
Mereka berdua pergi menuju pintu yang langsung menembus halaman belakang. Maher mengoceh apa saja untuk berinteraksi dengan gadis dalam gendongannya. Ia juga tidak melupakan anak Umi, yang jari kecilnya sudah sekarang berada dalam genggaman Maher.
"Udah pantes tau, Ti."
"Emang, makanya nih," ucapku melirik ke arah perut.
"Seriusan, Ti? Kamu udah hamil?" tanya Umi dengan penuh antusias.
"Ya."
"Ah, Siti. Akhirnya kita bisa samaan." Kedua sahabatku ini memelukku sangat erat, mereka turut bahagia atas kehamilanku.
Ijah datang membawa nampan berisi tiga gelas minuman juga camilan. Tidak lupa untuk berterima kasih padanya.
"Ti, suami kamu kan udah suamiable banget nih. Kira-kira, dia bisa jadi daddyable nggak, ya?" tanya Fadila penasaran dengan jari telunjuk menepuk dagu.
"Insya Allah."
"Kamu udah dengar kabar Pasha nggak, sih?"
"Belum ada dengar."
"Dia hilang gitu aja, Ti."
"Ho oh, nggak ada kasih kabar ke kita juga," sambung Umi yang masih sibuk mengisi perut.
"Biarin aja, sih. Mungkin dia tengah healing. Pasti dia juga kaget, sama seperti kita yang nggak percaya."
Sore, mereka pulang setelah kami menunaikan salat berjamaah. Ya, Maher yang menjadi imam. Rumah yang tidak sederhana tapi juga tidak begitu mewah ini memang memiliki ruang khusus salat yang berada di tengah-tengah bangunan.
Maher bersikap ramah pada kedua bocah yang dibawa Umi juga Fadila. Aku juga sudah memberikan oleh-oleh dari Mekkah dan Dubai. Tasbih dan sajadah sebagai buah tangan dari Mekkah. Sedangkan dari Dubai, aku memilih parfum attar juga cokelat unta.
Keduanya merupakan souvenir juga oleh-oleh khas Dubai. Tidak ada perbedaan, hanya saja untuk di rumah aku membeli lampu aladin. Bentuknya yang unik, juga ciri khas dalam sebuah film membuatku begitu menginginkannya saat di sana.
"Sayang, temeni Mas makan yuk. Laper soalnya."
"Ya, Mas."
Ijah sudah kembali ke rumah mami. Makanan yang sederhana sudah terletak di meja bar. Dendeng sambal dan sayur tumis kangkung.
Duduk di sebelahnya, Maher memintaku untuk mengambilkan ponselnya di kamar. Tepatnya di atas meja hias.
Aku melangkah ke sana, hanya kotak perhiasan berwarna navy yang ada. Aku membawa benda itu meminta Maher menjelaskannya.
"Ini apa, Mas?"
"Satu set perhiasan."
__ADS_1
"Ya, aku tahu." Benar, aku sempat membukanya tadi. Kalung, gelang, cincin dengan motif serupa.
"Ya bagus, kalau kamu udah tahu."
"Bukan, maks-"
"Itu kado untuk kamu, Sayang," potongnya cepat yang masih sambil mengunyah. Aku mengernyit heran. Dalam rangka apa? Ulang tahunku juga masih lama, belum lagi anniversary pernikahan kami yang masih beberapa bulan ke depan.
"Kado untuk kehamilan kamu, Sayang," lanjutnya yang mungkin mengerti akan mimik wajahku. Ia mendekat dan ingin mencium. Namun, bau daging yang tertinggal di bibirnya membuatku mual. Aku meninggalkan Maher dan bergegas ke kamar mandi.
"Sayang, obat mualnya udah kamu minum, kan?" tanyanya dari luar. Aku masih terus muntah.
***
Empat bulan sudah kehamilanku. Besok, abi akan mengadakan tasyukuran di rumahnya yang mengundang anak yatim sebanyak dua ratus orang. Juga, tidak luput para santri yang akan ikut menikmati hidangan dari perjamuan.
Tentunya, semua ini sudah kesepakatan bersama. Tidak lupa mengundang Bu Tejo untuk turut membantu. Aku dan Maher sibuk memilih souvenir untuk para tamu undangan via online.
Bu Ira besok akan hadir memeriahkan, juga aku meminta beliau sebagai pembawa acara. Ya, sikap Bu Ira yang kocak mampu mencairkan suasana.
