Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 27:


__ADS_3

...Happy reading 🥰......


Terserah, aku tidak peduli. Mau sampai kapanpun aku tidak akan terpengaruh dengan tatapan mautnya. Andaikan saja dia tahu, aku sudah terbiasa mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Benar benar menyebalkan." ujar Amara.


Mendengar ucapan Amara, Elfira terlihat semakin jengkel. "Apa kamu bilang!"


Tapi untungnya Leonard datang sebagai penengah. Jika tidak habis sudah. "Sudah sudah berhenti, jangan bertengkar." ujar Leonard.


Aku pun membuang muka, tidak sudi menatap wajah perempuan sialan itu.


"Kalian ini bisa tidak akur sekali!" keluh Leonard.


Tapi lihatlah, bagaimana caranya aku tidak jijik. Dengan pedenya dia bergelayut manja di pundak Leonard. Tapi ingat, jangan salah paham. Aku tidak cemburu, sama sekali tidak!


Hanya saja, dia terlalu menyebalkan. Padahal niatku baik untuk mendekatkan mereka berdua tapi malah di balas penolakan yang jahat.


"Apa kamu masih marah, karena Elfira memberitahu kami berdua tentang rencana busuk mu, Amara?" tanya Mia.


Mendengar hal itu aku terkesiap, sementara itu Elfira tersenyum puas. "


"Awas saja pasti akan aku balas..."


"Memangnya kenapa, jika aku bisa memanfaatkan kalian bukankah itu adalah hal yang bagus. Lagipula aku hanya bersikap realistis saja. Semua orang akan saling memanfaatkan satu sama lain bukan?" Amara.


"Kamu memang benar. Tapi apa kamu tidak memikirkan perasaan orang yang kamu manfaatkan?" tanya Mia.


Aku terdiam. "Tentu saja tidak. Karena jika sedari awal aku memikirkannya maka sedari awal juga aku tidak akan melakukannya." balas Amara.


"Astaga kamu ini benar benar licik!" sindir Elfira.


Leonard: "Sudahlah, hentikan. Lagipula jika Amara memang ingin memanfaatkan ku, aku akan baik baik saja. Setidaknya bisa aku berguna untuknya."


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Leonard, sontak saja membuat Elfira merasa kesal dan jengkel kepadaku. "Hei, lihatlah! bagaimana bisa kamu ingin memperalat orang baik seperti Leonard. Kamu memang tidak memiliki hati nurani!"


Mendengar kata kata itu aku memijit kepalaku yang terasa pusing. Perempuan ini benar benar bodoh atau bagaimana?


Andaikan saja dia tahu siapa Leonard yang sebenarnya aku nyakin dia tidak akan mengganggap Leonard sebaik itu.


Aku menatap Leonard, memperhatikannya. Dia bukanlah orang biasa. Entah apapun itu, aku nyakin. Dia pasti juga sedang menyusun sebuah rencana.


Dan oleh karena itu aku harus berhati-hati dengannya.


"Hei, apa kamu dengar. Kamu ini tuli ya?" ejek Elfira.


Aku memejamkan mata berusaha mengontrol emosi. Sepertinya aku harus keluar dari sini sekarang juga. Aku masih tidak ingin menunjukkan emosi ku kepada siapapun.


Aku pun berdiri dan berjalan pergi. "Elfira aku punya satu saran untukmu."


"Aku tidak butuh saran dari orang sepertimu!" ucap Elfira ketus.


Aku berbalik, menatap dalam Elfira dan Leonard secara bergantian. "Jangan pernah menilai seseorang hanya dari sampulnya saja."


Dan setelah itu aku pun pergi...


...~~~~...

__ADS_1


Aku melihat sekeliling. Pemandangan yang indah tapi sayangnya tidak dapat aku nikmati sepenuhnya.



Aku berpikir, apa yang sedang Tama lakukan saat ini ya?


Di dalam istana itu, apa dia baik baik saja?


Dan memikirkan semua itu membuatku merasa cemas. Tidak ada lagi waktu, apapun yang terjadi aku harus segera menyelamatkan Tama. Tapi pertama-tama mari berpikir bagaimana cara untuk masuk ke dalam istana terlebih dahulu.


Sepanjang perjalanan, aku terus melihat perlakuan keji mereka kepada kaum minoritas.


Para mahkluk ini benar benar menganggap mereka jauh lebih baik daripada para mahkluk minoritas. Tapi kemudian fokus ku teralihkan saat melihat segerombolan orang yang tampak mencurigakan.


Tunggu dulu, salah satunya adalah Alvero!


Dengan jubah dan topeng yang dia kenakan mustahil bagi seseorang untuk mengenalinya. Tapi tidak denganku!


Tapi ingat, aku tidak boleh bertindak gegabah. Aku harus berhati-hati dalam melangkah jangan sampai Alvero mengetahui bahwa aku mengikuti dirinya.


