
...Happy reading 🥰......
Mereka berdua saling bergandengan tangan. Menatap pemandangan yang luar biasa mustahil untuk ada. Di tempat ini, semuanya akan berakhir.
Sebuah kisah yang akan segera menjadi masa lalu yang kelam.
Violet mengelus lembut wajah Tama. Lalu menyenderkan tubuhnya pada dada Tama. Sementara itu, Tama hanya terdiam mematung. Tatapan matanya kosong seolah tidak ada kehidupan.
Dan alasannya karena violet telah menyihir Tama. Saat ini Tama tengah tidak sadarkan diri. "Kamu ingat Tama, bagaimana cara kita bertemu." Ucap Violet.
Violet mengerakkan tangannya. Sebuah cahaya muncul dan saling mengikat membentuk sebuah bayangan. "Jika di ingat pertemuan kita saat itu sangatlah aneh. Aku yang sedang melamun di taman tiba tiba saja seorang pria muncul dan menimpa tubuhku. Lalu kemudian hubungan kita berlanjut. Dan kini kamu bahkan melakukan semua ini untuk membangkitkan aku kembali. Seseorang yang seharusnya berada di masa depan." Tutur Violet.
Violet berdiri dan berjalan menjauh. Kakinya yang terus melangkah masuk ke dalam air. Helaian rambutnya yang tertiup angin dan senyuman manis terukir di wajah cantiknya.
"Meski begitu. Sangat disayangkan bukan? bahwa seluruh kenangan itu harus sirna begitu saja. Padahal aku ingin sekali menjalani sebuah kehidupan sehari-hari yang biasa bersamamu." Lanjut Violet.
Dan Tama hanya terdiam. Tangannya yang berusaha mencengkram sesuatu tapi tidak bisa membuat Violet tertawa kecil.
"Sekarang lihatlah dirimu sendiri. Kamu bahkan tidak lagi berguna." Sindir Violet.
Violet berjalan maju dan menatap lekat masuk ke dalam pikiran Tama. Dia mengelus pelan rambut milik Tama dan berkata, "Jangan bersedih. Baik aku dan kamu, kita adalah orang dengan pemikiran yang sama. Kita sama sama melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan bahkan tidak segan untuk membunuh orang lain. Kita yang hidup dengan cara memanfaatkan dan mengkhianati kepercayaan dari orang lain tidak berhak untuk hidup bahagia."
Violet tertegun sejenak. Tanpa dia sadari air matanya telah berhasil lolos dari pelupuk mata. "Ahh, sekarang tidak lagi karena sebentar lagi aku akan membunuhmu!" ungkap Violet.
Kini ditangannya telah terdapat sebuah belati yang indah yang akan menjadi saksi bisu atas kisah mereka berdua.
Tapi, bukan Violet yang akan menusukkan belati ini melainkan Amara. "Sekarang adalah giliran mu untuk memulai kehidupan menyedihkan mu, Amara..."
...~~~~...
Di tempat ini aku hanya terdiam. Ikut merasakan serta melihat apa yang terjadi membuat pikiranku seketika kacau balau. Sesuatu yang tidak pernah aku duga kini telah menjadi momok mengerikan dalam hidupku. Karena orang yang kucintai akan segera menemui ajalnya. Dan itu ditangan ku sendiri.
Aku menatap nya tajam. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau melakukannya, dasar iblis!" pekik Amara.
Violet tertawa senang. "Bagaimana caranya? kini tubuh mu telah aku kuasai." ujar Violet.
"Ahkkk!" aku merintih disaat tanaman berduri itu menusuk kulitku semakin dalam. Darah telah bercucuran. Kepala yang terasa pusing dan tubuh yang tidak berdaya.
"Sial!"
Violet berjalan mendekat dan mendekat. Menyentuh dagu ku lalu tersenyum puas. "Sekarang bunuh dia dengan tangan mu sendiri!"
Aku menggeleng tidak mau tapi sebuah sinar hitam tiba tiba merasuki tubuh ini. "Uhuk-ugh!" dan darah mengalir dari mulut ku.
Violet tertawa. "Pergilah dan aku akan menunggu mu di sini. Amara..."
Aku berusaha memberontak tapi tiada guna dan rasa kantuk ini terus menyerang...
__ADS_1
...~~~~...
Brak!
Srattt!
Suara yang begitu berisik pada akhirnya membuat ku membuka mata. "Hah!"
Aku terdiam mematung, berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Tama yang berada di depan ku bersiap mengambil ancang-ancang untuk menyerang dan aku disini tengah memegang sebuah belati.
Namun, tanpa sadar tubuhku maju dan menyerang Tama dengan sendirinya. Sebisa mungkin aku berusaha untuk melawan tapi disaat itu juga tubuhku terasa kesakitan.
"Maafkan aku, Tama!"
Hiat!
