
...Happy reading.......
Sudah cukup lama aku dan Tama berjalan. Tapi tidak kunjung sampai di tempat yang dituju.
"Huh...ini sangat melelahkan. Berapa lama lagi kami akan sampai. Kaki ku ini sudah terasa kesemutan karena terus berjalan tiada henti."
Amara: "Tama, apalah tidak ada alat transportasi di sini?"
Tama: "Tentu saja ada."
Amara: "Jika begitu kenapa kita tidak naik transportasi saja dari pada berjalan kaki seperti ini. Karena ini sangat melelahkan..."
Tama: "Maaf aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin siapapun mengetahui keberadaan kita."
"Ah sial, tapi ya sudahlah. Lagipula jika Tama tertangkap aku yang akan repot."
"Tapi, kenapa Tama bisa menjadi buronan? bukankah itu artinya dia telah melakukan kejahatan?"
Hah!
Jika Tama sampai menjadi buronan Illinois itu artinya perkara yang dia buat tidak main-main.
Aku masih tidak percaya, bahwa saat ini aku telah menjalin kerja sama dengan seorang buronan Illinois.
Dan seketika aku membayangkan bagaimana jika aku juga ikut tertangkap.
Huhhh...
"Tolong ampuni aku!"
"Jangan mimpi jadi terima saja karena sebentar lagi akan aku penggal kepalamu itu!"
"Tidakkk!"
Ugh!
Aku menggeleng kan kepala mengusir bayangan mengerikan itu.
"Aku tidak mau mati terpenggal!"
Jadi oleh karena itu, apapun yang terjadi aku akan melindungi Tama.
"Ya jika dalam keadaan terdesak, aku akan langsung kabur meninggalkan Tama, hah...aku harap itu tidak akan pernah terjadi."
Aku melihat sosok Tama dari belakang sini. Tegak dan tampan...
Hei Amara hentikan fantasi gilamu itu!
Tapi apakah Tama benar orang seperti itu?
Setelah dipikir pikir lagi aku rasa Tama bukan seorang penjahat. Ah, sudahlah...
Tidak ada gunanya untuk terus memikirkan itu semua saat ini. Karena jalan terbaik nya adalah dengan mencari tahu sendiri.
"Tapi tidak ada salahnya bertanya kan?"
Aku berjalan lebih cepat untuk mendekati Tama. Dan dapat aku lihat wajahnya yang serius itu. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh nya saat ini...
Amara: "Tama, ada yang ingin aku tanyakan mengenai dirimu..."
Tama: "Apa itu?"
Aku menarik napas berusaha mengusir rasa gugup ini. Mahkluk ini tidak akan mungkin untuk membunuh ku, kan?
Amara: "Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan hingga membuat dirimu menjadi seorang buronan Illinois?"
__ADS_1
Eh?
Tiba tiba Tama berhenti dan melihat ke arahku. Dia menatapku dengan sorot mata yang terasa seperti....iba?
aku langsung memalingkan muka saat Tama terlihat seperti orang yang menyedihkan. Entahlah aku sendiri tidak mengerti...
Amara: "Eh...? jika kamu tidak bisa mengatakan nya sekarang tidak masalah. Hanya saja bukankah aku harus mengetahui apa yang terjadi...?"
Tama: "Tidak apa, itu bukan masalah."
Aku diam memperhatikan nya. Entah kenapa tapi ada sesuatu yang terasa aneh...
Tapi aku tidak tahu apa itu...
Tama: "Sebenarnya aku adalah putra kedua dari Garansatana Anamra pemimpin Neo terdahulu, ayahanda dari Pimpinan Sagarantana saat ini..."
Eh?
Apaaaa!'
Tidak dapat aku percaya!
Tama: "Aku dan Sagarantana adalah kakak beradik. Kami sama sama terlahir dari ibu yang sama. Jujur kemampuan ku jauh dibawah dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki Sagarantana."
"Kami berdua memiliki kemampuan tersendiri. Sagarantana berbakat dalam hal beladiri dan pedang oleh karena itu dia tumbuh menjadi seseorang yang kuat."
"Sedangkan aku yang memiliki bakat dalam bidang sihir hanya berfokus untuk meningkatkan kemampuan agar bisa menciptakan mana yang dimana bisa menyembuhkan banyak penyakit."
"Aku dan Sagarantana memiliki kehidupan yang sangat berbeda. Sagarantana lebih banyak menghabiskan waktu dengan para bangsawan lain untuk memperkuat posisinya."
"Sedangkan aku, sedari kecil lebih sering berinteraksi dengan rakyat Natana secara langsung. Dilihat dari pergaulan kami pun sudah terlihat dengan jelas bahwa Sagarantana lebih cocok untuk menjadi pemimpin Neo."
"Dan lagipula Sagarantana lebih pintar dan unggul dariku..."
