Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Penuh Drama


__ADS_3

Suara per kasur terdengar, Maher sepertinya merebahkan diri di sana. Mengingat besok hari pertamanya bekerja di pesantren yang sama dengan abi.


Aku melirik ke arahnya yang memunggungiku. Bulir bening lolos, seketika aku menyapunya. Lalu kembali dengan aktivitasku tadi. Hingga rasa kantuk pun mulai menyerang diriku.


Meletakkan kepala sebentar di meja, dengan tubuh setengah tertidur di sana. Berharap, akan kembali mengerjakan tugasku beberapa menit dari sekarang. Namun, mataku semakin berat dan tidak ingin dibuka. Hingga tanpa sadar terlelap.


Azan Subuh terdengar samar-samar, itu tidak langsung membangunkanku. Selimut warna merah sudah berada di bahuku. Mataku mengerjap dan perlahan menatap pria yang tengah bersujud mengenakan sarung juga baju koko, lengkap dengan pecinya.


Setelah salam dan memanjatkan doa, ia bangkit melipat sajadah. Tumben, biasanya selalu ribut ingin mengimami salatku.


"Kamu nggak salat?" tanyanya yang mengarah padaku. Aku hanya mengangguk, lalu bangkit untuk mengambil wudu.


Setelah selesai, aku keluar dari bilik. Maher sudah tidak ada di kamar. Entah pergi ke mana dia. Aku menunaikan kewajibanku.


Sepuluh menit lamanya, aku menyelesaikan salat. Keluar dari kamar untuk membantu ibu di dapur. Maher terlihat mengaji bersama abi di ruang tamu.


Suaranya memang merdu, bahkan mampu mendamaikan hati. Tapi, mengingat sikapnya semalam aku masih meragukannya. Bahkan aku mengeluarkan kartu moshi tidak percaya untuknya.


"Gimana hubungan kamu sama Safar? Baik-baik aja, 'kan?" tanya ibu saat aku masih menatapnya dari depan pintu kamar. Aku mengangguk menjawab ibu.


"Alhamdulillah. Dua hari lagi resepsi kalian, loh. Jangan ribut-ribut, ya. Pamali."


"Ya, Bu. Insya Allah."


Aku sengaja menyembunyikannya di depan orang tuaku. Cukup kami yang tahu bagaimana dinginnya situasi hubungan kami sekarang.


Dua jam lamanya berperang di dapur, akhirnya selesai juga. Aku menata meja panjang dengan kursi kayu di semua sisi. Abi sudah duduk di pusat meja. Ya, dia pemimpin di keluarga ini.


Aku duduk di sisi kanan Maher. Abi menyendokkan nasi ke piringnya. Lalu diikuti ibu, aku juga mengambilkan makan untuk Maher. Tidak ingin mereka tahu, Maher pun sepertinya paham.


"Nanti Mas antar, ya."


"Ya, Mas. Tapi kalau Mas nggak sempat nggak usah, ya. Soalnya hari ini 'kan hari pertama Mas mengajar di pesantren tempat Abi. Nggak enak kalau kamu terlambat," tolakku halus dan terkesan perhatian.


"Insya Allah, Mas usahakan nggak terlambat." Aku mengangguk lemah. Mata kami sama sekali tidak bertemu, sebab saat ia menayakannya tanganku sibuk mengisi piringnya.


"Enak ya jadi kamu. Ibu dulu waktu baru-baru menikah sama Abi nggak pernah dianter jemput," protes ibu yang melirik ke arah abi.

__ADS_1


"Mau dianter jemput ke mana? Wong Ibu nggak ke mana-mana. Kerja juga nggak," timpal abi seraya menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Ya, itu karena Abi nggak ngizinin Ibu kerja!" ucapnya lagi dengan penuh penekanan.


"Ya udah, sekarang kerja sana," balas abi sambil mengangkat dagu berjenggot tebalnya, aku hanya terkekeh melihat ulah mereka berdua yang selalu berdebat perihal kecil.


"Siapa yang mau terima Ibu, udah tua begini!"


"Ya, itu makanya. Ibu kok ya nggak bersyukur gitu, loh. Walaupun Ibu nggak kerja, tapi Abi bisa menuhi kebutuhan Ibu juga Siti."


"Ya, alhamdulillah. Cuma 'kan beda, Bi."


"Udah, udah. Malu sama menantu."


