Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 26:


__ADS_3

...Happy reading 🥰......


Apa yang harus aku lakukan lagi?


Tidak ada satupun informasi yang berguna. Sepertinya para penjabat tinggi benar benar melakukan yang terbaik. Termasuk dalam hal pengkhianatan seperti ini.


"Sini kamu! benar benar memalukan, apa yang sebenarnya bisa kamu lakukan dasar kaum rendahan!"


Prang!


Tidak ada yang bergerak. Semua hanya berdiam diri disaat seorang gadis kecil di pukul dan di lempar begitu saja oleh batu. Meski tubuh sudah berlumuran darah tidak ada sedikitpun rasa kasihan yang terlihat.


"Mereka benar benar kejam sekali!"


Aku tidak bisa diam saja melihat hal keji seperti itu terjadi di depan mataku sendiri. Tapi, kemudian Mia memegang tanganku, mencegah aku untuk ikut campur. "Jangan!"


Aku menghela napas berat. "Kenapa? kenapa kita tidak boleh membantu mereka. Lagipula kenapa dia harus sekejam itu?" tanyaku.


"Tapi meskipun begitu apa yang bisa kamu lakukan?" Tanya Leonard.


Aku terdiam. Perkataan Leonard ada benarnya, meskipun aku maju sekalipun untuk membela pasti tidak akan ada yang berubah.


"Kalian terlihat pasrah sekali dengan apa yang terjadi." ujar Amara.


Leonard tersenyum meski terlihat begitu palsu. "Itu sudah menjadi makanan sehari hari bagi kami. Meskipun kami berusaha membela tidak ada gunanya jika..."


"Orang orang yang diatas sana tidak peduli..." lanjut Mia.


Jadi begitu, memang sudah menjadi hukum alam bahwa orang yang lemah akan kalah dengan mereka yang kuat. Kini kehidupan telah terbalik.


Sekarang orang yang kuat justru malah menindas orang yang lemah. Bukannya malah melindungi mereka.


Tapi meskipun begitu aku tidak mudah untuk di tipu. "Tapi jika kalian memiliki kesempatan, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Amara.


Leonard mengangkat alis, merasa bingung. "Apa maksud mu, Amara?"


Aku memegang pundak mereka. "Akan ku perlihatkan bagaimana cara kami para makhluk bumi membalaskan dendam."


Aku berjalan menjauhi kerumunan. Sekarang adalah saatnya menunjukkan salah satu skill yang tersimpan. Yah, sekalian mencari pendukung.


Aku memfokuskan seluruh pikiran, tidak butuh waktu yang lama aku sudah bisa mengendalikan arah mana didalam tubuh ku. Dan...


Boom!


Tubuhku menghilang...


Aku pun tersenyum devil. "Mari mulai bersenang-senang!"


...~~~~...


Terima kasih, terima kasih banyak!"


Aku merasa jengah terus menerus melihat gadis kecil ini terus saja berterima kasih. Apa dia tidak lelah terus membungkuk hormat seperti itu padaku. Ya, walaupun itu memang sepadan dengan apa yang telah aku lakukan.

__ADS_1


Aku menggunakan kekuatan ku untuk mengerjai mereka. Pertama Tama ku bakar baju yang dia kenakan. Lalu aku buat di menampar dirinya sendiri hingga terjatuh dan yang terakhir dan paling menyenangkan adalah ku bakar seluruh hartanya.


Dan asal kalian tahu yang paling menyenangkan adalah bagian dimana mereka tidak akan pernah tahu siapa pelakunya.


Aku tertawa jika mengingatnya.


"Kamu kejam sekali!" ujar Leonard tidak habis pikir.


"Tidak ada yang kejam di dunia ini. Hanya saja kita memiliki banyak sekali berbagai pandangan. Apa yang kamu anggap kejam belum tentu sama dengan ku." balas Amara.


Tapi...


"Sekali lagi terimakasih banyak!"


Uh...


Aku memijit pelipisnya ku yang terasa pusing. Gadis kecil ini benar benar...


"Hei berhenti melakukan hal seperti itu!" ujarku yang sudah merasa kesal dengannya.


"Tapi ini tidak seberapa ketimbang dengan apa yang anda lakukan kepada saya." jawabnya.


"Hei dengar! aku melakukan semua itu murni karena keinginan ku untuk bersenang senang. Tidak ada sama sekali niat untuk menolong mu."


