
Berminggu-minggu sudah aku berteman dengan Maher. Selalu berkomunikasi untuk sekadar mengingatkan waktu salat.
Benar, dugaanku kemarin. Ia memang tengah berada di Mekah. Baru-baru ini, ia membagikan foto saat dirinya sedang memakai sepatu di Masjidil Haram.
Tetap saja, ia masih belum menunjukkan wajahnya. Hanya postur tubuhnya yang aku kenali. Kebanyakan pria juga memiliki tinggi yang seperti dirinya.
Pesan dari Umi muncul di ponselku. Ia mengirim foto dirinya yang telah selesai berhias dan memakai baju adat suku Jawa.
Hari ini pernikahan Umi digelar. Aku yang masih mengajar, membuat diri ini gelisah dan ingin cepat-cepat berada di sana.
Entah mengapa ia mengadakan pesta hari Sabtu begini. Juga, aku harusnya libur mengajar, justru mata kuliahku diganti jadwal hari ini.
Biasanya, jadwal week end begini tidak membutuhkan waktu lama. Tapi sekarang, jarum jam terasa melambat dan sepertinya tidak bergerak.
Aku berjalan mondar-mandir seraya menggigit ujung bibir. Tak jarang berdecap kesal. Tidak sabar rasanya ingin langsung menemui sang mempelai wanita.
"Bu dosen cantik, nggak capek apa mondar-mandir terus. Cukup mondar-mandir di kepala aku aja, Bu," ucap Daffa yang tengah meletakkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Aku tidak menanggapi ocehannya, mahasiswa yang lain hanya menoleh ke arahnya sekilas lalu melanjutkan tugas yang kuberikan tadi. Aku memilih duduk dengan pikiran yang melayang jauh.
Sekian detik kemudian, Daffa berjongkok di depan mejaku, melipat tangannya. Memandang wajahku intens. "Ibu kalau lagi melamun begini, makin cantik."
Aku menatapnya datar, tidak ada tanggapan atas pujiannya. Ia pun bangkit dan berjalan menuju pintu.
"Daffa, mau ke mana kamu?" panggilku yang tidak dia hiraukan. Daffa terus melangkah.
"Mau menikmati keindahan wajah Ibu seraya menatap langit. Terus berterima kasih sama Allah karena udah ciptain makhluk indah seperti Ibu."
"Daffa, saya akan kasih kamu nilai D untuk mata kuliah saya!" ancamku yang tidak membuatnya gentar. Jarinya terlihat bergerak menghalau, dan terkesan tidak peduli dengan apa yang kukatakan. Jiwa Daffa begitu bebas dan tidak bisa diatur.
Membiarkan Daffa keluar dan bertindak sesukanya. Waktuku mengajar telah selesai. Aku sedikit berlari menuju tempat parkir. Menekan remote kontrol membuka kunci mobil.
Daffa terlihat berdiri menyilangkan kakinya di dekat sedan merah ini, kedua tangan ia letakkan di saku celana. Dari gayanya, dia sepertinya memang sengaja menungguku. Wajahnya tertunduk.
"Daffa?" ia mendongak melihatku, "kamu ngapain di sini?"
"Bu, jika cinta Allah yang menganugerahkannya, maka aku ingin memberikannya pada Ibu," rayunya yang membuatku menghela napas panjang dan memutar bola mata malas.
"Cukup, Daffa. Saya lagi nggak punya waktu mendengar gombalan-gombalan kamu."
Dia terlihat menarik sudut bibir. Aku langsung masuk berada di balik kemudi. Pemuda berlesung pipi ini mengikutiku. Ia membuka pintu dan duduk di sebelahku.
"Daffa, turun!" perintahku yang membuatnya semakin duduk nyaman di jok mobilku. Ia memalingkan wajahnya dariku. Ia justru memejamkan matanya, ingin sekali aku pukul kepalanya.
Aku terus saja sibuk memanggil namanya dan menyuruh pergi dari kendaraan roda empat ini. Tapi ia tidak bergeming.
"Baiklah, saya tidak punya waktu lagi untuk memintamu pergi." Aku langsung memasukkan gigi klose mobil dan melaju cepat membelah jalanan yang cukup sepi.
Aku bergegas menuju rumah Umi, tempat pernikahannya digelar. Kado telah aku siapkan di jok belakang. Gamis darinya juga sudah kubawa sejak pagi, beserta alat make up.
Sesampai di halaman rumahnya, karangan bunga cukup memenuhi mata. Banyak, juga kendaraan roda empat dan dua sudah memadati tempat ini. Aku mencari parkir yang tidak jauh dari altar.
