
Maher telah duduk di sofa panjang dekat sudut. Pelayan datang dengan buku menu. Aku mendaratkan bokong di sampingnya.
Ia memilih steak dan sushi ikan salmon. Tidak kusangka, seleranya bagus juga. "Kamu pesan apa?"
"Samain aja, Mas."
"Yang lain dong. Masa' nggak kreatif banget." Aku memutar bola mata malas, lalu menunjuk asal. Pelayan pun pergi.
"Gimana? Udah cukup omesh belum?" tanyanya sembari menaik turunkan kedua alisnya. Aku membuang napas kasar lalu memalingkan wajah.
"Mungkin aku kena azab Allah, ya," kataku seraya menopang dagu.
"Kenapa?" tanyanya mengerutkan dahi.
"Waktu aku gadis digombalin Daffa. Sekarang, udah menikah malah diganggu Kakaknya."
"Haha. Berarti yang kamu bilang berdua tadi, maksudnya aku sama Daffa?" aku menaikkan alis, "namanya juga satu darah. Emang Daffa gombalin kamu gimana?"
"Tau, ah. Tanya aja sana sama adik kamu."
"Ngambek lagi? Aku cium, nih," ucapnya yang membuatku mengubah mimik wajahku. Heran, ustadz kok hobinya nyosor.
Selesai makan, kami akan melaksanakan salat Magrib terlebih dahulu baru bergegas pulang. Terlalu mepet waktunya pasti tidak akan terkejar.
Safar atau Maher, mereka orang yang sama. Tapi sosial media dengan karakter aslinya jauh berbeda. Apa aku biasakan diri memanggilnya sama dengan yang lain, ya.
"Mas."
"Hem," ucapnya yang langsung terkesiap menatapku intens, "apa, Sayang?"
"Mas lebih nyaman dipanggil Safar atau Maher?"
"Em ... lebih enak Safar, sih. Maher cuma jadi pelengkap di rapor dan ijazah aja," ucapnya tertawa terbahak-bahak.
"Ih, aku serius." Dia menggenggam tanganku, sebelah tangannya menopang kepala.
"Mas juga serius. Jarang sih ada yang panggil Maher. Terlalu timur tengah. Ya, meski Abah memang ada keturunan Arab."
__ADS_1
Mulutku membulat. Dia menatapku dalam. Netra kami bertemu untuk waktu yang lama. Jantungku berdetak tak beraturan. Maher membawa tanganku di dadanya.
"Kamu bisa rasain?" aku bingung menjawab apa, aku pun merasakan hal yang sama, "hei, kok nggak jawab, Mas?"
Aku menarik cepat tanganku, melepaskan diri. Masih takut untuk melakukan kewajibanku sebagai istrinya. Meski aku berdosa karena menunda-nundanya.
Seruan azan menyelamatkanku. Jadi, aku tidak perlu menghindar. Allah memang Maha Baik.
"Salat yuk, Mas." Dia mengangguk lalu bangkit dari sofa.
"Siti, kenapa kamu menghindar?"
"He uh? Nggak kok, Mas. Nanti kita bahas lagi, ya."
Sesampai di rumah, kedatangan kami telah disambut hangat oleh abi juga ibu. Wajah Maher terus ditekuk, sehingga mengundang tanya dari mereka.
"Kamu kenapa, Safar?" Abi membuka pembicaraan, saat Maher tidak menyapanya.
"Hah? Nggak apa-apa, Ustadz."
"Mungkin kecapean, Bi. Nggak biasa antar jemput Siti."
"Ya, ya. Silakan. Waalaikumsalam."
Aku diapit ibu juga abi. Ibu duduk di kursi teras, aku melakukan rutinitas pulang mengajar. Sedangkan abi berdiri di sudut pintu.
"Safar kenapa? Kamu ada buat salah, ya?"
"Jaga hati Safar! Kalau bisa kamu jangan ketemu lagi sama Pasha, Abi tidak ingin Safar salah paham. Alangkah lebih baik setelah resepsi, kalian secepatnya pindah."
Tidak ada kata yang terucap dari mulutku. Pamit kepada mereka dan masuk ke kamar. Maher duduk di tepi ranjang dan mengenggam ujung kasur dengan tangan berurat.
Ada rasa bersalah menjalar di hatiku. Apa dia akan memaksaku untuk melayaninya sekarang. Jujur, aku sendiri tidak tahu kapan akan siap melakukannya.
