Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Lagi-Lagi, Pasha


__ADS_3

"Hehe. Oh, ya. Mas nanti ada tausiyah di masjid kampung sebelah. Kamu mau ikut?"


"Nggak ah, Mas. Aku pengennya rebahan aja hari ini. Capek gara-gara kamu."


"Idih, kok Mas yang disalahin. Kamu juga mau, Mas gituin."


"Hem."


"Em, Mas nanti pulang mau singgah ke rumah kita, ya. Mau lihat Ijah yang bersih-bersih di sana."


"Kok Ijah, sih Mas. Jangan dia."


"Lah, kenapa?"


"Aku nggak nyaman, Mas. Dia nggak pake hijab, entar kalian di sana berduaan doang. Takut fitnah, Mas."


Wajar jika seorang istri menaruh rasa cemburu pada suaminya. Belum lagi di luar sana banyak sekali perempuan-perempuan yang justru menjatuhkan marwahnya demi kesenangan dan merayu suami orang.


"Makanya kamu ikut. Yuk," ucapnya mencubit pipiku gemas.


"Aku capek, Mas. Baru keluar rumah sakit langsung Mas tancap gas, nggak dikasih ampun," gerutuku dengan mengerucutkan bibir. Maher langsung ******* bibirku.


"Assalamualaikum." Terdengar suara ibu yang masuk sembari membawa keranjang di genggamannya. Kami sontak menoleh, aku menginjak kaki Maher. Ia terlihat meringis dan berusaha baik-baik saja di depan ibu.


"Waalaikumsalam. Ibu dari mana?" tanyaku basa-basi yang jelas aku tahu beliau dari pasar.


"Dari pasar."


Maher terlihat kikuk, mungkin ia khawatir sikapnya tadi tertangkap oleh ibu. Maher memilih pergi ke depan, bermain dengan peliharaan abi di sangkar. Sesekali ia melirik ke arahku.


"Kalian baru makan?"


"Ya, Bu. Baru juga selesai," jawabku yang lalu bangkit mengumpulkan piring dan beberapa lauk tersisa untuk disimpan di lemari.


Ibu langsung menuju dapur menata belanjaan yang beliau bawa. Aku mengekor mencuci piring bekas makan kami tadi.


"Jangan sering-sering bermesraan depan umum ya, Nduk. Waktu di bandara kemarin aja udah buat ibu spot jantung karena ulah Safar."


Deg!


Jantungku berhenti berdetak karena malu. Ibu berarti lihat semuanya tadi. Dasar Ustadz Omesh, gerutuku dalam hati.


"Ya, Ibu maklum sih kalian begitu. Lama nggak ketemu pasti kangen," ucapnya lagi diiringi tertawa kecil di sudut bibir.

__ADS_1


Aku hanya diam tidak ada tanggapan atas ocehan ibu barusan. Ingin rasanya lari karena malu, untung ibu sendiri jadi masih bisa mengatur napas untuk tinggal di sini.


"Oh ya, Bu. Mas Safar udah beli rumah. Em ...."


"Ya, Ibu tahu. Sebelum kamu masuk rumah sakit, dia kemari untuk membahas itu. Dia tunggu kamu juga, tapi kamu malah nginap di rumah maminya. Makanya dia langsung ke sana. Pergilah, Nduk. Ikut tinggal bersamanya, bangun rumah impian kalian berdua."


"Ibu nggak apa-apa?"


"Ya nggak apa-apa, Nduk." Aku menunduk sebentar menata hati, knop pintu kamar terdengar. Maher keluar memakai baju koko dengan leher berbentuk V, aku mendekat ke arahnya. Mataku membulat sempurna melihat tanda merah di sekitarnya.


Aku segera menarik lengannya untuk masuk ke kamar. "Astaghfirullah, Mas. Kamu nggak ngaca?"


"Buat apa Mas ngaca, udah ganteng juga," timpalnya yang langsung nyosor, aku menahan tubuhnya, "bukannya kamu tarik Mas ke kamar untuk mengulangi yang tadi malam? Yuk, masih ada waktu sekitar satu jam lagi sebelum zuhur."


"Ck!" gerutuku membawa tubuhnya di depan cermin berukuran persegi panjang, "coba lihat ke sana secara saksama!" perintahku yang berdiri di belakangnya. Maher menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri memastikan ucapanku.


"Ya Allah, ini kapan kamu buatnya, Sayang?" aku mengendikkan bahu, "kamu, nih. Kalau buat jangan di situ dong, Sayang. Untung nggak ada yang lihat."