Aku berhias diri sebelum akhirnya turun sebagai bridesmaid juga tamu undangan. Gamis warna ungu muda akan aku pakai saat sudah berada di kamarnya untuk tempat berganti pakaian.
Aku mengatupkan bibir yang sudah terpoles lipstik warna nude. Juga perona pipi sebagai penunjang sempurna make up natural yang memberi kesan manis di wajahku. Daffa menyapu sudut bibir, aku menepis tangannya kuat.
"Lancang sekali kamu menyentuh wajah saya!" Sontak ia berbalik badan, mungkin terlalu kasar perlakuanku padanya. Ah, biarlah. Tidak ada yang boleh menyentuhku kecuali yang telah halal bagiku.
"Aku cuma ingin bantu menyempurnakan penampilan Ibu," gumamnya pelan sekali yang hampir tidak terdengar.
__ADS_1
"Cukup diam dan jangan turun dari sini. Itu sudah membantu saya."
Ponselku berdering panggilan masuk dari Fadila. Sepertinya gadis bermata belok ini sudah tiba sejak tadi. Aku menyapu layar mengangkat panggilannya.
"Waalaikumsalam, Fa."
"Aku udah lihat mobil kamu, tapi kamu kok nggak turun-turun, sih?" ucapnya sambil mengetuk kaca mobilku.
Aku mematikan sambungan telepon, menyapu ke arah Daffa yang terlihat sudah mendengkur. Aku membuang napas pelan, lalu turun.
"Abi sama Ibu kamu udah dateng, tuh."
"Hah? Abi sama Ibu udah dateng?" Fadila mengangguk, berpikir bagaimana dengan Daffa. Fadila menjetikkan jemari.
"Siti, hei. Kok malah ngelamun, sih?"
"Hah? Eh, ya."
"Ayo," ajaknya yang langsung memeluk lenganku. Mobil sengaja tidak aku matikan mesinnya. Membiarkan Daffa tidur nyenyak di jok empuk itu.
Mengenakan sepatu high heels dengan tali di bagian tumit. Paper bag berisi gamis dari Umi telah berada dalam genggamanku. Kami menuju kamar pengantin, untuk berganti pakaian. Juga penasaran dengan wajah ayu Umi setelah di make over.
Pandanganku sesekali menyapu ke arah mobil. Tidak enak hati rasanya meninggalkan Daffa sendirian di sana. Tapi mau bagaimana lagi, bocah nakal itu terus saja mengusik ketenteraman jiwaku.
Kulihat Umi tengah duduk manis lengkap dengan paes juga baju adat warna hitam secara langsung. Masya Allah, cantiknya dia. Berbeda dengan yang di foto tadi.
Sanggulnya dihiasi bunga mawar di sisi kanan dan kiri. Hiasan kepala yang telah berjejer rapi membuatnya begitu berbeda dari biasanya.
"Masya Allah, cantik banget kamu. Ini beneran kamu?" pujiku yang terlihat dia tersenyum lebar menampakkan gigi gisulnya.
"Ya bener, dong." Kami berhambur memeluknya. Air mata haru membasahi ekor mata.
"Aku seneng banget lho, lihat kamu menikah hari ini," ucapku berganti pakaian seraya terus bercerita apa saja pada mereka berdua.
"Ya, maaf. Acaranya belum dimulai 'kan, ya?"
"Sebenarnya sih, udah. Cuma aku pending khusus nunggu kamu."
"Halah, nggak boleh bohong loh. Itu dosa! Ini buat kamu," ucapku menyodorkan bingkisan besar padanya sebagai hadiah pernikahan.
"Makasih." Kami tertawa renyah, mengingat ini kali terakhir Umi bisa sebebas sekarang. Hitungan menit, ia akan menjadi istri orang.
Perwakilan keluarga Umi masuk ke kamar dan mengatakan ijab qobul telah selesai dilakukan. Aku dan Fadila membawa Umi menuju pelaminan untuk bertemu sang suami.
Barisan gigi putih Umi terus terlihat. Ia begitu bahagia. Saat sudah berhadapan dengan suaminya, Umi tertunduk malu.
"Ingat, malam pertama. Siap-siap kamu diterkam sama dia," bisik Fadila yang membuat raut wajah Umi langsung berubah dan menatap Fadila dengan gigi yang beradu.
Aku mengulum senyum, kini Umi melototiku. "Kalian berdua jahat tau nggak." Aku hanya merapatkan bibir menahan tawa.
Pria gagah memakai baju yang sama dengan Umi telah berdiri dengan tegap. Ia mengulurkan tangan meminta, sang kekasih halal untuk digenggamnya.
