnya. Jadi, kurasa pertemuan kita sampai disini, dan .... sampai jumpa kembali"
Dan tanpa basa-basi aku pamit undur diri begitu saja, pergi dari hadapannya.
Aku berjalan pergi dan melompat kegirangan seperti orang yang tidak waras. Kerena apa?
Karena sekarang aku memiliki misi yang begitu penting untuk dilakukan.
Apalagi selain menghamburkan uang yang baru saja kudapatkan.
Aku memiliki prinsip bahwa uang tidak bisa dibawa mati dan oleh karena itu. Ketika aku memiliki uang, maka saat itu juga aku akan mengunakan nya.
Oh, ini akan terasa sangat menyenangkan!
"Dunia sosialita, aku datang..."
Bersambung....
__ADS_1