
Sorot mata abi tajam menyapu ke arahku dan Pasha secara bergantian. Jantung sudah mencolos berlarian di lantai ruang tamu.
Abi menyilangkan tangannya di belakang, lalu terkesiap menantang Pasha. "Apa yang kamu punya?"
Pasha tertunduk diam, aku mengerutkan dahi menanti jawaban Pasha. "Pasha, sekali lagi saya tanya. Apa yang kamu punya!"
Pasha diam seribu bahasa, ia tampaknya ragu-ragu. Bukan materi yang diminta abi kala menanyakan hal semacam itu. Melainkan tiang agama yang kuat untuk membimbing anaknya menuju surganya Allah. Aku membuang napas kasar, menggambarkan kelima jari di pipinya. Menyadarkannya dari hal yang mustahil untuk ia gapai.
Ia masih terdiam. Aku berlari kecil menuju kamar. Saat di ambang pintu terdengar Pasha berkata, "Saya telah menyentuh Siti, Ustadz."
"Bohong! Pasha bohong, Bi!" Abi menaikkan sebelah alisnya menatapku yang sudah berderai air mata. Aku belum sempat digagahi oleh Pasha.
"Ikut Abi ke rumah sakit sekarang juga!" perintah Abi dengan tegas.
"Assalamualaikum." Ibu pun pulang dari pasar. Ia heran dengan suasana yang terlihat mencekam dan cukup menegangkan di sini.
Belum lagi, Pasha yang masih terpatung di halaman. "Ada apa ini?"
"Kita harus bawa Siti ke rumah sakit."
"Kamu sakit, Nak?" Punggung tangan ibu berada di dahiku.
"Kita harus memeriksakannya. Ia masih suci atau tidak," ucap abi yang mengambil kunci mobil di dekat meja.
"Astaghfirullah, apa maksud semua ini, Bi?" Abi tidak menjawab, beliau hanya berlalu menuju kendaraan roda empat milikku.
Aku hanya bisa pasrah dengan perintah abi. Aku mengekor mengikuti langakah abi, ibu merangkul bahuku dan mengusapnya lembut. Dalam hati aku menangis sesegukan. Cobaan yang Allah kasih terlalu berat untukku.
Sesampai di rumah sakit, kami menunggu antrian dokter kandungan. Setengah jam menunggu, giliranku pun tiba, aku masuk bersama dengan abi juga ibu. Langkah terasa berat untuk melakukan itu.
Mengapa abi tidak bisa percaya pada putrinya sendiri. Aku juga tahu dosa dan batasan. Didekati pria saja aku menghindar, mana mungkin aku melalukan hal hina sedemikian rupa.
Benar, memang hanya Pasha yang berani menyentuhku. Tapi tidak berhubungan suami istri. Bahkan, tanganku saja digenggam olehnya aku menghindar. Entah setan apa yang merasuki Pasha tadi hingga gelap mata.
Aku diperiksa sesuai arahan dokter. Sekian menit, hasil pun keluar. Aku dinyatakan masih perawan dan tidak pernah disentuh pria mana pun.
"Besok Abi akan urus semuanya untuk pernikahan kamu."
Ibu tampak bingung menatap kami. Abi melangkah duluan menuju tempat parkir. Aku harusnya berbangga diri karena menjaga kehormatanku dengan baik.
__ADS_1
Sesampai di rumah, kami bertiga masuk dan duduk di ruang tamu. Abi terkesiap dengan posisinya, ibu terus menyapu pandangan ke arah kami berdua.
"Sebenarnya ada apa ini, Bi?" tanya ibu yang masih penasaran.
Abi merogoh saku baju kokonya dan mengambil ponsel dari sakunya.
"Assalamaualaikum, Nak Safar. Lagi sibuk tidak?" ucap beliau yang terkesan basa-basi, "begini, sekiranya nanti malam ada waktu tidak untuk bersilaturahmi ke rumah saya?"
Aku menyatukan kedua alis, menahan napas sebentar mendengar ucapan abi pada seseorang di seberang telepon.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Saya akan menjamu dengan baik. Assalamualaikum."
Setelah mengakhiri panggilan, abi menari napas panjang. Belia terlihat mengenggam tangan ibu yang berada di sampingnya.
"Siapkan makan malam, ya. Kita akan bertemu dengan calon besan."
"Bi, ada apa ini sebenarnya?"
