Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Pamit ke Kamar


__ADS_3

"Ih, Mas. Omesh meluluh, sih."


"Wajar dong. Dua tahun nggak ketemu kamu."


"Emang kita langsung pindah?"


"Em, nggak sih. Lusa, insya Allah. Kalau kamu udah fit, baru kita pindah, ya."


Aku mengangguk, Maher memelukku erat sekali. Aku pun menautkan kedua tangan di belakangnya. Maher menciumi seluruh wajahku.


"Mas, kok ada yang terasa nyentuh pahaku."


"Biarin dia kenalan sama kamu dari luar dulu, ya. Entar malam kita langsung tancap gas."


"Em, Mas," gerutuku manja seraya menenggelamkan wajah di dada bidangnya.


"Kenapa? Nggak mau?"


"Mau," ucapku malu-malu dan semakin mengusap wajah di sana. Ia menjauhkan tubuhnya mencoba melihat ekspresiku sepertinya.


"Coba Mas lihat kamu kalau lagi pas begini. Angkat dong wajahnya, Sayang. Mas 'kan kangen pengen lihat."


"Ah, Mas usil. Nggak mau, ah."


"Itu daun telinga udah merah aja. Mas pengen denger 'ah' kamu nanti malam gimana."


"Mas!" Aku langsung pergi meninggalkan dia sendiri di ambang pintu kamar. Keluar dari rumah yang menurutku cukup elegan dan mewah dengan model pintu buka dua.


Berjalan ke mobilnya dan mendaratkan bokong di sana seraya menantikan Maher yang mulai melangkah keluar dari rumah kami.


Puas berkeliling rumah, kami putuskan untuk pulang. Jemariku terus berada di genggamannya, hingga berkeringat dan basah di telapak tangan ia tidak peduli, bahkan sambil menyetir pun dengan satu tangan.


Kami tiba di halaman rumah abi. Orang tuaku sudah menyambut kedatangan kami. Lengkungan senyum mengembang di wajah mereka berdua.


"Assalamualaikum." Kami langsung berhambur ke hadapan mereka. Mencium punggung tangan beliau takzim.


"Ayo, makan. Ibu udah masak kesukaan kamu. Daging sapi sambal mata, rebusan daun pepaya."


"Kesukaan Safar nggak ada, Bu?"


"Kalau itu ya harus ada. Kari kambing 'kan?" Safar cengengesan menggaruk kepala bagian belakangnya, "Ibu udah masakin semuanya. Ayo, kita masuk."


Tertawa riang di sore ini membuat semuanya tampak bahagia meski kami belum memberi mereka momongan karena dipisahkan jarak dan waktu.

__ADS_1


Saat akan melangkah masuk, terlihat Pasha di seberang rumahnya. Memandang ke arah kami berdiri.


"Sayang, ayo."


"Ah? Ya, Bu."


Kami menyantap hidangan yang sudah tersedia di meja. Menghargai jerih payah ibu. Tidak ada salahnya membahagiakan orang tua untuk mendapat rida-Nya.


"Besok kamu nggak usah ngajar dulu, ya," ucap Maher yang menghentikan aktivitas mengunyahku, memandangnya sejenak.


"Ya, Siti. Abi juga belum izinin kamu untuk ke kampus."


"Pulihkan kesehatan kamu dulu, ya Nduk."


"Em ... tapi, Mas, Bi, Bu, mahasiswa aku gimana? Mereka udah mendekati semester akhir."


Maher menggenggam jemariku lembut, ibu jarinya mengusap punggung tanganku seraya berkata, "Sayang, kesehatan kamu lebih utama dibandingkan mereka. Apa mau Mas yang gantikan kamu, hem?"


"Hem, ya udah. Besok aku ambil cuti. Tapi besok aja, 'kan?"


Maher mengangguk, aku juga baru ingat jika ini tuh hari Kamis. Berarti selama tiga hari aku akan berada di rumah.


Bisa bosan jika kelamaan, belum lagi kalau mereka pada sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.


"Bu, Abi, kami pamit ke kamar, ya," ucap Maher setelah kami selesai makan.


"Oh, ya. Silakan. Siti koyoke wes kangen kamu, Nak Safar," goda ibu yang membuatku tertunduk malu.


"Ibu," gerutuku malu-malu.


Maher hanya tersenyum menatapku lekat dan tersirat di sana ingin segera melahap diri ini. Kami berjalan menuju kamar saksi bisu semua keadaan kami dulu.


Maher menutup pintu, aku yang masih berdiri mematung melihat ke arahnya. Jantung berdebar kencang. Derap langkahnya yang semakin mendekat membuatku gugup. Persis malam pertama kami selesai akad nikah beberapa tahun lalu.


