
...Happy reading.......
Tidak ada yang bisa aku percaya disini. Bahkan Tama sekalipun pasti menyembunyikan sesuatu dariku.
Dan entah apa alasannya, aku tidak bisa percaya begitu saja kepada-nya. Apalagi fakta dimana kami baru saja bertemu.
Terutama kepada seorang pembunuh seperti Alvero...
Aku menatap dan meliriknya sekilas. Tidak ada yang mencurigakan darinya.
Ya, jika kamu melihat seseorang yang terus tersenyum dan bersikap ramah sepertinya tidak akan ada yang menduga bahwa orang seperti ini adalah seorang penjahat, bukan?
"Maafkan aku tapi sayangnya aku tidak bisa memberitahu apa yang terjadi di bumi. Apalagi kepada orang asing."
Hah... bukankah itu sudah cukup. Aku sengaja menekankan kepadanya bahwa dia adalah orang asing bagiku.
Tapi, tidak ada ekspresi kecewa sedikit pun dari wajah itu. Terkecuali, bagian dimana bayangan hitam yang semakin gelap menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Jadi dia sebenarnya kesal ya... dengan senyum seperti itu pasti tidak ada yang menduga apa yang orang ini pikirkan. Terlebih lagi kini aku mulai kehilangan tenaga..."
Ugh!
Aku rasa bayangan hitam tersebut semakin mempengaruhi tubuhku. Dan jika aku tidak segera pergi, kurasa aku akan kehilangan kesadaran.
"Ugh!" Aku memegang dadaku yang terasa sakit seperti ditusuk jarum. Energi dari bayangan hitam itu semakin kuat. Dan kini Alvero bangun mendekati diriku menyadari apa yang telah terjadi.
"Ada apa Amara, apa yang terjadi?" tanya nya.
Gawat, andaikan aku bisa memberi tahunya bahwa dialah penyebab rasa sakit ini. Tapi sayangnya aku tidak bisa melakukan hal itu.
Dan sial, dia justru mendekati diriku.
"Amara pegang tanganku, aku akan membawa mu ke kamar. Sepertinya kamu harus beristirahat."
"Hei Alvero justru seharusnya kamu menjauh dariku..."
"Eh?"
Tanpa aku sadari sebuah tangan mendekap diriku dari belakang. Dan dapat aku lihat dengan sigap tangan Tama menangkap tubuhku yang hampir saja terjatuh lemas.
"Tama?"
Dengan sosok wajah yang tegas itu Tama terlihat seperti seseorang yang dewasa.
"Kamu tidak seharusnya menyentuh sesuatu yang bersifat milik orang lain!" dan dengan secara tegas Tama mengatakan hal itu.
Alvero tersenyum dan entah kenapa aku merasakan firasat yang tidak enak. "Maafkan aku, aku hanya membantu Amara untuk bangun. Karena sepertinya dia masih terlalu lelah akibat perjalanan panjang jadi aku berinisiatif untuk mengantarkan nya ke kamar dan juga sepertinya hal ini diperlukan dikarenakan tubuhnya yang lemah."
Hei tunggu dulu!
__ADS_1
Apa dia bilang aku lemah?
Yang benar saja!
Aku menatap tajam kearah Alvero. "Hei aku bukan orang yang lemah!"
Alvero yang mendengar apa yang aku katakan tersenyum. Dan senyuman itu terasa begitu ambigu.
"Aku tidak mengatakan bahwa kamu adalah orang yang lemah. Sepertinya kamu salah memahami kata kata ku."
Aku terdiam memikirkan apa maksudnya. Jelas sekali bahwa dia memang mengatakan bahwa aku adalah orang yang lemah.
"Jadi apa yang sedang kamu lakukan dengan Amara?" Tanya Tama.
Alvero berjalan mendekati Tama dan memegang pundaknya. "Aku hanya ingin berbicara dengan mahkluk hidup milikmu ini." dan setelah mengatakan hal itu kepada Tama dia berjalan pergi.
Brrrrr....
Sepertinya aku merasa kedinginan melihat reaksi dingin dari mereka berdua. Dan itu membuat aku bertanya tanya.
Apakah benar bahwa mereka berdua berteman?
Dan karena aku terlalu fokus aku jadi tidak mendengar apa yang Tama katakan.
"Eh, apa?"
Dan...
Aku berteriak terkejut dengan apa yang Tama lakukan. Tanpa basa-basi dan permisi Tama dengan tiba tiba mengendong tubuhku.
