Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Welcome to Dubai


__ADS_3

Kami memeriksanya kembali dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan yang akan pergi ke Dubai. Paspor dan visaku sudah disiapkan Maher, terdengar saat ia bertelepon tadi.


"Assalamualaikum." Suara Daffa terdengar jelas hingga ke kamar. Aku segera keluar dan menghampiri mereka setelah menjawab salam.


Daffa terlihat datang bersama Khaira ke rumah abi. Langkah jenjang Maher langsung menyambut adik kesayangannya itu. Lagi, aku heran melihat mereka berdua yang biasanya tidak pernah akur.


"Kalian datang berdua lagi?"


"Ck! Dosen cantik, jangan tanyakan apa-apa soal ini. Aku tetap mencintai Bu Dosen. Boleh 'kan, Kak?"


Maher memukul kepala Daffa dengan selembar kertas yang ia pegang. Daffa tampak memberikan paspor dan visaku.


"Kak!" gerutunya kesal, Maher hanya tertawa renyah.


"Khaira, kamu kok bisa bareng sama Daffa lagi?"


"Daffa kalah taruhan lagi, Bu."


"Taruhan?"


"Ya, kami taruhan mengenai Ibu. Dia selalu salah menebak. Ya, ini konsekuensinya, hehe."


"Nggak baik taruhan begitu, Ra. Itu sama halnya dengan judi. Jangan lagi, ya."


"Ya, Bu."


"Sebentar Ibu ambil minum untuk kalian."


"Bu dosen cantik nggak boleh capek-capek, ya. Biar perempuan yang satu ini aja yang ambil," Daffa mengangkat dagu dan menginstruksi Khaira untuk bangkit melayani kami, "hei, sana pergi ambil."


Khaira bersungut dan langsung bangkit. "Nggak usah, biar saya saja. Kalian tamu di sini."


"Nggak apa-apa, Bu. Biar Khaira aja, biar puas bad boy satu ini!"


"Apa? Kamu bilang aku bad boy? Dasar playgirl!"


"Allahu akbar. Kalian nggak ada hentinya saling mengejek. Kamu ngalah dong, Daffa. Dia tuh cewek, masa' kamu ladeni juga."


"Tapi, Kak. Lihat tuh kelakuannya," tunjuk Daffa ke arah Khaira yang sudah berjalan menuju dapur dengan santai dan sedikit melenggok.


"Udah, udah. Apa perlu Kakak bilang sama Mami kalau kalian sebaiknya menikah!"

__ADS_1


"Apa? Nikah? Kakak sama nggak warasnya sama dia!" Daffa semakin tersulut emosi mendengar apa yang dikatakan Maher. Maher justru Tertawa riang, karena berhasil menggoda adiknya itu.


Abi juga ibu masih di pesta pernikahan Pasha. Ya, namanya tetangga dan juga berada di kampung. Jadi, masih harus saling mengerti dan menghargai walau ada rasa benci yang mendalam di hati abi. Namun, Bu Tejo juga tidak salah dengan keadaan yang tidak diketahuinya.


"Assalamualaikum." Abi dan ibu baru saja datang, wajah mereka tampak lelah. Ibu sesekali memijat pundaknya.


"Waalaikumsalam."


"Eh, ada Daffa ternyata."


"Ya, Ustadz." Daffa menyapa dengan mencium takzim tangan abi juga ibu.


"Tumben main ke sini," timpal ibu yang tidak biasanya Daffa datang. Entah karena Maher di luar kota kemarin-kemarin.


"Mereka mau seperti kami sepertinya, Bu, Abi." Maher tersenyum sambil melirik ke arah Daffa, yang terlihat sudah mengepal tangannya.


"Oh, ya?"


"Bagus itu kalau mau begitu, apa langsung menikah malam ini saja?" Abi yang sepertinya menangkap ucapan Maher sontak menyambut, lalu diiringi tawa khasnya, "bagaimana Nak Daffa? Apa kamu sudah siap?"


"Maaf, Ustadz. Saya bukan Kak Safar yang siap untuk dijodohkan."


"Udah sana pulang sebelum kamu dipaksa menikah sama Ustadz Abdul Latif."


"Awas aja kamu, Kak. Aku ambil Bu dosen cantik baru tau!"


