Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 20:


__ADS_3

Aku berkeliling mempelajari tentang tempat ini. Ada banyak sekali buku yang bisa dibaca tapi sayang sekali tidak ada yang bisa ku baca. Setiap buku memiliki bahasa dan tulisan yang berbeda.


Dan aku yakin peri itu tidak akan mau mengajariku.


Astaga aku merasa iri. Lihatlah dia, sedang duduk dengan tenang sembari membaca buku mengenai takdir atau apalah. Sementara disini aku merasa bosan dan jenuh.


Tama yang sedang pergi menyiapkan keperluan perjalanan pun belum kembali hingga saat ini.


Hingga pada akhirnya peri pun buka suara...


Peri: "Mau setajam apa pun kamu menatap ku, aku tidak akan mau mengajari dirimu. Perlu kamu ketahui, semua buku yang berada disini terlarang bagimu untuk dipelajari."


Aku berdecak kesal. "Memangnya kenapa, toh yang mulia hanya perlu memberikan buku mengenai hal yang lain. Lagipula aku tidak perlu membaca buku mengenai takdirku."


Ya, sebenarnya aku sendiri pun tahu bahwa pasti ada sebuah buku mengenai takdir diriku. Dan jujur saja aku sangat tertarik untuk membacanya.


Peri yang sepertinya menyadari niatku hanya menggeleng kan kepala. "Hei aku tahu apa yang kamu pikirkan." ucapnya dengan sinis.


Aku yang sudah merasa kesal pun berjalan dan dengan sengaja menyenggol lengan nya hingga membuat bukunya terjatuh dan oleh karena itu, kini dia menatap tajam diriku.


"Apa?" tanyaku tanpa merasa bersalah.


Wushh...


Buku ditangan nya tiba tiba menghilang dan kini dapat aku rasakan dia sepertinya merasa kesal.


Tapi baguslah, setidaknya kini aku tidak akan merasa bosan lagi. Ya, walaupun aku harus berdebat dengannya untuk mengusir rasa bosan ini.


Peri: "Berhentilah bertindak konyol kamu menganggu ku!"


Amara: "Maafkan aku yang mulia tapi sedikit informasi aku merasa bosan. Hei, aku punya ide bagus, bagaimana jika kamu mengajari ku tentang cara membaca buku disini. Bukanlah, setidaknya aku akan terlalu sibuk untuk mengganggu dirimu lagi."


Peri yang mendengar hal itu pun menghela napas. "Sepertinya kamu sangat menginginkan posisi ini, ya?" tanyanya.


Apa yang dia katakan, tentu saja aku menginginkan nya, bahkan sangat menginginkan nya!


"Tentu saja, aku bahkan bisa melakukan apapun untuk mendapatkan nya. Ya, jika ada kesempatan." jawabku.


Mendengar jawabanku peri pun tertawa. "Tapi kamu tahu, aku pun menginginkan hal yang sama."


Aku terdiam tidak mengerti. "Aku tidak mengerti apa yang mulia maksud?"


Kata kata yang dia ucapkan terdengar ambigu...

__ADS_1


Peri: "Sama seperti kamu menginginkan posisi kehidupan milikku, aku pun menginginkan posisi kehidupan milikmu."


Amara: "Tapi kenapa? bukankah enak rasanya bisa mengetahui apa saja yang ada di dunia ini tanpa perlu bersusah payah mempelajarinya?"


Peri : "Ya tentu saja tapi sayangnya aku merasa bosan. Bagiku tempat ini tidak lebih dari sebuah penjara. Aku memang bisa mengetahui semua informasi yang ada di semesta ini tapi hanya sampai disitu selebihnya tidak ada yang menarik lagi."


Aku terdiam. "Jika begitu apa yang mulia juga mengetahui akhir dari kisah yang mulia?"


Mendengar pertanyaan itu peri berjalan mendekat dan mengelus rambutku. Entah kenapa saat ini senyuman nya terasa semakin ambigu.


"Tentu saja, aku mengetahui nya."


Aku terkejut. "Tapi bukankah seharusnya ada batasan mengenai informasi ini? bagaimana bisa informasi mengenai yang mulia juga ada?"


Peri: "Bukankah sudah kubilang tempat ini adalah tempat segala informasi yang ada di alam semesta."


