
...Happy reading.......
Garis waktu, takdir dan sejarah adalah sebuah hal yang tidak bisa ditebak. Tidak ada jalan untuk keluar dari sana. Kita akan selalu terjebak didalam pusaran. Tidak peduli seberapa keras mencoba, tidak akan pernah bisa lepas dari kehidupan.
Karena....
Waktu, takdir dan sejarah sudah mengikat kita untuk terus berjalan di arah yang sudah ditentukan.
Tapi bagaimana jika garis waktu itu sendiri berubah. Apakah benar semua itu dapat terjadi.
Aku menghela napas berat memikirkan semua ini. Kejadian aneh terus saja datang silih berganti.
Dan itu semua bermula dari mimpi yang kualami...
Jika memang ini adalah garis takdir....
Apakah aku bisa menentukan pilihan ku sendiri?
Dan jika benar, apa konsekuensi dari yang kupilih?
Entah kapan itu akan terjadi. Tapi ada satu hal yang pasti!
Bahwa cepat atau lambat akan ada konsekuensi yang menanti diriku.
...~~...
Sepanjang perjalanan aku terus saja berpikir hingga membuat kepala ini terasa pusing.
Dan tentu saja yang lebih penting aku berharap otak ini tidak berhenti berfungsi, mengingat begitu banyak yang aku pikirkan!
Dan karena aku yang terus saja berpikir tanpa sadar kini aku sudah sampai di rumah.
Saat pintu terbuka, sesuatu yang pertama kali kulihat adalah ayah yang sedang menunggu diriku.
Aku sempat berniat untuk mengabaikannya tapi melihat ekspresi wajah ayah yang terlihat tidak senang aku mengurungkan niatku.
"Ada apa ayah menunggu Amara seperti ini?"
Itu adalah pertanyaan yang pertama kali aku ucapkan di depan ayah. Karena jujur saja aku tidak pernah sama sekali berbicara dengan ayah.
Yah... selain saat aku menjadi Mira...
"Amara..."
"Ya, ayah?"
"Kamu ikut denganku!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu ayah berjalan pergi dan aku pun mau tidak mau harus menuruti perintah ayah.
Aku terus memperhatikan sikap ayah. Dan ternyata memang benar. Bahwa sikap ayah kepadaku dan kepada Mira jelas sangat berbeda.
Dia terlihat begitu dingin dan kejam ketika didepan ku...
Hingga akhirnya kami berdua sampai diruang tamu. Lalu kemudian ayah menyuruh diriku untuk duduk.
"Duduklah..."
"Baik ayah..."
Aku melihat kearah sekitar untuk menghilangkan rasa grogi ini. Hingga fokus ku teralihkan saat melihat Mira sedang bersembunyi dibalik di sana.
Diantara beberapa rak buku.
Aku tersenyum menyadari apa yang sedang terjadi. Karena sepertinya ini berhubungan dengan Mira.
Ayah: "Apa kamu tahu apa alasan saya memanggil kamu kemari?"
Amara: Ya, ayah. Amara tahu bahwa ini semua berkaitan dengan Almira"
Ayah: "Ayah mendengar bahwa Mira mengalami perundungan di sekolah barunya. Padahal dia baru saja sehari disana. Dan ayah juga mendengar dari Mira bahwa kamu juga melihat perundungan yang terjadi pada Mira. Tapi justru bukannya menyelamatkan Mira, kamu justru pergi meninggalkan Mira begitu saja!"
Aku menggenggam tanganku ketika mendengar kata kata ayah apalagi saat ayah meninggikan intonasi di akhir kalimat.
Mungkin aku akan merasa bersalah dan menerima perlakuan ini. Tapi semua itu akan terjadi ketika aku belum mengetahui apa yang sebenarnya.
Tapi tidak untuk sekarang. Karena aku sudah mengetahui bahwa sebenarnya aku Dan Mira bukanlah saudara kembar!
Aku tersenyum dan menatap ayah dengan intens. Kali ini tidak kubiarkan kalian membuat diriku merasa tertekan.
Aku bangun dan berjalan mendekati ayah. Dengan pelan dan lembut aku mendudukkan tubuhku di samping ayah dan melihat wajahnya.
