Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Cemburu


__ADS_3

"Enggak!" kilahku cepat dan langsung menyabet pakaian yang baru dibeli tadi.


"Bohong," ejeknya yang sudah berada di depan wajahku.


"Apaan sih, Mas."


"Awas kamu, ya. Entar malam nggak Mas kasih ampun!"


"Biarin. Wueq," ejekku menjulurkan lidah padanya. Maher langsung merengkuh pinggangku dan menarik lidahku tadi. Pria ini benar-benar dipenuhi hawa nafsu yang cukup besar ternyata.


"Omesh banget sih, Mas. Dikit-dikit langsung nyosor."


"Biarin. Cuma sama kamu doang."


"Heh! Tadi loyo udah kayak ayam kedinginan. Percuma dong gaya maco tapi loyo."


"Siapa bilang Mas loyo, kamu aja sampe nagih-nagih." Aku yang mulai jengah membelakanginya dan segera berganti pakaian.


Satu set yang ia beli tadi sudah melekat di tubuhku. Ya, aku pakai rok plisket hitam untuk menyempurnakan penampilan. Banting banget harga baju sama rok sebenarnya, tapi hanya itu yang cocok untuk dipadukan.


"Aku udah siap, Mas. Yuk."


"Uh, Bu Maher Fatih Safarudin Anda terlihat lebih elegan dari biasanya."


"Ya, tapi nggak match sama kamu, Mas."


"Harusnya pake sepatu boat warna hitam ini pasnya."


"Ya udah, nanti kita beli, ya."


**LA**


Sepasang sepatu boat hitam sudah terpakai di kedua kakiku. Kami berjalan menyusuri mall. The Dubai Mall tertulis besar sebagai ikonnya begitu aku menginjakkan kaki di sini.


Luasnya sekitar lima puluh lapangan bola, aku tercengang saat membacanya sebelum kemari tadi. Hatiku semakin penasaran dengan tempat yang digadang-gadang sebagai mall terbesar di dunia. Juga, menjadi pusat perbelanjaan kelas dunia.

__ADS_1


Terdapat aquarium akrilik yang juga menjadi ciri khas pusat perbelanjaan dunia ini. Tidak ingin melewatkan kesempatan yang entah kapan lagi akan kemari, kami langsung menuju area itu.


Benar saja, banyak pengunjung dari berbagai negara hadir untuk sekada menyelam dan bermain bersama ikan di dalam, atau ada yang hanya menikmati keindahannya dari bawah yang menampilkan kehidupan bawah laut. Seperti yang kami lakukan sekarang, tidak lupa untuk mengabadikan momen indah ini di gawai.


Puas berkeliling, Maher mengajakku ke area ice skiting. Kami menuju ke arah peminjaman perlengkapan untuk bermain di area yang sempat dijadikan tuan rumah pertandingan Emirates Hockey Laeague.


Aku sudah menggunakan pakaian lengkap dengan penutup kepala model berbulu, untuk menjaga kehangatan tubuh. Hanya menunggu Maher mengambil sepatu khusus untuk bermain. Saat menunggunya, dua orang pria berahang tegas khas wajah timur tengah menghampiriku.


Mereka sepertinya menggodaku yang hanya berdiri sendirian. Aku diam dan tidak menganggapi apa pun yang mereka katakan, meski menggunakan bahasa inggris.


Dari balik lorong pengambilan sepatu Maher melempar benda yang dipegangnya ke hadapan pria itu. Wajah Maher menatap keduanya dengan dingin, lalu memasang kuda-kuda.


Kedua pria itu mengambil langkah seribu, Maher mendekat. "Kamu lihat? Kamu yang pakai baju tertutup begini saja mereka udah godain kamu, apalagi kalau pakai celana jeans."


"Nggak salah aku dong, Mas. Aku juga nggak ngapa-ngapain. Jaraknya juga aman, nggak dekat-dekat."


"Hem." Hanya helaan napas yang terdengar lalu Maher membawaku duduk di kursi kayu panjang, memakaikan sepatu untuk bermain. Maher langsung menggenggam jemariku, kami meluncur ke arena.


Aku kikuk dan bodoh dalam bermain, maklum ini pertama kalinya bagiku. Maher terlihat menguasai ice skiting, mungkin ia sering bermain. Maher mengajariku cara meluncur.