Kini kami tidak lagi berjarak. Netra kami bertemu cukup lama dan menyelami setiap urat bola mata yang bergerak. Hanya ada aku di pupilnya yang hitam legam itu.


Tangannya bergerak mengambil jarum pentul yang tertancap di kain bawah dagu, semakin bergemuruh rasa di dada. Detakannya semakin menderu cepat seperti genderang yang yang ditabuh.


Hijab sudah terlepas dari kepalaku, mayang yang dicempol dilepas ikatannya oleh Maher. Rambutku terurai lurus hingga pinggang. Tangan beruratnya menyapu bahu dan kemudian memeluk tubuh mungilku.


Reseleting gamis di bagian belakang ditarik turun. Semakin tak karuan jantung ini. Jemarinya menyentuh punggung mulusku, perlahan menjatuhkan kain yang melekat di lantai.


Maher melepaskan pelukannya dan menatapku lekat. Aku membuka kancing kemeja yang digulung hingga siku satu persatu. Memberanikan diri, Maher membantu agar dipercepat pergerakanku.

__ADS_1


Sepertinya ia dahaga belaian dariku. Masih setengah perjalanan kancing bajunya terlepas, ia mengunci mulutku dengan ciuman buasnya. Bergulat dengan gigih menyapu habis bibir dan lidahku hingga tubuh kami terdorong ke arah meja belajarku.


Tanganku menahannya di sana, Maher mendudukkan diri ini di meja itu sambil terus ******* ganas, bahkan untuk bernapas saja sulit bagiku. Aku mengalungkan tangan di lehernya. Maher membuka pakaiannya, lalu menggendong tubuhku dan membawanya ke pembaringan.


Setiap jengkal diriku ia sapu dengan menggebu-gebu, terkadang aku mendesah akan sentuhan-sentuhannya. Gejolak di dada tidak ingin menghentikannya, aku pun merasakan yang sama dengannya menginginkan yang lebih dari ini. Ingin menyelam lebih dalam lagi.


"Mas mulai ya, Sayang." Aku mengangguk seraya menggigit bibir kuat, hanya ******* napas yang keluar dari mulutku.


Saat akan melanjutkan aksinya, aku menahan perutnya. "Mas, udah berdoa?"


"Udah. Boleh Mas lanjutkan?" Aku mengangguk diiringi lengkungan senyum, kedua tangan Maher mengukung tubuhku, perlahan ada yang masuk ke dalam mahkotaku.


Ia bergerak naik turun, ingin aku merintih karena memang masih terasa sakit. Namun, itu akan menyakitinya secara tidak langsung. Perlakuan Maher beberapa hari lalu yang menerobos benteng pertahananku secara paksa, masih tertinggal jejak kesakitan di sana.


Napas kami berdua sudah tersengal. Keringat sudah membanjiri tubuh. Maher cukup lihai melakukan perpaduan, yang kubalas dengan mengikuti pergerakannya. Meski ini pertama kalinya bagi kami.


Setelah selesai menuntaskan naluri lelakinya, ia mencium keningku. "Makasih, Sayang," ucapnya yang masih berada di atasku.


Kini ia berbaring di sampingku, mendekap erat tubuhku dari belakang. Dagunya di atas kepala, sebelah tangannya kujadikan bantal.


"Mas, kok masih sakit, ya."


"Ya, masih dong, Sayang. Baru juga beberapa kali. Nanti kita ulang lagi dan lagi, ya biar nggak sakit."


"Emang kalau begituan lagi, sakitnya hilang, Mas?"


"Insya Allah."


Aku masih terbengong, lalu berbalik menghadap ke arahnya. Memandangi wajah tampannya yang selalu kurindukan. Kumandang azan terdengar. Aku melirik ke dinding, hampir pukul delapan malam.


"Mas, udah azan. Kita lupa salat Magrib tadi."


"Hah? Ya Allah, Mas lupa. Ya udah, mandi sama aja, ya. Untuk menghemat waktu, biar bisa di qada salatnya."


"Ya, Mas."


Badan terasa pegal dan pahaku kaku. Juga, di area sensitifku masih sedikit sakit akibat ulahnya tadi. Maher bangkit dan memandangku yang kesulitan untuk berdiri.


"Mau Mas gendong?"


"Em, nggak usah, Mas."


Maher mengulurkan tangan untuk membantuku bangkit. Perlahan aku berjalan beriringan dengannya.

__ADS_1


"Itu belum semuanya, Sayang. Besok kalau di sofa tantra, kamu makin nggak bisa jalan," bisiknya yang membuatku sontak menoleh ke arahnya yang tengah tersenyum lebar.


__ADS_2