
"Hehe, nggak apa-apa, Ustadz. Toh, ini juga belum dimulai. Jadi kita bisa ngobrol dulu, udah lama juga kita nggak ketemu intens begini," timpal abi.
Ibu datang dari dapur membawa nampan berisi teh juga camilan. Sebelum akhirnya makan malam di meja prasmanan yang beliau siapkan sore tadi.
"Diminum dulu, Ustadz, Jeng Ana."
"Wah, jadi ngerepoti 'kan? Saya jadi nggak enak loh," timpal Bu Ana yang memakai khimar berwarna cokelat muda.
Setengah jam sudah mereka berada di sini. Perutku juga udah keroncongan. Maklum, sengaja memang tidak diisi terlebih dahulu karena menunggu tamu kesayangan abi.
Aku bersungut sambil mengusap perut pelan. Cacing di dalam sana sudah meronta-ronta untuk menyuruhku melahap makanan.
"Ck! Kakak lama banget, sih, Mi. Daffa udah kelaperan, nih," ucap Daffa tiba-tiba. Mataku membulat melihat sikapnya yang spontan. Netra kami bertemu, ia memainkan sebelah matanya padaku diiringi senyum nakal.
Aku segera beralih, membuang wajah. Dasar bocah ingusan! Di hadapan semua orang dia berani bersikap begitu, belum lagi aku ini 'kan calon kakak iparnya. Huh! Aku berperang dengan pikiranku sendiri.
"Assalamualaikum." Suara berat seseorang yang sudah berdiri tegak di ambang pintu membuat kami menoleh kepadanya.
Pria dengan tinggi sekitar seratus delapa puluhan centimeter dengan mata teduh itu langsung disambut abi. Aku menunduk sejenak.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang serentak. Semuanya berdiri menyambut kedatangan pria itu. Sekilas tertangkap mata memandang, dia cukup tampan untuk mendampingiku.
"Lama banget sih, Kak. Udah laper, nih," protes Daffa yang hanya dibalas senyuman olehnya.
"Ya udah, mari kita langsung ke meja makan saja," ajak abi kepada semua orang.
Aku mengekor di paling belakang. Membiarkan semua orang mengambil tempat masing-masing. Aku terus menundukkan wajah, jantungku berdebar tidak beraturan.
"Siti, dia calon suamimu, Nak," aku masih diam dan tertunduk seraya menyuapkan nasi ke mulutku, "silakan kalau kamu ingin melihatnya," sambung abi.
Aku menaikkan wajah sebentar, menatapnya yang tersenyum manis sekali. Lalu kembali menundukkan pandangan.
"Rupanya, mereka masih malu-malu," timpal pria yang duduk di samping abi. Ustadz Zainudin. Para orang tua terkekeh melihat kami hanya berpandangan sebentar. Tapi perasaanku mengatakan, jika pria ini tidak melepaskan matanya dariku.
__ADS_1
"Kak," ucap Daffa yang memukul bahunya. Itu terdengar cukup keras, mengingat dia yang berada di depanku, "itu nasi di sendok kamu udah habis dari tadi. Gimana, sih?" sambungnya yang membuat semua orang terkekeh. Begitu juga denganku, yang tanpa sadar menyunggingkan senyuman.
"Wah, wah. Sepertinya memang harus cepat-cepat dihalalin ini mereka berdua, Ustadz."
"Ya, saya setuju. Gimana kalau malam ini aja?" saran abi yang membuatku menyemburkan makanan ke wajah Daffa.
"Saya minta maaf, Daffa. Saya tidak sengaja," ucapku yang menyodorkan tisu. Ucapan abi membuatku tidak bisa melanjutkan makan.
"Maaf," ucapku sekali lagi menganggukkan kepala ke arah kedua orang tua Daffa. Lalu menyapu pandangan ke arah pria di hadapanku ini yang sudah mengembangkan senyum dengan lebar.
Mataku membulat sempurna, lalu berkedip dengan ritme cepat. Semua orang yang di sana memaklumi sikapku yang kaget bukan kepalang.
"Haha, Ustadz ini bercandanya boleh juga, ya," timpal Ustadz Zainudin.
"Lah, saya serius. Temen saya kepala KUA di wilayah ini, jadi tidak sulit untuk meminta bantuannya. Gimana?"
"Berkasnya kami tidak bawa, Ustadz."
