Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 5: Perjalanan waktu


__ADS_3

...Happy reading.......


Aku langsung menghempaskan tas ku kembali ketika sudah sampai dikamar.


"Ini benar benar menakjubkan. Astaga aku baru saja melintasi waktu, aku baru saja melihat masa depan!"


Aku berteriak kegirangan. Bagaimana bisa, aku tidak senang. Aku baru saja mengalami hal yang bahkan tidak bisa dinyatakan nyata.


Aku baru saja melintasi waktu!


Tapi kemudian aku terdiam.


"Buku itu!"


Aku baru teringat buku misterius tersebut.


Lekas saja ku cari tapi nihil tidak bisa ditemukan.


Aku sudah mencari nya kemana mana. Tapi tetap saja, tidak ada.


Aku pun terduduk lesu. Mungkin saja buku itu adalah kunci dari semua ini. Membayangkan seseorang menulis cerita kehidupan mu pasti akan membuat siapapun bergidik ngeri.


Tapi itu, tidaklah penting. Karena apa?


Pengalaman ini sudah lebih dari cukup untuk membayar semua ini.


Aku tertawa jika mengingatnya. Tapi sekilas, bayangan saat ku ketahui bahwa aku adalah anak haram mampu menurunkan semangatku hingga titik terendah.


Andai saja aku bukan anak haram, ku yakin hidupku akan sangat sempurna.  Sudahlah, jangan terlalu memikirkan yang sudah terjadi.


Nasi sudah menjadi bubur. Tidak dapat dirubah, kecuali jika kamu pemegang takdir.


Hei, ngomong ngomong soal takdir itu mungkin bisa saja. Lagipula aku baru saja melintasi waktu dan menjadi orang lain. Tidak ada salahnya lagi kembali berharap.


Oke, anggaplah aku serakah. Karena memang pada dasarnya manusia itu serakah. Dan itu tidak dapat ku pungkiri.


Aku kembali membuka laptop, dan mencari artikel tentang takdir. Tapi stop!


Yang keluar hanyalah dakwah dan ceramah. Aku senang dengan hal seperti ini walaupun aku sadar aku sangat jauh dari ajaran agama. Tapi sayangnya bukan ini yang sedang kucari.


Sangat lama waktu yang ku tempuh untuk mencari berbagai artikel tapi tidak ada yang cocok sesuai pemikiran ku.


"Hah..."


Melawan takdir adalah muktahir.


Aku terkesiap saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Astaga, berapa lama aku menetap di depan komputer.


Saat ini memutuskan untuk tidur di jam segini adalah pilihan fatal. Aku pun memutuskan untuk tetap terjaga dan mempersiapkan segala keperluan sekolah.


Kurasa cukup sampai disini scroll artikel, nanti bisa kucari lagi. Dan siapa tahu, saat diri ini menjalani kehidupan yang suram aku menemukan sesuatu yang menarik.


Aku berdoa untuk hal itu...


...~~...


Pagi yang cerah, dan suasana suntuk sudah dapat kurasakan saat memasuki gerbang sekolah.


Oh ayolah. Semua orang yang di labeli siswa dan siswi adalah para mahkluk yang dimana saat datang seperti siput, saat belajar seperti kucing , saat istirahat seperti zombie dan begitu bel pulang berbunyi, seperti seekor cheetah, begitu sangat cepat!


"Eh neng, Amara. Gimana kabar neng, damang?"


Orang yang menyapa ku adalah satpam sekaligus orang dalam milikku. Kenapa kusebut orang dalam?


Karena ketika aku terlambat dan terjadi razia, dia adalah senjata andalanku.


Namanya adalah mamang Ismail bin mail. Bisa dipanggil Ismail walaupun beberapa siswa lebih memilih memanggil nya dengan sebutan Mail.


Salah satu tokoh di kartun terkenal Upin dan Ipin.


Dia selalu berbicara dengan aksen Sunda dan Indonesia. Biasalah toh orang Sunda.


"Baik mang, kumaha mamang sendiri damang teu?" Tanyaku balik.


"Damang neng, gues atuh sok gera asup, nanti nya malah telat neng na"


"Hooh mang, atur nuhun nya"


Maaf kalo aksen Sunda ku sedikit aneh. Aku tidak terlalu mahir berbahasa Sunda. Justru terkadang mamang lah yang membuat diriku terbiasa berbahasa Sunda.


Bahasa daerah kebanggaan Indonesia!


Aku bergegas masuk. Tapi kemudian....


"Woy, apa kabar Lo"


Seseorang memukul kepalaku dari belakang.


"Anjir, sakit bego!" Rintih ku.


"Yaelah santai say..."

__ADS_1


"Santai santai! mata lo peang!"


