Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Teman Dunia Maya


__ADS_3

Wajah Pasha bersungut dan melanjutkan makan tanpa kata. Senda gurau menghiasi wajah kami bertiga, tapi Pasha sepertinya enggan menanggapi ocehan kami.


Ia bangkit, serempak kami mendongak. "Mau ke mana?"


"Nggak dengar tuh?" Kami bertiga sontak diam dan mempertajam pendengaran, suara azan Ashar telah berkumandang, "ayo berjamaah."


Pasha menjadi imam dalam salat di musala kecil kafe ini. Benar, kami bertiga menjadi makmumnya.


"Ti, pulang, yuk!" ajaknya selepas menunaikan kewajiban lima waktu.


"Ih, kamu pulang duluan aja, Sha. Naik angkot atau bus kek."


"Ya Allah, Ti. Rumah sebelahan juga, tega banget sih nyuruh aku naik angkot."


"Biarin."


"Ti, kamu nggak ngerasa bersalah gitu?"


Aku menyatukan kedua alis, "Bersalah?"


"Masih sakit ini, Ti. Aduh, aduh. Aku nggak sanggup kalau harus tunggu angkot lama. Sakit semua badanku. Lagi pula, Allah mengajarkan kita untuk menjaga silaturahmi sesama tetangga."


"Hem, ya, ya." Aku melempar kunci mobil padanya. Dia biasanya bawa sepeda motor, entah mengapa hari ini justri ikut bergabung bersama Umi juga Fadila.


Kami melangkah pulang sebelum azan Magrib. Aku duduk di kursi belakang, membiarkan Pasha menjadi sopir. Namun, sepertinya lelaki berhidung runcing ini tidak terima atas perlakuanku.


Saat sudah berada di balik kemudi, ia menoleh ke arahku. "Kamu, kok di belakang?"


"Bukan mahrom."


"Astaghfirullah, Ti, Ti. Aku juga nggak mungkin ngapa-ngapain kamu. Cepat pindah!" perintahnya yang aku memang enggan menuruti ucapannya, "pindah nggak, Ti? Kalau kamu nggak pindah, kita nggak pulang nih."


"Ck! Ya, ya." Pasha bangkit dari tempat duduknya lalu membuka pintu di sampingku. Aku pun keluar dan pindah di sebelahnya.


Lalu lalang kendaraan roda dua dan empat tampak memenuhi jalanan. Ada yang baru pulang dari bekerja, ibu-ibu menjemput anaknya sekolah. Banyak aktivitas keseharian yang terlihat di kala sore begini.


Anganku melayang jauh berpikir tentang kehidupan pernikahan yang sesuai syariat Islam. Itu impianku sejak berhijab. Aku memandang ke arah Pasha yang tengah sibuk menyetir, mencari cela menghindari macet


"Jangan memandangku terus, Ti. Entar kamu jatuh cinta lho. Aku nggak tanggung jawab ya, kalau kamu patah hati."


"Allahu Akbar. Kepedean banget si playboy cap pagar rumah ini. Kamu tuh bukan tipe ideal lelaki idamanku."


"Bagus dong. Jadi, aku bisa cerita tentang semua pacar-pacar aku ke kamu. Tapi, playboy-playboy begini, aku nggak pernah tinggalin salat lho, Ti."

__ADS_1


"Ck! Itu mah kewajiban. Kalau kamu tinggalin, kamu yang berdosa."


Memang Pasha kerap kali berganti pacar. Entah apa maksudnya, dia selalu bercerita kala putus jalinan kasihnya. Dengan alasan yang sama pula, tidak ada kecocokan.


Aku sendiri sampai hafal kalimatnya. Raut wajahnya juga kala dicampakkan atau mencampakkan wanita yang di sampingnya.


Aku sendiri tidak pernah berpacaran dan memang menjauh dari semua pria. Hanya Pasha yang tidak mampu kuhindari, karena dia yang tahu diri ini sejak kecil.


Harapanki menikah sesuai syariat. Namun, ketika pria itu datang mengkhitbah, diri ini justru enggan menggapainya. Bahkan terus menolak dengan berbagai alasan.


Kami telah tiba di depan rumahku. Pasha turun membuka pagar kayu warna putih. Aku segera turun menghampiri ibu yang berada di teras.


"Assalamualaikum," ucapku mencium takzim punggung tangan ibu.


"Waalaikumsalam." Ibu tersenyum simpul menyambutku. Pandangan beliau menyapu ke arah Pasha yang memarkirkan mobil di halaman.


"Kalian pulang bareng?"


"Ya, Bu. Tadi hangout dulu bareng Umi juga Fadila," ucapku yang kini mendaratkan bokong di kursi rotan sambil membuka sepatu.


"Ya, mereka udah lama nggak ke sini. Besok-besok suruh mereka main kemari, biar ibu masakin."


"Ya, Bu. Abi udah pulang, Bu?"


"Bu Rahma, anak gadisnya udah saya antarkan dengan selamat dan tanpa kekurangan satu apa pun."


"Terima kasih."


"Kalau gitu, pamit pulang dulu ya, Bu."


