
...Happy reading 🥰......
Apapun yang mereka katakan padaku aku tetap tidak mau percaya!
Bayangkan saja kamu melihat pembunuhan yang terjadi tepat di depan matamu sendiri dan kini mereka berdalih bahwa itu hanya kesalahpahaman saja!
"Aku melihatmu membunuh Leonard dengan belati!" ujar Amara.
Mendengar itu Mia hanya tersenyum. "Aku hanya melakukan apa yang dia perintahkan."
"Bohong!" tegas ku.
Mia menghela napas dan kembali menatap Leonard yang hanya diam, tidak peduli dengan pertengkaran kami berdua. "Katakan sesuatu padanya." suruh Mia kepada Leonard.
Leonard: " Kenapa aku harus peduli, sudahlah, biarkan saja jika dia tidak mau percaya. Lagipula aku nyakin sebentar lagi dia akan pergi."
Mia: "Kamu ini benar benar kakak yang buruk!"
Merasa kesal dengan mereka yang justru sibuk sendiri aku pun berdiri. "Sudahlah, tidak ada gunanya aku disini. Lagipula apa yang Leonard katakan itu benar adanya. Jika begitu terima kasih atas pertolongan kalian kepadaku, selamat tinggal!"
Apa yang sebenarnya kulakukan disini. Lebih baik aku pergi. Meskipun aku tersesat aku tidak bodoh. Aku nyakin bisa mencari jalan keluarnya. Meskipun aku sendiri tidak terlalu nyakin.
Aku menggeleng kan kepala mengusir keraguan ini. Tidak ada salahnya mencoba!
Leonard: "Apa kamu nyakin?" ujar Leonard sembari melemparkan sebuah kertas.
Aku terdiam melihat isi dari kertas itu. "Darimana kamu mendapatkannya?"
"Baru saja. Para penjaga kerajaan berkeliling lalu melemparkan beberapa kertas ini. Aku nyakin ini berkaitan erat denganmu."
Di kertas itu tertulis bahwa pengkhianat kerajaan Neo, Anamra Tamaka. Akan dieksekusi oleh pihak kerajaan Neo. Meskipun tidak tertulis hukuman apa yang akan Tama terima tapi aku nyakin mereka tidak akan menghabisi Tama.
Karena ada sesuatu yang mereka inginkan dan itu adalah mana sihir Tama.
"Aku tidak terlalu nyakin, tapi bagi seorang anggota kelompok minoritas yang dibenci kamu terlalu tahu banyak hal. Bahkan sesuatu yang mungkin saja tidak diketahui oleh para penjabat tinggi Neo." ujar Amara.
Dan tepat seperti dugaan ku dia tahu sesuatu.
Leonard tersenyum. "Tentu saja aku tahu banyak hal. Karena aku adalah pengawal pribadi raja sebelumnya. Garansatana. Tapi itu sebelum aku di lempar kesini."
"Itu mustahil bukan?" tanya Amara.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini jika kamu tahu cara dunia bekerja." jawab Leonard.
"Jika begitu kamu pasti tahu sesuatu apa yang terjadi pada hari dimana Sagarantana mati dibunuh, bukan?" tanya Amara.
Mendengar pertanyaan itu Leonard justru tertawa. "Hahaha, sayangnya tidak."
__ADS_1
Eh, apa?
Bagaimana mungkin!
Bukankah dia bilang dia adalah pengawal pribadi raja sebelumnya. Bagaimana bisa dia tidak tahu apapun mengenai tuannya sendiri. Dia pasti bohong kan?
Leonard: "Aku tidak bohong mengenai hal itu. Aku mengatakan yang sejujurnya. Aku tidak tahu apapun mengenai apa yang terjadi. Setidaknya itulah ingatan ku saat ini."
Amara: "Apakah ingatan mu telah dihapus?"
Leonard: "Benar sepertinya ingatan ku telah dihapus."
Amara: "Sepertinya? apa kamu tidak nyakin?"
Leonard: "Ya, sejauh ini semua yang kukatakan hanya berdasarkan opiniku semata. Tapi meskipun begitu jika itu semua bohong kenapa aku selalu bermimpi tentang yang mulia Sagarantana. Seolah-olah itu menjadi petunjuk bahwa aku memang mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengingat aku pun tidak tahu apa masa laluku, semua hilang begitu saja."
Amara: "Aku mengerti."
Aku melihat mereka berdua. Meskipun terdengar seperti kebohongan tapi aku juga tidak bisa mengabaikan hal ini. Mengingat dia yang tahu mengenai asal-usul ku saja sudah menjadi bukti bahwa dia memang bukan makhluk biasa.
Tapi bukan berarti mereka tidak berbohong. Bisa saja mereka memberitahu apa yang sebenarnya terjadi tapi juga disaat yang sama mereka juga menyelipkan beberapa informasi palsu.