Aku terus mengikuti Alvero. Hingga ke ujung sebuah gang sempit. Dan disana dia bertemu dengan segerombolan orang lainnya.



Tapi sialnya aku tidak bisa mendengar percakapan antara mereka. Jarak nya terlalu jauh.


Tapi jika dilihat lihat sepertinya mereka sedang melakukan sebuah transaksi gelap. Jika tidak kenapa mereka melakukan sebuah transaksi di tempat yang seperti ini.


"Sepertinya aku harus lebih dekat dengan mereka."


Crak!


"Ah, sial!"


"Siapa disana!" seru mereka yang sepertinya menyadari keberadaan ku.


Aku harus segera bersembunyi. Jangan sampai aku tertangkap oleh mereka!


Tapi, oh ayolah!


Kenapa tidak ada tempat persembunyian di sekitar sini. Hanya ada tembok dan tembok besar yang kokoh. Jika terus begini aku bisa tertangkap!


Tidak ada pilihan lain, aku pun akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di balik tembok yang tinggi itu.


"Mereka benar benar pintar. Mereka sengaja bertemu di tempat yang seperti ini, dimana tidak ada tempat bersembunyi bagi orang orang yang berusaha memata- matai mereka."


Tak...Tak...Tak...


Suara langkah kaki semakin terdengar dengan jelas. Sepertinya mereka sedang berjalan mendekat ke tempat persembunyian ku. Ingin rasanya aku lari dan pergi. Tapi itu semua adalah tindakan bodoh. Karena mereka pasti bisa dengan mudah menangkap diriku.


Aku memejamkan mata, disaat langkah kaki itu sudah benar benar berada tepat dibelakang ku. Merasa tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, tidak ada cara lain selain pasrah. Otakku benar benar buntu untuk berpikir.


Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi!


"Bagaimana?" tanya salah satu dari mereka.


"Tidak ada siapa-siapa disini, mungkin kita salah dengar, tuan."

__ADS_1


"Jika begitu cepatlah, kita harus segera menyelesaikan transaksi ini!"


"Baik, tuan!"


"Eh, apa yang terjadi.."


Aku pun berdiri dan melihat salah satu dari mereka yang tepat berada dihadapan ku.


Apa maksudnya ini. Apa dia tidak melihat bahwa ada aku disini, tepat di depan matanya?


Tapi orang itu kemudian langsung pergi begitu saja, seolah dia memang tidak bisa melihatku. Lalu kemudian aku sadar, ternyata sedari tadi, di tangan ku ini tertulis sebuah mantra.


Aku tersenyum, jadi sebenarnya aku bisa menghilang. Bagus, dengan begini aku bisa mendengarkan percakapan mereka tanpa perlu takut di ketahui.


"Apa hanya segini?"


"Benar bos, cukup sulit bagi kami untuk menangkap mahluk minoritas yang memiliki kekuatan. Ditambah lagi mereka tidak segan segan untuk menyerang, bahkan banyak sekali anak buah kami yang tewas dibunuh oleh mereka."


Mendengar hal itu Alvero menghela napas. "Aku tidak peduli, sekarang cepat kalian cari dan tangkap semua mahkluk minoritas yang memiliki kekuatan. Jika misi ini tidak segera ditangani bisa bisa kita semua akan dihabisi oleh Garansatana itu."


"Baik tuan!"


Lalu setelah itu, para segerombolan orang itu pun pergi. Aku menatap Alvero. Andaikan aku lebih kuat, akan ku habisi dia saat ini juga!


"Ayo pergi, kita masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan!" titah Alvero kepada anak buahnya.


"Baik tuan!"


Tidak akan aku biarkan kalian pergi begitu saja.


Aku pun tersenyum Devil. Setidaknya dia harus dikerjai sedikit bukan?


Aku melihat sekeliling dan dengan fokus ku gerakan batu besar itu yang ada disamping dinding itu. Dan dengan sengaja aku arahkan kepada Alvero.


"Rasakan ini!"


Brak!


Tapi tepat sebelum batu itu mengenai Alvero, dia telah hancur berkeping keping.


Alvero tersenyum. "Apakah kamu pikir aku tidak menyadari keberadaan mu?"


Aku menelan ludah. Tidak kusangka Alvero ternyata menyadarinya.


Aku pun bangun dan berusaha kabur tapi...


"Ugh!"


Aku terjatuh. Energi negatif dari Alvero benar benar menyerap energi milikku. Seketika tubuhku terasa lemas bahkan membuat ku tidak bisa bangun.


"Jangan bergerak, tenang saja ini tidak akan terasa sakit sedikit pun..."


Dengan senyuman jahat yang terukir di wajahnya dia menatapku.


"Habis riwayat ku..."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2