
...Happy reading 🥰.......
"Keluarlah, saat ini aku sedang ingin sendiri."
Mendengarnya, pelayan itu pun menunduk, pergi meninggalkan diriku.
Aku menggenggam erat tanganku. Tidak akan kubiarkan siapapun mengambil nya dariku.
Aku menarik napas. Karena sekarang adalah saatnya.
"Kamu pasti bisa!"
Aku berjalan pergi meninggalkan kamar itu. Tempat dimana Tama mengurung ku. Atau mungkin juga bukan dia.
Entahlah aku sendiri tidak mempercayai ingatanku. Semua terasa sangat meyakinkan, bahkan terasa sangat nyata hingga aku tidak dapat mempercayai nya.
Hingga tibalah aku disini. Sebuah pintu rahasia yang tersembunyi. Gelap dan menakutkan semuanya tergambar dengan jelas.
Dengan tekad yang mantap aku berjalan menyusuri lorong lorong didalamnya. Berusaha untuk tetap nyakin bahwa semua akan baik-baik saja. Meskipun aku sendiri tidak terlalu nyakin tapi aku tidak punya pilihan lain.
"Siapapun tolong!"
Aku langsung berlari mencari asal suara itu. Hingga pada akhirnya suara itu membawaku ke suatu tempat. Tempat dimana seseorang...
Yang mungkin saja ke kenal berada disini...
"Siapa disana." tanyaku. Dengan langkah yang hati hati aku berjalan pelan mendekati nya. "Siapa kau? apa yang kamu lakukan disini?"
Sayangnya tempat ini terlalu gelap hingga membuat ku kesulitan untuk mengenali nya.
Aku berjalan mendekat...
Semakin mendekat hingga akhirnya dia menatapku!
Brak!
"Hahhh!" aku berjalan menuju mundur. Merasa terkejut dengan apa yang kulihat. Pria bertubuh besar dengan luka di sekujur tubuhnya. Aku menatap ngeri sekaligus merasa kasihan.
Dia menatapku, dengan tatapan mata yang menyala dia memanggil seseorang. "Amara..."
Melihat hal itu aku pun berjalan mundur hingga tidak sadar akan apa yang ada di belakang ku.
"Hah!" aku aku menarik napas, kupikir apa. Ternyata hanya sebuah batu.
Merasa ada yang tidak beres aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Lain kali saja, saat ini mari cari aman terlebih dahulu.
"Tunggu!" panggil nya dari dalam penjara.
Aku menghentikan langkah kaki ini saat mendengar nya. Kini dadaku berdetak dengan kencang dan entah bagaimana aku seperti merasakan sesuatu.
__ADS_1
Aku merasa seperti mengenal suara itu.
Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk berbalik. "Siapa kau?"
Dia menatapku. "Ini aku, Tama! jawabnya.
Aku menggeleng, berusaha untuk tidak mempercayai nya.
"Jangan berbohong, kau bukan Tama!"
Meski begitu jujur saja aku terpengaruh oleh kata katanya. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa ingin langsung mempercayainya begitu saja.
Tapi kini bukanlah saatnya menggunakan firasat, karena jawaban terbaik adalah dengan mengandalkan logika!
"Ku mohon percayalah padaku, aku adalah Tama. Mereka telah merencanakan sesuatu dan aku tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Oleh karena itu bantulah aku untuk menghentikan mereka. Hanya kau yang bisa menolong ku saat ini!"
Aku menggeleng. "Aku tidak akan pernah percaya dengan apa yang kamu katakan. Bisa saja kamu berusaha untuk menipu ku!"
"Tidak! percayalah padaku. Aku adalah Tama yang asli. Kau pasti merasakan sesuatu bukan? karena pada dasarnya kita berdua telah terikat. Kau adalah tuan dan aku adalah penjaga mu. Ritual Pistos bukan hanya sebatas ritual untuk menjaga tapi juga merupakan penghubung ikatan di antara kita berdua!"
"DIAMMM!" aku berteriak memintanya untuk diam.
Entah kenapa tiba-tiba kepalaku terasa begitu pusing. Sesuatu berusaha untuk masuk secara paksa ke dalam otakku. Dan oleh karena itu aku merasa rasa sakit yang luar biasa.
Aku memegang kepalaku. "Aww!" rasa sakit ini terasa begitu luar biasa. "Apa yang telah kamu lakukan padaku!"
Sekujur tubuhku terasa seperti terbakar belum lagi kepalaku yang terasa luar biasa pusing. Aku terjatuh tidak berdaya saat diserang oleh rasa sakit ini.
