Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps: 39


__ADS_3

...Happy reading 🥰.......


"Aku mohon sadarlah Tama. Jangan buat aku menjadi gila!"


Tapi semua kata kata yang dilontarkan hanya berujung sia sia. Jika begini tidak ada pilihan lain lagi selain melukai Tama. "Maafkan aku..."


Brak!


Wushh...


Seketika tubuh Tama terlempar kebelakang. Aku bersiap dengan api besar di tanganku. Tidak ada pilihan lagi, aku harus melumpuhkan nya.


Tanpa memberikan sedikitpun waktu aku langsung menyerang Tama dengan semburan api yang luar biasa besarnya. Seketika tubuh Tama langsung terbakar. Tapi tidak perlu khawatir. Api itu tidak benar benar melukai kulit Tama melainkan menyerap seluruh aliran mana Tama.


"Akhhh!" Tama mengerang merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dan di saat yang sama aku semakin menyerap mana miliknya.


Dapat kurasakan Mana milik Tama yang begitu besar. Sekarang aku tahu alasan mengapa Sagarantana begitu berambisi untuk mendapatkan Mana milik Tama.


"Ahh..." Dan Tama pun terjatuh tidak sadarkan diri.


Aku mengelap keringat yang sudah berpeluh. Meskipun mana milik Tama sangatlah besar tapi semua itu juga diperlukan kemampuan khusus untuk mengendalikannya. Jika tidak, justru akulah yang akan dikendalikan oleh mana ini.


Sementara itu, dari atas sana Alvero hanya tersenyum kecil. Merasa puas dengan hiburan yang kami berdua sungguh kan. Aku mengigit bibir, merasa kesal. Dan tanpa ragu berjalan mendekati nya.


Hingga hanya tersisa beberapa Senti dari wajah Alvero.


"Pertunjukan yang bagus sekali. Sayangnya hanya berlangsung sebentar. Andaikan saja aku bisa membuat durasinya menjadi lebih lama pasti akan lebih menyenangkan bukan?" tanya Alvero.


Mendengar semua itu cukup membuat ku hampir kehilangan kendali. Aku pun membalas dengan tersenyum sinis. "Benarkah? jika begitu bagaimana jika kita saling bertarung seperti masa lalu..."


Alvero pun sangat terkejut dengan apa yang telah kukatakan. Seolah tidak percaya dia kembali bertanya. "Apa maksud mu?"


Aku tertawa kecil. Ternyata benar seperti dugaan ku. "Ada apa Flo? kupikir kamu sangat merindukan ku." jawabku dengan senyuman nakal.


Alvero mundur beberapa langkah tapi tiba-tiba...


Wushh...


Angin berhembus dan disaat yang sama dia berdiri dihadapan ku. Bahkan jarak diantara kami pun hampir sama sekali tidak ada. Aku menatapnya dan Alvero membalas tatapanku.


Terlihat dari matanya, Alvero benar benar merindukan ku. "Apa kah benar bahwa kamu adalah Violetta?" tanya Alvero merindukan ku.


Aku memejamkan mata saat dengan lembut Alvero menyusuri setiap jengkal wajahku...


Aku membuka mata dan menatap Alvero dengan sendu. Lalu kemudian membisikkan sesuatu, "Tentu saja aku juga merindukanmu. Dasar Flo bodoh!"

__ADS_1


"Ugh!"


Aku langsung menancapkan belati itu tepat di jantung Alvero. Dan dari mulutnya mengalir darah segar. Alvero menatapku tidak percaya. "Kenapa? setelah semua yang lakukan untuk membuat ingat. Kenapa justru kamu membunuh ku, Violetta?"


Aku tersenyum manis dan menatap nya rendah. "Maaf tapi aku bukan Violetta. Aku adalah Amara!" jawabku.


Dan begitu takdir Alvero yang berakhir dengan sangat tragis.


Aku langsung terkulai lemas. Dengan tangan yang penuh dengan darah seketika membuat tubuhku bergetar dengan hebat merasakan syok atas apa yang sudah kulakukan.


Akhirnya setelah penantian yang panjang aku bisa membunuh Alvero. Tentu saja berkat belati yang di berikan oleh Leonard.


"Hah... sekarang semuanya telah berakhir..."


Aku menghela napas berusaha untuk tetap tegar. Aku pun berbalik melihat jasad Alvero. Tapi...


"Dimana dia!" tanyaku panik.


Bukankah seharusnya jasad Alvero ada disana tapi kenapa sekarang tidak ada?


Aku melihat sekitar tapi nihil. Dia tidak dapat ku temukan. Dan entah kenapa tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhku seketika langsung dibuat merinding.


Aku pun melihat ke atas. Dan kini aku berhasil menemukan Alvero. Tapi dengan sisinya yang lain.


