Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Pasha Terpuruk


__ADS_3

Aku memandang Maher dengan tatapan yang sulit untukku jelaskan. Takut kejadian seperti kemarin terulang lagi. Belum lagi mengingat riwayat mereka berdua yang tidak pernah akur.


Maher mengangguk dan menutup mata sejenak. "Kalian butuh ruang berdua? Perlu Mas pergi, Sayang?"


"Enggak usah, Mas. Temeni aku, bukan mahrom."


"Mas nggak cemburu lagi, kok."


"Ya, tapi Mas di sini aja, ya."


"Nggak, Sayang. Pasha tidak akan leluasa bercerita. Pasha butuh sahabatnya. Mas akan tetap pantau kamu dari teras, ya."


Maher melangkah menjauh, aku terus memandangi punggung belakangnya. Sesekali ia berbalik, mengangguk lagi.


"Makasih," lirih Pasha yang membuatku menoleh ke arahnya.


Aku menyuruh Pasha untuk duduk di kursi plastik berwarna biru yang sudah berjejer berserakan. Aku juga mendaratkan bokong di tempat yang sama, tentunya memberi jarak kurang lebih satu meter.


"Ti, maaf atas kebodohanku dulu," katanya mengawali pembicaraan. Sesekali ia menunduk dalam, lalu kembali mengangkat wajahnya tanpa menatapku.


"Ti, aku butuh support dari kamu. Kamu sahabat aku, Ti. Aku nggak mau lagi kehilangan orang yang tulus sayang sama aku karena kebodohan aku, Ti. Aku nggak mau," ucapnya lagi yang entah mengapa bulir beningku lolos begitu saja melihatnya yang begitu frustasi.


"Sha, aku udah maafin kamu dari dulu. Apa pun yang kamu buat sama aku, aku udah maafin semuanya, Sha."


"Aku berdosa, Ti. Sekarang aku tengah menjalani hukuman dari Allah. Dia," ucapannya tertahan seraya menunjuk ke arah rumahnya. Mungkin teringat akan istrinya. "Dia, wanita yang dengan sifat sempurnanya mencintaiku. Tapi, justru aku yang membunuhnya dengan terus menyiksa batinnya, Ti."


"Sha, stop nyalahin diri sendiri."


"Aku bodoh, Ti. Aku terobsesi denganmu, hingga lupa dengannya yang sudah menyerahkan seluruh hidupnya untukku, Ti. Aku bodoh!" ucapnya lagi yang kini tangannya sudah bergerak memukul diri sendiri.


Tangan berurat Maher menghentikan pergerakannya. Pasha menatap Maher dengan terpelongo dan diam cukup lama.


"Allah sudah punya rencana indah untuknya, Sha. Dia sudah buat perjanjian dengan Allah sampai di mana batas umurnya. Tanpa Anda berbuat begitu, dia tetap akan pergi."


"Mas," ucapku yang langsung berdiri di samping Maher.

__ADS_1


"Semua yang hidup pasti akan mati, Sha. Termasuk, aku, kamu dan kita semua. Hanya waktu yang berbeda. Sekarang, waktunya kita menjalankan kehidupan yang akan terus berlanjut. Dan, untuk dia yang sudah berpulang, kirimkan doa dan al fatihah dalam setiap salatmu. Jangan bertindak bodoh dengan menyesal, tolong dia yang sedang berjalan di jembatan siratal mustakhim untuk mencapai surga-Nya."


Pasha hanya diam dan tertunduk malu. Maher mengeratkan genggamannya di jemariku. Aku terus memandang mereka berdua bergantian.


"Mas," panggilku memecah keheningan setelah ia berbicara panjang lebar. Maher menatapku, lalu lengkungan senyum terbit di wajahnya.


"Mas baik-baik saja, Sayang. Nggak usah khawatir."


"Terima kasih," ucap Pasha yang sudah menangis sesegukan. Mungkinkah kata-kata Maher tadi cukup menamparnya untuk sadar?


"Sudah tugas kita sebagai umat muslim saling mengingatkan. Juga, saya tidak melarang jika Anda ingin bersahabat dengan Siti lagi. Tapi, saya minta tolong jaga dan hargai hubungan kami. Jika Anda bisa, silakan datang ke rumah. Rumah kami akan selalu terbuka untuk Anda."