Kini aku terbaring tidak berdaya, meski begitu kuharap seseorang datang menolong ku. "Ta-ma...ku mohon tolong aku..."
Tapi tanpa diduga seseorang muncul. Aku tersenyum, ternyata memang benar bahwa dia adalah Tama yang asli. "Tama!" panggil ku.
Mendengar teriakkan ku Tama menoleh dan dia langsung berlari menghampiri ku. "Apa yang terjadi, ku mohon bertahanlah..."
Tapi...
"Tama?" panggil ku tapi bukannya pergi membawaku dari tempat ini. Tama justru berjalan pergi, ke arahnya. Dengan sebuah belati yang dia genggam, Tama tersenyum.
Aku menatap nya, merasa heran sekaligus bingung. Bertanya tanya apa yang akan Tama lakukan padanya. "Tama!" aku kembali memanggil nya tapi sayangnya dia tidak menggubris perkataan ku.
Dia menatapku dan kembali melihat pria di dalam sel penjara tersebut.
Dengan belati yang dia pegang ditangannya, Tama justru tertawa. Dia tertawa, terus saja tertawa dengan kencang.
"Apa yang sebenarnya akan kamu lakukan Tama?"
Dan dengan paksa Tama menarik tangan pria di dalam sel itu lalu...
Street!
__ADS_1
Aku memejamkan mata merasa ngilu saat belati itu tanpa ragu menyayat pergelangan tangan pria itu di ikuti dengan teriakan rasa sakit.
"Akhh!" pria itu terjatuh, dengan darah yang mengucur deras dari pergelangan tangannya dia menatap Tama. "Kau tidak akan pernah berhasil..." lirihnya.
Tama tertawa kecil saat mendengarnya. "Kamu terlalu nyakin..."
Dan kini Tama berbalik menatap diriku. Dengan senyuman yang mengerikan dia berkata, "Sekarang adalah giliranmu!"
Merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, aku pun berusaha keras untuk bangkit meski rasa sakit ini menyerang dengan hebat.
Tapi sialnya semua sudah terlambat. Karena kini dia sedang menatapku. "Apa yang akan kamu lakukan padaku?" tanyaku.
Tama tersenyum dan senyuman itu terlihat sangat mengerikan. "Bukankah kamu sudah tahu jawabannya..."
Dan dengan kencang dia mencengkram kuat tangan ku. "Aku meringis merasa sakit apalagi saat belati itu tepat menyentuh kulitku.
Aku menatap Tama lalu berganti menatap pria di dalam sel penjara tersebut. "Dia adalah Tama yang asli bukan?" tanyaku.
Setidaknya di detik detik terakhir aku harus bertanya padanya. Karena aku harus terlebih dahulu memastikan kebenaran atas apa yang telah terjadi.
Tama mengangguk. "Ya...dia adalah Tama yang asli.."
Aku menelan ludah saat tangan itu terangkat dan memperlihatkan betapa tajamnya ujung dari belati tersebut.
Street!
Aku mengigit bibir merasakan sakit saat Tama palsu itu menggores pergelangan tanganku. Dia berkata, "Sangat sulit untuk membuat mu tetap berada disisi ku. Seharusnya saat itu aku menghentikan ritual Pistos yang kalian berdua lakukan tapi tidak apa, karena kini akan ku buat kau melupakan nya untuk selama lamanya!"
"Ahh, Awww!" aku berteriak, kini darah segar mengalir dari pergelangan tangan ku. Ku tatap wajah Tama palsu itu yang tidak lain adalah Alvero.
Kini aku telah mengingatnya, aku telah mengigat semuanya!
"Dasar sialan kau, Alvero!" maki ku.
Melihat aku yang sepertinya telah mengigat segalanya Alvero mencengkram kuat daguku. "Menyerahlah Amara, kau tidak akan pernah bisa berhasil melawan ku..." ancam Alvero.
Tapi sayangnya tidak semudah itu untuk bisa mengalahkan ku, bukan?
Aku tersenyum, tanpa dia sadari aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya. "Ku harap kau menyukai hadiah dariku..."
Brak!
Dalam sekali pukulan aku berhasil membuat Alvero terpelanting ke udara. Dan tepat di saat itu juga aku menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
Flop!
Aku menghilang lalu muncul tepat di hadapan Tama. "Ayo!"
Aku langsung mengangkat tubuh Tama dan langsung meninggalkan tempat ini. Ku tatap wajah Alvero untuk terakhir kalinya. "Baik masa lalu ataupun saat ini kau tidak akan pernah berhasil Alvero..."
__ADS_1
Bersambung....