
...Happy reading 🥰.......
"Aku harus segera pergi dari sini..."
Aku berusaha untuk bangkit, tapi sial. Aura negatif Alvero terlalu kuat. Banyangan banyangan jahatnya juga semakin kuat. Sebenarnya dari mana asal mereka, kenapa bisa sebanyak ini?
Dia terus berjalan, mendekat. Selangkah demi selangkah. Aku menutup mata, pasrah. Sudah tidak ada gunanya. Sekarang yang bisa aku lakukan hanya berdiam diri. Berharap muncul keajaiban.
Dan...
"Loh?"
Alvero justru berjalan melewati Amara begitu saja.
Aku melihatnya dengan bingung. Kenapa Alvero justru melewati ku begitu saja?
Namun kemudian...
Alvero mengangkat tangan dan seketika...
Boom!
Seketika tembok kokoh itu hancur dalam hitungan detik. Terlihat seseorang sedang bersembunyi. Menyadari keberadaannya disadari oleh Alvero, seketika membuatnya merasa cemas yang luar biasa.
"Bagaimana, hebat bukan! Aku bisa menghancurkan tembok kokoh itu dengan satu gerakan. Bagaimana jika hal yang sama kulakukan dengan kepalamu itu?" Ujar Alvero sambil memperhatikan Pria itu.
Alvero tersenyum. "Dasar bodoh!"
Aku memejamkan mata.
Wushh!
Seketika kepala pria itu hancur. Aku menatap Alvero ngeri. Ternyata inilah sifat aslinya. Tidak heran banyak mahkluk menyeramkan menempel padanya.
Mereka adalah orang-orang yang dibunuh oleh Alvero dengan keji. Mereka menaruh dendam yang besar kepada Alvero, berharap suatu hari nanti dendam mereka terbalaskan.
Semakin banyak bayangan yang menyeramkan maka artinya semakin banyak yang telah Alvero bunuh.
Melihat tubuh tanpa kepala itu Alvero tersenyum Devil. "Siapapun yang berani menghalangi rencana ku maka maut akan datang menjemputnya!"
Tapi semua itu belum berakhir...
Aku menutup mulut tidak percaya. Alvero merobek tubuh pria itu lalu mengambil jantungnya.
Tepat di depan mataku, dia melahap habis jantung itu tanpa sisa.
Rasanya aku ingin muntah melihat hal menjijikan seperti itu tapi sekarang bukanlah waktunya. Aku harus segera pergi dari sini. Aku beruntung hari ini, bahwa Alvero ternyata tidak menyadari keberadaan ku. Tapi aku juga harus berhati-hati.
Dengan tubuh yang lemas ini, aku paksakan untuk berjalan pergi. Untuk saat ini aku belum siap untuk mati!
...~~~~...
__ADS_1
"Hah.."
Akhirnya setelah sekian lama menderita, energi ku kembali terisi. Meskipun begitu kini aku justru sedang berada dalam masalah lainnya. Pasalnya kini aku tidak tahu sedang berada dimana.
Ya, aku sedang tersesat!
Aku terus berjalan ke sana kemari tapi aku terus saja kembali ke tempat yang sama. Seolah aku hanya jalan berputar putar.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" keluh Amara.
Tenagaku sudah banyak terkuras. Jika terus seperti ini bisa bisa aku jatuh tidak sadarkan diri. Tapi untungnya tiba tiba seseorang mengulurkan sebuah roti kepadaku.
"Kamu?"
"Ini, terima lah." ujarnya sambil tersenyum.
Aku berdiri dan menerima roti darinya. Ya, dia adalah si gadis kecil yang tolong waktu itu. Sepertinya dengan cepat kehidupan nya telah berubah.
"Sepertinya kamu berhasil mendapatkan majikan yang baik." ujar Amara.
Baik dari atas sampai kebawah dia terlihat bersih. Berbeda sekali dengan yang kulihat waktu itu.
Gadis itu tersenyum dan itu terlihat sangatlah cantik. "Ini juga berkat anda. Jika hari itu anda tidak menolong saya, mungkin saya tidak akan bertemu dengan orang baik itu."
Aku pun tersenyum. "Baguslah jika begitu. Aku senang mendengarnya."
"Ini ambillah." ujar Gadis kecil itu sembari menyerahkan sekeranjang roti kepadaku. Aku pun mengangguk. "Terima kasih."
Dan kemudian gadis itu pergi menghilang...
Aku pun berdiri. Dengan tangan yang sedang membawa keranjang berisikan roti aku berjalan pergi. Tidak lupa untuk memungut sebuah kertas yang tergeletak di lantai.
