Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 12:


__ADS_3

...Happy reading.......


Ya, aku harus melupakan perasaan ini...


Itulah yang aku pikirkan tentang Tama. Aku tidak bisa berharap Tama akan membalas perasaan ini.


Lagipula aku baru berusia 14 tahun. Aku masih terlalu muda untuk memikirkan percintaan.


Mungkin perasaan ini hanya cinta monyet belaka.


Tama: "Sudahlah, lebih baik kita bergegas pergi. Kita tidak punya banyak waktu dalam menjalankan misi. Jadi aku harap kamu mengerti."


Amara: "Aku mengerti. Sangat mengerti..."


Kami berdua kemudian berjalan pergi melanjutkan misi.


Sepanjang perjalanan Tama menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang harus aku lakukan dalam misi ini.


Tama: "Pertama-tama aku akan menjelaskan mengenai Natana, pusat pemerintahan Illinois."


"Natana adalah tempat seluruh kegiatan inti di Illinois. Di tempat itu dibangun sebuah pusat pemerintahan yang disebut dengan Neo."


Amara: "Apakah Neo bekerja seperti kerajaan?"


Tama: "Ya, bisa dibilang begitu. Para rakyat Natana sangat bergantung kepada Neo oleh karena itu Neo berperan sangat penting tentang kesejahteraan rakyat Natana. Tapi, sayangnya saat ini Neo dipimpin oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab bernama Sagarantana."


"Sagarantana adalah seseorang yang hanya fokus pada kekuasaan dan tidak peduli kepada rakyat Natana. Mereka membuat kebijakan yang mengharuskan para rakyat Natana membayar pajak dengan nominal yang tidak masuk akal."


"Karena kebijakan yang Neo buat, banyak rakyat Natana yang menderita bahkan kejahatan jual beli budak meningkat dengan pesat. Oleh karena itu, misi mu adalah membantu ku untuk menggulingkan kekuasaan Sagarantana!"


"Aku mengerti..."


Aku melihat tekad sekaligus rasa kecewa tergambar jelas di wajah Tama.


Aku sendiri tidak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tama.


Karena sudah jelas Tama mengajak diriku untuk melakukan kejahatan. Meskipun Tama mengatakan melakukan semua ini untuk menyelamatkan rakyat Natana dari kesengsaraan yang dibuat oleh Sagarantana. Tapi bukan sesuatu yang mustahil untuk Tama mengarang ceritanya, bukan?


Lagipula aku baru datang ke tempat ini. Tentu saja aku tidak mengetahui informasi apa pun mengenai Natana selain dari apa yang dikatakan oleh Tama.


Oleh karena itu aku harus mencari tahu terlebih dahulu untuk memastikan apakah yang dikatakan oleh Tama adalah benar.


Tama: "Kita sudah sampai Di Natana. Lihatlah Amara betapa indah sekaligus kelamnya Natana!"


Aku merasa takjub sekaligus kagum dengan apa yang baru saja kulihat dengan mata ini.


Apakah ini nyata?


Lihatlah betapa indahnya Natana!




"Ini benar benar... sangatlah...indah..."


Hanya itu yang bisa aku katakan. Sulit untuk menjelaskan keindahan Natana. Tidak, lebih tepatnya keindahan Natana tidak bisa dilukiskan oleh kata kata.


Amara: "Apakah kita bisa berkunjung kesana?"


Jelas, aku jelas saja sangat ingin pergi ke sana, ke Natana. Bayangkan seberapa indah di dalamnya!


Tapi...


Tama: "Tidak, kita tidak bisa pergi ke sana."


Amara: "Tunggu, kenapa?"


Tama: "Apa kamu lupa dengan tugasmu Amara?"

__ADS_1


Hah...


Aku berdecak kesal. Tentu saja aku tidak melupakan apa tujuan kedatangan ku ke tempat ini. Tapi, apa salahnya jika aku berjalan jalan sebentar menikmati Natana. Lagipula aku nyakin itu tidak akan menghabiskan waktu yang lama.


Ya, mungkin?


Amara: "Hei, ayolah. Berjalan jalan sebentar ke Natana tidak akan merugikan. Lagipula ini bisa menjadi kesempatan bagi ku untuk mengenal Natana lebih dalam lagi. Juga ini masih berhubungan dengan misi, kan?"


Tama menggeleng kepala tidak setuju dan itu membuatku merasa gemas.


Tama: Tidak, ini bukan saatnya kamu berkunjung ke Natana. Lagipula kamu masih memiliki banyak cara untuk mengenal Natana selain berkunjung ke sana."


Ah, sial!


Amara: "Hei memangnya ada apa disana lagipula -"


Eh?


