
Aku bangkit menuju kamar meninggalkan semua orang. Daffa juga Khaira aku minta menginap di sini. Maher menyusul.
"Sayang, kok nggak dimakan sih itu nasi kuningnya? Mas udah susah payah loh carinya."
"Masa' cuma nasi kuning doang, Mas. Nggak ada lauknya. Ayam kek, atau telur minimal. Sambelnya juga nggak ada!" protesku yang membuatnya menarik napas dalam-dalam.
"Kan kamu mintanya nasi kuning. Ya udah, Mas minta maaf. Sekarang kamu istirahat aja, ya. Mas juga mau tidur."
Aku langsung berbaring menarik selimut memunggunginya. Ia merapikan kain tebal itu hingga menutup bahu.
"Subhanallah."
Maher mengitari kasur, lalu berganti pakaian untuk mengenakan piyama. Sedetik kemudian aku bangkit dan mengekor ke arahnya yang menuju lemari. Entah mengapa, tiba-tiba ingin membuka bajunya.
Tanganku membalikkan badannya untuk menghadap ke arahku. Lalu membantunya melepaskan kancing baju koko warna abu dari tubuh atletisnya.
"Mas, aku bukain ya kancing bajunya."
"Enggak usah, Sayang. Mas bisa sendiri," ucapnya dengan menurunkan tanganku dari sana. Ia seperti tengah menahan sesuatu, raut wajahnya berubah seketika memerah. Aku tidak menuruti begitu saja, masih tetap melanjutkan aktivitasku tadi.
Maher terlihat mengigit bibir bawahnya kuat. Sebentar ia memejamkan matanya. Lagi, tangannya menghentikan pergerakanku.
"Sayang, kamu nggak per ...."
"Mas, aku maunya bantuin," ucapku yang langsung kembali ke posisi tadi. Ya, berbaring memunggunginya.
Maher mengejar dan terus membujuk untuk aku melakukan yang tadi. Namun, aku sudah merasa dongkol dan kesal akibat ulahnya.
"Allahu akbar. Fa bi ayyi 'alai rabbbikuma tukazziban." Maher mengusap punggungku lembut, lalu mencium keningku, tidak lupa mengusap bekasnya.
Mentari sudah menyambut kami yang tampak sibuk dengan segala persiapan. Hanya aku yang masih bermalas-malasan setelah salat Subuh tadi. Di luar sudah terdengar ricuh.
Maher sepertinya sudah repot dengan urusan di sana. Mata enggan sekali untuk terbuka lebar. Masih sayup-sayup memandang sekeliling.
Tak ada seorang pun yang berani membangunkanku. Mungkin mereka semua maklum dengan kondisiku saat ini. Bumil selalu diutamakan dalam hal apa pun.
"Siti, sarapan yuk, Nduk." Ibu memanggil dari balik daun pintu. Aku mengucek-ucek mata lalu menyibakkan selimut. Turun perlahan menuju ke asal suara.
__ADS_1
Ibu membawa nasi kuning lengkap di atas nampan. Ia masuk dengan meletakkan piring di atas meja dekat sofa.
"Nduk, jangan terlalu sensitif, ya. Kasihan Safar."
"Bu, aku juga sebenarnya nggak mau begitu sama Mas Safar. Tapi gimana? Mas Safar itu nyebelin, Bu."
"Sing sabar, Nduk. Ini, Bu Tejo secara khusus buatin nasi kuning untuk kamu."
Aku menautkan kedua alis mendengar penuturan ibu tadi. Dalam hati bertanya, apa gerangan yang membuat Bu Tejo membuatkannya untukku. Ibu sepertinya mengerti dengan raut wajahku.
"Bu Tejo tadi malam lihat kamu yang ngambek. Makanya, dia inisiatif. Takut anak kamu ngiler katanya."
Aku berjalan menuju jendela yang langsung bisa melihat rumah Bu Tejo. Pasha terlihat duduk di teras depan dengan wajah yang tidak berseri, matanya cekung, berat badannya juga turun drastis dari yang terakhir bertemu. Ia tampak seperti melamun.
Ya, walau bagaimanapun juga kehilangan seseorang yang pernah menghiasi hidup walau hanya beberapa hari pasti akan membuat jiwa terguncang. Belum lagi Pasha yang masih seumur jagung menikah.
