Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 21:


__ADS_3

...Happy reading.......


Yah, kini aku tidak bersemangat lagi. Dunia ini terlalu rumit bagiku. Dan ditambah lagi, aku tidak menyangka bahwa peri yang ada dihadapan ku ini ternyata pernah menikah dengan seorang manusia bahkan hingga memiliki seorang anak.


Amara: "Hidup yang mulia ternyata begitu rumit..."


Dan ya, si peri pun hanya membalas dengan senyuman. Tapi...


Eh?


"Tunggu dulu apa yang dia lakukan...."


Tiba tiba saja peri memeluk diriku dengan erat. Dan mengecup kening ku.


Aku yang mendapatkan perlakuan yang tidak terduga seperti ini pun hanya terdiam mematung tidak tahu harus berbuat apa.


Amara: "Umm...yang mulia?"


Tapi tidak lama dia langsung melepaskan pelukan ini.


Aku menatap peri berusaha memastikan apakah dia baik baik saja.


"Yang mulia, anda...eh tunggu jangan menangis!"


Aku terkejut melihat peri yang justru kini sedang menangis. Sebenernya ada apa dengannya, kenapa sikapnya aneh sekali?


"Maafkan aku, aku hanya sedikit merasa emosional saat melihatmu." ujar peri.


Sekarang aku mengerti, apakah mungkin peri merindukan putrinya.


"Apakah yang mulia merindukan putri yang mulia?" tanyaku.


Tentu saja sebagai seorang ibu, peri pasti merasakan rindu yang teramat berat. Dan disaat yang sama aku merasa iri.


Karena aku sendiri tidak tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya.


Aku memejamkan mata memikirkan permasalahan hidupku yang rumit.


Berpikir apakah di suatu tempat mereka juga sedang merindukan diriku?


Peri pun mengusap air matanya. "Ya, aku sangat merindukan nya. Saat melihatmu aku teringat akan dia."


Amara: "Tapi bukankah yang mulia sendiri tahu kondisi putri anda?"


Peri: "Tentu saja, tapi aku juga merasa bersalah kepadanya. Karena aku tidak bisa membantu putriku saat dia dalam kesulitan."


Aku menggenggam erat tangan peri dan tersenyum padanya. "Tapi aku nyakin, bahwa putri yang mulia akan mampu menyelesaikan masalah nya sendiri karena dia adalah anak yang mulia yang hebat."


Mendengar ucapan ku peri tertawa. "Terima kasih kamu memang berbakat dalam menghibur seseorang ya? dan oleh karena itu kamu juga pasti bisa menyelesaikan masalah mu sendiri karena kamu adalah -"


Boom...


Wushh...


Bagaikan petir disiang bolong sebuah kegaduhan pun terjadi.


Eh?


Waaaaaa!


Sebuah badai tornado tiba tiba saja menyerang. Ah, aku rasa kepalaku terasa pusing. Apakah aku sedang berhalusinasi. Bagaimana bisa ada ****** beliung di tempat ajaib seperti ini.


Tapi...


Aku menghela napas menyadari bahwa ini bukan halusinasi ku. Karena baru saja aku terseret masuk ke dalamnya!


Eh...

__ADS_1


"Aaaaaa! tolong yang mulia!" aku berteriak meminta pertolongan.


Dan siapapun bisakah jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya telah terjadi! bagaimana bisa tiba tiba saja terjadi badai tornado disini!


Dan...


Hap!


Sebuah tanaman merambat mengambil tubuhku dan membawa ku pergi dari amukan badai tornado.


"Fiuh... syukurlah...aku menghela napas saat aku berhasil keluar. Yang mulia terima -"


Sayangnya sebelum aku menyelesaikan kalimat ku, kini masalah yang lebih besar justru muncul.


Kini tepat disebelah ku peri terlihat mengamuk. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh mana sihir dan walaupun aku tidak nyakin, tapi mana sebanyak itu mungkin saja bisa menghancurkan tempat ini.


Dan tentu saja aku pun panik. "Yang mulia tenangkan dirimu, yang mulia bisa saja menghancurkan tempat ini!"


Aku yang panik tetap saja harus berpikir secara rasional, kan?


"Yang mulia?"


Hikkk!


Aku bergidik ngeri melihat peri yang kini sudah berubah menjadi monster. Dia benar benar sudah marah!


"Amara menjauh lah dariku, karena aku harus membereskannya!"


Wushh...


Sebuah angin besar pun menerpa wajahku begitu peri terbang mendekati badai tornado tersebut.


