
...Happy reading 🥰......
Aku menarik napas berusaha untuk tetap tenang. Saat ini aku harus berkepala dingin agar bisa menyelesaikan masalah yang sedang ku hadapi.
Jadi pertama-tama mari kita rangkum semua yang terjadi. Dan baiklah saatnya kesampingkan perasaan ini sejenak.
Aku yang tidak sengaja membongkar penyamaran saat sedang menikmati perayaan. Lalu Tama yang ditangkap saat berusaha melindungi ku. Aku yang terluka diserang oleh warga karena menganggap ku sebagai salah satu kelompok minoritas yang di benci. Lalu kini aku berada di antah berantah bersama seorang anak seumuran ku yang entah bagaimana caranya dia bisa tahu asal ku!
Agh!
Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Kupikir ini akan mudah tapi sayangnya tidak. Ditambah lagi anak misterius yang bernama Leonard itu sangatlah aneh. Dia terlihat sangat mirip denganku tapi dia mengatakan dia asli mahkluk planet ini.
Lagipula mustahil bukan, mahkluk bumi bisa ada dan tinggal di tempat ini?
Walaupun sekilas terlintas dalam benakku bahwa itu mungkin saja bisa terjadi. Ah, sudahlah, ini tidak berguna!
Dan tepat disaat aku sedang berperang dengan pikiran ku sendiri seseorang menyelinap masuk.
Hap!
"Aaaaaa!" aku berteriak terkejut.
Seorang gadis kecil berambut putih datang dan memeluk diriku, dengan matanya yang sayu dia menatap wajahku.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyaku.
Tapi anak perempuan ini hanya terdiam tidak bersuara. Dia menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan ku. Dan kini tangannya bergerak seperti memberiku aba aba.
"Kamu mau dielus?" Amara.
Dia mengangguk.
Aku pun mengelus rambutnya dan tepat disaat yang bersamaan terdengar suara seperti dengkuran kucing terdengar. Aku terdiam menyaksikan semua ini. Dan entah kenapa aku merasa sedikit nyaman.
Ditambah lagi terdengar suara kegaduhan dari luar sana. Aku menoleh saat seseorang datang yang tidak lain adalah Leonard.
"Apa yang kamu lakukan disini Mia?" tanya Leonard.
Aku mengangkat bahu polos. "Aku tidak berbuat apa apa."
Leonard langsung menarik paksa anak perempuan yang bernama Mia ini tapi sepertinya dia tidak mau berpisah dariku. Karena semakin Leonard menarik dengan paksa maka semakin Mia mengeratkan pelukannya.
Leonard: "Ayo pergi Mia, kamu tidak boleh disini!"
Mia: "Aku tidak mau!"
__ADS_1
Kepalaku seketika merasa pusing melihat pertengkaran kedua makhluk aneh ini. Tidak ada cara lain lagi!
Aku langsung berdiri dan sepertinya cara itu cukup ampuh. Mereka berdua langsung terdiam, tapi sialnya aku lupa bahwa aku sedang terluka parah.
"Ugh!" aku langsung terjatuh dan merintih kesakitan.
Luka luka ditubuh ini sepertinya semakin parah. Tidak ada jalan lain aku harus menggunakan sihir untuk menyembuhkan luka ini.
Tapi meski begitu aku harus kembali bersabar menunggu mereka pergi. Karena tidak mungkin bagiku untuk menunjukkan kekuatan ku yang sebenarnya kepada mereka.
Tapi, tiba tiba Mia menarik tanganku dan menatapku dengan tatapan mata yang dalam. Aku menoleh ke samping, entah kenapa tatapan matanya sedikit membuatku merasa terganggu.
Lalu kemudian dia memejamkan matanya. Terlihat sebuah cahaya keluar dari rambutnya dan muncul sesuatu seperti ukiran bunga di wajah Mia.
Dia terlihat seperti sedang bernyanyi walau aku tidak mengerti dan dalam sekejap luka ditubuh ku menghilang.
Dia melepaskan tangannya dan kembali menatapku.
Aku tercengang takjub. Ternyata gadis kecil ini juga memiliki mana penyembuh bahkan lebih hebat dariku.
Dia tidak terlihat lelah apalagi kesulitan dalam mengendalikan mana. Dan itu membuatku berpikir, apa ini alasan kenapa mereka dibenci?
