Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps: 30


__ADS_3

...Happy reading 🥰.......


Dengan pistol yang mengarah pada nya dia masih saja bisa untuk tersenyum. Sepertinya Ia memiliki nyali yang kuat. Tapi sayangnya semua itu berbanding terbalik denganku.


Sebisa mungkin aku berusaha untuk menyembunyikan rasa gugup ini.


"Benar benar merepotkan.."


"Pintar juga kamu menyadari keberadaan ku, Amara." ucap Alvero.


Amara tersenyum. "Tentu saja, mudah bagiku untuk mengenali bahwa kamu berada di dalam ruangan ini." jawabku.


Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya, dari luar. Jika mahkluk mengerikan yang hinggap ditubuhnya sebanyak ini. Lihatlah betapa pengapnya ruangan ini.


Alvero berdiri dan berniat mendekati diriku tapi aku mencegahnya. Aku mengacungkan pistol ke arahnya dengan nyakin. "Berhenti, tidak perlu kemari. Kamu cukup duduk disitu dengan manis. "Ucapku.


Bukan tanpa alasan, aku tidak ingin dia lebih dekat denganku. Bisa bisa aku kehilangan tenaga bahkan sebelum aku dapat mengetahui sesuatu.


"Jadi bagaimana bisa kamu mengetahui rencana ku." Tanya Amara penasaran.


Meskipun aku sudah dapat menduga jawabannya. Tapi tidak ada salahnya mendengar jawaban darinya langsung.


"Tentu saja dari mereka. Kamu tidak berpikir mereka akan percaya begitu saja padamu, bukan?" tanya Alvero.


Dan jawaban nya tepat sesuai dugaan. Aku menatap tajam kearah mereka.


"Dasar pengkhianat..."


"Aku tahu, tapi sama halnya seperti mu. Mereka juga tidak akan selalu setia padamu sama seperti kamu setia kepada Garansatana." balas Amara.


Mendengar ucapan ku Alvero terdiam. Terlihat dari raut wajahnya dia tidak menduga aku sudah mengetahui rahasia tersebut.


Tapi bukan masalah. Tanpa perlu mencari bukti aku sudah tahu jawaban nya. Karena pada dasarnya orang seperti Alvero tidak akan pernah bisa dipercaya.


Dan aku tahu bagaimana rasanya. Karena aku pernah menjadi bagian dari mereka.


Tapi tidak untuk waktu yang lama Ia kembali tersenyum sumringah. Alvero menatapku dengan tajam. "Kamu hebat sekali, Amara!" ujarnya dengan senang.


Dan aku yang mendengarnya hanya bisa menguatkan tangan ku. Jangan sampai pistol ini terjatuh karena tanganku yang terus bergetar.


Sial!


Aku harap dia tidak menyadarinya. Tapi ternyata itu semua hanya sia sia. Karena sedari awal Alvero sudah menyadarinya.


"Ada apa, tenang saja aku tidak berniat untuk mencelakai dirimu." ujarnya.


"Bagaimana bisa aku percaya!" jawab Amara dengan nada yang mulai meninggi.


Aku harus bertahan sebentar lagi. Meskipun energi ku sudah mulai habis.


"Karena kamu memiliki sesuatu yang aku butuhkan." Alvero.

__ADS_1


"Aku tidak nyakin bisa bekerja sama dengan orang sepertimu, Alvero." jawabku sambil menahan tangan ini.


Tapi sial, aku sudah kehabisan waktu. Rencana yang sudah kususun gagal total!


Aku terjatuh saking lemasnya. Semua energi ku sudah terserap habis oleh para mahkluk sialan itu. Dan yang lebih sialnya adalah bagian dimana Alvero justru berjalan mendekati diriku.


"Pergi!" teriakku. Hingga pada akhirnya aku hanya bisa terdiam, tidak bisa melakukan apapun lagi.


Alvero menatapku. Dengan pelan tangannya mengelus rambutku hingga....


Pada akhirnya dia menjambak rambutku dengan kuat. "Ahkkk!" rintihku menahan sakit.


Alvero menatapku dengan tajam. "Sebentar lagi, rencana yang sudah lama kususun akan terwujud. Oleh karena itu... terimakasih banyak atas kehadiran mu..." ucap Alvero dengan lirih ditelinga ku.