"Coba aja kalau bisa. Bu dosen cantik kamu ini, udah sepenuhnya jadi milik Kakak. Dia nggak akan pernah bisa lepas dari Kakak. Tanya aja kalau nggak percaya," perintahnya menunjuk ke arahku yang sudah menunduk menahan malu.


"Bu, muka Ibu kenapa jadi merah gitu?" Secepatnya aku mengubah mimik wajahku. Ada abi juga ibu di sini, akan jadi canggung jika terlarut dengan kebucinan Maher di kamar. Ah, kenapa malah membayangkan adegan mesum begitu. Apa udah ketularan Maher?


"Abi sama Ibu bersih-bersih dulu, ya. Udah gerah." Aku tersadar dari lamunan saat abi izin untuk pergi ke kamar.


"Ya, Abi, Bu."


Khaira sudah bergabung bersama kami dari tadi. Gadis ini hanya tersenyum sambil mengamati situasi di rumah ini.


"Kamu jangan kaget ya, Ra. Daffa sama Kakaknya selalu begitu."


"Bu, nggak perlu jelasin ke dia. Dia juga bukan siapa-siapa aku."


"Atau kamu mau sama dosen yang kemarin itu. Siapa namanya, Sayang?"

__ADS_1


"Dosen yang mana, Kak?"


"Ada dosen cewek yang kalau ngomong suka sambil mukul itu. Mas lupa namanya, siapa ya Sayang?"


"Bu Ira."


"Ah, ya. Kamu mau sama dia?"


Aku dan Khaira spontan tertawa. Daffa melirik ke arah kami dengan wajah yang sudah ditekuk dan tidak senang.


"Haha. Ya, cocok kamu sama Bu Ira, Daffa," sambung Khaira yang semakin renyah tertawa. Terkadang ia menyapu ujung mata, mungkin berair saking lucunya mengingat wajah Bu Ira yang memang mengundang gelak tawa.


"Kalian semua sama aja. Aku pulang, Kak. Kamu, pulang sendiri! Assalamualaikum." Daffa segera pergi menuju motornya yang mirip dengan Maher punya.


Kendaraan di atas dua ratus cc itu terparkir di halaman. Mengenakan jaket hitam, lengkap dengan helmnya. Daffa menstater sepeda motornya, sontak Khaira kalang kabut dan segera menyusul Daffa. Tidak lupa ia berpamitan pada kami.


"Daffa, tunggu!" teriak Khaira yang akhirnya berhasil naik ke motor Daffa. Sedikit mengebut Daffa mengendarainya, Khaira mengeratkan pelukannya di tubuh Daffa.


Ada rasa iri saat melihat mereka yang menggunakan motor bersama. Andai saja bisa, aku ingin sekali melakukan itu.


"Sayang?"


"He uh?"


"Kamu mau naik motor begitu juga?"


"Em, kalau ada kesempatan, sih mau Mas."


"Ya udah, pulang dari Dubai kita berkeliling naik motor, ya."


Sofitel Jumeirah hotel, itu terpampang nama bangunan yang di kelilingi dengan pohon palem, berdiri dengan megah di hadapanku saat ini. Cat warna pastel bangunan memanjakan mata melihatnya di tengah panasnya negara timur tengah ini.


Mataku tercengang penuh kagum, badanku berputar mengitari pemandangan yang Masya Allah indahnya. Saat melangkah ke lobby, disuguhkan dengan lampu berbentuk bintang dan sofa baldu berwarna hijau army.


Aku yang tidak pasih bahasa Arab membiarkan Maher yang menuju ke resepsionis. House keeping memandu kami menuju kamar. Dua koper sedang dibawa oleh pria berpakaian rapi khas seragam mereka.


Maher menggenggam tanganku, lalu tersenyum. "Gimana? Indah, kan?"


"Ya, Mas. Masya Allah."


Kami tiba di kamar khusus pengantin baru. Menghadap kolam renang, sepasang angsa sudah tertata rapi di kasur bersprei putih disertai kelopak mawar dan lilin yang menghiasi kamar. Sepanjang jalan di lantai marmer menuju kasur dan kamar mandi terdapat puluhan bunga yang melambangkan tanda cinta ini. Tipe ruangan luxury menjadi pilihan Maher.

__ADS_1


__ADS_2