
Aku berdecap kagum yang tidak henti-hentinya. Bibirku terus berucap syukur atas nikmat yang Allah berikan melalui pria tampan di sampingku ini.
Aku berjalan membuka jendela model slide, Maher terlihat masih berbincang dengan pengantar tamu itu. Aku yang tidak mengerti bahasanya membiarkan mereka. Lebih mengutamakan menikmati keindahan yang manusia-manusia cerdas di sini mengubah negara tandus menjadi objek wisata yang terkenal di dunia.
Baling-baling berukuran raksasa terlihat dari seberang kolam renang. "Sayang, dari sini dekat sama flying fox. Nanti kita coba,ya."
"Aku takut ketinggian, Mas."
"Kalau ketinggian sama Mas nggak takut, malah nagih."
"Ih, Mas. Mulai deh, omeshnya!"
"Di tempat ini, memang kita dituntut harus omesh," balasnya yang mencium pipiku, seraya menggigitnya pelan.
"Sakit, Mas."
"Gemesh, lihat kamu. Pengen langsung Mas terkam aja."
Aku masih memeluk diriku sendiri memandang laut yang terbentang di dekat baling-baling itu dari balkon. Sementara Maher memilih duduk di sofa.
Aku melirik ke arahnya yang tengah tersenyum padaku. "Sini, Sayang." Ia menggoyangkan jemarinya menuntutku untuk mendekat ke arahnya.
Aku melangkah dengan terus mengembangkan semburat senyuman padanya. Ia menarik pinggangku untuk duduk di pangkuannya. Memeluk tubuh mungil ini seraya menyandarkan kepalanya di dadaku.
Sekilas tangannya menyapu perutku. "Semoga pulang dari sini, ada si orok ya."
Aku memberi jarak untuk melihat wajahnya yang penuh harap. "Allah yang menentukan, Mas."
"Mas udah pengen punya anak, Sayang. Biar usaha Mas nggak sia-sia."
"Ck! Bismillah, ya. Semoga Allah mengabulkan doa kita. Mas, sekarang boleh aku rebahan dulu. Capek soalnya, Mas."
Cukup lelah memang tubuh ini, perjalanan yang ditempuh bukan sebentar. Jarak tempuh ke sini saja lebih dari tujuh ribu kilometer, belum lagi harus delapan jam lebih berada di dalam pesawat. Bersyukur Maher memilih kelas bisnis, sempat kelas ekonomi mungkin aku sudah jadi rempahan rengginang yang sudah tidak bertenaga.
__ADS_1
"Tentu boleh dong, Sayang. Jangan lupa salat nanti, ya. Kalau sudah azan, nanti Mas banguni. Selesai salat kita tempur, ya. Hehe."
Aku mengerucutkan bibir menanggapi ucapannya yang tidak jauh-jauh dari begituan. Ia langsung ******* bibirku dengan cepat, lalu menggigitnya. Semenit kemudian, dia melepasnya.
"Sakit, Mas. Hobi banget sih nyakitin istri."
"Sakit tapi kamu nikmati 'kan?" godanya dengan menaikkan kedua alisnya.
"Dasar Ustadz omesh!" Aku berlalu meninggalkannya dan pergi membersihkan diri sebelum rebahan. Kamar mandi yang berlantai marmer warna coklat bercorak kayu ini begitu modern dan minimalis.
Bathup dan shower pelengkap ruangan yang kira-kira ukurannya sekitar enam meter persegi. Handuk tertata rapi di lemari kecil dekat cermin bulat tepat di depan pintu.
Aku menenggelamkan diri di bathup. Merelakskan otot-otot bekas perjalanan tadi. Maher membuka pintu kamar mandi.
"Mandi bareng ya, Sayang."
Aku menarik napas pelan, aku tahu ujungnya akan ke mana.
"Boleh 'kan? Kalau diingat-ingat kita tuh nggak pernah mandi bareng lho, padahal itu hukumnya sunnah," lanjutnya dengan melangkah masuk dan melucuti pakaiannya satu persatu.
"Kita salat dulu ya, Sayang. Setelah itu Mas ada surprise buat kamu."
Aku mengangguk lalu membuka koper sedang yang kami bawa tadi. Bulan madu ini sebenarnya suda terlambat, pernikahan kami juga sudah berjalan dua tahun.