Mendengar ucapan Amara. Gadis kecil itu terdiam. Tapi sesaat kemudian dia justru malah tertawa.


"Hahaha!"


"Apa yang kamu tertawakan?!" Amara.


Tunggu dulu, sebenarnya apa yang gadis kecil ini maksud?


"Baiklah sekarang aku harus pergi. Sekali lagi terimakasih atas pertolongannya. Dan ingatlah bahwa aku suatu hari nanti pasti akan menolong anda!" lalu kemudian dia pun pergi menghilang.


Aku tersenyum. "Ya, aku akan menunggu hari dimana kamu akan membalas bantuan ku."


Aku memejamkan mata merasa senang lalu kemudian menatap mereka berdua yang sedari tadi tersenyum sembari memperhatikan sedari tadi. "Berhenti melihat ku seperti itu!" ujarku merasa tidak nyaman.


"Baiklah orang baik!" jawab mereka berdua kompak.


"Dasar!" mereka ini benar-benar ya!


Yah, tapi tidak ada salahnya kan saling membantu. Apalagi jika itu memang di perlukan.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk membalas kebaikanku. Cukup dengan cara menjadi salah satu alatku sudah sangat berguna.


Aku menatap gelang yang terpasang di tanganku ini. Karena pada intinya tidak ada yang gratis di dunia ini maka dia harus membayarnya sekalipun dengan nyawa bukan?


"Oleh karena itu matilah untukku..."


...~~~~...


Pagi telah tiba, tapi apa ini?!

__ADS_1


Bagaimana mungkin mereka bisa hidup seperti ini.


Brak!


Bruk!


Gubrak!


Sedari tadi suara bising terus saja menemani pagi hari kami yang... kelam ini.


"Bagaimana bisa kalian hidup dengan suara seberisik itu?" tanya Amara.


"Justru jika tidak ada suara itu kami tidak akan pernah bangun lagi." jawab Leonard.


Astaga, aku rasa mereka pantas mendapatkan penghargaan atas nominasi sebagai mahkluk tersabar di dunia.


"Lalu sekarang apa, sampai kapan akan terus seperti ini?" tanyaku.


"Sampai kita bisa makan. Suara berisik itu adalah alarm bagi kami para kaum minoritas, karena tandanya kami harus segera makan. Jika tidak ada suara itu hanya ada dua jawaban. Antara kami sudah makan atau sudah mati." jawab Leonard.


Aku tertegun. Ternyata bukan karena cuaca melainkan sebagai alarm terakhir.


Amara: "Lalu sekarang, bagaimana cara kalian untuk bisa mendapatkan makanan?"


Leonard: "Tentu saja dengan berburu!"


"Atau dengan kiriman makanan oleh kak Elfira." cetus Mia tiba tiba.


"Kak Elfira?"


"Hmmm... dialah yang memberi kami makan selama ini." jawab Mia dengan semangat.


Tunggu dulu, jadi selama ini mereka bisa hidup dengan makanan yang diberikan oleh orang lain? Sungguh beruntung sekali.


Entah memang dia adalah seseorang yang baik atau memang ada maunya.


Astaga naif nya aku ini. Tentu saja dari namanya aku sudah dapat menduga bahwa...


"Halo semua aku datang! lihatlah apa... yang kubawa..." sapa seseorang yang dapat ku tebak bahwa dialah yang mereka maksud sebagai Elfira, sang dermawan.


"Salam kenal!" Jawabku.


Aku berdiri dan berjalan menghampiri perempuan yang justru terdiam mematung itu. Aku tersenyum manis lalu kemudian dengan lembut kuambil makanan yang dia bawa. "Astaga kamu memang orang yang dermawan sekali."


Dan berjalan pergi tidak peduli. Bisa aku banyangkan seberapa terkejutnya dia melihat gebetannya ternyata sedang menampung seorang wanita di rumahnya.


Dasar, aku ini peka sekali dengan hal hal yang seperti ini.


Menurut mu apa lagi alasan yang paling masuk akal bagi seorang perempuan membawakan makanan untuk seorang lalu laki yang tidak memiliki apapun.


Tentu saja jawabannya karena rasa suka.


Meskipun Leonard bukanlah siapa siapa tapi memang harus kuakui dia sangatlah tampan. Dan ini adalah kesempatan emas bagiku.

__ADS_1


Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini bukan?


Bersambung....


__ADS_2