Bruk!


Aku tertangkap dan menindih tubuh Maher saat membuka mata. Maher menghela napas yang sudah keluar asap dari mulutnya. Ya, suhu di arena ini di bawah minus derajat. Maher tertawa melihatku yang berkedip tanpa kata. Syok.


Jantungku berpacu cepat. "Sayang, kok bengong?"


"Mas ketindihan kamu, nih. Entar malem dong kalau mau lama-lama ada di atas, Mas."


Aku langsung bangkit, sedikit menonjok tubuhnya. "Aw, bukannya dibantuin Mas bangkit malah ditonjok. Ya Allah, ciptaan-Mu ini sungguh sempurna."


**


Sekarang kami sudah berada di area flying fox. Pengamanan di tubuh sudah terpasang, dengan pemandangan gedung pencakar langit setinggi 167 meter dari permukaan, aku telah diapit oleh tubuh Maher.


Jantung sudah jelas tidak aman di tempat, detakannya cepat dan memacu adrenalin. Kami mulai meluncur saat aba-aba dari pengarah diucapkan. Dari Dubai mall ini sekitar empat puluh detik lamanya.

__ADS_1


Lafaz Allah selalu mengiringi setiap detik yang menegangkan di hidupku ini. Hijab sudah jelas berantakan dan tidak beraturan seperti semula. Mataku mulai terpejam beberapa detik setelah meluncur.


Maher berteriak histeris dan kegirangan. Tidak lupa ia mengabadikan momen itu. Tidak cukup sekali, ia mengulang kembali wisata yang memacu adrenalin ini.


Aku turun dengan memegangi jantung, terasa seperti Allah tengah menghukumku atas perlakuanku terhadap Maher tadi. Teringat semua dosa yang sudah kuperbuat padanya selama ini.


"Mas naik sekali lagi ya, Sayang."


Napas yang sudah tinggal satu persatu aku hanya mengangguk dan duduk sempoyongan.


"Itu suaminya ya, Mbak?" Aku menoleh ke asal suara. Wisatawan Indonesia tengah duduk di sebelahku, aku mengangguk ragu. "Sudah nikah berapa lama?" sambungnya lagi yang sepertinya dia tertarik dengan kehidupanku.


Benar, itu salah satu sifat orang Indonesia. Terlalu ramah dan peduli dengan kehidupan orang lain. Sekalian aja dia ngurusi cicilan semua hidupku. Ah, kenapa aku jadi sensitif begini.


Wanita berkhimar hijau wardah ini terkekeh sebentar. "Maaf ya, Mbak kalau saya kepo. Saya hanya mencoba mencairkan suasana sesama orang Indonesia. Sejujurnya, saya juga sedikit takut untuk naik wahana itu."


Dalam hati, aku tidak peduli dia takut atau tengah merasakan apa. Soal kehidupan pribadiku, aku memang menutup rapat. Terlebih lagi dengan orang asing.


"Sayang, kamu bengong?" Maher mencolek pipiku. Matanya hanya tertuju padaku. Ia seolah buta dengan kehadiran orang di samping kami.


"Ustadz Safar?"


Maher yang merasa memiliki nama itu langsung menoleh ke asal suara.


"Alhamdulillah, ternyata benar Ustadz Safar. Sudah lama ya, Ustadz."


Maher terlihat menyatukan kedua alis tebalnya. Memiringkan kepala mungkin ia tengah memutar memori yang ada di kepalanya.


"Saya Annisa, Ustadz. Murid tiga tingkat di bawah Ustadz."


Oh, jadi dia di Kairo mengajar mahasiswi. Aku melipat tangan di depan dada, wajah sudah tertekuk sempurna sebelum wanita itu mengenal Maher. Kini, ditambah lagi dengan menyapa. Ya Allah, kenapa perasaan jadi campur aduk begini.


"Oh, ya. Maaf saya lupa."


"Saya yang dulu sering ustadz marahi gara-gara selalu salah tajwid. Hihi." Wanita itu terlihat tersipu malu. Maher sepertinya masih menerka-nerka.

__ADS_1


"Mas, aku balik ke hotel ,ya. Kalian ngobrol aja dulu." Aku membuka perlengkapan yang ada di tubuhku. Lalu melangkah meninggalkan mereka.


__ADS_2