"ANAMRA TAMAKA LIHAT SAJA AKAN AKU BUAT KAMU TIDAK BISA BERJALAN LAGI!"


Ah, aku menghela napas. Jadi yang membuat kegaduhan ini adalah Tama.


Tunggu dulu...


"ANAMRA TAMAKA SEBENARNYA APA YANG KAMU LAKUKAN!" teriakku tapi sepertinya suaraku tidak terdengar oleh mereka berdua.


Sudahlah aku menyerah dan memilih untuk duduk diam melihat sebuah pertempuran hebat terjadi tepat diatas kepalaku.


Wushh...


Boom!


Duarr!


"Hmmm... semangat lah..." lirihku dengan sebuah cemilan yang siap masuk ke dalam mulutku.


Duarr!


Astaga bisa tidak sih mereka sedikit lebih tenang!


...~~...


Lihatlah mereka berdua, terlihat buruk sekali!


"Sudah selesai?" tanyaku.


Kini akhirnya setelah sekian lama pertempuran hebat itu selesai. Dan ya, tentu saja dimenangkan oleh si peri.


"Tama?" tanyaku memastikan bahwa dia masih hidup.


Astaga dia kacau sekali. Dengan rambut yang berdiri seperti habis disetrum dan tubuhnya yang dipenuhi oleh abu , dia terlihat sangat mengerikan.


Aku memijit kening ku yang terasa pusing. "Tama, berhenti mencari masalah. Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan dengan membuat badai tornado?"

__ADS_1


Tapi syukurlah walaupun terjadi pertempuran yang hebat, tempat ini tidak hancur. Mungkin karena ini adalah tempat ajaib, bahkan tidak ada satupun buku yang terjatuh.


"Umm...yang mulia baik baik saja?"


Ah, ternyata aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia justru sudah berubah wujud dan tengah menyeruput secangkir kopi sembari membaca buku.


Peri: "Tentu saja, aku tidak sebodoh orang gila itu."


Mendengarnya aku pun hanya bisa tertawa.


Huh...


Menyebalkan!


Bruk!


Aku menendang tubuh Tama, hingga membuat empunya merintih kesakitan.


"Astaga kamu kejam sekali, Amara. Bagaimana bisa kamu justru menendang tubuhku disaat seperti ini?" lirihnya.


Amara: "Itu salah kamu sendiri. Kenapa tiba-tiba saja kamu membuat badai tornado seperti itu. Bahkan kamu hampir saja membahayakan nyawa ku, tahu?"


Melihat aku yang justru mengomelinya bukannya mengobati lukanya Tama terlihat sedih.


Aku pun menghela napas pasrah. "Baiklah, jadi diamlah atau aku pukul kamu!"


Hmm...


Bagus sekali, dia sepertinya menurut.


Aku berjalan menghampiri Peri dan bertanya apakah dia memiliki sekotak obat obatan.


Peri: "Sebelum kamu bertanya, aku akan menjawabnya tidak ada. Kenapa kamu tidak sembuhkan dia dengan mana milikmu?"


Amara: "Aku tidak tahu mengenai hal itu dan aku juga tidak tahu cara melakukannya."


Peri: "Cobalah..."


Amara: "Apa?"


Peri: "Cobalah...."


Uhhh!


Mendengar ucapan peri, aku jadi bertambah kesal. Jika aku bisa, aku sudah melakukannya dari tadi!


Peri: "Aku tidak peduli walaupun kamu mengumpat ku seperti itu."


Dan aku pun terdiam.


Dasar peri menyebalkan!


Amara: "Bukankah anda juga pasti sudah tahu apa yang terjadi pada mana milikku. Aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuan Tama dan kini dia sendiri bahkan tidak bisa membuka mata."


Peri berdiri dan mengelus rambutku. "Yang mulia?"


"Oleh karena itu lakukanlah, sebenarnya Tama tidak pernah membantu mu. Sihir yang dia gunakan adalah sihir ilusi, oleh karena itu, kamu jadi berpikir bahwa selama ini kamu dibantu oleh Tama. Seluruh kekuatan yang kamu keluarkan adalah berkat usahamu sendiri." jelas Peri.


"Benarkah?" tanyaku


"Tentu saja" jawab peri.


Jadi selama ini, aku sudah ditipu!


Aku langsung menatap tajam kearah Tama. Sedangkan orang yang ku tatap justru mengalihkan pandangannya kearah lain.


Ah, sudahlah...

__ADS_1


Daripada itu lebih baik aku memfokuskan pikiran ku. Tidak ada salahnya aku mencoba kan?


Bersambung......


__ADS_2