Secara spontan aku terdiam membisu saat tiba tiba Tama mengisyaratkan untuk diam.


Dengan pelan dan hati-hati, aku dan Tama pergi bersembunyi. Entah apa alasannya tapi aku memilih untuk diam dan melihat apa yang sedang terjadi.


Dapat aku lihat segerombolan makhluk yang mirip dengan Tama menaiki seekor kuda laut?


Eh tunggu sebentar...


Seekor kuda laut?


Sontak saja secara reflek aku bangun dan melihat apa yang terjadi. Tentu saja dengan tanganku yang di cengkram oleh Tama dan dengan wajah yang mengisyaratkan seolah bertanya...


"Apa yang sedang kamu lakukan, Amara?"


Tapi aku tidak peduli, aku tetap bersikeras untuk melihat apa yang terjadi. Dan aku rasa itu pantas dengan apa yang baru saja aku lihat.


Terlihat dari sini segerombolan makhluk yang mirip dengan Tama hanya saja berwarna abu-abu sedang mengendarai seekor kuda laut.


Tentu saja dengan ukuran kuda laut yang besarnya 10.000 kali lipat dengan ukuran yang ada di bumi.


Bahkan kuda laut itu bisa bersinar di dalam gelap.


Ah...


Andaikan para peneliti tahu aku nyakin mereka pasti sudah menyerbu tempat ini. Tapi sejujurnya aku tidak nyakin itu akan terjadi.


Karena dapat aku pastikan mereka akan mati terlebih dahulu.


Baiklah Amara kendalikan dirimu, ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal seperti itu!


Lagipula ada hal yang lebih penting. Sekarang bagaimana caranya agar aku dan Tama bisa lolos dari mereka!


Aku nyakin sesuatu yang buruk akan terjadi bila mereka menemukan kami berdua.


Tapi sial!


Bukannya pergi mereka justru malah datang mendekat.


"Tunggu sebentar aku rasa ada yang sedang bersembunyi dibalik rerumputan itu."


"Benarkah? jika begitu sebaiknya kamu periksa."


"Baik laksanakan!"


Terlihat salah satu dari segerombolan makhluk itu mendekat ke arah kami berdua.


Jantungku berdetak kencang saat langkah kaki itu semakin mendekat.


Sepertinya aku dan Tama akan tertangkap!


Tapi tunggu dulu, apa ini?!

__ADS_1


Saat ini aku melihat sebuah cahaya keluar dari tangan Tama.


"Shut!"


Itulah yang Tama isyaratkan kepadaku untuk diam.


Aku mengangguk tanda mengerti.


Dapat dilihat sebuah cahaya magis keluar dari tangan Tama. Lalu kemudian Tama menggenggam erat tangan ku.


Dan menyuruhku untuk memejamkan mata.


Tama: "Pejamkan matamu, Amara." bisiknya.


Tanpa menunggu lama aku langsung memejamkan mata sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tama.


Dan kini aku merasa bahwa mahluk itu sudah...


"Jadi bagaimana?"


"Ah, lupakan. Tidak ada apa apa disini."


"Ya sudah kalau begitu kembali kemari."


"Ya!"


Tuk...Tuk...Tuk...


Aku membuka mata saat aku rasa mereka sudah pergi menjauh.


Amara: "Syukurlah mereka sudah pergi. Oh iya, Tama. Sebenarnya apa yang kamu lakukan!"


Ah!


Aku mundur beberapa langkah saat dirasa wajahku dan Tama terlalu dekat bahkan jika aku tidak segera menjauh tadi, aku rasa aku sudah berciuman dengan Tama secara tidak sengaja!


Amara: "Hei apa yang kamu lakukan?!"


Mendengar teriakan ku Tama berdiri dan memukul kepalaku.


Tung!


Amara: "Hei sakit!"


Tentu saja aku merintih kesakitan saat Tama memukul kepalaku.


Tama: "Diamlah cerewet! ayo cepat bangun dan bergegas. Kita tidak punya banyak waktu."


Aku berdiri dan menatap wajah Tama.


Amara: "Memangnya kita akan kemana?"


"Lihatlah, padahal tadi kamu bersembunyi ketika melihat mereka. Memangnya kita mau kemana."


"Lagipula kamu kan buronan!"


"Ck." decak ku kesal.


Tama: "Amara, walaupun aku seorang buronan tapi bukan berarti aku tidak memiliki teman disini."


Amara: "Jadi kita akan pergi tempat tinggal temanmu itu?"


Tama: "Ya, benar!"


Aku tertawa kecil mendengar penuturan Tama.


Amara: "Sepertinya kamu adalah tipikal seorang teman yang merepotkan ya?"


Tama: "Kamu memang benar, Amara..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2