Mereka mengadakan sesi foto. Melihat kebahagiaan semua orang, terbesit di sel otak untuk menikah. Tapi aku takut malam pertama. Dari yang pernah kudengar, katanya sakit. Entah di mana pastinya rasa itu, satu kata itu terus terngiang di telingaku.
"Melihat mereka aku jadi pengen nikah, Fa."
"Sama. Aku juga, aku akan bersorak kegirangan setelah suamiku mengucap ijab qobul. Lalu berpose seperti ultraman yang telah menang melawan musuh."
"Ck! Konyol kamu. Haha." Aku menyenggol bahunya, ia tersenyum menanggapinya. Pandangan kami terus ke arah Umi, ia melambaikan tangan pada kami.
__ADS_1
"Siti, Fadila." Kami serentak menoleh ke asal suara. Aku mengenal betul suara bidadari tak bersayapku. Aku mencium punggung tangan beliau takzim, diikuti Fadila.
"Ibu udah lama? Abi mana?"
"Bu Rahma, gimana kabarnya Bu?"
"Alhamdulillah, Ibu sehat. Kamu gimana kabarnya? Kok udah lama nggak main ke rumah?"
"Alhamdulillah, sehat Bu. Ya, pengen main juga ke sana, cuma belum dapet waktunya, Bu."
"Bu, Abi mana?" tanyaku sekali lagi.
"Itu, di sana," tunjuk ibu yang membuatku mengikuti pergerakan tangannya. Abi tengah berdiri dengan seorang pria berbadan tinggi, rambut disisir rapi. Kemejanya digulung hingga siku. Janggut tipis memenuhi sekitar area rahangnya.
Abi sekilas menatap ke arahku, aku sontak buang badan. Bisa saja pria itu yang datang mengkhitbah diri ini. Tidak ingin membiarkan dia tahu wajahku lebih dulu. Tapi, dia pasti sudah melihat fotoku, 'kan.
Aku menoleh sebentar memastikan, abi masih terus sibuk berbincang dengannya. Netra kami bertemu beberapa detik, lengkungan senyum terlukis di sana. Aku memalingkan wajah.
Ibu dan Fadila asyik mengobrol. Berbeda denganku yang terus bertanya dalam hati siapa pria yang bersama abi. Aku berusaha menutupi rasa penasaran dengan mengalihkan pembicaraan ibu.
"Ibu udah makan?"
"Belum."
"Mau Siti ambilkan untuk Ibu?"
"Nggak usah, nanti Ibu tunggu Abi aja. Ibu ke sana dulu, ya. Kamu jangan malam-malam pulangnya, ya, Ti."
"Ya, Bu."
Pandanganku terus menatap ke arah ibu yang menuju tempat abi berdiri. Mataku tidak bisa lepas dari pria yang terlihat berwibawa juga terpelajar itu.
Fadila menepuk punggungku. "Ti, kamu lihat apa?"
"Hah? Nggak ada, bukan apa-apa."
Abi seperti tengah mencari-cari seseorang. Aku langsung menarik tangan Fadila untuk pergi. Malas kalau harus ikut nimbrung bersama orang tuaku.
Sampai saat ini, aku belum memberi mereka jawaban atas lamaran yang datang. Kami keluar menuju halaman untuk mencari udara segar. Terasa sesak di dalam.
"Hei, Siti Maryam. Buru-buru banget sih ngajak keluar. Aku laper, nih."
"Apaan sih, Fa. Makan bisa entar."
"Hei, dosen cantik. Cacing di perutku ini tengah memberontak. Aku tuh bukan kayak kamu yang bisa tahan lapar."
"Berisik banget sih, Fa."
"Kamu pasti sembunyiin sesuatu dari aku, 'kan?" tanyanya penuh telisik. Aku menelan saliva berat, bingung harus menjawab apa. Jika bilang tidak, itu sama aja bohong.
Kalau bilang, ya pasti Fadila akan terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Jadi serba salah. Terlihat Daffa keluar dari mobil dengan merentangkan tangannya.
Aku membawa Fadila berjongkok dan menunduk. Spontan itu kulakukan. Berdoa dalam hati, semoga Daffa tidak melihatku.
"Bu," panggilnya yang membuatku menggigit bibir dalam.
"Ya, Allah. Bagaimana ini," desisku pelan.
"Hei, dosen cantik. Mau sampe kapan kita kek gini? Sikap kamu hari ini aneh tau nggak!"
__ADS_1
"Ssst ...!"
"Hai, Ti, Fa," sapa Pasha dari kejauhan yang melambaikan tangan.