"Ibunya Siti Maryam, Abi hanya ingin menjauhkan anak kita dari zina. Jika mereka tidak menolak, maka besok pernikahan Maryam akan dilangsungkan di rumah ini."
Aku memalingkan wajah sejenak, meremas kedua tangan. Kesal, marah dan ingin sekali berontak keinginan abi.
"Tapi, Bi?"
"Diam kamu! Kejadian hari ini tidak boleh ada yang tahu. Siap tidak siap kamu harus menikah besok!" tandas abi yang langsung berdiri.
"Bukankah lebih baik menikahkan aku dengan Pasha, Bi? Dia sudah menyentuh tubuhku."
"Siti Maryam! Tidak ada penolakan! Bahkan, meski dia sudah melakukan zina padamu, Abi tetap tidak akan menikahkan kalian. Mengerti!"
"Astaghfirullahalazzim, ada apa ini sebenarnya, Bi?"
"Tanya saja pada Maryam." Abi langsung masuk ke kamarnya, meninggalkan kami berdua. Aku menangis hingga tubuhku bergetar, ibu memelukku.
"Katakan sama Ibu, Sayang. Ada apa sebenarnya?" tanyanya yang membawa diri ini duduk perlahan di sofa. Beliau menyapu lembut punggungku.
"Bu, sebenarnya tadi siang ...."
"Ya, nggak apa-apa, Sayang. Cerita sama Ibu."
__ADS_1
"Mahkota Siti hampir direnggut paksa oleh Pasha," ucapku diiringi dengan tangis dan suara parau.
"Allahu akbar." Ibu kembali mendekapku dan kian erat. Aku menenggelamkan wajah di bahunya.
"Maafin, Ibu ya Sayang. Ini salah Ibu yang meninggalkan kamu sendirian di rumah." Aku hanya terus menangis dan mengeratkan pelukannya. Sungguh, membayangkannya saja sudah membuatku takut.
Wajah beringas Pasha terus menari-nari di pikiranku. Aku meremas kuat baju ibu. Ibu menepuk-nepuk pundakku.
"Udah, Sayang. Allah selalu lindungu hamba-Nya. Tapi kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya beliau melepaskan pelukannya, aku mengangguk. Ia mengusap air mataku.
"Sudah. Berhenti menangis. Ada Ibu. Sekarang, kamu istirahat di kamar, ya. Biar Ibu yang siapkan semuanya untuk nanti malam."
Ba'da Isya keluarga yang ditunggu-tunggu abi datang. Sebuah mobil hitam berukuran besar nampak terparkir di depan rumah.
Abi juga ibu terlihat menyambut mereka. Berbeda denganku yang ogah-ogahan untuk ikut bersama abi juga ibu. Namun, ibu menarik pergelangan tanganku dan berdiri di sampingnya. Aku menunduk dalam, malas untuk sekadar melihat calon suamiku. Takut zina mata.
"Assalamualaikum." Terdengar suara lembut wanita paruh baya.
"Waalaikumsalam," jawab kami serentak, "silakan masuk," ajak abi.
Aku masih tertunduk diam. Salah satu pria melewati diriku.
"Ini rumah Bu dosen cantik, ya. Wah, secantik yang punya." Aku sontak mendongak mendengar suara yang tidak asing itu.
"Daffa?" aku menyatukan kedua alis, "kamu ngapain di sini?"
"Mau jadi calon suami Ibu," ucapnya tanpa dosa dan tersenyum kegirangan.
Wanita paruh baya di sampingnya menarik daun telinga Daffa. Ya, hanya dia pria di sini. Berarti dia yang akan jadi calon suamiku? Ya Allah, dia masih bocah.
"Aw, sakit Mi," ucapnya sambil mengusap daun telinganya yang tampak sudah memerah.
"Maafkan anak saya. Dia memang suka usil dan susah diatur. Beda dengan kakaknya."
"Kakak?" desisku kembali menatap semua orang bingung. Hanya ada tiga orang yang hadir di rumahku sekarang.
"Haha. Biasa itu, Bu. Namanya anak muda, pasti susah diatur. Maryam saja kadang-kadang sulit saya kendalikan," kata abi untuk mengubah suasana agar tidak canggung.
"Maaf kedatangan kami kemari tanpa Safar. Padahal dia calon pengantinnya," ucap pria setengah baya yang mengenakan kopiah putih juga janggut yang sedikit panjang di bawah dagu.
__ADS_1