Aku menggenggam erat tangan ku. "Apakah yang mulia tidak merasa takut dengan kematian yang menunggu yang mulia?"


Tapi bukannya merasa takut peri justru malah tertawa. Dan melihat hal itu aku pun merasa bingung.


Apa karena dia adalah seorang penguasa tempat ini, dia tidak merasa takut lagi.


Peri: "Kenapa aku harus takut dengan sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi. Karena aku ditakdirkan untuk hidup abadi."


Dan lagi lagi dia mengatakan semua itu sembari tertawa.


Tapi bukannya tersinggung peri justru malah semakin bersemangat.


Aku sudah tidak tahan lagi!


"Hentikan!"


Peri: "Kenapa? apa ada yang salah?"


Aku menatap tajam ke arah nya. "Apa anda tidak bisa berekspresi sesuai dengan keadaan. Ini bukanlah sesuatu yang lucu, hingga anda harus tertawa setiap kali mendengar nya!"


Ya, kali ini aku sangat emosi!


Dan nada ku yang mulai meninggi adalah buktinya.


"Maaf jika ini membuat mu merasa kesal, tapi jujur saja aku sudah mati rasa. Oleh karena itu aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa."


Eh?

__ADS_1


"Apa?"


Peri berjalan mendekat dan memegang tanganku. "Kamu tahu kenapa aku ingin menjadi dirimu? itu karena aku merasa iri. Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya bisa terdiam dan melihat apa yang sedang terjadi. Sunyi dan tenang, aku merasa kesepian."


Peri: "Dan kamu tahu apa yang lebih lucu. Aku pernah kabur dari tempat ini."


Entah kenapa tapi kini tergambar raut kesedihan di wajahnya. "Lalu apa yang terjadi?" tanyaku.


Peri: "Aku harus berpisah dari keluarga ku. Kini mereka menganggap bahwa aku sudah mati."


Apa?


Aku menutup mulut, sepertinya aku sudah mengetahui rahasia dunia!


Peri: "Dan kamu tahu siapa keluarga yang aku tinggalkan?"


Aku terdiam. "Memangnya siapa?"


Peri: "Sepasang manusia, suamiku dan Putri kecilku."


Amara: "Bukankah sakit rasanya melihat mereka berdua disana sedangkan yang mulia sendirian disini. Kenapa yang mulia tidak langgar saja aturan itu."


Aku tahu ini adalah saran konyol. Tapi tidak ada salahnya kan?


Mendengar saran konyol ku peri kembali tertawa. "Ku rasa itu ide yang bagus tapi sungguh aku baik baik saja. Karena keluarga yang aku rindukan sedang menjalin masa depan yang cerah dan tentu saja aku tidak ingin merusak masa depan itu."


Bodoh, dia begitu bodoh...


Aku memegang tangannya dan menatap matanya. "Persetan dengan takdir! apapun yang kita lakukan itu juga bagian dari takdir, memang nya kenapa jika takdir berubah toh jika pada akhirnya kita ditakdirkan untuk mati kan? seabadi apapun anda, jika anda berusaha pasti akan ada perubahan kan?"


Tapi ternyata apa yang aku pikirkan salah. "Tapi jika aku melakukannya maka aku justru tidak akan pernah mengenal mereka."


Eh Kenapa?


Peri: "Jika aku melakukan hal itu maka aku justru membuat kacau ruang garis waktu dan kamu tahu apa yang akan terjadi?"


Aku terdiam. "Memangnya apa yang akan terjadi?"


Peri menghela napas dan menatap diriku dengan penuh tatapan yang tidak bisa dibaca.


"Jika aku melakukannya maka dunia ini tidak akan pernah ada. Semua ingatan, semua kenangan, semua informasi yang ada di alam semesta akan terhapus dan semua akan dimulai dari awal bahkan ingatanku tentang mereka akan terhapus. Itulah konsekuensi nya. Dan tentu saja aku tidak ingin melupakan mereka."


Dan kini aku diam membisu. Ternyata semua itu lebih berbahaya dari apa yang aku pikirkan...

__ADS_1


Kurasa memang benar bahwa aku terlalu kecil untuk dunia yang besar ini...


Bersambung....


__ADS_2