Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 41:


__ADS_3

...Happy reading 🥰.......


Di dunia yang terkunci. Berhiaskan sebuah cahaya indah yang terus bersinar. Seorang wanita tersenyum memandang takdir seseorang.


Secangkir kopi beraroma nikmat dengan tali takdir berwarna merah yang telah berada di tangannya. Dan kini tali itu telah terputus berubah menjadi abu.


"Jadi seperti inilah akhir dari takdir kalian berdua."


Peri tertawa kecil. Menatap seorang anak perempuan yang sedang merintih kesakitan. Dengan hati yang terasa sedikit perih dia menyemangati nya. "Kamu pasti kuat anakku. Karena kamu adalah landasan takdir yang baru. Era dimana dunia yang penuh ilusi ini akan segera terkuak."


Dan dia pun kembali melanjutkan kehidupan nya yang penuh dengan kekosongan dan perbuatan tiada guna.


...~~~~...


Tama mendongak ke atas. Ia menghela napas. Berusaha untuk tetap berpikir positif. "Aku harap kamu tidak mengkhianati kepercayaan ku. Violet..." gumam Tama.


Garansatana yang masih bisa mendengar gumaman Tama pun terkekeh geli. "Dasar bodoh! apa kamu pikir wanita itu akan selalu setia padamu. Ingatlah seberapa kuatnya dia." sindir Garansatana.


Tama berbalik menatap malas Garansatana. "Lalu kamu pikir kamu lebih baik darinya?" tanya Tama.


Garansatana terkekeh. "Aku punya saran untukmu. Jangan pernah mencintai wanita itu. Dia adalah wanita yang mungkin saja menjadi landasan takdir. Bukankah kedatangannya ke masa ini adalah untuk mengubah takdir yang ada di masa depan. Lalu menurut mu apakah dia akan tetap memilih mu antara membuat perubahan takdir atau kembali pada takdir yang ada?" tanya balik Garansatana.


Tama terdiam. Dia memang sudah memikirkannya tapi dia tetap berusaha untuk berpikir positif namun kata kata dari Garansatana membuatnya semakin merasa cemas dan mulai meragukan pilihannya sendiri. "Apa maksud mu?" tanya lagi Tama.


Garansatana menjawab, "Bukankah terkadang seseorang harus menyingkirkan salah satu takdir milik orang lain untuk mengubah takdir yang ada. Karena pada dasarnya setiap takdir memiliki pengaruh terhadap masa depan. Dan semakin banyak yang kamu ketahui maka semakin berpengaruh terhadap masa depan."


Hap!


Crak!


"Awas!" seru Garansatana.


Seketika Tama langsung menghindar. Dia memegang tekuknya merasa merinding. Telat sedetik saja maka saat itu juga mungkin kepalanya sudah terpenggal.


"Violet!" panggil Tama merasa kecewa. Kini apa yang dia takutkan telah menjadi kenyataan. Bahwa Violet akan mengkhianati nya.


Garansatana pun menghampiri Tama dan menepuk pelan pundaknya. Dia berkata, "Semangat lah untuk membunuh kekasihmu itu." Sindir Garansatana.


Dan...


Wushh...


Dengan kecepatan kilat Garansatana langsung melesat terbang menghampiri Amara. "Sudah lama sekali kita tidak bertarung lagi, Violetta.." Sapa Garansatana.

__ADS_1


"Sayangnya aku tidak memiliki kepentingan dengan mu." ujar Violet.


Dan di detik itu juga sebuah tanaman merambat berduri langsung menyambar tubuh Garansatana dan Tama. Garansatana pun memberontak.


"Hei bodoh. Jangan diam saja dan bantu aku untuk menghentikan aksi wanita ini. Setidaknya jika kamu tidak ingin membunuhnya maka buat dia berhenti!" tegur Garansatana.


Tama yang terdiam langsung bertindak. "Benar apa yang dia katakan. Jika aku tetap diam maka yang ada aku akan binasa." Gumam Tama.


Dengan pisau apinya Tama berhasil memotong tanaman merambat itu dan segera terbang membantu Garansatana.


Srattt!


Tanaman berduri itu telah terpotong. "Ayo cepat!" desak Tama.


Garansatana memegang tangan Tama dan menatapnya. "Ikut denganku!" ajak Garansatana.


Mereka pun terbang pergi meninggalkan Violet. Tapi tentu saja Violet tidak akan membiarkan mereka berdua lolos.


Violet terus menyerang dengan membabi buta. Hingga akhirnya berhasil untuk menghentikan mereka berdua. Tapi, ternyata itu hanyalah tipuan untuk memancing Violet.


