Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Selentingan Malam Pertama


__ADS_3

"Btw, aku mau kasih undangan sama kalian. Nih," ucap Fadila seraya menyodorkan kertas putih berisikan namanya juga calon suaminya dengan tinta emas.


"Alhamdulillah, ya. Kalian udah ada yang punya. Kamu juga, Fa. Akhirnya," ucapku dengan wajah yang sudah haru memandangnya. Ia begitu bersinar, senyumnya merekah.


"Ya, udah kamu juga buruan! Mau tunggu apa, coba?"


"Nunggu aku 'kan, Ti?" sambung Pasha yang tidak bergetar bibirnya berucap.


Umi dan Fadila serentak memukul bahu Pasha. Ia memekik kesakitan. "Kalian dibilangi nggak percaya."


"Jelas nggak!" jawab mereka berdua serentak. Aku hanya bersungut menopang dagu.


Tidak tahu jalan yang Allah pilih untukku. Mengapa harus sedemikian rumit atau aku yang membuatnya menjadi sulit. Huh, entahlah.


Aku bangkit, beranjak dari duduk ketika Allah sudah memanggil untuk melaksanakan salat.


"Yuk, salat."


Pasha dengan cepat mengekor, diikuti kedua sahabatku. Saat membuka alas kaki di musala, Pasha berhenti sejenak di hadapanku.


"Ti, kalau aku yang datang mengkhitbah. Apa kamu akan terima?"


Aku mendongak, menatapnya yang tengah berdiri meletakkan kedua tangan ke saku celana jeansnya. Aku terkesiap mendengarnya mengatakan itu, tidak seperti Pasha yang biasanya.


"Jangan bercanda, Sha. Aku lagi nggak butuh hiburan." Aku meninggalkannya menuju tempat berwudu wanita. Sekilas terlihat Pasha terbengong cukup lama.


"Kesambet kamu diam-diam begitu," timpal Fadila yang terdengar suara hingga ke tempatku berada.


Seperti biasa, Pasha menjadi imam salat kami. Suaranya cukup merdu terdengar di telinga saat melantunkan ayat pendek. Tajwidnya juga bagus, tidak sia-sia sejak kecil ia belajar mengaji dengan abi juga aku.


"Ti, aku nebeng, ya," ucapnya yang mendahului kami. Belum sempat aku menjawab ia sudah menjauh. Hanya punggungnya yang terlihat dari sini, perlahan menghilang.


"Tuh anak kenapa, Ti?" Fadila selalu peka terhadap lingkungan sekitar. Umi terlihat tengah mengangkat telepon dari seseorang.


"Aku duluan, ya. Udah dijemput soalnya."


"Cie, yang udah ada yang nungguin. Jadi iri." Fadila terus saja menganggu ketenangan pengantin baru ini.


"Makanya cepet-cepet. Biar ada yang nyetirin," ucap Umi menaikkan kedua alisnya. Fadila menyenggol bahuku.


"Dengar tuh, Ti. Istri Ustadz yang ngomong."


"Ck!" gerutuku yang lagi malas menanggapi ocehan Fadila. Juga, masih bertanya-tanya tentang ucapan Pasha barusan.


"Nikah itu, nikmatnya cuma satu persen," bisik Umi kepada kami berdua, "selebihnya, enak bangeeet ...."


"Hem, dasar!" ucap Fadila yang mendorong tubuhnya untuk segera pergi menemui sang suami yang katanya sudah berada di depan. Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Umi melambaikan tangan tidak lupa mengucapkan salam.


"Fa, beneran sakit nggak sih?" tanyaku memastikan ucapan Umi perihal malam pertama.


"Ye, mana aku tahu. Kan Umi yang udah ngerasain."


"Itu salah satu alasanku takut menikah, Fa. Belum lagi nanti kalau suaminya selingkuh. Terus mertua yang kurang baik. Astaghfirullah, serem kalau dibayangin, Fa."