Haruskah kuminta pertanggungjawaban Pasha dampak atas kelakuannya. Sorot mata Maher tajam, ia bangkit berjalan menuju ke arahku. Aku melangkah mundur hingga terpojok oleh dinding.
Maher mencium bibirku buas. Aku tak berdaya atas lumatannya yang tidak membiarkan diri ini untuk bernapas barang sedetik. Ia mendorong tubuhku hingga ke dinding dan menguncinya kuat.
__ADS_1
Napasnya terdengar tidak beraturan, ia menarik khimarku dan membuangnya kasar. Rambut hitam legam terurai menutupi wajah saat aku berpaling mengikuti arah khimar yang dibuang asal. Maher tidak menghentikan aktivitasnya yang kian menyapu paksa bibir ini.
Tanganku dicengkeram kuat di dinding. Ciuman Maher turun menuju leher jenjangku. Aku bergerak ke sana-sini tidak bisa diam. Aku menahan napas akibat ulahnya, berdiam mematung. Bulir bening lolos begitu saja.
Lalu menumpahkan tangis sejadi-jadinya. Mengapa, dia orang yang harusnya kuletakkan kepercayaan padanya justru mengulang kembali kenangan pahit yang begitu mengguncang hati dan jiwaku.
Hidung mancungnya sudah mendekati leherku yang terbuka sempurna. Aku menutup mata, menelan saliva dengan beratnya. Seperti tengah menelan duri tajam.
Dadaku naik turun, memikirkan apa yang akan ia lakukan. Sebenarnya halal dia menyentuhku, dari ujung rambut hingga kaki. Tapi, hati dan jiwaku yang masih membutuhkan waktu untuk melakukannya.
Maher melonggarkan cengkeramannya. Aku membuka mata perlahan, lalu terlihat ia melangkah menuju kamar mandi. Aku mengusap pergelangan tangan yang memar karenanya.
Kulitku yang putih, begitu jelas terlihat jika ada goresan atau bahkan hanya terantuk benda sederhana. Ia meninggalkan bekas meski tidak berlangsung lama.
Aku terduduk lemas menenggelamkan wajah di lutut. Sebenarnya aku malu pada diri sendiri yang tak mampu melayani suamiku.
Sebuah tangan mengusap lembut mayangku. Aku tidak berani melihatnya. Hanya ada kami berdua di sini. Rasa takut semakin menguasai relung hati dan jiwaku.
"Maafkan Mas, Siti." Aku terus menangis sejadi-jadinya. Kenapa mereka pria yang terdekat denganku yang justru melukai dan menghancurkanku hingga tidak tersisa lagi rasa percaya.
Aku menjadi dingin dan diam membisu. Maher memeluk tubuhku, mencium mayangku lembut. Aku beringsut menjauh, sungguh rasa percaya di dada sudah tidak ada lagi untuknya meski seribu cara ia lakukan untuk meluluhkan hati ini.
"Maafkan, Mas Siti. Mas telah mengingkari janji."
Aku mengangkat wajah dan menatapnya dengan mata yang sudah sembab. Tersimpan kekecewaan yang dalam di netraku. Namun, aku enggan berucap.
Aku memilih bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan sejuta luka yang ditorehnya tadi.
MAlam semakin larut, ribuan bintang telah menghiasi langit. Aku duduk di meja belajar, mengoreksi tugas para mahasiswa. Juga sengaja menyibukkan diri, menghindar dari Maher.
Aku terus sibuk menarikan pena di beberapa tumpukan makala. Membacanya secara perlahan dan satu persatu. Biasanya, aku hanya memeriksanya sekilas, tidak begitu detail.
Secangkir teh berada di sampingku, Maher menyodorkannya padaku. Aku hanya melirik gelas bertangkai itu sekilas. Tidak mengucapkan apa-apa.
Pesan masuk di gawaiku. Saat ini para sahabatku membuat bising di grup. Entah mengapa, jika sudah begini pantai adalah tempat terbaik bagiku untuk menyendiri.
Dulu, Pasha yang sering menemani. Dia yang paling tahu ketika hati ini sedang gundah gulana karena sesuatu, aku menghilang tanpa kabar hingga beberapa jam. Abi selalu meminta Pasha mencari keberadaanku.
__ADS_1
Situasi saat ini tidak memungkinkan aku untuk melakukannya. Ibu, abi, juga Maher pasti akan membuat kehebohan. Ya, beginilah pernikahan. Mengikat kebebasan.