Lalu sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Plak!
Leonard menampar pipi Mia hingga membuatnya terjatuh. Dia berteriak dan membentak Mia. "Apa yang kamu lakukan dasar bodoh! apa kamu lupa dengan apa yang telah kukatakan? untuk tidak pernah menggunakan sihir mu kepada orang lain!" bentak Leonard.
Leonard yang terlihat kesal hanya tertunduk. Dan aku diam mematung tidak tahu harus berbuat apa. Lagipula ini bukanlah kesalahanku. Mia sendiri yang tiba tiba menyembuhkan lukaku dengan sihir.
Leonard menghampiri diriku dan menunduk. Dia mencengkram erat tangan nya hingga setetes darah berwarna biru pun keluar.
Dia menatapku dengan tatapan menusuk. "Apa yang kamu lihat, anggap saja tidak pernah terjadi."
Mendengar hal itu aku hanya tersenyum dan menatap Leonard. "Bohong jika aku tidak ingat, bukan?" jawabku.
Mendengar jawabanku Leonard justru tersenyum miring. "Tenang saja akan ku urus bagian itu."
Aku mundur beberapa langkah saat Leonard berusaha melakukan sesuatu kepadaku. Sepertinya dia ingin menghapus ingatanku.
"Sayangnya tidak semudah itu!" Amara.
Aku bersiap siap untuk mengambil kemungkinan terburuk. Jika dia tetap memaksa aku akan menggunakan sihir. Bagaimanapun caranya aku harus mempertahankan ingatan ini!
Aku terus mundur berusaha untuk mengulur waktu tapi sial, tempat ini gelap sekali ditambah lagi banyaknya debu membuat pernapasan ku terganggu.
"Sepertinya kamu cukup mahir dalam bela diri, ya? mahkluk Bumi."
__ADS_1
"Ugh!" Aku tidak sengaja menabrak barang yang membuat sikutku ikut terluka. "Sial!'
Melihat hal itu dia langsung menangkap tanganku dan kemudian...
Brak!
Leonard terbanting keras ke belakang. Aku mendongak melihat siapa yang telah menyelamatkan ku. "Mia?"
Ya, Mia lah yang telah menyelamatkan ku.
"Apa yang kamu pikirkan, dasar bodoh!" teriak Leonard.
Sementara itu Mia mengambil ancang-ancang dan menatap diriku. Seolah mengatakan bahwa dia akan melindungi.
"Jangan sentuh dia." ujar Mia.
Leonard bangun dan menatap Mia dengan tajam. "Sebaiknya kamu pergi jika tidak aku tidak akan segan segan untuk berbuat kasar padamu!"
Tapi ucapan sepertinya Leonard tidak didengar oleh Mia. Tanpa menunggu lama Mia langsung menyerang Leonard. "Walaupun aku menurut kamu pasti akan tetap melakukannya, bukan? jadi tidak ada bedanya." Mia.
Dengan gesit Mia menghindari semua serangan Leonard hingga akhirnya dia berhasil mengambil alih tubuh Leonard. "Lepas!" berontak Leonard.
Tapi Mia tidak membalas. Dia justru mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya.
"Sebuah belati..."
Lalu...
Street!
Mia menusuk tepat di jantung Leonard. Aku terkejut bukan main. Apa yang telah terjadi. Kenapa Mia melakukan semua itu?
Tapi kemudian fokus teralihkan saat melihat darah yang berwarna biru itu menguap.
Hingga tanpa aku sadari bahwa sedari tadi Mia sudah menghilang. "Dimana dia?" tanyaku.
"Sial!"
Aku tidak punya pilihan selain kabur saat ini. Persetan dengan Leonard, faktanya tempat ini aneh sekali. Dan mungkin saja alasan kelompok minoritas ini dimusuhi adalah karena ini.
Tapi sialnya tanganku tiba tiba ditarik oleh Mia. "Mau kemana kamu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Lepas!"
Mia tersenyum. "Ayo ikut denganku, mahkluk bumi..."
Bruk!
__ADS_1
Kepalaku dipukul dengan keras. Aku terjatuh dan satu satunya yang kulihat terakhir kali adalah Leonard yang sedang memegang sebuah balok kayu hingga pada akhirnya semua berubah menjadi gelap...
Bersambung...