Miris hati melihatnya yang kehilangan semangat. Tapi, aku juga bisa apa. Memaafkannya sudah kulakukan sejak dulu, sebelum ia membuat perjanjian dengan abi.
"Nduk, makan toh."
"Ya, Bu. Sebentar lagi," ucapku menoleh ke arah ibu yang perlahan berjalan mendekatiku.
"Jadi, dia nggak ngajar, Bu?"
"Mengajar. Tapi, setiap dia pulang atau ada waktu luang, dia begitu. Murung."
"Sayang," panggil Maher. Aku dan ibu kompak menoleh, ibu memutuskan untuk meninggalkan kami.
"Ibu tunggu di luar ya, Nduk," ucap beliau yang menyapu lembut bahuku. Lalu melangkah menuju pintu.
"Itu ada nasi kuning?" tanyanya yang mungkin melihat piring yang dibawa ibu tadi.
"Ya, Mas."
"Dari mana?"
"Bu Tejo."
__ADS_1
"Untuk Mas nggak ada?" Aku terkekeh melihatnya yang memasang wajah sangat menginginkan itu.
"Mas mau?" Maher mengangguk pelan, "suapin aku dulu, baru Mas boleh makan itu."
"Oke," jawabnya dengan penuh semangat. Wajahnya sudah penuh dengan peluh. Tercium bau asam, tapi entah mengapa seolah itu aroma parfum untukku. Tidak seperti di awal-awal kehamilan kemarin, sekarang justru bau badan Maher menjadi candu untukku.
Ada hal lain yang membuatku tetap sebal dengannya, yaitu wajahnya. Entah mengapa, padahal kekasih halalku ini tampan. Bahkan para wanita sering memuji parasnya. Baik tua maupun muda, semua seolah terpesona melihatnya untuk pertama kali.
"Aaaa, Sayang," ucapnya yang membuyarkan lamunan sejenak tadi.
Aku membuka mulut lebar, ia dengan telaten menyendokkan nasi kepadaku dan untuk dirinya sendiri. Hanya beberapa suap saja aku sudah enggan memakan nasi kuning itu. Maher yang menghabiskannya.
Beberapa jam sudah berjalan, kini aku sudah bergabung dengan para anak yatim dan abi yang memandu doa. Sebelumnya, Bu Ira dan kedua sahabatku sudah lebih dulu hadir memenuhi undangan. Mereka juga membantu menghias diri.
Gamis berwarna salem aku kenakan lengkap dengan hijab senada. Maher juga memakai baju warna senada denganku. Sudah pasti pilihan mami, aku tidak boleh beranjak dari rumah ibu.
Beliau begitu protektif. Daffa dan Khaira yang tidak pulang telah memakai baju rapi. Mereka memang aku minta menginap sebelum datang ke rumah abi.
Serangkaian acara sudah dilakukan, kini puncaknya. Maher memberikan sepatah atau dua kata mengucap syukur atas kehadiran tamu undangan. Daffa dan Khaira sekarang kami minta untuk membagikan makanan di pesantren.
Kami berdua diliputi rasa bahagia mengingat ini tasyukuran anak pertama yang memang kami nantikan. Meski banyak drama sebelum akhirnya bisa berhasil mendapatkan si orok.
Anak-anak sudah berbaris untuk bergantian bersalaman dengan kami. Ya, amplop sudah kami isi sejak di kamar tadi. Satu persatu dari mereka mencium tangan takzim, mendadak sedih melihat mereka yang harus tumbuh tanpa kasih sayang orangtua.
Sesekali aku menyapu ekor mata yang tertinggal bulir bening di sana. Acara hampir usai, anak-anak juga sudah pada pulang. Pasha duduk di ujung tenda.
"Pasha," lirihku yang membuat Maher mengikuti arah pandanganku. Ia duduk melamun, tatapannya kosong.
"Kita samperin, Sayang."
"Kamu nggak apa-apa, Mas?"
"Mas nggak apa-apa."
Aku melangkah mendekati Pasha, ditemani oleh Maher tentunya. Maher juga yang meminta untuk mendatangi Pasha.
"Sha," panggilku sedikit menjaga jarak darinya, meski berdiri di sampingnya. Ia mendongak, aku mundur satu langkah. Maher menangkap bahuku. Ya, dia berada di belakangku.
__ADS_1
"Siti, aku kangen kamu. Aku nggak tahu harus cerita ke siapa," ucapnya yang sudah menitikkan air mata.