"Maafkan aku ayah. Tapi bukannya Amara tidak mau membantu Mira. Tapi saat itu Amara merasa terkejut dengan apa yang terjadi. Dan pergi menyelamatkan Mira dengan mendatangi dirinya bukanlah ide yang bagus."
Ayah: "Apa yang kamu maksud, Amara?"
Amara: "Orang yang merundung Mira bernama Violet. Dia adalah anak satu satunya dari seorang donatur terbesar di sekolah. Jika Amara langsung datang membantu hal itu justru akan membuat Mira semakin terkena masalah karena violet pasti akan berpikir bahwa Mira telah membangkang."
Ayah: Jadi kamu bermaksud untuk membiarkan Mira terus dirundung, begitu?!"
Aku secara refleks langsung saja memegang tangan ayah dengan erat. Begitu merasakan amarah yang akan meledak.
Amara: Bukan itu maksud Amara. Walaupun Violet seorang pembully tapi dia hanya akan melakukan hal itu saat kesal setelah itu Violet akan pergi dengan sendirinya. Dan tentu saja Amara tidak hanya berdiam diri melihat apa yang menimpa Mira. Amara pergi meninggalkan Mira untuk pergi menemui guru konseling karena itu adalah jalan keluar yang terbaik. Bukankah tidak lama setelah Amara pergi guru konseling datang menyelamatkan mu, benar bukan Mira?"
Aku tersenyum manis memandang kearah Mira yang sedang tertunduk.
__ADS_1
Ayah: Apakah yang dikatakan oleh Amara benar Mira?"
Mendengar hal itu Mira berjalan menghampiri kami berdua. Dengan wajah yang tertunduk dan rambut yang menutupi wajahnya, dia menjelaskan apa yang terjadi.
Dan mungkin lebih tepatnya membenarkan apa yang aku katakan.
"Ya, memang benar. Setelah kepergian Amara, guru konseling datang menghentikan para pembully..." jawab Mira dengan gugup.
Tepat seperti dugaan ku!
Terdengar helaan napas dari ayah. Aku tersenyum manis memandang wajah mereka berdua secara bergantian.
Aku berdiri dan berjalan menghampiri Mira.
Mungkin aku bisa merubah apa yang menimpa diriku.
Bukankah curang namanya jika aku mendapatkan perlakuan tidak enak ini hanya karena kesalahan yang sama sekali tidak kuperbuat.
Padahal aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan cara seperti ini. Lagipula sepertinya aku bisa memanfaatkan Mira agar bisa dekat dengan ayah dan ibu.
Karena bagaimana pun ayah dan ibu adalah tipikal seseorang yang lembut dan hangat. Aku nyakin jika aku berbuat baik kepada Mira, ayah dan ibu pasti akan menerima diriku pada akhirnya.
Entah siapa yang berkhianat tapi itu bukanlah sesuatu yang penting. Lagipula, bukankah sesama saudara harus selalu saling membantu satu sama lain?
Dan akan aku pastikan Mira akan membantu diriku untuk mewujudkan semua itu!
Aku mengelus rambut Mira dan mengambil sebuah ikat rambut. Dan dengan lembut memakaikan ikat rambut berwarna merah muda tersebut ke rambut Mira.
"Hmm... ternyata Mira memiliki rambut yang panjang dan indah. Hingga membuatku menginginkannya. Apakah aku harus mulai memanjangkan rambut ini?"
Aku memegang rambutku yang pendek. Melihat rambut Mira seketika membuat diriku merasa iri.
"Baiklah sudah selesai... sekarang Mira berbalik dan lihat diriku..."
Mira membalikkan badannya tapi dia tetap tertunduk.
Kini aku mengetahui apa alasannya Mira mengalami perundungan.
Dia selalu saja tertunduk dan itu membuat orang lain berspekulasi bahwa Mira adalah seseorang yang lemah.
Ditambah lagi cara bicara yang pelan dan kecil pasti akan membuat siapapun mengetahui bahwa Mira adalah seseorang yang pemalu.
Dan dua hal seperti itu adalah mangsa yang cocok bagi para pembully.
Tapi mulai sekarang semua itu tidak akan terjadi lagi. Karena aku akan merubah semuanya!
__ADS_1
Bersambung....