
...Happy reading.......
Aku benar benar tidak bisa diam. Sedari tadi, tanpa henti, aku terus saja mondar mandir kesana kemari.
Astaga kacau sekali, ini membuatku sangat bingung. Apa pakaian yang harus kukenakan?
Mengingat cara berpakaian kami yang sangat berbanding terbalik. Aku yang simpel dengan outfit kaos berpadukan celana pendek. Sedangkan dia?
Saudara kembarku adalah tipikal perempuan kue yang manis.
Ahhhh!
Ini sungguh merepotkan!
Tapi aku tidak punya banyak waktu. Aku pun memutuskan mengambil beberapa pakaian yang ada didalam lemari saat kurasa itu sesuai dengan gaya Mira.
Atau mungkin saja, semua pakaian yang ada disana memang selera Mira. Astaga betapa bodohnya aku saat itu...
Di rasa semua telah siap sesuai rencana, aku pun turun untuk menemui mereka. Namun, aku merasakan perasaan yang aneh. Apalagi saat ku pandang diriku di cermin. Mungkin lebih tepatnya, adalah Mira.
Seketika perasaan bersalah memenuhi hatiku.
Apalagi saat menyadari bahwa mungkin saja Mira yang asli sudah bangun dan ikut terkejut!
Aku langsung bergegas lari keluar menemui mereka. Aku mengutuk kebodohan ku kali ini. Bagaimana mungkin aku baru menyadarinya!
Jika aku saja berpindah tubuh, sudah pasti Mira ikut mengalami nya!
"AAAAAAA!" Aku berteriak saat diriku tidak sengaja salah menuruni anak tangga yang membuatku terjatuh.
Lihatlah, betapa mengenaskan nya aku. Sepertinya kesialan selalu saja menghalangi kebahagiaan diriku yang suram.
Tapi untung saja, dengan cekatan ayah langsung menangkap tubuhku, tepat sebelum kepalaku menabrak lantai yang keras.
Hap!
Terdengar hembusan napas yang lega. "Syukurlah ayah menangkap mu sebelum kamu terjatuh"
Dan dari seberang sana, ibu berlari menghampiri kami berdua. Terlihat raut cemas dari wajahnya yang telah mulai berkeriput.
"Astaga apa ini, bagaimana mungkin kamu tidak berhati-hati Mira, untung saja ayah segera menangkap mu. Jika tidak, kamu mungkin akan terluka!"
Tapi anehnya ayah malah tersenyum. "Sudahlah, ibu tidak perlu terlalu cemas. Mira baik baik saja, ya... setidaknya untuk saat ini " jawab ayah yang berusaha menenangkan ibu.
Sedangkan aku?
Aku malah terdiam mematung. Entah karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Atau mungkin, karena untuk pertama kalinya aku mendengar suara ayah.
Ya jujur saja, sepanjang hidupku ayah tidak pernah berbicara. Jadi, ini pertama kalinya aku mendengar suara miliknya yang ternyata begitu hangat.
"Eh?"
Aku terkesiap saat menyadari bahwa air mata ini telah jatuh. Astaga, bertapa suramnya hidupku. Bahkan dengan seperti ini saja mampu membuatku menangis.
Mereka yang menyadari bahwa aku sedang menangis terdiam melihat. Lalu ayah pun berjongkok didepan ku sembari mengelus rambut ini.
"Ada apa, kenapa kamu menangis? Apa kamu ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi?"
__ADS_1
Hei, lihatlah betapa lembut dan pelannya ia bertanya. Dan itu semakin membuatku ingin menangis.
"Hiks..."
Ah, sialan. Air mata ini terus memaksa keluar.
Tapi lagi dan lagi mereka hanya tersenyum. Sepertinya mereka mengira bahwa aku merasa ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi.
Dan ya, sesuatu yang hangat kemudian terjadi. Mereka berdua memelukku dan mengelus rambutku. Tidak hanya sampai disana, mereka bergantian mengecup keningku dan mengatakan...
"Sudahlah, kamu tidak perlu takut. Ada kami disini"
Kata kata yang mereka ucapkan terasa seperti air mengalir yang begitu tenang, sangat menghanyutkan. Dan aku, ikut menikmati suasana ini dengan bahagia.
...~~...
Semua berjalan lancar. Sejauh ini semua begitu sempurna. Ibu yang perhatian dan ayah yang lembut benar benar terasa seperti keluarga harmonis.
Saat ini kami sedang menikmati makan malam, setelah melakukan berbagai kegiatan yang mengasikkan. Ya, lebih tepatnya. Mereka berusaha untuk menghiburku.
Ini benar benar membuat hati kecilku berbunga-bunga!
