
"Assalamualaikum. Saya sudah memeriksa tugas kalian. Ada beberapa yang mendapat nilai A, ada juga diantaranya yang mendapat nilai D."
"Pasti Daffa, 'kan, Bu?" celetuk salah satu mahasiswi bernama Khaira.
"Bukan. Biar kalian lihat sendiri saja, ya. Ini, saya minta tolong kamu bagikan Khaira," gadis berambut panjang sebahu itu mendekat lalu mengambil benda yang ada di tanganku, "ingat, jangan mengintip nilai teman kamu. Aib harus ditutupi. Jaga amanah saya, ya. Oke?"
"Oke, Bu." Aku berdiri di samping meja dengan tinggi sekitar satu meter. Sejenak mataku melihat ke arah Daffa, ia tampak tidak suka denganku.
Ya, mungkin dia masih menyimpan dendam akibat pernikahanku dengan kakaknya. Tapi tanpa terduga, Daffa justru mengedipkan mata nakalnya padaku. Aku melotot, lalu mengerutkan dahi melihat aksi nakalnya.
Suara gebrakan buku di meja terdengar. Rupanya Khaira mengerti situasi saat ini. Wajahnya bersungut saat memberikan makalah milik Daffa.
"Ck! Dasar mata keranjang!" katanya dengan suara yang cukup keras, sehingga aku dapat mendengar dengan jelas.
Daffa terlihat menaikkan sudut bibirnya, tidak suka dengan ucapan Khaira barusan. "Hei, siapa yang kamu bilang mata keranjang?"
"Ya, kamulah!" jawab Khaira seraya membuang rambutnya ke belakang.
"Khaira, aku bukan kamu yang hobi berganti-ganti cowok."
"Cukup! Saya tidak ingin ada keributan di kelas saya. Khaira, jika sudah selesai kembali ke tempatmu."
Semuanya terdiam melihat sikapku yang tidak biasa berteriak. Berbicara dengan mereka saja penuh dengan tutur yang lembut. Aku kesal karena sejak tadi Maher tidak menjawab pesan dariku.
Kelasku telah selesai, abi atau pun Maher tidak terlihat menjemput. Ini juga salah satu alasanku tadi tidak ingin diantar mereka. Maher juga tidak ada kabar. Apa aku harus berpamitan padanya secara langsung, ya.
Huh! Masih malas untuk bertemu dengannya. Sikapnya yang semalam saja sudah membuatku sesak dan memuakkan. Tapi, kalau dipikir-pikir memang aku sih yang salah. Dia sepenuhnya memiliki hak atas tubuhku.
Baiklah, sepertinya aku harus mengunjunginya di pesantren. Aku juga butuh me time dengan para sahabatku. Banyak yang pengen aku ceritain.
Aku memesan ojek online yang dikemudikan oleh wanita. Tidak nyaman jika lelaki lain harus memboncengku. Cukup Pasha, itu pun karena dia memaksa.
Tidak butuh waktu lama memang untuk mendapatkannya. Ini pukul sebelas, kalau tiba di sana pasti saat jam makan siang. Apa aku kembali ke rumah dulu ya untuk siapkan bekal. Bagaimanapun dia, suamiku. Setelah berperang cukup pelik dengan hati dan logika, akhirnya aku memutuskan untuk singgah ke rumah terlebih dahulu.
"Mbak, singgah ke Jl. Harmonika dulu, ya."
"Ya, Mbak."
"Terima kasih."
Sepuluh menit aku tiba di rumah, meminta sopir ojek menunggu sebentar. Aku masuk dengan terburu-buru tidak lupa mengucapkan salam.
__ADS_1
"Kamu udah pulang?" tanya Ibu seraya merapikan jilbabnya.
"Ya, Bu," ucapku yang sibuk mengambil tempat untuk bekal.
"Mau dibawa ke mana?"
"Untuk Mas Safar, Bu."
Ibu juga ikut menambahkan menu dan bekal yang aku bawa. "Sekalian untuk Abi."
Setelahnya aku berlari kecil, tidak enak jika mbak ojek terlalu lama menunggu. Niatnya sih tadi nggak mau singgah dulu. Tapi sudah terlanjur. Kalau tahu akan mampir, tidak terburu-buru memasukkan alamat pesantren abi tadi.
Dari rumah bisa bawa mobil, sekalian entar ketemuan sama Umi juga Fadila.