"Ih, kok salahin aku sih, Mas. Mas yang omesh," jawabku kesal dan melipat tangan di depan dada. Maher perlahan membuka kancing baju kokonya tadi.


Bertelanjang dada, terekspose sempurna sisa kenikmatan tadi malam di beberapa titik di sana. Aku berpaling menunduk malu. Aku nggak sadar melakukannya, di seluruh tubuh ini juga tertinggal bekas yang sama. Bahkan hampir penuh di area gunung kembar ini.


"Ternyata istri Mas pandai melukis, ya."


"Ya, melukis dada Mas dengan bibir," sambungnya yang sudah mengganti bajunya dengan kerah menutupi leher.


"Mas yang ngajarin," timpalku mengerucutkan bibir.


"Mas pergi dulu ya, Sayang," ucapnya mencium keningku, "nanti malam kita lanjutin lagi, ya," sambungnya yang memainkan sebelah matanya genit, mencolek pinggang rampingku.


"Ih, Mas. Beneran omesh, ih."


"Hehe. Kamu yakin nggak ikut, Mas? Ikut yuk, Sayang."


"Em ...."


"Ayo!" Maher langsung menggenggam jemariku, "Mas pengen ditemeni kamu."


"Ah, Mas. Aku jalan aja masih susah. Masih sakit tau!"


"Ayo, dong. Entar kita pulang singgah lihat rumah kita. Biar nggak ada fitnah antara Mas sama Ijah. Sekalian kita cobain sofa tantra," bisiknya nakal. Aku langsung menyikut pinggangnya.


"Aw!"

__ADS_1


"Syukurin!"


Aku berjalan cepat menyabet tas yang berada di meja. Keluar menuju mobil sport yang berada di halaman.


Tasku terjatuh, aku berlutut mengambilnya. Tangan putih berurat ikut serta, aku memperhatikan gerakannya.


"Pasha?"


"Siti, tidak bisakah hatimu kumiliki?"


"Kamu sakit jiwa, tau nggak!" aku menarik tas yang berada di genggamannya dengan kasar.


Lalu segera pergi meninggalkannya, ujung gamisku ditahan Pasha, "Ti, aku lebih berhak untuk mencintaimu meski dalam diam."


"Teruslah mencintai dalam diam, jika perlu jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Atau, dalam mimpi pun jangan. Mengerti!" tegasku penuh penekanan dan berlalu menuju mobil. Menepis gamis yang dipegangnya.


Pasha mengetuk-ngetuk jendela mobil. "Ti, alasanku putus sama mereka semua itu karena kamu!" teriaknya diiringi tepukan di kaca.


Maher terlihat menepuk pundak Pasha. Aku melotot melihat mereka berdua yang lagi-lagi dengan tatapan saling mematikan.


"Haruskah Anda saya laporkan ke polisi terlebih dahulu agar tidak menganggu istri saya!"


Pasha menatapnya tajam, Maher juga tidak gentar. Mungkin baginya, kenyamananku di atas segalanya.


Pasha menunjuk dada Maher dengan jarinya. "Anda baru kemarin sore mengenal Siti. Anda tidak tahu apa yang benar-benar diinginkan Siti. Bisa saja, dia hanya mengikuti keinginan Ustadz Abdul Latif."


Maher terlihat menarik kerah baju Pasha. Wajahnya tidak lagi bersahabat. Pasha terlihat semakin menantang.


"Pukul aku lagi. Kali ini tidak akan aku biarkan Anda lolos seperti kemarin," ucapnya dengan menyeringai. Aku langsung membuka kaca mobil.


"Mas, jangan. Kamu seorang Ustadz, jaga nama baik kamu, Mas." Maher beralih memandangku yang diikuti oleh Pasha.


"Kau! Berani-beraninya memandang istriku tepat di depan mataku!" Maher mengangkat tangan yang sudah dikepal dan siap melayangkannya.


"Astaghfirullahalazzim," teriak ibu yang melihat mereka berdua tengah bersitegang.


"Safar, Pasha! Apaan kalian!" bentak abi yang tiba-tiba muncul.


Safar langsung melemah dan melepaskan Pasha. Abi meminta kami bertiga untuk masuk ke rumah dan menyelesaikan permasalahan ini.


Kami bertiga duduk di ruang tamu. Abi menjadi hakim yang mengadili, Pasha menunduk sebentar lalu menyapu pandangan ke arah kami berdua yang bersebelahan. Genggaman tangan Maher tidak lepas dari jemariku.


"Pasha, kenapa kamu masih mengusik kehidupan Siti?"

__ADS_1


__ADS_2