Orang yang ku katai peang adalah bestai paling berharga. Kami sudah lama berteman sedari Sd kelas 1. Bayangkan  sudah 7 tahun kami bersahabat.


Dan jangan lupakan namanya. Dia bernama Irlanta. Nama yang mirip dengan nama sebuah negara, Irlandia.


"Udahlah yuk, tu liat orang orang udah pada kumpul. Biasalah tahun ajaran baru" ajaknya.


Aku tersenyum dan pasrah saat tangan ini ditarik olehnya.


Hari ini adalah tahun ajaran baru dimulai sekaligus tepatnya bagiku adalah tahun belajar membosankan lainnya.


Ya, kenapa kubilang membosankan. Karena kami masih belajar dengan cara kuno. Ah, sudahlah...


Selamat ajaran tahun baru!




"Anjir, perasaan panas banget deh hari ini. Sampe gue abis ni 2 gelas es teh" ujarku.



"Itumah Lo nya aja yang rakus"



"Isss.... apaan sih. Emang panas anjir" sanggah ku kesal karena dibilang rakus walaupun emang fakta.



"Iya deh. Gue mah selalu salah"



Kami tertawa, hanya karena hal absurd. Tapi inilah yang menyenangkan.



"Eh menurut Lo bisa ngak sih kita pergi ke masa depan?" Tanyaku.



"Ya, mulai kumat nih. Ya ngak mungkin lah, orang masa lalu sama masa depan itu adalah waktu yang berbeda. Mau Lo kenapa paradox time atau entahlah apa namanya itu"



Aku terdiam dan menoleh melihat nya. "Gue mau kasih tau Lo, tapi Lo jangan ketawa ya"




"Hmm...iya janji"



"Awas Lo kalo boong!"



"Iya...Amara Airi Melasti!"



Aku mengambil napas dan mengatur posisi. "Gue kemaren baru aja abis ngalamin perjalanan waktu"



Irla yang mendengar hal tersebut langsung tersedak.



"Uhuk, uhuk, etdah  buset. Lo kayanya kebanyakan berkhayal dah. Lo pikir gue percaya?"



"Isss, kan, Lo itu nyebelin. Gue seriusan tau, bahkan karena itu gue sampe tau kalo selama ini gue itu sebenernya anak haram. Makanya ayah, ibu gue memperlakukan gue berbeda"



Irlanta terdiam mendengar penuturan ku yang terdengar blak-blakan.



"What, Lo anak haram, serius Lo kalo ngomong!"



Aku memejamkan mata kesal. "Menurut Lo, kan Lo tau sendiri gimana bedanya perlakuan mereka ke gue sama ke Mira. Bagaikan langit dan bumi"

__ADS_1



"Woy gila. Terus Lo tau siapa yang selingkuh, nyokap Lo atau... justru bokap Lo?"



Aku melotot kesal dan geram. Bisa bisanya anak satu ini nyerocos saja. "Eh kalo ngomong dijaga"



"Ya elah, sorry. Gue kan emang tumang" elak nya sembari cengengesan.



"Dasar, siluman!"



"Tapi kok bi-"



Sebelum anak siluman ini kembali nyerocos, tiba tiba saja seseorang mengebrak meja membuat kami terperanjat.



Brak!



"Wah enak sekali ya, mentang mentang jam kosong kalian malah keluyuran keluar kelas, harus dikasih pelajaran ini!"



Orang yang memarahi kami adalah Bu Sri guru matematika.



"Eh ibu Sri. Ya elah Bu, kan jamkos. Jadi gapapa lah kita libur ke kantin" elak Irla berusaha menghindari hukuman dari ibu Sri.



"Tidak bisa. Kecuali kalo kalian bisa menjawab pertanyaan dari ibu, baru kalian boleh pergi"



Aku tersenyum, matematika adalah pelajaran yang gampang bagiku.



"Oke, ayolah. Siapa takut?" Jawabku menerima tantangan.



Sementara Irla, dia terdiam membisu. Jujur, dia sangat bodoh jika berhadapan dengan matematika. Ilmu yang mematikan.



"Oke, baiklah jawab pertanyaan ibu. Berapa 49x 6 : 60 - 7 \+ 1 x 15 : 3, sebutkan hasilnya!"



Aku tersenyum ketika dengan cepat telah mengetahui hasilnya. "2,9" jawabku.



Ibu Sri tersenyum dan membiarkan ku lolos kali ini.



"Baiklah, kamu boleh pergi"



Aku berjalan santai meninggalkan Irla yang kini terlihat seperti orang bodoh saat dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Bu Sri.



"Weh, bantuin gue!" Teriak Irla.



"Sorry, gue males. Bye..."



Aku tertawa puas melihat reaksi balasan dari Irla. "Sialan Lo, Amara!"



Baiklah, selamat tinggal, Irlanta....

__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2