"Itu karena kamu merasa lemas dan lagi pula karena kita akan pergi ke suatu tempat sebentar."
Aku terdiam dan memandang Tama seolah bertanya apa maksudnya.
"Kamu tidak perlu berpikir lagi. Cukup tutup matamu dan kita akan sudah sampai begitu kamu membuka mata kembali."
Aku menutup mata seperti apa yang diarahkan oleh Tama kepadaku. Dan tepat pada hitungan ketiga aku menutup mata tanpa mengendurkan rasa waspada ku.
Flop!
Dapat aku rasakan sebuah gelembung muncul dan menutupi seluruh tubuh kami berdua. Sebuah cahaya yang begitu bersinar terang mengelilingi sekitar dan untuk sekilas dapat aku rasakan sedikit getaran terjadi di sekitar kami.
Hingga akhirnya aku membuka mata dan melihat apa yang telah terjadi.
Aku menatap takjub sekitar begitu melihat sebuah pemandangan yang indah sekaligus gila.
Terlihat sebuah ruangan yang berisikan udara dingin dan beberapa jam besar yang mengambang terus berputar. Aku dan Tama sendiri kini sedang berpijak pada sebuah jembatan panjang yang tidak bisa aku lihat ujungnya sejauh mata memandang.
"Tempat macam apa ini?"
__ADS_1
Tama menepuk pundakku dan menatap diriku. "Ini adalah ruang garis waktu yang pernah aku ceritakan kepadamu."
Ini menakjubkan!
Amar: "Tidak bisa aku percaya. Jadi ini adalah ruang garis waktu yang kamu maksud Tama?"
Tama: "Ya, benar."
Aku berjalan, tidak, aku berlari mengikuti jembatan panjang ini. Dan sejauh apapun aku berlari jembatan ini tidak ada habisnya.
"Hah...hah...hah...astaga sebenarnya seberapa panjang jembatan ini?" Tanyaku dengan napas yang terengah-engah.
Sementara itu, Tama malah tertawa.
Aku mendengus merasa malu sekaligus kesal. Memangnya apa yang lucu. Aku hanya mengikuti rasa penasaran ini.
Amara: "Berhentilah tertawa ini tidak lucu. Aku hanya ingin tahu seberapa panjang jembatan ini."
Tama: "Percuma saja. Seberapa jauh kamu berlari kamu tidak akan menemukan ujungnya."
Eh?
Aku merasa bingung. Jika jembatan ini tidak memiliki batasnya lalu untuk apa kami berdua kemari?
"Jika begitu untuk apa kamu membawa ku kemari?"
Tama mendekat dan mengelus rambutku hingga membuatnya berantakan sekaligus membuatku merasa kesal. "Hentikan itu!"
Tama tersenyum. "Tentu saja untuk melakukan sesuatu kepadamu. Tapi pertama tama kamu harus menggunakan mana milikmu."
Eh?
Amara: "Apa yang kamu inginkan. Bukankah kamu tahu aku tidak bisa mengeluarkan mana sihir milikku. Terakhir kali, aku terjatuh dari ketinggian."
Tama: "Itu karena kamu baru pertama kali melakukannya. Tapi sekarang kamu akan mudah untuk mengeluarkan mana milikmu. Sekarang coba kamu rasakan mana yang mengalir di dalam tubuhmu dan jika kamu sudah merasakan nya kamu kendalikan aliran mana tersebut lalu lepaskan dengan perlahan."
Mendengar ucapan Tama aku menghembuskan napas bersiap.
Aku menutup mata dan memfokuskan seluruh perhatian untuk merasakan mana yang mengalir didalam tubuh ini.
Secara perlahan tapi pasti aku dapat merasakan nya. Mana yang mengalir dengan hangat dan kuat telah aku rasakan.
Dan kini adalah saat yang tepat untuk melepaskan nya.
Aku berusaha untuk tetap fokus dan tenang selama pelepasan mana terjadi. Aku tidak ingin terlalu terburu buru tapi juga tidak ingin terlalu menghabiskan banyak waktu.
Dan kini keajaiban terjadi.
Sebuah cahaya yang bersinar terang mengelilingi tubuhku. Dan dengan seluruh perhatian dan fokus yang tertuju aku melepaskan mana sihir ini ke sekitar.
__ADS_1
Hingga membuatku tempat ini bersinar dengan sangat terang....
Bersambung....