Ditambah kejadian tidak terduga tadi semakin menguatkan opiniku. Bahwa sebenarnya mereka telah mengetahui sesuatu yang berharga hanya saja mereka membutuhkan seseorang untuk membantu rencana mereka. Dan orang yang mereka butuhkan adalah aku.
Aku adalah salah satu pion mereka.
"Lalu jika kamu tidak mengingat mengenai masa lalu mu sama sekali bagaimana dengan Mia, siapa dia?" tanya Amara.
Aku menepuk jidat tidak percaya. Tapi jika memang diposisi Leonard dia tidak memiliki pilihan lain. Selain mengikuti Mia.
Lalu sekarang bagaimana?
Aku berpikir sejenak, tapi sial. Aku berdiri dan menatap mereka berdua. Berdiam diri di satu tempat tidak akan bisa menyelesaikan masalah.
Lagipula jika di ingat ingat aku juga belum tahu ini dimana. Jadi tidak ada salahnya mencari tahu keadaan sekitar dulu.
"Ada apa?" tanya Leonard.
"Aku harus keluar mencari tahu keadaan sekitar sini terlebih dahulu. Lagipula mencari solusi disaat kamu tidak tahu wilayah musuh tidak ada gunanya. Sekalian aku juga memang merasa penasaran dengan penduduk minoritas setempat." ujar Amara.
Mendengar hal itu Leonard dan Mia pun berdiri. "Baiklah aku akan menemanimu berkeliling. Tapi bukankah terlalu berbahaya bagimu untuk keluar. Bagaimana jika para penjaga mengenalimu?" tanya Leonard.
Aku tersenyum dan mengambil sesuatu. "Tidak perlu khawatir aku punya ini."
Untung saja aku sempat terpikirkan untuk membawa barang seperti ini. Benda yang berbentuk bola kecil berwarna biru ini akan sangat berguna dalam misi ini.
Boom!
__ADS_1
Dalam sekejap penampilan ku berubah menyerupai mahkluk yang berada disini. Meskipun aku terlihat mirip dengan mereka tapi tetap saja aku memiliki perbedaan.
"Bagaimana caramu melakukannya, kamu benar-benar terlihat mirip dengan ras ku?" tanya Mia yang penasaran.
Aku tersenyum. "Itu rahasia!"
Dan karena itu Mia pun mengerutkan bibir nya merasa kesal. Melihat ekspresi Mia yang seperti anak kecil sedikit membuat ku merasa nyaman.
Ya, tidak ada salahnya untuk sedikit memberikan kepercayaan kepada mereka, bukan?
Dan lagipula aku memliki rencana, ada satu tempat yang harus aku kunjungi terlebih dahulu...
"Apa kalian memiliki perpustakaan di sekitar sini?" tanyaku.
Mendengar ucapan ku mereka berdua justru saling bertatapan. "Apa ada yang salah?"
Leonard menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sayangnya kita tidak memiliki perpustakaan." ujarnya merasa sedih.
"Eh kenapa?" tanya Amara.
"Karena kami kelompok minoritas pemerintah Neo membatasi kami dalam berbagai hal termasuk ilmu pengetahuan. Faktanya tidak ada satupun kelompok minoritas yang bisa membaca kecuali diriku. Semenjak pemerintahan Neo beralih kekuasaan kepada Garansatana kelompok minoritas dilarang untuk memperoleh pendidikan. Oleh karena itu mustahil bagiku untuk membawamu pergi ke perpustakaan." jawab Leonard.
Aku terdiam, sepertinya ini akan menyusahkan. Tapi...
"Bukan berarti tidak ada kan?" tanyaku.
"Tentu saja ada tapi itu terletak di pusat kota Neo tapi mustahil bagi kita untuk bisa masuk." Jawab Leonard.
"Tidak apa."
Aku menggenggam erat tangan mereka berdua.
Lalu kemudian sebuah cahaya keluar dari tubuh kami berdua. Aku menatap mereka berdua. "Itu bukan hal yang mustahil." Dan dalam sekejap tubuh kami berdua berubah menyerupai mahkluk yang tinggal di Neo.
Melihat perubahan fisik mereka, jelas saja Leonard dan Mia terkejut. Tapi ini adalah jalan yang terbaik.
"Dengan ini kita bisa pergi, bukan?" tanyaku kepada Leonard.
Leonard mengangguk. " Tentu saja, ayo akan aku antarkan." ujar Leonard.
Kami bertiga pun berjalan pergi menuju perpustakaan yang terletak di pusat kota Neo.
Tapi kemudian. "Ada apa Amara?" tanya Leonard merasa heran pasalnya aku berhenti berjalan tiba-tiba.
Aku tersenyum. "Tidak ada." lalu kami berdua pun melanjutkan perjalanan.
Tapi...
__ADS_1
Tentu saja bukan hanya ada kita bertiga saja kan?
Bersambung...