"Safar bawa, Bah," ucapnya tiba-tiba. Napasku seolah tercekat di kerongkongan. Secepat ini?
Ia mengulum senyum, "Dia dosen kamu, 'kan? Jadi kamu pasti sudah tahu beliau. Kami bisa saling mengenal setelah menikah," ucapnya yang terlihat tidak goyah dengan apa pun.
"Baiklah, kalah begitu. Sepertinya pengantinnya juga sudah tidak sabar. Silakan dilanjutkan Ustadz." Kedua ibu terlihat semringah, terutama ibu yang langsung menggenggam jemariku.
Selesai makan, abi menelepon temannya yang dimaksud beliau tadi, ya Ustadz Rahman. Beliau memang penghulu sekaligus kepala KUA di wilayah tempat tinggal kami.
Setengah jam lamanya, suara motor terdengar datang di pekarangan rumah. Aku seperti mimpi menikah hari ini. Membayangkan akan bersanding dengannya besok saja sudah membuatku tidak berselera makan.
Lalu beberapa menit lagi akan jadi istrinya. Ya Allah, skenarioMu benar-benar indah. Masya Allah.
"Asslamualaikum," sapa Ustadz Rahman yang mengenakan jas hitam lengkap dengan pecinya. Tasnya dijinjing, abi segera menghampiri sahabatnya itu.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
"Saya nggak nyangka loh bakal menikahkan anak kamu malam ini," ucap beliau yang tampak terkejut.
"Ya, saya sendiri yang punya anak juga tidak menyangka. Apalagi kamu, haha. Gimana permintaan saya?"
"Alhamdulillah, bisa diatur. Ijab qobul dulu, besok baru kita daftarkan pernikahannya. Yang penting berkasnya sudah siap."
"Insya Allah, berkas nanti saya siapkan. Bu, bawa Siti berdandan ya."
"Nggak usah, Bi. Siti bisa berdandan sendiri."
Aku berjalan gontai menuju kamar untuk berhias diri. Ya, usiaku yang sudah mencapai kepala tiga membuatku mudah untuk berdandan.
Aku memilih kebaya yang aku kenakan saat ada acara pernikahan sepupuku kemarin. Itu juga tidak ketinggalan zaman, sebab baru satu kali pakai. Kebaya berwarna abu-abu lengkap dengan payet. Rok batik sebagai bawahannya. Hijab warna senada menutup dada melengkapi penampilanku.
"Maher Fatih Safarudin, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya yang bernama Siti Maryam bin Abdul Latif dengan mahar logam mulia seratus gram dan seperangkat alat salat dibayar tunai."
Aku mempertajam pendengaran. Abi nggak salah sebut, nama dia Maher Fatih Safarudin, bukannya dia teman dunia mayaku?
"Saya terima nikahnya Siti Maryam binti Abdul Latif dengan mahar tersebut dibayar tunai."
Ya Allah, kini aku telah sah menjadi istrinya? Jantungku berdegup tak menentu. Ingin rasanya kabur dari situasi ini.
"Sah!" Terdengar suara saksi yang entah sejak kapan ada di sana. Ibu membuka pintu dan datang menghampiriku yang memang sudah selesai berhias.
"Kamu sudah siap, Sayang?" Aku mengangguk, ibu pun membawa diri ini keluar.
"Masya Allah." Terdengar suaranya memuji, aku masih tidak berani menatapnya. Aku hanya memandang ke arah lantai.
"Siti, dia sekarang suamimu. Kamu boleh menatapnya lekat, tidak ada dosa di sana," timpal abi. Aku pun memberanikan diri mengangkat pandangan. Betapa terkejutnya aku saat Pasha berdiri di belakangnya.
"Pasha," desisku pelan. Sontak semua orang yang hadir menoleh ke arahku dan Pasha.
"Pasha ini sudah seperti anak saya sendiri, jadi saya minta dia untuk menjadi saksi pernikahan teman, sahabat, juga adiknya," timpal abi yang sudah merangkul Pasha.
__ADS_1
"Oh ...."
Telapak tangan Maher terbuka di depanku. Ia seperti meminta diri ini untuk mengikuti arahannya. Abi menyuruh kami duduk berdampingan. Ustadz Aman begitu sapaan penghulu ini, menginterupsi kami untuk bersalaman.