Kini, Khaira dan Daffa sudah ikut bergabung membawa pesanan souvenir kami. Maher secara khusus merepotkan Daffa. Adik kesayangannya itu tidak mampu menolak.
Bukan di rumah kami, tapi acara ini dilaksanakan di tempat abi. Maher tidak setuju untuk diadakan di kediaman kami, takut aku akan kelelahan nanti.
Alasannya masuk akal memang. Seperti sekarang, aku masih tidak boleh melakukan apa pun. Cukup untuk mengajar, itu pun selalu dipantau kala aku bekerja. Hampir setiap jam dia menelepon, memastikan aku baik-baik saja.
Aku menghela napas, dan kini duduk bergabung dengan Khaira juga Daffa yang tampak sibuk menggulung handuk tadi, lalu diberi pita.
"Kalian nggak bertengkar lagi?"
"Masih, Bu."
"Sekarang tumben lagi akur?"
"Ck! Akur apaan, Mbak. Kami dari tadi juga saling sikut."
"Mbak? Kamu nggak salah panggil saya Mbak, Daffa?"
"Enggak," jawabnya santai, lalu sebelah tangannya menyentuh daun telinga. Kata orang, itu salah satu ciri-ciri kalau sedang berbohong.
"Bu dosen kan udah nikah sama Kak Safar. Wajar dong, aku panggil Mbak," kilahnya yang sedetik kemudian ibu jarinya menyentuh bibir. Jelas, saat ini dia tengah berbohong. Ia sepertinya tidak nyaman dengan sapaan itu.
"Kamu bohong, tuh!"
"Ish, apa sih Ra! Ikut campur aja!" bentak Daffa. Khaira sepertinya begitu perhatian dengan Daffa. Hingga lelaki berhidung mancung itu berkilah sedikit saja ia tahu.
"Udah, dong. Jangan dimulai lagi berantemnya. Kasihan lho si orok yang lihat kalian nggak akur, gitu."
__ADS_1
Daffa juga Khaira sontak melirik ke arah perut yang sudah nampak membuncit, aku juga mengelusnya lembut.
"Ya, Kakak nggak mau, ya kalau anak Kakak ngikuti jejak kamu, Daffa," timpal Maher yang sudah ikut bergabung bersama kami. Ia baru saja kembali bersama abi.
"Kalian udah makan?" tanya abi pada kami semua.
"Udah, Ustadz."
"Udah, Bi." Maher duduk bersila di sampingku. "Mas, aku kok pengen nasi kuning, ya."
"Hah? Malam-malam begini di mana carinya?"
Maher menyapu pandangan ke arah semua orang yang berada di sekitar. Lalu melirik jam tangan sport miliknya.
"Daffa, kamu pergi beli. Cari sana, harga berapa pun beli aja."
"Mas, aku maunya kamu yang pergi beli," ucapku nyengir kuda seraya menyapu perut.
Maher menghela napas, lalu melangkah lesu. Ia melangkah keluar. Mobil pajero sudah dihidupkannya, dari jendela kemudi ia berteriak memanggil Daffa.
Merasa dirinya diperlukan, Daffa pun keluar. Aku ikut berdiri di ambang pintu. "Temani Kakak cari nasi kuning."
"Khaira gimana, Kak?"
"Khaira biar sama saya, Daffa."
"Hati-hati, Mas."
"Ya, Sayang."
Detik demi menit aku terus menunggu kedua pria ini kembali. Hingga pukul sebelas malam, mereka belum juga datang atau ada tanda-tanda kemunculannya.
Aku mengambil ponsel di kamar lalu menelepon Maher. Dering ketiga baru ia mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Mas. Kok belum pulang? Belum dapet, ya?"
"Waalaikumsalam. Udah, Sayang. Ini Mas udah jalan pulang."
Setengah jam setelah mengakhiri panggilan tadi, kakak beradik ini pun tiba di rumah. Maher membawa bungkusan, aku dengan cepat mengambil piring.
Dengan rasa tidak sabar aku akhirnya membuka nasi kuning yang Maher bawa. Wajahku berubah menjadi kecewa saat kulihat tak ada apa-apa selain nasi kuning itu.
Aku mengacak-acak nasi yang dengan susah payah mungkin ia dapatkan. Mata yang semula berbinar, jadi sayu dan lesu.
"Kok nggak dimakan, Sayang?"
"Nasi kuning doang?"
__ADS_1
"Ya 'kan kamu mintanya nasi kuning. Itu Mas bawain."