Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Maher vs Pasha


__ADS_3

Maher merangkul bahuku, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir tidak jauh. Ia membukakan pintu panel itu lalu segera beralih di balik kemudi.


Maher terlihat mengeraskan rahangnya. Tidak ada kata yang terucap, kakinya menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang. Tak jarang terdengar ia menarik napas dalam.


"Mas," panggilku memecah keheningan di sini. Ia tidak menjawab, biasanya langsung menghujaniku dengan tatapan cinta.


"Mas, kamu marah sama aku?" Maher menoleh ke arahku sebentar lalu menghentikan mobil di pinggir jalan.


Ia membelai pipiku lembut dengan ibu jarinya. "Nggak, Mas nggak marah sama kamu. Hanya saja, menurut Mas dia sudah melewati batasannya."


"Maaf. Pasha memang begitu. Dari kecil dia selalu mengajakku berdebat, juga melindungiku. Mungkin dia belum terbiasa dengan statusku, Mas. Aku minta maaf yang tidak tegas padanya untuk memberi jarak padaku."


"Nggak apa-apa, Sayang. Mas paham dengan situasinya. Hanya saja, Mas seorang pria. Dan dia juga. Mas takut dia memiliki niat lain denganmu."


Aku menggenggam jemarinya meletakkannya di atas pahanya. "Insya Allah, aku akan jaga kesucian diriku sebagai istrimu."


Maher mengecup punggung tanganku. "Terima kasih, Sayang."


Maher melajukan mobil membelah jalanan yang tidak terlalu ramai. Kami pun tiba di rumah kawasan elite dengan bangunan minimalis yang berjejer serupa. Satpam membuka palang.


"Assalamualaikum, Ustadz Safar."


"Waalaikumsalam. Makasih ya, Mang," ucapnya saat pria berbadan kurus dengan seragam warna hitam menyapanya.


Sekitar tiga rumah dari pos satpam, Maher menghentikan mobilnya. Lalu membuka sabuk pengaman.


"Ini di mana?"


"Rumah orang tuaku. Yuk."


"Kok kita ke sini, Mas?"


"Ya, Mami tadi telepon ada souvenir dan undangan yang harus kamu lihat. Juga baju pengantin untuk kita."


Maher mendekat, ia seperti ingin memelukku. Napasnya terdengar memburu, wajah semakin tak berjarak denganku. Aku memejamkan mata sejenak. Lalu ia terkekeh, aku mengerjap cepat.


"Kamu ngapain?"

__ADS_1


"Hah? Nggak ngapa-ngapain," jawabku cepat lalu melihat ke arah luar jendela.


Maher mengusap pucuk kepalaku diiringi tawa yang semakin pecah. "Mas nggak akan melakukan hal yang sama. Mas sudah janji akan menunggu kamu sampai kamu siap. Mas tadi cuma buka ini," tunjuknya sembari membuang sabuk pengaman yang baru saja ia lepaskan.


"Haha. Bilangin Mas omesh, ternyata dia juga," timpalnya lagi dengan mencolek ujung hidungku.


Kami pun turun dan masuk ke rumah yang didominasi cat putih ini. Lukisan dan foto keluarga terpajang rapi di dinding. Rumah berlantai tiga ditata dengan sangat elegan.


Di dinding sepanjang tangga terdapat foto Maher dan juga Daffa dari mereka kecil. Aku terfokus pada gambar seorang anak perempuan dengan rambut dikepang dua, mengenakan kaos berwarna merah juga rok mini.


"Itu siapa?" tanyaku penasaran.


"Itu Daffa," ucapnya tertawa geli, aku juga melakukan hal yang sama.


"Kalian seneng lihat aku diperlakukan begitu sama Mami?" ucapnya yang menuruni tangga dengan wajah bersungut.


"Bu dosen kok mau aja sih, nikah sama Kak Safar? Mendingan juga aku, Bu," sambungnya yang masih tidak terima. Maher meletakkan tangannya di bahu, setengah memelukku.


"Kak, singkirin tangan Kakak!" tunjuknya ke arah tangan Maher, lelaki di sampingku ini tersenyum penuh kemenangan.


Bu Ana memukul bahu Daffa. "Aw!" pekiknya meringis kesakitan sambil menyapu bekas pukulan ibunya. Kami mengucapkan salam dan mencium punggung tangan beliau.


"Belum, Mi. Baru juga sampe. Oh, ya. Kami salat Ashar dulu, ya."


"Ya, setelah itu kita ngobrol di teras belakang, ya."


"Ya, Mi." Tangan Maher masih tidak berpindah, ia seakan memanduku untuk menelusuri rumahnya.


"Kak, kalian jangan satu kamar! Aku nggak rela dosen kesayangan aku dekat-dekat sama Kakak!" teriaknya saat langkah kami menapaki anak tangga satu persatu.


