Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Awal Bencana


__ADS_3

"Bahkan nama Siti Maryam tidak pantas untukmu. Kau tahu betapa sucinya Siti Maryam? Satu persen darinya pun tidak ada padamu!" hinanya dengan mata yang menyorot tajam, rahangnya terlihat mengeras. Sontak aku menatapnya kecewa. Sungguh memilukan kata-kata yang terlontar dari mulut pria berjanggut tipis memenuhi seputar area wajahnya.


"Silakan hina aku sepuasmu. Aku memilih menikah denganmu karena aku pikir kamu pantas dan layak menjadi imam dalam salatku. Bodohnya aku, yang menjadikanmu panutan dalam setiap langkahku."


Netraku mulai mengembun dan sesak sekali dada mendengarnya berucap seperti itu. Jantungku bagai dihantam palu dan merobohkan benteng pertahanan dalam diriku. Aku tertunduk berusaha menyembunyikan air mata yang perlahan mulai menetes.


"Pria mana yang terima melihat istrinya bermesraan dengan pria lain, sedangkan denganku ..." dia melangkah mendekat ke arahku yang berdiri di samping ranjang, "tidak pernah bisa menyentuhmu! Mungkin pun kau sudah tidak suci lagi sebelum kita menikah."


Lututku melemah tak mampu menopang tubuh mungil ini. Terduduk di lantai dengan penuh derai air mata yang sudah tidak mampu kutahan. Ya, itu memang kesalahanku yang tidak mampu mengatasi sel otak dan pikiran-pikiran saat akan menjalankan kewajiban sebagai istri. Teganya dia yang mengerti agama berucap kata seperti itu. Dia benar-benar menyakiti perasaanku.


"Benar. Kamu memang benar, ini semua memang salahku yang tak mampu melayani nafsu batinmu." Aku menyeka air mata yang terus berderai, menatapnya yang terduduk di tepi ranjang seraya menopang kepalanya.


Aku bangkit dan berjalan tanpa nyawa, melangkah dengan angan yang tidak tahu melayang ke mana. Bukan aku tidak berusaha untuk menyerahkan kesucianku padanya. Bahkan, pergi ke psikiater telah kulakukan untuk pengobatan. Tapi dia justru melontarkan kalimat yang menjurus menjadi fitnah.


Aku keluar rumah dan terus berjalan entah ke mana, suara petir dan kilat saling menyapa seolah mendramatisir hati yang tengah berantakan. Hujan turun dengan derasnya, aku tidak peduli dengan gamis dan hijab yang basah kuyup.


Sebuah payung berada di atas kepalaku. Tangan berurat mencengkeram bahuku kuat, aku menoleh ke arahnya. Sepertinya dia tidak ingin air hujan membasahi tubuh ini. Aku menjauh dari Pasha, tapi pria berwajah imut ini justru semakin mendekat.


"Enggak, kamu nggak boleh dekat-dekat aku, Sha."


"Kenapa? Apa karena Ustadz itu kamu menjauh dariku? Aku siap menggantikan posisi dia." Kulayangkan tamparan kuat di pipinya, hingga meninggalkan jejak merah di sana.


"Cukup, Pasha! Aku istri orang!"


"Benar, aku mencintaimu sebelum menikah dengannya. Bukankah aku yang membuatmu tidak bisa melakukannya?"


Aku tidak sanggup lagi menahan semua gejolak di dada, pikiran dan tenagaku begitu terkuras karena masalah ini. Pandanganku kabur dan berkunang-kunang, tubuhku limbung perlahan semua menjadi gelap.


Dua tahun lalu .....


"Oke sekang kita lanjutkan pelajaran kemarin tentang komunikasi. Buka halaman 127, saya mau kalian mendefinisikan bagaimana interaksi yang baik agar proposal kita bisa diterima oleh perusahaan lain."


Salah satu mahasiswa mengangkat tangan. "Bu, boleh saya bertanya?" Pemuda dengan kemeja yang tidak dikancing ini memulai pagiku entah dengan pertanyaan apa.


"Ya, silakan."


"Bu, Anda pagi-pagi sudah menyejukkan mata kami," ucapnya yang membuat kelas menjadi ricuh dengan suara sorakan.


"Oke, stop! Silakan kerjakan yang saya minta. Terutama kamu, Daffa!"


Aku kembali ke meja, mengawasi mereka dari balik laptop seraya menyiapkan tugas akhir semester.

__ADS_1


Lagi, Daffa tak hentinya mengusik. Kini, ia datang mendekatiku aku beringsut menjauh, memberi jarak.


"Bu, ini tugas yang udah kami buat."


"Oke, letakkan saja disitu. Kamu bisa kembali."


Jam sudah menunjukkan kelasku berakhir hari ini. Waktnya untukku berkumpul dengan para sahabatku. Kami telah membuat janji temu.di sebuah kafe. Mengendarai sedan warna merah, aku keluar dari kampus ternama di kota Malang.


Daffa menghalangi jalanku dengan memegang kap mesin. Aku yang kaget sontak mengerem mendadak. Aku melongo dari pintu mobil.


"Astaghfirullah, Daffa!"


"Anda harus memberi saya tumpangan. Please, Bu." Belum aku menjawab, dia langsung menyelonong masuk duduk di sampingku.


"Daffa, kita bukan muhrim. Saya juga tidak bisa memberi kamu tumpangan. Silakan keluar, maaf."


