
Aku membuka mata, melihat sekeliling yang bercat putih. Tangan sebelah kiriku telah terpasang infus, tubuh ini terasa lemah. Maher terlihat melaksanakan salat di lantai yang sudah beralaskan sajadah.
Aku berusaha bangkit, tapi diri ini masih belum terlalu bertenaga. Aku berzikir minta kekuatan sama Allah. Tenggorokan juga terasa kering dan haus. Aku berusaha mengambil air di nakas. Tidak ingin mengganggu kekhusyukan Maher.
"Kamu haus, Sayang?" aku terperangah mendengarnya mengatakan itu, terakhir kali bukankah kami tengah bertengkar hebat, "Sayang, hei. Kok pertanyaan Mas nggak dijawab, hem?"
Aku mengangguk, Maher membantu tubuhku untuk bangkit dan menyandarkannya ke dinding dengan menarik selimut hingga ke pinggang, lalu menyodorkan gelas berisi air padaku.
"Mas," ucapku pelan dan menunduk dalam, "maafkan aku."
"Mas yang minta maaf, Sayang. Mas nggak tahu kenyataan dibalik trauma kamu. Abi udah cerita semuanya sama Mas."
Tangisku pecah, Maher memeluk tubuhku dan mencium pucuk kepala ini. "Maafin, Mas yang melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan padamu. Kamu mau 'kan maafin, Mas?"
Aku mengangguk, aku mengeratkan pelukannya. Sekian detik, ia melepaskannya dan menyapu bulir bening di wajahku.
"Kita mulai dari awal lagi, ya Sayang. Kita buka lembaran baru. Oh, ya. Mas udah beli rumah untuk kita," ucapnya lalu beralih setelah menenangkanku.
"Rumah?" tanyaku memastikan, tapi bukan jawaban yang kudapat dari bibirnya. Ia seperti mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau buah?" aku menggeleng, tapi ia sepertinya tidak mengikuti kemauanku, tangan berurat itu justru sibuk memotong buah dan menyuapkannya padaku.
"A a a, buka mulutnya," aku pun mengikuti arahannya yang membuka mulut dengan lebar, "terima kasih, karena sudah menjaga kesucianmu."
"Heuh?" Bukankah terakhir kali dia bilang aku tidak pantas menggunakan nama Siti Maryam. Hem, Allah yang Maha membolak balikkan hati.
"Assalamualaikum." Suara bidadari tak bersayapku terdengar, mereka semua masuk dan duduk di sekitarku. Aku masih dengan wajah kebingungan melihat sikap Maher saat ini.
"Safar, kamu udah bisa pulang. Biar gantian sama Ibu. Sekarang Siti sudah sadar, biar Ibu sama Abi yang jaga, ya."
"Nggak apa-apa, Bu. Safar masih mau di sini."
"Pulanglah, Nak Safar. Kamu kurang beristirahat sejak Siti masuk rumah sakit. Kamu harus sehat, jika ingin Siti sehat."
Ia terlihat merapatkan bibirnya, lalu menyapu ke arahku yang sepertinya ia tidak ingin jauh atau meninggalkan aku.
"Gimana, Sayang?"
"Mas pulang dulu, nanti baru kemari lagi. Istirahat, Mas."
"Ya udah kalau gitu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Abi duduk di kursi samping brankar. Ibu menyiapkan makanan yang ia bawa di atas meja.
"Gimana keadaan kamu? Udah lebih baik?" Aku mengangguk lemah, lalu seorang perawat datang memeriksa kondisiku.
__ADS_1
"Permisi, kita lakukan tensi dulu ya, Bu."
"Ya, silakan," jawab ibu. Perawat bertubuh kecil ini pun mengeluarkan alat medisnya dan merekatkan benda berwarna biru di lenganku.
Beberapa menit, hasil pun keluar. "Tensinya sudah bagus ya, Bu. Kita tinggal menunggu dokter periksa, jika semua hasilnya baik, besok Ibu sudah bisa pulang."
"Terima kasih, Sus."
"Ya, saya permisi dulu, ya."
Di ruangan berukuran enam meter ini, menyisakan kami bertiga.
"Abi terpaksa menceritakan semuanya pada Safar dan keluarganya saat kamu dilarikan ke rumah sakit. Abi juga sertakan hasil dari dokter tempo hari pada mereka. Bersyukurnya mereka percaya. Kemarin, waktu kamu masuk ke ke sini, Maher minta dites ulang mengenai keperawanan kamu."
"Terus, hasilnya Bi?"
Abi mengendikkan bahunya. "Abi nggak tahu, cuma dia yang tahu."
"Kamu kalau penasaran, tanya aja sama Safar. Kamu makan dulu, ya," ucap ibu yang sudah menyodorkan sendok di hadapanku.
"Siti makan sendiri aja, Bu. Malu, Siti udah punya suami."