"Ini contoh kecil manisnya berumah tangga ya, Nak Safar. Ibarat masakan, ini bumbunya."


"Hehe. Ya, Bu."


Sarapan penuh dengan drama rumah tangga ini pun akhirnya selesai. Aku mengumpul piring bekas makan dan membawa ke dapur. Ibu menyusun sayur juga lauk di lemari.


Ya, dia bekerja di pesantren. Jadi, sudah seharusnya berpakaian begitu. "Sayang, kamu masih nyuci piring?" tanyanya yang membuatku mengedipkan mata berkali-kali. Lalu mengangguk.


"Ya Allah, Mas nggak sempat antar kamu. Tiba-tiba di telepon untuk secepatnya ke pesantren," ucapnya dengan tergesa-gesa seraya melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Tapi Abi masih di rumah," timpal ibu yang mungkin aneh rasanya. Abi masih bersiap-siap, Maher justru sudah sepertinya sangat terlambat untuk hadir di sana.


"Ya, nggak tahu sih, Bu. Mungkin mereka mau adain perloncoan pengajar baru," ucapnya terkekeh lalu pamit pada kami berdua.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam," jawab kami serentak.


Suara khas pajero sport itu terdengar. Aku terus melanjutkan cuci piring tadi. Abi mengancingkan kemeja koko putih dan menghampiri kami berdua.


"Kalau gitu, biar Abi aja yang antar kamu, ya."


Aku mengerutkan dahi, tidak biasanya abi begini. Apalagi, sejak aku punya mobil sendiri.

__ADS_1


"Emang Abi nggak terlambat kalau harus nganter Siti dulu?" tanya ibu yang menatapnya curiga.


"Siti bisa bawa mobil sendiri, Bi."


"Abi nggak percaya sama kamu. Biar Abi antar aja, sore nanti kalau Safar nggak bisa jemput, Abi yang jemput kamu."


"Tapi, nanti Siti ada janjian mau ketemu sama Umi juga Fadila dulu, Bi."


"Kamu udah izin sama suami kamu?" aku menggigit bibir dalam, "celakalah seorang istri jika pergi tanpa izin suaminya. Ingat, kamu itu udah punya suami."


"Ya, Bi. Entar aku telfon Mas Safar."


"Ya udah, ayo siap-siap."


Di dalam perjalanan, abi tidak banyak bertanya. Aku pun enggan memulai pembicaraan. Aku mengambil ponsel dari dalam tas. Mengirim pesan pada Maher.


"Assalamualaikum. Aku pulang mengajar nanti ketemu sama temen aku, ya."


Aku menepuk-nepuk ponsel ke genggamanku. Belum ada jawaban darinya. Mungkin masih sibuk mengajar, mengingat ini hari pertamanya.


Aku mencium tangan abi takzim dan turun dari mobilku. Wajah kutekuk sedemikian rupa, kesal dengan semuanya.


"Assalamualaikum. Wah, wah. Pengantin baru, bawaannya lemas aja, ih," sapa Bu Ira yang semakin merusak hariku di pagi ini.


"Waalaikumsalam. Ya, Bu. Maklumlah, masih hangat dan hot-hotnya," seruku yang membiarkannya berpikiran jorok tentangku.


"Uh. Jadi pengen cepet-cepet, Bu. Ada lagi nggak temannya suami Ibu?" tanyanya dengan memainkan mata genit seraya menyenggol bahuku yang hampir tersungkur dibuatnya.


"Nanti coba saya tanyakan, ya Bu. Tapi, kalau calon suaminya minta Ibu berhijab gimana?"


Sejenak ia menghentikan langkah dan mengerjapkan mata, memainkan rambutnya menatapku penuh tanya. "Haruskah, Bu?" ucapnya yang membulatkan mata besarnya.


Aku mengendikkan bahu. Berjalan cepat menuju ruang dosen. "Bu, haruskah saya mengikutinya?" tanyanya lagi yang masih penasaran.


"Wajib hukumnya bagi wanita muslim untuk menutup auratnya. Dan rambut, itu termasuk aurat, Bu," jelasku yang meninggalkannya terbengong.


Aku menuju kelas, jadwalku hanya sampai jam sepuluh pagi. Cuma mengajar dua kelas. Ada jeda waktu yang lama sebelum berkumpul dengan mereka, aku harus ke mana dulu untuk mengisi kekosongan waktu hingga bertemu mereka ba'da Zuhur.

__ADS_1


__ADS_2