Aku turun dan membukakan pintu untuknya. Menggerakkan bola mata mengisyaratkan untuk keluar.


"Anda kenapa kejam banget sih, Bu. Padahal, Anda tipe wanita yang saya cari," ucapnya bersungut seraya menggendong ranselnya. Aku mengembuskan napas berat, hingga bahu ikut bergoyang.


"Masih banyak wanita yang seperti saya di luar sana. Yang seumuran dengan kamu, oke? Assalamualaikum."


Aku hanya menggeleng, menganggap lelucon ocehannya. Sejak dulu ia tidak pernah berubah, dia telah mengikuti kelasku dari awal kuliah. Aku mengajar komunikasi bisnis di universitas Islam di kota ini.


Aku sudah bertemu dengan Umi, Fadila dan Pasha. Ya, dia satu-satunya pria yang selalu ikut gabung bersama kami. Dia juga teman masa kecil hingga rumah bersebelahan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.


"Wuih, Bu Dosen semakin hari semakin berwibawa juga cantik. Apalagi ditambah tas baru, makin manjalita," imbuh Fadila yang merupakan reselleer tas import dengan harga sesuai kantong kaum menengah. Harga ratusan, kualitas nggak murahan. Begitu slogannya setiap kali menawarkan barang daganganya.


Tas yang kupakai sekarang baru kubeli darinya beberapa waktu lalu. Sekarang dia masih _aja gencar menawarkan produk yang baru launching.


"Jualan terus!" ejek Pasha juga Umi menganggunya. Dia hanya menaikkan sudut bibir menanggapi omelan kedua sahabatnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


"Hari ini itu, Masya Allah banget, tau nggak."


"Kenapa? Kamu sakit?" Pasha langsung memegang dahiku. Aku menyentil tangannya yang sembarangan menyentuh.


"Tangan, bukan muhrim."

__ADS_1


"Ya Allah, Ti. Ini tangan dari dulu juga udah pegang-pegang kamu."


"Uh, aku mencium sesuatu nih," timpal Fadila yang menjurus tanya memandang kami berdua.


"Ck! Itu dulu, sebelum aku kenal dosa."


"Udah, udah. Kalian nggak capek apa ribut terus. Nggak bosen apa, mana rumah sebelah-sebelahan lagi." Umi angkat bicara, mungkin dia jenuh dengan kami berdua. Setiap ketemu pasti berdebat dan ribut nggak jelas.


"Tau, nih. Jodoh baru tau!"


"Astagfirullah, astagfirullah ...," aku mengepal tangan dan menepuk-nepuk jidat berkali-kali, "ucapan itu doa lho, Fa. Jangan gitu, ih."


Pasha hanya melengos menanggapi kata-kata itu. Fadila bekerja sebagai tata usaha di sekolah menengah kami dulu. Umi, kepala sekolah madrasah negeri. Sedangkan Pasha, dia dikenal sebagai dosen killer di kampus tempatnya bekerja, universitas swasta.


Entah mengapa, ia seperti mengikuti jejakku menjadi dosen. Hanya jurusannya saja berbeda. Wajah imut begitu tidak meyakinkan bisa menjadi dosen kejam. Aku saja jika tidak mengingat dosa ingin sekali mencubit gemas pipinya. Usia hampir tiga puluh, tapi tidak ada tanda-tanda menua.


Dari dulu hingga sekarang, wajahnya tetap begitu. Rambut saja yang disisir rapi, juga pakaiang parlente untuk menunjukkan wibawanya.


Kami selalu menyempatkan diri, satu hari dalam seminggy untuk bertemu. Sekadar berbagi cerita dan menjaga silaturahmi. Panjag perjalanan yang kami lalui hingga akhirnya bisa menjadi sahabat seperti sekarang.


Fadila, aku bertemu dengannya waktu masih duduk di sekolah menengah pertama. Aky yang malas untuk bergaul dan terkesan menyendiri, mungkin menarik perhatiannya. Dia mendatangiku lebih dulu, dan terus mendekatkan diri. Lama-lama aku menjadi terbiasa akan kehadirannya.


Umi, kami kebetulan sesama tenaga pendidik. Saat ada seminar kami tanpa sengaja berkomunikasi mengenai hal-hal agama, yang dulu masih di awal-awal berhijab dan masih buta tentang pemahaman agama. Begitulah semuanya terjadi hingga menjadi semakin erat persahabatan kami.


"Em, aku masih kabaar bahagia sama kalian semua," ucap Umi di tengah-tengah kami menikmati makanan.


"Apa?" tanya kami serentak dan masih menunggu kelanjutan ucapannya.


"Aku sudah di khitbah."


"Masya Allah, alhamdulillah. Akhirnya," ucap kami kegirangan dan langsung memeluk tubuh berisi Umi. Kami turut senang, usia kami tidak lagi muda. Hanya hitungan bulan, kami akan memasuki kepala tiga. Pasha ikut nimbrung.


Aku yang sadar akan tangan Pasha langsung membuangnya kasar. Langsung memukulnya bertubi-tubi. Tidak ada perlawanan darinya, hanya membuat benteng pertahanan diri. Bukannya menghindar.


"Udah, Ti. Sakit tau!"


"Ayok, kita lanjut makannya."


Aku menatap tajam Pasha, seperti elang yang mendapatkan mangsanya.


"Kamu jangan dekat-dekat, ya. Awas aja!"

__ADS_1


__ADS_2