"Assalamuaikum, Bu."
"Waalaikumsalam. Hati-hati," teriaknya yang melihatku sudah duduk di bangku penumpang.
"Udah, Mbak?"
"Udah, Mbak."
Tas berisi bekal telah berada di genggamanku. Kalau bukan karena Fadila juga Umi, malas aku begini. Aku sudah kangen banget pengen ngumpul sama mereka. Belum lagi Maher yang tidak menjawab pesan dariku.
Kami sampai di tempat tujuan. Masih di gerbang pesantren saja aku sudah meresa gugup tidak ketulungan. Sudah lama aku tidak ke sini, ditambah lagi datang cuma untuk ketemu suami. Hem.
Aku mengatur napas beberapa kali. "Siti," sapa seorang wanita setengah baya. Ustadzah Rani, beliau guruku saat aku masuk madrasah dulu.
"Assalamualaikum, Ustadzah."
"Mau ketemu Abi?" tanyanya setelah aku mencium punggung tangan beliau.
"Ya, Ustadzah. Abi ada?"
"Ada. Yuk, saya antar."
"Nggak usah, Ustadzah. Biar Siti sendirian aja."
"Nggak apa-apa. Saya juga sekalian mau ke ruang guru." Aku menggangguk, lalu berjalan beriringan dengan wanita salihah bertubuh sedikit gempal ini. Bercerita santai dan seperlunya saja.
"Sayang, kamu ngapain ke sini?"
__ADS_1
Kami menoleh ke asal suara yang cukup membuatku mati gaya dan gugup. Aku menyapu ke arah Maher yang berdiri di belakang kami.
Kaki jenjangnya melangkah mendekat. Ustadzah Rani terlihat mengerutkan dahinya bingung. Ya, setahu beliau aku tidak pernah membawa pria mana pun dan terlibat menjalin hubungan dengan seseorang.
"Ustadz Safar?"
"Assalamualaikum, Ustadzah. Oh, ya. Maaf saya belum memberitahukan pihak pesantren bahwa saya sudah menikah. Siti adalah istri saya."
"Ough?"
"Maaf, saya bukan menyembunyikan status. Hanya saja resepsinya akan diadakan dalam minggu ini."
"Oh, ya? Selamat kalau begitu. Siti, saya ucapkan selamat ya," ucapnya sambil menyapu bahuku.
"Terima kasih, Ustadzah. Kalau begitu saya duluan, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ustadzah Rani memilih pergi meninggalkan kami berdua. Wajah putih Maher terlihat lebih bersinar hari ini. Entah mengapa bisa begitu atau mungkin efek baju koko juga peci yang berwarna terang?
"Kamu bawa apa?"
"Ini bukan buat kamu, tapi untuk Abi," ucapku yang berlalu meninggalkannya.
"Masya Allah. Indahnya ciptaan-Mu ya Allah," ucapnya yang masih jelas kudengar. Di lorong pesantren ini hanya kami berdua yang melintas. Para santri belum terlihat beristirahat. Mungkin sebentar lagi, sekalian salat Zuhur.
Aku masuk ke ruangan abi. Beliau yang masih mengerjakan sesuatu menatapku dengan pandangan yang aneh.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Ini, Ibu minta Siti bawain bekal untuk Abi," ucapku sambil menyodorkan tas yang kugenggam.
Abi mengambilnya lalu melihat ke dalam kantongan itu. "Ini ada dua?" aku berdehem, "punya Safar satunya, 'kan?" aku mengangguk, tapi malas untuk mengantarnya ke sana.
Abi mengambil satu kotak bekal makan siang miliknya. Menyisakan satu di sana. Lalu menyodorkannya padaku. "Antar, kasih suami kamu sana."
"Males ah, Bi."
"Siti Maryam," panggil abi penuh penekanan dan menatapku tajam dari balik kacamata beliau. Aku bersungut dan langsung berdiri. Saat akan menarik gagang pintu, Maher masuk ke sini.
"Panjang umur," ucap abi yang sepertinya sengaja mengatakan itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah," jawabnya dengan senyuman dan menyapu ke arahku yang berdiri di dekat pintu.
"Itu, Siti bawain makan siang untuk Ustadz Safar." Maher menatapku lekat dan menyapu pandangan ke arah bekal dan diriku bergantian.