Aku tersenyum lalu ku lahap sepotong roti. "Dia benar benar berguna ya."
...~~~~...
Di istana kerajaan Neo....
Garansatana terus saja berjalan mondar mandir ke sana kemari. Terlihat sekali dengan jelas dia merasa cemas akan sesuatu. Hingga seseorang mendatanginya.
"Hormat saya kepada yang mulia Garansatana. Penguasa kerajaan Neo." ucap Alvero.
Garansatana pun melihat Alvero, seolah menunggu sesuatu. "Maafkan hamba yang mulia tapi hamba hanya berhasil menangkap dua makhluk minoritas saja hari ini." ujar Alvero.
Mendengar hal itu seketika Garansatana terlihat murka. Dengan kuat dia menarik kerah baju milik Alvero. "DASAR BODOH!"
Lalu melempar tubuh Alvero hingga terbanting dengan keras. Walaupun terasa sangat menyakitkan tapi Alvero langsung segera bangkit dan kembali bersikap hormat kepada Garansatana. "Maafkan hamba yang mulia. Tapi hamba berjanji, hamba akan segera berhasil menangkap dua mahkluk minoritas secepatnya. Agar yang mulia bisa segera melakukan ritual Aimilios secepatnya."
"Baiklah aku berikan satu kesempatan lagi untukmu. Tapi ingatlah, jika engkau gagal maka kepalamu itu akan ku penggal dan dipajang di depan istana gerbang. Mengerti?!" Ancam Garansatana.
Mendengar Ancaman Garansatana, Alvero menelan ludah. "Baik yang mulia. Jika begitu hamba pamit undur diri."
__ADS_1
"Pergilah!"
Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi Alvero pergi meninggalkan istana kerajaan Neo.
Dia menggenggam erat tangannya. Terlihat dengan jelas Alvero sedang merasa kesal. "Sial!"
Tapi. "Aku harus bersabar. Sedikit lagi, maka semuanya akan berhasil. Tidak sebelum aku mendapatkan mahkluk dari Bumi tersebut."
Alvero tersenyum Devil saat mengingat beberapa waktu yang lalu. "Sekarang kamu sudah bertambah kuat ya, Amara..."
...~~~~...
"Aku pulang."
Belum juga kaki ini masuk, aku sudah diperlihatkan dengan pemandangan yang luar biasa buruknya.
Kenapa perempuan itu masih ada disini? apa dia tidak punya kerjaan lain selain menganggu orang?
Tapi sudahlah, aku terlalu lelah.
"Apa itu yang kamu bawa?" tanya Mia.
"Ini roti, ambilah." lalu kuserahkan sekeranjang penuh roti itu kepada Mia. Tapi kemudian Mia menatapku dengan heran.
Seolah bertanya bagaimana cara ku bisa mendapatkan nya.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan roti roti ini. Ditambah lagi ini adalah roti kualitas terbaik." tanya Mia kepadaku.
Nah, benar kan. Sesuai dugaan!
Aku tersenyum lalu mengelus rambutnya. "Aku mencurinya." jawabku asal. Lalu kemudian aku langsung pergi tanpa mempedulikan reaksi Mia.
Tapi syukurlah sepertinya dia hanya terdiam saja.
Setibanya di kamar ku, aku langsung membaringkan diri. Sayang sekali disini aku tidak dapat mandi. Tapi ya sudahlah.
Aku memejamkan mata mengingat kejadian tadi.
Jadi inilah sisi Alvero yang sebenarnya. Tapi disisi lain itu juga sangatlah merepotkan diriku.
Lalu kemudian terpikir olehku, apa mungkin Alvero memiliki rencana lain yang dia sembunyikan. Karena bagaimanapun juga dia itu sangatlah misterius. Bahkan sedari awal kedatangan ku aku belum mengetahui apapun tentang masa lalunya.
Dan yang lebih penting, apa alasan Alvero mengkhianati kepercayaan Tama?
Apa ada alasan lainnya?
Dan memikirkan semua itu membuatku pusing seketika. Tidak salah lagi, aku terlalu lelah untuk hari ini. Setidaknya biarkan aku untuk beristirahat.
Ya, benar aku harus beristirahat. Sejenak...
Tanpa perlu menunggu lama, mataku sudah mulai terpejam. Sepertinya otakku berfungsi dengan benar.
__ADS_1
Baiklah, sekian untuk hari ini. Sampai jumpa lagi, duniaku...
Bersambung....