"Mas," panggilku dengan mata yang sudah berbinar memandangnya. Hilang seketika rasa sebal melihat wajahnya. Semua yang keluar dari mulut Maher benar-benar telah disaring dengan sempurna. Masya Allah, ia lelaki terhebat untukku. Sifat, sikap, dan hatinya, luar biasa mengagumkan.


"Keinginan aku udah berubah, Ti. Dari keinginan memilikimu jadi keinginan melihatmu bahagia."


"Alhamdulillah, semoga Allah terus memantapkan hati Anda."


Suara azan Magrib sudah berkumandang, kami akan masuk untuk melaksanakan salat dan berlalu meninggalkan Pasha sendirian.


"Kalian tidak ingin mengajakku salat berjamaah?"


"Masuk, Sha. Kita salat berjamaah. Biar saya yang menjadi imamnya kali ini."


"Ustadz?" lirih Pasha dengan mata yang sudah mengembun.


Aku menatap abi yang melangkah mendekati kami yang masih terpatung. Riwayat hubungan abi dan Pasha tidak baik hingga beberapa bulan lalu. Abi yang tegas menjadi kejam padanya.


Abi langsung merangkuh bahu Pasha. Sebelah tangannya berada di belakang pinggangnya. Mereka berdua melangkah, kami masih terpaku melihat sikap abi.


"Kalian hanya akan diam?" Abi menoleh ke arah kami yang sudah mengambil beberapa langkah ke depan.


"Ah? Ya, Bi."


"Kamu juga nggak baik di luar lama-lama. Pamali."

__ADS_1


Kami semua memilih masuk dan melaksanakan salat berjamaah. Tanpa terkecuali, hanya Bu Ira yang tidak ikut. Biasa tamu bulanannya datang menghampiri.


Daffa juga Khaira sudah bergabung saat kami bergantian mengambil wudu. Kewajiban sudah kami tunaikan, tertinggal rasa lelah di tubuh kami semua.


Segala persiapan yang dilakukan memang cukup menguras tenaga. Kini tinggal membubarkan orang-orang yang ikut serta dalam kerepotan acara untuk si orok.


Terima kasih khusus kami berikan kepada pihak yang terkait, tidak lupa memberikan buah tangan untuk membayar rasa lelah mereka. Souvenir acara juga beberapa bingkisan yang lain, berupa kemeja dan gamis.


Aku dan Maher sengaja membelinya untuk mengapresiasi tenaga yang sudah mereka keluarkan untuk berlangsungnya acara hari ini.


"Kak, punyaku kok sama, sama punya dia," gerutunya di hadapan semua orang dan menunjuk ke arah gamis Khaira.


"Ya, kan Kakak emang belinya couple."


"Ya, tapi nggak samaan sama Khaira juga, Kak."


"Allahu Akbar, namanya couple itu ya samaan, Daffa."


"Kamu kok banyak protes, itu Mami yang pilih. Protes sama Mami."


Khaira yang merasa tidak enak hati mengembalikan kotak yang berisi gamis tadi ke atas meja.


"Maaf, kalau ini jadi permasalahan bagi Daffa. Saya kembalikan saja, Bu dosen, Ustadz."


"Nggak, Khaira. Memang dasar Daffa aja yang suka jadikan masalah. Kamu tetap bawa pulang itu, ya. Itu hadiah dari si orok," timpal mami yang sepertinya mengerti perasaan Khaira.


"Kalau nggak kamu samaan, sama saya aja, Daffa. Gimana?" ucap Bu Ira yang mengedipkan matanya genit dan tanpa henti.


Daffa hanya melengos, sementara kami semua tertawa terbahak-bahak.


"Seneng, ngejailin aku, Kak? Aku ambil Bu dosen cantik kamu baru tahu!"


"Ambillah, setelah itu aku musnahin kamu pake ayat seribu dinar. Haha."


"Kakak kira aku jin atau setan!" sanggahnya cepat.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Kalian ini, nggak ada malunya banget. Di depan semua orang sempat-sempatnya berdebat. Maaf ya, Jeng, Ustadz Abdul, kebiasaan mereka."


"Nggak opo-opo toh, Jeng. Saya ya sudah hapal perangai mereka," jawab ibu yang diiringi tawa.


__ADS_2