"Keputusan itu tentu saja ditentang oleh Sagarantana. Karena dia berpikir bahwa dia lebih cocok untuk memimpin Neo dibandingkan aku. Dan aku sendiri pun mengakui hal itu."
"Tapi ayahanda tetap kukuh pada keputusannya. Dan karena itu perselisihan terjadi antara aku dan Sagarantana."
"Sagarantana berpikir bahwa aku tidak pantas menjadi pemimpin Neo dan berusaha untuk menyingkirkan aku dari tahta. Ayahanda yang menyadari niat jahat Sagarantana tentu saja tidak tinggal diam."
"Dengan tegas ayahanda mengusir Sagarantana dari Neo dan menekankan bahwa apapun yang terjadi aku akan tetap menjadi penerus."
"Semua berjalan lancar hingga tiba hari dimana penobatan akan terjadi."
"Tapi..."
"Ternyata di hari itu Sagarantana telah menyiapkan sebuah jebakan yang mematikan. Dia telah menyuruh seseorang untuk menaruh racun ke dalam minuman yang aku berikan kepada ayahanda. Dan karena hal itu aku menjadi pelaku kejahatan."
"Tentu saja aku tidak bersalah karena Sagarantana sendirilah yang mengakui perbuatan jahatnya kepadaku."
"Walaupun aku sudah membela diri tapi tidak ada yang percaya. Oleh karena itu aku melarikan diri. Dan disaat yang sama aku menemukan ruang garis waktu."
"Karena aku tidak memiliki pilihan tanpa berpikir panjang aku langsung masuk kedalam ruang garis waktu."
"Karena keputusan ku aku terombang ambing di ruang garis waktu. Hingga pada akhirnya aku sampai di bumi."
Aku terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh Tama.
Aku mengerti apa yang Tama rasakan tapi jujur saja jika aku menjadi Sagarantana aku pasti akan melakukan hal yang sama.
Bayangkan saja kamu sudah berusaha sangat keras untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi tiba-tiba saja seseorang yang memiliki kemampuan dibawah mu mendapatkan nya begitu saja.
Akan ada rasa amarah, kecewa dan tidak terima.
Tapi bukan keputusan yang tepat untuk membunuh ayahmu sendiri.
__ADS_1
Tapi disisi lain aku mengerti kenapa Garansatana membuat keputusan itu.
Tentu saja Sagarantana lebih unggul daripada Tama dan lebih cocok untuk menjadi penerus selanjutnya.
Tapi....
Yang mulia lebih memilih Tama yang menjadi penerus karena Tama lebih dekat kepada rakyat Natana dan karena itu, Tama pasti akan lebih mementingkan kesejahteraan rakyat Natana dibandingkan dengan Sagarantana.
Karena Tama sendiri lebih tahu apa yang dibutuhkan oleh rakyat Natana.
Tapi yang mulia Garansatana tidak memikirkan perasaan Sagarantana dan berpikir bahwa Sagarantana akan menerima keputusan nya.
Tapi sayangnya semua tidak berjalan seperti apa yang dibayangkan.
Sagarantana ternyata malah memendam kebencian kepada yang mulia Garansatana dan Tama.
Oleh karena itu perselisihan pun terjadi!
Tapi sayangnya semua sudah terlambat...
Tama: "Kita sudah sampai."
Aku terkesiap mendengarnya. Aku rasa aku terlalu serius berpikir hingga tidak sadar bahwa kami berdua telah sampai ditempat tujuan.
Tapi baguslah....
Aku sudah merasa lelah sekali...
Tapi...
Aku menatap tajam Tama meminta penjelasan darinya.
Sebenarnya apa yang dia inginkan!
Tidak ada apa apa disini kecuali beberapa pohon tua yang sudah mati. Dan lagipula tempat ini gelap dan dingin.
Dia tidak berpikir bahwa aku akan beristirahat di tempat seperti ini, bukan?
Amara: "Tama, kamu pasti bercanda kan? ha...ha...ha..."
Tama: "Ha..ha..ha..tapi Amara, aku tidak bercanda, aku serius."
Amara: "Apa?!"
"Hei, Anamra Tamaka! lihatlah tempat ini. Ini tidak terlihat seperti tempat peristirahatan!'
Tama: "Disinilah kita akan beristirahat tapi tentu saja dengan keadaan tidak seperti ini..."
Aku diam berusaha mencerna apa maksud dari perkataan Tama.
Amara: "Apa maksud mu, Tama?"
Aku merasa firasatku tidak enak saat tiba tiba tanpa alasan yang jelas Tama tersenyum.
"Hei, sebenarnya apa yang akan Tama lakukan kepadaku?!"
Tama: "Tentu saja dengan bantuan mu, Amara..."
Eh?
Apaaaa!
Bersambung....
__ADS_1