__ADS_1


Fadila mencubit pipiku. "Kalau kamu berpikiran begitu terus, kamu nggak akan pernah nikah, Ti. Allah sudah menakdirkan jalan hidup kita, percayakan sama Dia," ucap Fadila menunjuk ke atas.


Aku terenyak mendengar penuturan Fadila. Benar, masih ada Allah yang akan selalu melindungi hamba-hamba-Nya. Mengapa aku bisa lupa akan kehadirannya yang selalu memberi jalan bagi umat-Nya.


Kami sudah berada di tempat parkir. Pasha berdiri dengan menyandarkan pinggangnya di samping kap mesin.


Tangan Pasha meminta kunci mobil, aku mengabaikannya. Biar aku saja yang menyetir. Di dalam mobil suasana menjadi hening. Ada rasa canggung yang bersarang di hatiku. Entah dengan Pasha, ia seolah tidak berani menatapku yang berada di sebelahnya.


"Ti," panggil Pasha yang tangannya menggenggam jemariku yang berada di rem tangan. Aku menariknya cepat.


"Ti, aku serius dengan ucapanku tadi."


"Sudah terlambat, Sha. Abi sudah menerima khitbah lelaki itu, yang entah siapa dia dan bagaimana rupanya."


"Terus, kamu terima?"


"Kamu paham betul Abi gimana, Sha."


"Ya, tapi itu kamu yang menjalani. Masa depanmu."


Aku malas berdebat dengan Pasha. Tidak ada gunanya. "Bukankah lebih baik aku yang menjadi suamimu? Kita sudah sejak kecil bersama, Ti."


Aku hanya diam memandang ke arah samping. Memijat dahi pelan, semakin sakit kepalaku memikirkan semuanya.


"Sha, kamu tahu impian aku 'kan?"


"Iya, aku tahu. Tapi kamu terus menolak mereka. Apa namanya coba kalau kamu bukan menunggu aku?"


"Astaghfirullah, buang pikiranmu yang terlalu kepedean itu, Sha. Aku nggak mungkin menikah denganmu."


Aku menginjak gas tanpa bisa di rem agar cepat tiba di rumah. Menghindari pertanyaan-pertanyaan Pasha yang menurutku tidak masuk akal.


Pasha turun dengan kesal dan sedikit membanting pintu mobil, lalu membuka pagar rumahku. Sekian menit kemudian, ia langsung pulang tanpa sepatah kata pun.


Ibu yang sepertinya kaget dengan suara keras langsung berdiri celingukan di depan pintu. "Assalamualaikum, ucapku setelah menekan remote kontrol mobil. Mencium punggung tangan beliau.


"Tumben Pasha nggak mampir dulu?"


"Udah mau Magrib, Bu."


"Atau kalian berdebat lagi?" tanya ibu yang memang tahu tabiat kami sejak dulu.


"Biasa, Bu," ucapku menaikkan kedua alis dan mengembuskan napas berat.


Tiba-tiba ibu mengusap kepalaku lembut seraya tersenyum. "Anak Ibu sudah dewasa ternyata," ucap beliau saat aku duduk di kursi rotan melakukan aktivitas biasa sepulang mengajar. Lengkungan senyum tidak bisa lepas dari wajah beliau.


"Alhamdulillah, Bu. Usia Siti sudah hampir masuk kepala tiga." Aku membawa tangan beliau ke pipiku, menikmati hangatnya sentuhan ibu.


"Tanggal pernikahanmu sudah ditetapkan, Nduk."


Aku sudah tidak kaget lagi dengan hal itu. Abi pasti yang mengaturnya. Padahal aku minta waktu enam bulan. Hem, entahlah Allah punya skenario apa atas ini semua.


"Assalamualaikum," ucapku mengucap salam saat abi tengah menonton TV. Aku berdiri di samping beliau.

__ADS_1


"Bi, Siti boleh ngomong sama Abi?"


Beliau membenarkan posisi duduknya dan menatapku intens. "Katakan, wahai Siti Maryam," jawabnya dengan memanggil nama lengkapku. Aku merasa terbebani saat abi menyebutkan begitu.