Maher justru mengecup pipiku seperti sengaja menganggu adiknya itu. "Kak ...! Bukan muhrim!" teriaknya yang langsung mengejar kami.


"Sudah Muhrim," balas Maher yang membuat Daffa semakin kepanasan. Langkahnya dipercepat untuk segera memisahkan kami sepertinya.


Maher membawa diri ini berlari menuju kamarnya yang tidak jauh dari tangga. Meski napas sudah ngos-ngosan karena olahraga kecil di rumah ini, itu cukup mengganggu Daffa. Maher tertawa puas.


"Begitu cara dia ganggu kamu, Sayang?"

__ADS_1


"He-eh," jawabku masih dengan napas satu-satu.


"Heran, tuh anak nggak ada dewasa-dewasanya."


Daffa mengetuk pintu berkali-kali dan merengek minta Maher membukanya. Aku membiarkan kakak adik ini melepaskan rindu mereka. Menyusuri ruangan besar dengan cat abu-abu, lengkap dengan interior khas pria. Lemari model slide berada di tengah-tengah.


Home teather juga melengkapi kamar ini, aku melihat pintu yang berada di pojokan. Membukanya perlahan, kamar mandi yang dilengkapi dengan shower juga bathup. Rasanya ingin segera menceburkan diri di sana.


Aku masuk untuk membersihkan diri tanpa disuruh Maher. Ingin menikmati serunya mandi dalam bathup. Aku mengayunkan tangan di dalam bak berukuran besar ini, lalu melucuti pakaianku satu persatu.


Berendam sempurna dengan penuh busa dan memainkannya. "Ah, segernya," desisku kegirangan. Knop pintu bergerak, bola mataku menari ke kiri dan kanan seraya berpikir menguncinya atau tidak tadi.


Aku menepuk jidat, "Ya Allah, aku lupa menguncinya.


"Sayang," panggil Maher dengan mengetuknya sebanyak tiga kali. Tidak mendengar jawaban dariku, ia pun pergi. Aku dengan cepat langsung menyudahi mandi di sini.


Aku yang terlena dengan bathup lupa jika tidak membawa baju ganti, handuk di sini juga nggak ada. Aku mengangkat pakaian yang berserak di lantai kamar mandi, sebagian basah karena aku buru-buru tadi.


Bagaimana ini? Aku menggigit ujung kuku, mondar mandir. Lalu perlahan membuka pintu, mengintip keberadaan Maher. Kepalaku nongol, Maher berdiri tepat di depanku.


Aku terlonjak kaget hingga terduduk di lantai. Pakaian yang ada di genggamanku terlepas. Mata Maher membulat sempurna dan memandang seluruh tubuhku yang tanpa sehelai benang.


Jakunnya terlihat naik turun, seperti tengah menahan sesuatu. Wajahnya terlihat memerah. Dadaku bergemuruh tidak menentu. Dibagian celananya terlihat ada yang menonjol.


Ya Allah, aku rupanya sudah membangunkan singa yang sedang tidur. Maher terlihat menyapu lidahnya di bagian bibir. Tanganku sontak menyilang di depan dada, kaki juga bersilang. Memeluk lutut.


"Percuma kamu tutupi, Sayang. Mas sudah lihat semuanya," bisiknya sembari mengulurkan lidah di daun telingaku. Bulu kudukku meremang, desir aneh langsung menyambut.


"Em, Mas ...."


"Boleh, Mas meminta hak Mas?" tanyanya yang sudah berlutut di depanku. Ia mengangkat daguku, lalu ******* bibir ini lembut. Tangannya menyentuh pinggang rampingku, dan membawanya mendekat ke tubuhnya.


Lidahnya menyapu bibirku, lalu menerobos masuk ke dalam rongga mulut. Saling tarik menarik. Bagiku, ini pertama kalinya. Napas kami kian memburu semakin buas lumatannya. Tanganku meremas bajunya. Namun, ia tetap melanjutkan aktivitasnya.


Jemarinya mulai menjalar ke bagian dada, aku beringsut sedikit menjauh karena sentuhannya yang membuatku tidak nyaman dan tidak pernah merasakan itu. Sebelah tangannya mengunciku di depan dadanya.


Aku menghentikan pergerakannya. "Mas," ucapku yang membuatnya menghentikan ciumannya sejenak dan menatap mataku.

__ADS_1


"Jangan hentikan Mas, Sayang. Mas ingin yang lebih dari ini. Ini pertama kalinya untuk, Mas," ucapnya disertai ******* berat, lalu meremas seonggok daging milikku.


"Ah, Mas!" pekikku yang terasa sakit. Aku mendorong tubuhnya. Ia jatuh terduduk, menatapku penuh kecewa. Aku tertunduk dalam. Menyapu bulir bening di ekor mata.


__ADS_2