"Ahkkk!"


Namun...


Darah yang keluar dari matanya dan belati yang masih tertancap tepat di jantung Alvero. Di tambah dengan bentuk tubuh yang hancur membuat ku bertanya-tanya apakah dia adalah orang yang sama?


Dan yang lebih sialnya lagi kini rasa pusing kembali menyerang.


Aku memegang kepalaku yang pusing saat sebuah kilasan bayangan muncul.


Bayangan seorang wanita yang sedang memegang sebuah belati yang sama dengan milik ku.


Dan yang lebih anehnya adalah bayang bayang itu terasa begitu nyata. Seolah aku berada di sana. Seolah tengah berdiri tepat dihadapannya. Hingga aku pun sadar. Bahwa memang akulah yang ada disana.


Wanita itu pun berbalik dan menatapku. Dia tersenyum manis dan berkata padaku dengan lembut. "Selamat mimpi indah, Amara..."


Dan kini semuanya berubah menjadi gelap...


...~~~~...


Dia membuka mata. Dan...

__ADS_1


Crak!


Sihir hitam yang mengelilingi nya seketika musnah. Violet tersenyum. "Senang bertemu denganmu. Garansatana."


Garansatana membalas dengan cara menyerang Violet. Sebuah api hitam bermunculan di tanah membentuk lingkaran yang mengelilinginya. Seketika Violet terbang menghindar. Dan bersandar pada sebatang pohon nan kokoh. Dari atas sana dia menatap tajam Garansatana.


"Tidak ku sangka. Kamu akan berbuat sejauh ini hanya demi ambisi mu semata. Bahkan kamu dengan teganya membohongi dan menjebak anak anakmu. Garansatana." Hina Violet.


Mendengarnya Garansatana pun tertawa. "Setidaknya berikan lah ucapan selamat padaku. Apa kamu tahu bagaimana menderita nya aku untuk melakukan semua itu. Dan kini sebentar lagi aku akan berhasil mendapatkannya. Sesuatu yang selama ini ku incar."


....


"Tunggu dulu...?"


Jelas Violet langsung terkejut dengan apa yang terjadi. "Tama... bagaimana bisa?"


Karena dengan tiba-tiba Tama muncul di belakangnya dan membawanya pergi. Menjauh dari Garansatana.


"Sejak kapan kamu sadar?" tanya Violet merasa bingung.


"Dari awal aku tidak pernah kehilangan kesadaran ku." jawab Tama dingin.


Violet terdiam. Dapat dia rasakan rasa amarah dan kecewa dari hatinya. Bagaimana rasanya saat kamu mengetahui bahwa alasan sebenarnya penderitaan mu selama ini adalah rencana licik ayahmu sendiri.


"Tama..." Violet menggenggam lembut tangan Tama. Lalu bersandar padanya. "Tidak apa. Tenanglah sedikit, kamu tidak boleh termakan oleh emosi mu sendiri. Mengerti?"


Tama menghela napas panjang lalu memandang ke Arah violet. Tanpa ragu Tama memeluk Violet dengan hangat. "Aku sangat merindukanmu..." ucap Tama dengan lirih.


"Aku juga sangat merindukanmu..." balas Violet.


Tapi semua kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat sebab musuh yang sebenarnya telah tiba.


Garansatana bertepuk tangan. Dia tertawa dengan kencang seolah melihat adegan yang lucu. "Oh pujaan hatiku. Aku sangat merindukanmu. Ayo, mari kita berciuman dan bercinta di bawah sinar sang rembulan malam." Ejek Garansatana.


Tama yang merasa kesal pun berniat untuk maju. Memberikan pelajaran tapi dicegah oleh Violet. "Tidak perlu membuang tenagamu untuk meladeni nya. Kamu perlu ingat hal ini. Kita tidak bisa mengalahkannya tanpa bantuan Amara."


"Tapi bagaimana caranya. Kamu sendiri bahkan saat ini sedang mengambil alih tubuhnya." tanya Tama dengan bingung.


Violet tersenyum. Ia menggenggam erat tangan Tama lalu sebuah cahaya bersinar dengan indahnya. Dengan bantuan sang bulan Violet mengucapkan janji.


"Biarlah yang menjadi takdir harus terjadi. Lupakanlah masa lalu dan bentuklah masa depan yang baru. Biarkan sang masa lalu ini bertemu dengan sang masa depan."


Kini dari dalam tubuhnya mengeluarkan sebuah cahaya. Cahaya yang bergitu bersinar. Dan membawa Violet pergi sejenak dari alam duniawi.


Violet membuka mata. "Hai Amara." sapa Violet.

__ADS_1


Kini hanya ada mereka berdua. Amara menggenggam erat tangannya dan menatap Violet. "Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


Bersambung....


__ADS_2