Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Rumah Baru


__ADS_3

"Astaghfirullah. Mas minta maaf, Sayang."


Mami mengusap punggungku. "Sayang, ini kecelakaan. Mami minta kamu jangan salah paham, ya."


"Ya, Mi. Aku lihat kamar kami dulu ya, Mi," kilahku cepat kembali ingin menutupi rasa kesal juga kecewa di dalam dada.


Aku berjalan menuju kamar tanpa kata, hanya diam. Benar, itu sebuah tragedi. Tapi tidak seharusnya ia melakukan kontak mata yang menjurus menjadi zina. Bahkan, dia orang yang berkali-kali mengingatkanku untuk itu.


Aku juga paham, manusia tempatnya khilaf dan dosa. Jika ia sebagai nakhoda dalam rumah tangga berbuat salah, bagaimana dengan penumpangnya?


Orang jalan lurus dan baik saja, masih bisa terjatuh dan terpeleset. Bagaimana dengan statusnya yang di dewakan oleh agama melakukan hal begitu. Apa aku terlalu hiperbola menanggapi kesalahan yang bahkan tidak ia sengaja.


"Sayang," sapanya yang duduk di sebelahku dengan ragu-ragu. Aku menunduk mengusap sprei putih berkelut dengan pikiran-pikiran yang berlebihan. Ia menyentuh bahuku lembut, "maafkan Mas yang tak mampu menjaga mata."


"Jika Mas ingin menikahi Ijah, pergilah. Dia sudah melakukan kontak fisik dengan Mas."


"Ngomong apa kamu! Ini dalam konteks berbeda, Sayang!" Suaranya sedikit meninggi, aku mulai menjatuhkan bulir bening perlahan.


"Mas, aku paham. Bahkan sangat paham dengan hatimu, tapi dengan yang di depan mataku saja kamu begitu. Bagaimana di belakangku? Aku tidak ingin kamu melakukan dosa, Mas!"


"Dosa? Bukankah kamu lebih berdosa daripada aku?" Aku terperanjat dengan kata-kata yang terlontar darinya.


"Maksud, Mas?" tanyaku penuh kehati-hatian. Perasaanku sudah mulai tidak enak, apa dia akan mengungkit apa yang dilakukan Pasha padaku dulu. Itu juga bukan keinginanku. Aku korban di sini.


Ia menunduk dalam sebentar, merapatkan bibir lalu mengambil kedua tanganku yang diletakkan di atas pahaku.


"Sayang, hati Mas, cinta Mas, itu hanya untuk kamu. Bahkan, seribu Ijah pun tidak bisa menggantikan kamu di hati, Mas. Mas minta maaf sudah tersulut emosi."


Maher membingkai wajahku, lalu mengecup kening ini lama. Tubuhku ia peluk dan menciumi bahuku, "Mas minta maaf, ya."


**LA**


Kepindahan kami ke rumah baru pun tiba. Sebelumnya, Pasha terlihat hadir ke rumah Abi ba'da Isya menyerahkan surat yang diminta abi kemarin. Di atas materai ia menandatanganinya, aku dan Maher juga turut andil menggoreskan tinta di sana.


Walau sangat disayangkan sikapnya itu yang justru membuatku kehilangan kakak, sahabat, juga pelindungku. Momen-momen begitu harus raib karena hawa nafsunya. Di sudut hati yang paling kecil, aku merindukan kenangan kami dulu. Sebelum ia merusaknya.


Suasana di rumah kami sudah ramai. Tidak lupa kemarin abi menitip salam untuk Bu Tejo, beliau ikut hadir mengantar kami pindah. Ya, kami seolah tidak ada masalah dengannya. Masih menjaga silaturahmi.

__ADS_1


"Siti, alhamdulillah ya. Rumah kamu bagus," ucap Bu Tejo yang tampak terkagum dengan dekorasi dan bangunan ini.


"Ya, alhamdulillah, Bu. Siti rezekinya bagus. Dapat suami yang ganteng, terus mapan. Ustadz lagi," sambung ibu yang masih terus sibuk menata kue di nampan untuk dibagikan kepada semua orang yang datang.


"Ya, ya, Bu. Coba dapatnya Pasha, pasti ngelus dada aja kerjanya." Bu Tejo tahu betul gelagat Pasha seperti apa. Kami hanya tertawa mendengar ucapannya barusan.


Anak yatim yang diundang Maher juga sudah hadir untuk selamatan rumah baru kami. Maher sendiri yang memimpin doa dan tausiyah. Abi dan Ustadz Zainudin mendampinginya. Semuanya diminta berpakaian serba putih.


Awalnya aku menolak, karena seperti suasana lebaran idul fitri, tapi Maher kekeh dengan pendiriannya. Alasannya agar kita semua bersih dan suci.