"Cepet banget pulangnya. Kayak rumahnya jauh aja."


"Udah mau Magrib, Bu. Nanti main ke sini lagi. Boleh nggak, Bu?"


"Ya, tentu boleh. Masa' nggak boleh, wong biasane kamu itu jedal-jedul kemari. Lagian, Ibu ya sama Ibumu itu kenal, toh? Lihat, tuh," ibu menunjuk ke arah rumahnya yang berada di sisi kiri gubuk kami, hanya dibatasi oleh tanaman hijau yang berbaris seperti pagar, "rumah kamu ya kelihatan jelas dari sini," sambung ibu seraya tertawa renyah.


Pasha pun ikut menyunggingkan senyum di wajah orientalnya. Tidak lama mengatakan itu, Bu Tejo keluar dari rumah. Kami melihatnya dengan jelas gerak-gerik beliau.


"Assalamualaikum, Bu Tejo. Ini anak bujangnya udah nggak mau pulang lho," ucap ibu diiringi tawa.


"Waalaikumsalam, Bu. Ya, kalau sudah tidak mau pulang, gimana kalau kita tetapkan tanggalnya?" timpal wanita kurus dengan khimar warna cokelat.


Pasha terlihat menggaruk-garuk kepala bagian belakang seraya tertunduk, aku memukul lengan ibu pelan. "Ibu ...."

__ADS_1


Aku langsung melangkah masuk, aku tahu akan ke mana arah tujuan pembicaraan ini. Pasti sengaja bicara begitu untuk menyudutkan kami berdua.


Abi terlihat tengah duduk di ruang tamu seraya membaca buku fiqih. Secangkir kopi juga roti berada di meja menemani kegiatan sore menjelang malam. Kopiah putih juga kaos warna senada, melekat di tubuh beliau. Abi pasti baru saja pulang dari pesantren.


Aku mencium punggung tangan beliau. "Assalamualaikum, Bi."


"Waalaikumsalam. Jangan hiraukan ocehan Ibumu, dia memang biasa begitu," aku mengangguk lalu melagkah akan menuju kamar, "nanti ba'da Magrib, Abi ingin bicara sama kamu."


"Ya, Bi."


**LA**


Selesai Magrib, kami makan malam bersama. Lalu berkumpul di ruang tamu setelahnya. Abi menautkan kedua tangan. Aku dan ibu saling pandang, wajah Abi selalu serius, jadi tidak bisa membedakan ada hal penting atau tidak yang akan beliau bicarakan.


"Ti, ada lamaran datang dari salah satu murid Abi. Ini sudah kesekian kalinya pria datang ingin mengkhitbah kamu. Dia pria terpelajar, juga berwibawa serta sudah menjadi pendakwa cukup kondang. Apa kamu mau menerimanya?"


Ibu menggenggam jemariku lembut, sorot matanya penuh harap. Ya, aku anak mereka satu-satunya. Aku memandang ke arah lantai, tidak berani menatap wajah mereka.


Menarik napas dalam lalu berkata, "Ibu, Abi, biarin Siti salat istikharah dulu, ya. Minta petunjuk sama Allah."


Abi mengangguk, lalu bangkit menuju teras seraya membawa mushaf. Aku terus memandangi punggung lebar Abi yang kini menghilang perlahan.


"Siti, kamu mau sampai kapan kayak gini? Jarang ada pria yang mapan juga baik. Pikirkan Abi juga Ibu, Nduk. Hanya kamu yang kami miliki."


Ibu mengusap pucuk kepalaku lembut. Tangan keriput itu perlahan mendekap tubuhku.


"Siti takut, Bu." Aku melepas pelukan ibu lalu berjalan menuju kamar mandi, mengambil wudu. Waktu Isya telah tiba.


Melaksanakan kewajiban umat muslim, setelah selasai aku merebahkan diri di kasur empuk ranjang kayu.


Mengunggah foto diri di aplikasi merah muda yang sempat diambil oleh Pasha tempo hari. Dengan pose duduk memegang topi pantai, pemandangan alam hijau sebagai latar belakang. Tidak lupa kacamata bertengger di sana.


Sebuah pesan masuk setelah aku mengupdate. Diawali dengan salam dan berlanjut saling memperkenalkan diri.


Tidak bisa dipungkiri, salah satu sifat wanita pasti ingin tahu. Rasa penasaran menderaku, aku membuka profilnya.


Maher Fatih Safarudin, itu namanya. Tidak banyak foto di sana, juga wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Gambar dirinya berdiri di depan piramida, juga beberapa unggahan yang sepertinya suara dia tengah mengaji.


Berlayar belakang gelap gulita, hanya terdengar suara merdu melantunkan ayat suci Al-quran yang menyejukkan hati.


Pesan darinya kembali memenuhi notifikasi di layar. "Bisa kita menjadi teman?"


Ya, tidak ada salahnya berteman, juga ia berada jauh di Kairo sana. Setidaknya, pendapatku begitu saat melihat aktivitasnya yang selalu sibuk mempotret daerah sekitarnya yang dibagikan di laman instagram miliknya.

__ADS_1


__ADS_2