Aku maju dan kami saling bertarung. Untungnya Tama berhasil menghindar tapi tidak tahu sampai kapan akan bertahan.
Peluh keringat telah membasahi tubuh. Napas yang terengah-engah sedang kami rasakan. Aku bergerak maju namun...
Aku tersenyum senang saat tiba tiba aku mulai sedikit bisa mengambil alih tubuh ini. Aku menatap Tama tapi...
Dengan mata tajam Tama menatap ku lalu...
"Sekarang matilah dasar bedebah!"
Cratt!
Selama ini hanya aku yang menganggap nya seperti itu. Aku menyentuh tangan nya. "Ta--ma..." panggil ku dengan lirih.
Namun, seolah tidak pernah saling mengenal dengan kuat Tama langsung mencabut belati itu dan mendorongku jatuh. Dia menyentuh daguku dan menatap diriku dengan tatapan benci. "Dasar merepotkan!"
Lalu pergi meninggalkan diriku tanpa rasa bersalah.
Aku menggenggam erat tanganku. Kini aku merasakan sebuah getaran hebat untuk melakukan sesuatu. Dengan sisa kekuatan ku aku berdiri dan...
Cratt!
Lalu kemudian aku tersenyum puas begitu berhasil menusuk Tama. "Jika begitu mari mati bersama sama."
Tapi tiba tiba tanaman merambat langsung bergerak dan mengunci pergerakan tubuh Tama. Dan melilit tubuhnya dengan kuat sampai daging nya terkoyak.
Tama terus berteriak kesakitan namun aku sudah tidak peduli. Hingga pada akhirnya Tama berubah menjadi abu dan menemui ajalnya.
Akhir dari kehidupan nya...
Brak!
Aku terjatuh. "Sepertinya ini lah akhir dari hidupku." aku tertawa lalu semuanya berubah menjadi gelap.
Setidaknya itulah yang aku pikirkan. Tapi ternyata tidak. Semua belum berakhir sampai disini....
__ADS_1
Sebuah tangan dengan lembut mengusap rambut ku. Rasa hangat yang dapat aku rasakan dari sentuhan tangannya. Membuat ku merasa nyaman.
Aku membuka mata. Terkejut dengan apa yang terjadi. Ku pikir Violet yang akan menyembuhkan ku tapi ternyata salah. Karena yang sedang menyembuhkan ku adalah jiwa Alvero.
Alvero menatap ku dengan sendu lalu menyentuh kening ku. Dengan lembut dia berkata, "Aku harap kamu bahagia dengan kehidupan mu yang baru." Ungkap Alvero.
Aku terdiam. Ikut menatap Alvero lalu bertanya, "Kenapa kamu masih mau menolongku?" tanyaku.
Alvero tersenyum, "Karena aku mencintaimu..."
Lalu kemudian dia menghilang begitu saja.
"Hah, jadi begini!" aku menghela napas frustasi tapi tetap saja rasa sesak di dada ini justru semakin terasa sakit.
Violet pun datang dan menghampiri. Tidak ada yang dia katakan kepadaku. Hingga akhirnya, "Sekarang adalah waktu mu untuk pulang."
Dan setelah mengatakan itu, Violet pun ikut menghilang. Benar benar menghilang.
Sebuah cahaya keluar dari sekeliling. Begitu sangat terang sampai membawaku pada suatu tempat. Tempat yang tidak bisa kusebut sebagai rumah.
...~~~~...
Sudah cukup lama aku terdiam mematung. Tidak ingin sama sekali melangkah kan kaki. Tapi, akhirnya sesuatu membuatku ingin melangkah. Sebuah buku hitam tergeletak di atas meja.
Aku meraihnya dan menatap buku itu. Ku usap buku tersebut hingga air mata ini mengalir dari pelupuk mataku.
Ku buka halaman demi halaman hingga akhirnya sampai pada halaman terakhir. Halaman 42. Di bagian paragraf terakhir tertulis di sana...
Crak!
"Kakak!" panggil Amira.
Aku berbalik dan melihatnya. Dan tanpa terduga.
Hap!
Dengan erat Mira memeluk tubuhku. Entah apa alasannya tiba tiba dia menangis. "Kakak dari mana saja selama ini. Apa kakak tahu aku dan ayah mencari kakak selama ini. Kami benar benar mengkhawatirkan kondisi kakak." Ungkap Mira yang seketika membuat tangisan pecah.
Aku mengelus rambutnya. "Maafkan aku.." hanya itu yang dapat aku katakan.
Aku ikut memeluk tubuh Mira. Karena dapat aku rasakan kehangatan yang dia berikan.
Dan dari sana, ayah menatap ku dengan air matanya. Meski aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka. Tapi aku...
"Kakak!"
"Amara!"
Mereka berteriak panik.
Aku tersenyum. Sepertinya rasa kantuk ini sudah tidak bisa ku lawan. "Selamat tinggal semuanya..."
__ADS_1
...✨...Tamat...✨...