"Kok bengong? Ayo, Mas udah siap ini mau imami kamu."
Maher sudah mengenakan kemeja yang digulung hingga siku. Bawahannya mengenakan sarung, peci sudah bertengger di kepalanya.
Aku pun mengenakan gamis asal dan langsung memakai mukena. Tiga rakaat kami tunaikan dengan khusyuk. Saat berdoa, terdengar Maher memanjatkan doa untuk diberikan buah hati. Terharu biru aku mendengarnya.
Andai lebih dulu aku berani disentuh olehnya, mungkin saat ini aku sudah hamil anak yang kedua. Aku tertunduk menahan tangis.
Aku terisak, lalu menghapus bulir bening. Maher menyodorkan tangannya. Aku pun mencium takzim tangan berurat itu. Ia langsung memelukku.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu begitu sedih, Sayang? Apa karena doa-doa, Mas?" Dagunya berada dipucuk kepalaku. Wajahku berada di dada bidangnya.
"Maafkan aku, Mas."
"Kamu nggak salah. Mas terima semua kekurangan dan kelebihan kamu. Sekarang, kita di sini untuk bahagia. Semoga Allah mengabulkannya, karena kita sudah berada dekat dengan-Nya."
Ba'da Isya Maher meminta untuk turun menikmati keindahan malam di Dubai. Maher membawa seorang tour guide untuk tiba di air mancur yang terkenal di seluruh dunia.
Ya, salah satu keindahan di Dubai ialah air mancur yang spektakuler. Seluruh masyarakat dunia mengagumi keindahannya.
Kami tiba setelah tiga puluh menit perjalanan menuju The Dubai Mall. Tepatnya di seberang air mancur. Tour guide juga menjelaskan secara detail mengenai waktu dan lamanya air mancur musikal terbesar di dunia ini.
Tak henti-hentinya aku berdecak kagum melihat keindahan di depan mataku. Air yang menari mengikuti alunan musik dan menyembur dengan indahnya.
"Sayang, kita naik itu, yuk!" Maher menunjuk ke arah Abra tradisional untuk menikmati keindahan malam di Danau Burj dengan pemandangan yang mempesona dan luar biasa mengagumkan ini.
Tour guide terus menjelaskan satu persatu tempat yang mungkin akan kami kunjungi malam ini. Tidak ingin menyia-nyiakan momen yang mungkin tidak akan terulang. Aku menyerahkan ponsel pada pria berwajah khas arab lengkap dengan janggut di area wajahnya.
Dia yang memang sudah mengerti akan hal-hal seperti ini menyambut dengan senang hati. Begitu juga dengan kami berdua. Maher berdiri di sampingku, sebelah tangannya berada di sekitar pinggulku.
Pose kedua ia mencium pipiku, dengan latar belakang air mancur yang berubah lampu berwarna ungu. Selanjutnya kami mengabadikan momen berharga itu dengan berselfie.
Wajah nakal dan menggemaskan kadang kami tunjukkan untuk sekadar memenuhi memori di gawai layar sentuh ini.
Kami menaiki perahu mengitari danau yang masih menampilkan air mancur. Semburan air yang mencapai lantai lima puluh gedung di sekitar ini benar-benar memanjakan mata pengunjung.
Terlebih lagi, ditujukan memang untuk para wisatawan. Tidak dipungut biaya, begitu yang aku dengar juga baca. Dubai memang destinasi wisata kalangan orang kelas atas dan mewah.
Cahaya lampu-lampu gedung saja terlihat mahal, belum lagi tatanannya yang rapi dan indah. Membuat semua orang di seluruh dunia berlomba-lomba untuk bisa berkunjung ke sini.
"Mas, baju itu bagus." Aku menunjuk baju di salah satu toko di The Dubai Mall.
"Besok, kita ke sana ya, Sayang. Sekarang sudah hampir tengah malam. Lihat?" ia menunjukkan arloji bermerk yang ada dipergelangan tangannya yang sudah hampir jam sebelas malam, itu berarti pertunjukkan air mancur juga akan berakhir, "Mas janji, besok siang kita ke situ, ya."
__ADS_1
"Mas, kamu kok banyak duit? Kamu dapat dari mana uang yang begitu banyak?"