Tapi disisi lain, aku menyayangkan sesuatu. Bahwa kehidupanku ternyata benar benar suram.
Mira yang selalu mendapatkan semua ini sementara Amara, selalu saja diabaikan.
Dan ini membuatku merasa penasaran. Aku bertanya tanya apa yang membuat mereka begitu memperlakukan kami dengan sangat berbeda.
Bukankah apapun yang terjadi aku juga anak mereka. Bahkan kami merupakan saudara kembar!
Tapi, mengapa aku diperlakukan dengan sangat kejam!
"Ayah, ibu, ada perihal yang ingin Mira tanyakan"
Mereka seketika menghentikan kegiatan makan mereka dan memperhatikan diriku. Mereka benar benar pendengar yang baik.
"Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan Mira?" Tanya ibu.
Aku menggenggam tanganku. Saat ini aku begitu gugup sekali.
"Tapi janji ya, ibu dan ayah tidak boleh marah"
Setidaknya jika mereka berjanji, aku sangat sangat tenang.
"Ya kami berjanji, memangnya kamu pernah melihat kami berdua marah kepada mu" jawab ayah sembari tertawa.
Dan itu juga membuat ibu ikut juga tertawa.
"Hah..."
Baiklah, aku hanya perlu rileks.
"Tenang Amara..."
Baiklah ini adalah saatnya!
"Mira ingin bertanya. Kenapa ibu dan ayah begitu memperlakukan Amara dengan sangat....mmm... berbeda?"
__ADS_1
Ya, ampun kurasa jantungku akan copot saat itu juga.
"Eh?"
Tidak lama setelah aku mengatakan itu raut wajah mereka langsung berubah. Sangat berbeda, lebih tepatnya seperti inilah gambaran mereka saat di depanku, didepan Amara.
Dingin dan kejam.
"Apa maksud kamu berbeda. Kami sama-sama memperlakukan dia sama seperti kami memperlakukan kamu" jawab ayah dingin sembari memasukan sesendok nasi.
Aku menghela napas. Mereka berbohong, jelas sangat berbohong. Karena aku adalah Amara. Jelas saja aku merasa perbedaan yang luar biasa dengan perlakuan mereka berdua.
"Ayah jangan bohong, Mira tahu ibu dan ayah selalu memperlakukan Amara dengan sangat berbeda. Kenapa kalian melakukan itu, bukankah kami sama. Kami bahkan adalah saudara kembar tapi kenapa kalian memperlakukan Amara dengan sangat kejam!"
Brak!
Aku memukul meja dengan sangat keras. Ketika kurasa perasaan sesak memenuhi dadaku dan air mata yang kubiarkan lolos telah membasahi wajah manis ini.
Ya aku menangis, biarkan air mata ini lolos. Aku ingin sekali lagi melihat perlakuan mereka.
Yang begitu jelas sangat berbeda dengan apa yang kurasakan saat hidup seperti Amara.
Mereka panik, cemas dan bahkan mereka merasa bersalah.
Hati kecilku sakit. Aku sadar mereka tidak merasa bersalah tentang Amara tapi saat melihat diriku lebih tepatnya Mira menangis.
"Kenapa, kalian begitu memperlakukan Amara dengan kejam, bukankah dia sama seperti diriku. Sama sama anak kalian...hiks..."
Ayah bergegas mendekati diriku dan berusaha memeluk. Tapi, aku menghindar, yang kuinginkan adalah jawaban, bukan ketenangan!
"Lepas!" Dan tanpa sadar aku mendorong ayah hingga ia terjatuh.
Ibu menutup mulut dan bergegas membantu ayah terbangun. Ia melihat diriku tidak percaya.
"Mira, bagaimana mungkin kamu tega mendorong ayah?"
Aku memejamkan mata, aku tidak perduli. Yang kuinginkan hanya jawaban!
"Sekali lagi Mira bertanya. Kenapa kalian begitu jahat kepada Amara, kenapa!"
Aaaaaa...
Aku berteriak tidak karuan. Ayah yang melihatnya langsung memeluk tubuh ini. "Mira tenanglah..."
Aku tidak ingin tenang!
"Mira tidak ingin ketenangan, Mira hanya ingin jawaban!" Aku terus memukul dada ayah tiada henti.
Tapi kemudian ayah mencengkram tanganku dengan erat. Dan membuat diriku melihat sisi ayah yang lain.
Dia memandang ku dengan emosi. Ya , dia marah.
"Karena kalian berbeda, kamu anak ayah dan ibu. Sedangkan dia, hanya anak haram!"
Deg!
Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
__ADS_1
"Apa, aku anak haram?"
Bersambung....