Tiga puluh menit sudah Maher berbagi kebahagiaan dengan anak-anak. Kini acara bebas, bersilaturahmi dan saling menyapa para tamu yang hadir.


"Assalamualaikum." Daffa datang bersama Khaira. Aku terpelongo melihat keduanya.


"Kalian datang bareng?" Aku mendekat ke arah mereka dan saling menunjuk satu sama lain. Wajah Daffa tampak ditekuk, itu membuatku semakin menautkan alis.


"Daffa kalah taruhan sama saya, Bu," bisik Khaira yang membuatku menggelengkan kepalanya. Ia justru tersenyum melirik ke arah Daffa.


"Ayo, masuk Ra."


"Makasih." Aku memandu Khaira untuk duduk dan bergabung dengan yang lain. Mami yang memang punya jiwa usil terus mengusik Khaira dengan bertanya ini dan itu.


"Kamu pacar Daffa? Kenapa mau sama Daffa?" Beliau mendekati Khaira hingga gadis itu tertunduk malu.


"Dia bukan pacar Daffa, Mi!" protes Daffa yang sepertinya tengah jengah dengan kehadiran Khaira. Aku menata bunga pemberian Khaira dan meletakkan di meja ruang tamu, tepat di depan Khaira. Daffa berdiri dengan melipat tangan di depan dada.


"Kak, kamar tamu di mana?"


"Mau ngapain kamu?" Mami sontak bereaksi mendengar Daffa bertanya letak posisi kamar pada Maher. Belum juga Maher menjawab, Mami terlihat uring-uringan. Sepertinya beliau tidak mengizinkan Daffa untuk meninggalkan Khaira.


"Daffa ngantuk, Mi. Mau tidur.


"Itu di sana," jawab Maher yang menunjuk lurus lalu tepat di sebelah kanan Daffa persisnya ruangan persegi itu.


"Kamu mau tinggalin pacar kamu sendirian, hah?!"


"Ck!" balas Daffa malas dan segera berlalu menuju arahan kakaknya tadi.

__ADS_1


"Biarin dia, Mi. Mungkin masih ngantuk."


"Kamu, kalau sama adikmu itu selalu aja belain. Heran. Padahal kalau jumpa ribut terus!" omel mami yang mengundang tawa di wajah ayu Khaira.


"Udah dong, Mi. Malu sama pacarnya Daffa. Siapa namanya?" aku sontak memukul lengan Maher, ia menoleh. Aku melotot padanya, "Mi, aku ke sana ya. Mau gabung sama Abah juga Abi. Sayang, kamu temeni mereka, ya."


"Ya, Mas."


Ibu bersama Bu Tejo datang bergabung, mereka menghidupkan suasana dengan bersenda gurau.


"Assalamualaikum. Siti ...." Fadila langsung memeluk tubuhku, tidak dihiraukannya pria manis yang tengah menggendong buah hatinya. Umi mengekor, aku menyambut kedua sahabatku.


"Kamu, masih langsing aja, sih."


"Begituan sakit tau, nggak!"


"Sakit bentar aja, Ti."


"Bentar apanya. Ini aja jalan masih susah." Aku langsung merapatkan bibir, bersyukur Umi yang sejak tadi berbicara denganku tidak fokus.


"Jadi kamu udah ngelakuin itu!" seru Fadila dengan begitu antusias. Aku langsung menutup mulutnya. Maher melangkah mendekat, ia memeluk bahuku.


"Sayang, lepasin dong Fadila. Kasihan dia. Maaf ya, Mas. Istri saya berbuat tidak sopan begini."


"Aw! Sakit, Fa." Aku menarik jemari yang digigit Fadila. Gadis kecilnya menangis, ia langsung menggendongnya.


"Saya sudah biasa melihat mereka begini, Ustadz."


"Ya. Saya juga," timpal Maher yang diiringi tawa bersamaan dengan suami Fadila.


"Assalamualaikum." Suara berat Pasha mengubah suasana kami yang tadinya hangat menjadi dingin dan mencekam. Maher terlihat akan melangkah maju, tapi kutahan.


"Pasha. Sini gabung sama kita." Umi melambaikan tangan padanya, Pasha melangkah mendekat. Aku menyapu pandangan ke arah abi yang tegang menatap tajam Pasha.


"Hai," sapanya sedikit canggung, "maaf. Aku nggak bisa lama-lama. Di rumah ada yang nungguin. Aku kemari mau ajak Ibuku pulang."


"Ada apa, Sha?" timpal Bu Tejo yang peka terhadap kehadiran Pasha. Beliau terlihat bingung, Pasha menoleh dari raut wajahnya terlihat cukup serius.

__ADS_1


__ADS_2