"Kalau gitu, biar suami kamu aja ya yang suapin," timpalnya tiba-tiba sudah berada di sini. Baru juga satu jam yang lalu dia pulang.
"Assalamualaikum, Bi, Ibu," sapanya belakangan. Bukannya salam duluan baru ikut nimbrung malah motong ucapan orang tua lebih dulu, pikirku.
"Insya Allah, Bi. Itu sudah jadi kewajiban Safar." Orang tuaku pun pamit. Menyisakan kami berdua dan piring yang sudah berada di tangan Maher.
"Aaaa, buka mulutnya, Sayang."
"Ih, Mas apaan, sih. Malu."
"Cih, malu ama siapa? Nggak ada siapa-siapa. Ayo, aa...aa." Aku pun membuka mulut dan makanan sudah tercabik oleh gigiku.
Ia juga makan dari sendok yang sama denganku. Wajahnya begitu berseri, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Selesai makan, ia duduk di sampingku.
Merangkul bahuku, membawa kepala ini bersandar di bahunya. "Mas kangen kamu," aku mendongak melihatnya, ia juga menatap mataku, "Mas sayang banget sama kamu."
"Aku nggak!" ucapku yang menggodanya. Ia sontak melihatku terpelongo lalu berkedip beberapa kali.
"Biarin kalau kamu nggak kangen dan sayang sama Mas, yang penting Mas begitu sama kamu," ucapnya yang menggelitik pinggang rampingku. Aku tertawa geli akibat ulahnya.
"Aw, Mas. Ini di rumah sakit," ucapku disela tawa riang.
"Sekarang, masih berani bilang nggak sayang dan kangen sama Mas? Masih berani?" ucapnya dengan wajah dan jemari yang siap melakukan tarian di pinggangku.
"Nggak sayang sama Mas," jawabku lagi yang membuatnya semakin bersemangat.
__ADS_1
Tok ... Tok.
"Maaf, Pak, Bu. Bisa tolong kecilkan suaranya. Soalnya pasien lain terganggu."
Aku merapatkan bibir, Maher mengangguk di depan pintu menemui perawat yang menegur. Setelah perawat pergi ia terkekeh menampakkan barisan gigi rapinya.
"Gara-gara kamu ini." Aku mengulum senyum dan mengangkat alis. Ia mengecup keningku lama.
Kini, Maher berbaring di brankar bersama denganku. Tangan melingkar di perutku.
"Mas, aku boleh tanya sesuatu?"
Ia menopang kepalanya, memperhatikan setiap inch wajahku. "Apa, Sayang?"
"Kata Abi, Mas test keperawanan aku lagi, ya?" ia mengangguk ragu dan lama sekali menjawab, "apa hasilnya, Mas?"
"Rahasia, dong."
"Ih, pake rahasia segala."
"Kamu juga punya banyak rahasia sama Mas."
"Mas, nggak pernah tanya."
"Ya, juga sih. Haha. Kamu benar, Sayang."
"Terus apa hasilnya, Mas?"
"Dokter bilang ...." aku menyatukan alis menanti jawabannya, "kamu tertusuk benda tumpul dengan sangat keras jadi hilang perawan," sambungnya dengan tertawa terbahak-bahak. Aku memukul bahunya pelan.
"Apanya yang lucu, Mas?" tanyaku polos dan masih belum mengerti maksud dari ucapannya.
"Ya lucu dong, Sayang. Benda tumpulnya itu, ini," ucapnya menunjuk ke arah bawah pinggangnya. Mataku mengikuti arahan telunjuknya.
"Astaghfirullah," ucapku menepuk jidat, Maher tertawa tanpa bisa dihentikan, "ya ialah benda tumpul. Mas tancap gas nggak pake rem," gerutuku kesal jika ingat perlakuannya.
"Nanti di rumah baru kita buat lagi ya, Sayang. Mas udah beli sofa Tantra."
"Hah? Sofa Tantra?"
"He eh," jawabnya dengan wajah mupeng berkhayal entah apa.
Aku yakin itu pasti pikiran-pikiran kotor untuk menuntaskan naluri lelakinya. Maklum, dua tahun pergi sejak pengantin baru membuatnya haus akan sentuhan sepertinya.
Sofa yang dimaksud Maher, sofa bergelombang tanpa sandaran yang bentuknya mirip sepatu high heels berukuran sedang.
Sebenarnya sofa ini hanya pelengkap di kamar dan bukan bertujuan untuk melakulan hubungan begitu dengan berbagai gaya.
__ADS_1
Hanya saja, ada beberapa orang yang melakukannya begitu dan itu viral beberapa waktu lalu, jadi sekarang beralih fungsi. Aku yang sama sekali buta akan pemahaman kegunaan sofa itu membuatku mengerutkan dahi dan menatapnya bingung.