"Bi, kita bukannya sudah sepakat kasih waktu Siti enam bulan, ya?"


"Benar."


"Terus, kata ibu kok tanggal pernikahanku udah ditetapkan."


Abi mengulum bibir, "Benar, enam bulan dari sekarang. Tepatnya 12 September."


"Bi, boleh Siti lihat foto pria yang mengkhitbah Siti?"


"Tidak bisa, Nduk. Jika saatnya tiba, Abi akan langsung mempertemukan kalian sebelum menikah. Tapi tidak untuk sekarang."


Sebuah pesan masuk kala aku membuka media sosial. Maher, ia terus berkirim pesan dan menceritakan apa saja yang ada di sekitarnya juga yang terjadi di hidupnya.


Aku sudah harus menjaga jarak dengannya. Takut hati menjadi goyah dan mengecewakan abi. Pasha juga, ikut-ikutan menambah beban pikiran. Ada baiknya memang jika menikah dengannya, kedua keluarga sudah saling mengenal.


***


Week end tiba, aku sedang bermalas-malasan di kamar setelah menjalankan salat Subuh. Suara Pasha terdengar memanggil namaku.


"Siti," panggilnya diiringi ketukan pintu dari luar. Ia sudah biasa keluar masuk rumahku, abi juga ibu tidak melarangnya. Hanya saja, membatasi diriku yang harus selalu mengenakan pakaian tertutup juga longgar. Baik di rumah atau pun keluar.


"Temeni aku ngajar anak-anak ngaji, yuk, Ti." Kegiatan Pasha sebulan sekali setiap akhir pekan mengajar ngaji untuk anak-anak di masjid sekitar rumah. Ia juga membarengi dengan ilmu pengetahuan umum.


"Lagi, malas aku, Sha. Kamu aja, gih."


"Pergilah, Nduk. Berbagi ilmu 'kan bagus."


"Ya, ya. Sebentar aku mandi dulu."


Pasha berbalik berjalan ke arah pintu utama. Sepertinya ia menemani abi yang tengah sibuk memandikan burung peliharaannya.


"Burung terus yang dipegang!" omel ibu yang terdengar hingga kamar mandi.


"Lah, kalau Abi nggak megang burung nanti Ibu malah heran," balas abi saat aku sudah dekat dengan mereka.


"Mbok ya, pegang burung itu jangan pagi-pagi, toh, Bi. Agak siangan gitu. Ini, burung dimandiin, dielus-elus. Sayang amat sama burungnya," lanjut ibu yang bibirnya sudah maju beberapa centimeter ke depan.


"Astaghfirullah, Bu, Bu. Kok ya sama burung aja cemburu, itu gimana toh?"


"Tau, ah! Malas ngomong sama Abi."


"Tuh lihat Ibu kamu. Lagi ngambek," ucap abi saat aku sudah siap akan berangkat bersama Pasha. Aku pamit pada beliau, tidak lupa mencium punggung tangannya takzim, diikuti Pasha.


Anak-anak sudah menunggu kehadiran Pasha. Aku duduk bergabung bersama mereka. Melihat cara mengajar Pasha. Siapa tahu dapat ilmu yang bisa aku terapkan.


Aku menguap karena bosan, Pasha menjadikanku bahan bercandaan. Para murid mengajinya sontak tertawa terbahak-bahak. Aku melongo, menatap mereka bingung.


Aku di dera rasa malas yang bertubi-tubi saat ini. Kelas mengajinya pun selesai. Kami berjalan pulang menuju rumah.

__ADS_1


Saat sudah berada di lingkungan sekitar tempat tinggal kami, seorang gadis berjilbab navy terlihat berdiri di depan Pasha. Aku menautkan alis menatap Pasha, ia terus menyapu pandangan kepada kami berdua secara bergantian.


"Pasha," panggilnya dengan senyum yang mengembang di sana.


__ADS_2