Aku mengernyit tidak mengerti. Sebenarnya apa yang orang gila ini maksud. Kenapa dia justru berterima kasih atas kehadiran ku. Apa yang dia inginkan dariku?


"Apapun yang kamu rencanakan tidak akan pernah berhasil, Alvero!" ujarku.


Mendengar ucapan dari mulutku ini dia semakin menjambak rambutku dengan kuat. "Akhkk!"


"Kamu tidak tahu tentang apapun. Jadi diamlah!" Bentak Alvero dengan wajah yang semakin dekat denganku.


"Bagus!" Ujarku sambil tersenyum puas.


"Apa?"


Brak!


Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi aku langsung mengarahkan kakiku tepat mengenai wajahnya.


Brak!


Dan seketika tubuh Alvero langsung terlempar ke belakang. Melihat tuannya terluka para anak buahnya langsung bertindak. Mereka semua langsung mengambil dan mengarahkan pistol mereka ke arahku. Tapi tidak semudah itu Ferguso!


Flop!


Bip!


Aku menghilang dan tiba-tiba muncul tepat di depan mereka tentu saja dengan membawa sebongkah batu besar yang terbuat dari air dan kejutan!


"Aaaaaak!" mereka semua berteriak-teriak dengan keras saat bola air itu yang aku pecahkan langsung mengenai mereka semua.


"Maaf sepertinya aku terlalu banyak memasukkan petir ke dalamnya."


Aku tertawa senang saat melihat mereka semua terus berteriak kesakitan hingga pada akhirnya mereka tergeletak tidak berdaya.


Sekarang saatnya giliran mu, Alvero!


Dalam hitungan detik aku muncul tepat di hadapannya. Tidak akan aku berikan waktu sedetikpun untukmu, Alvero!


Dan....

__ADS_1


Boom!


Brak!


Aku meninju wajah Alvero dengan sekuat tenaga hingga dia terlempar ke belakang.


Aku mengusap peluh keringat diwajahku. "Sudah berakhir!" Sekarang aku hanya perlu melanjutkan rencana selanjutnya.


Dengan tenaga yang masih tersisa aku berjalan mendekat. Walau jujur aku sudah lemas sekali. Aku berniat untuk mengambil rambut milik Alvero. Akan kubuat sesuatu dari rambutnya.


Tapi, tepat sebelum aku menyentuhnya tiba tiba...


Brak!


"Ahkkk!" aku meringis merasakan rasa sakit di seluruh tubuhku. Seseorang tiba tiba saja meninju perutku dengan keras hingga aku terlempar ke belakang.


Aku berusaha bangkit dan melihat siapa orang itu.


"Mustahil, bagaimana bisa!"


Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Bukankah dia...


"Kamu tidak berpikir aku sebodoh itu, bukan?" ujar Alvero.


Aku menggenggam erat tangan ku. "Sial, semuanya sudah ditebak olehnya!"


Dengan paksa aku berusaha untuk berdiri. Meskipun rasa sakit ini benar benar luar biasa. "Bagaimana kamu bisa menyadari rencana ku...?" tanya Amara dengan suara yang lirih.


Alvero tertawa dan aku benci tawa itu. Entah kenapa saat mendengar nya seperti pertanda bahwa aku sudah kalah darinya. Dan aku benci kekalahan!


Dia mengeluarkan sesuatu dari jubahnya.


Aku terkejut bukan main saat melihat benda yang dia pegang itu.


"Kembalikan buku itu padaku!" bentak Amara.


Aku sangat kesal sekaligus mereka bodoh. Bagaimana bisa buku hitam itu ada di tangannya.


Tapi yang lebih menganggu bagaimana caranya dia mendapatkan buku tersebut. Aku saja yang merupakan pemilik dari buku itu sangat sulit untuk sekedar memegangnya. Tapi dia?


Dengan santainya mendapatkan buku tersebut.


"Tidak perlu merasa heran, Amara. Semua ini sudah tertulis sebagai takdirmu. Lihatlah sendiri!"


Aku memejamkan mata berusaha untuk tetap tenang. Seingatku halaman terakhir dari buku itu adalah halaman ke tujuh. Tapi semua itu sudah tidak lagi berguna. Karena tepat ketika aku membuka mata.


Semuanya sudah terlambat...


Karena kini, pada halaman ke tiga puluh. Tepat di ujung paragraf terakhir tertulis bahwa.....


"Alvero berhasil mengalahkan ku..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2