"Sekarang!" seru Garansatana.


Dari tanah muncul sebuah tali berwarna merah yang langsung mengunci pergerakan Violet. Akibatnya, mana hitam milik Violet terhisap. Violet pun memberontak dengan memberikan penyerangan bertubi-tubi.


Crak!


"Lepas!" jerit Violet.


Tama terdiam sementara Garansatana pun tertawa. Ternyata mana dari tubuh Violet berpindah ke tubuh Garansatana. Mereka berdua telah bekerja sama untuk melakukan ini.


Garansatana menatap Tama. "Bersabar lah sedikit lagi. Sihir itu hanya akan menyerap energi hitam darinya. Dan sebentar lagi wanita itu akan segera sadar." imbuh Garansatana.


Tama pun mengangguk. "Baiklah."


Tidak lama Violet berhenti memberontak. Sepertinya mana nya telah terserap habis. "Lepas--kan..." Rintih Violet dan pada akhirnya Violet pun tidak sadarkan diri.


Melihat Violet yang sudah tidak berkutik Tama pun berjalan mendekati nya. Dengan lembut dia mengelus rambut indah itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa terdapat banyak jiwa di dalam tubuhnya?" tanya Tama.


"Itu karena dia adalah seorang landasan takdir. Dia menjadi jalan bagi perubahan takdir yang ada. Selama ini dia telah hidup dan lahir kembali lebih dari yang kamu tahu. Ada begitu banyak versi dirinya. Dan semua itu akan bangkit dan menyatu menjadi kepribadian yang baru. Kepribadian yang sangat sempurna dan juga merupakan pemimpin dari sang pemilik takdir." Ungkap Garansatana.


"Sepertinya kamu tahu banyak hal." Imbuh Tama.

__ADS_1


Garansatana tertawa kecil. "tentu saja. Aku ini hidup lebih tua darimu tahu!" balas Garansatana.


"Pffft!" Violet tertawa kecil. Dia menatap tajam mereka berdua. "Astaga, kenapa kalian semua begitu bodoh. Bagaimana bisa kalian menyimpulkan takdir seperti itu. Hei Garansatana! Meskipun di kehidupan ku ini aku tidak mengenal mu tapi ingatlah satu hal ini."


"Bahwa takdir itu adalah sebuah misteri yang gila. Tidak ada yang benar benar terjadi. Semua ini hanyalah ilusi!" rancau Violet.


Garansatana yang merasa tidak terima dengan penghinaan yang dilontarkan oleh Violet pun maju dan mencengkram kuat dagu Violet. "Harusnya yang kamu khawatirkan adalah keselamatan dirimu sendiri karena sebentar lagi aku akan menghancurkan jiwa mu ini!" ancam Garansatana.


Violet tertawa, "Benarkah?"


"Garansatana!" Pekik Tama.


Tes...Tes...Tes...


Garansatana pun terdiam mematung. Lalu melihat ke bawah. Tanpa dia sadari Violet berhasil menusuk jantung nya dengan tanaman berduri.


"Apa yang terjadi?" tanya Garansatana lalu kemudian tubuhnya terjatuh.


Darah pun mengalir menggenangi tubuhnya.


Violet tertawa. "Dasar mahkluk bodoh!" hina Violet.


"Ahkkk!" Garansatana meringis tak kala dengan kejam Violet menginjak tubuhnya. Tanaman berduri itu semakin melilit tubuh Garansatana.


Violet memejamkan mata dan membaca sebuah mantra. Matanya yang berubah menjadi hitam sepenuhnya dan tanaman berduri yang mengeluarkan sebuah sinar kegelapan semakin membuat Garansatana tersiksa.


Violet menatap Garansatana dan mengelus kepalanya dengan lembut. "Apa ada kata kata terakhir?" tanya Violet.


"Dasar Iblis!" cecar Garansatana.


Violet menghela napas. Dan kini....


Wushh...


Tubuh Garansatana telah berubah menjadi abu. Violet terdiam. "Begitu salah satu takdir lenyap maka takdir yang baru akan terbentuk..."


Violet berdiri dan memandang wajah Tama yang hanya terdiam. Dengan tatapan mata yang kosong Tama menyebut nama Violet.


"Violetta..."


Violet tersenyum. Dan berjalan mendekati Tama. Dengan lembut Violet mengelus rambut indah Tama dan berkata, "Sekarang adalah giliranmu, Anamra Tamaka."


Dan sebuah cahaya pun bersinar dengan terang. Membawa mereka berdua pergi ke dunia lain...

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2