
"Bu dosen cantik aku mana, Kak?"
"Bu dosen cantik kamu Kakak simpan. Dan, siap-siap kamu bakal patah hati lebih dalam lagi kalau istri kesayangan Kakak hamil."
"Kak...! Apa! Siti udah hamil, Safar?"
Dari yang terdengar, suara mami langsung menyambung. Maher hanya tersenyum membalas ocehan itu.
"Kak, aku nggak rela ya Bu dosen cantik aku kamu gituin. Awas aja! Aw, sakit Mam."
Aku sudah bisa tebak apa yang terjadi di sana dari yang terdengar. Daffa pasti tengah dipukul oleh mami karena sikap kekanak-kanakannya.
"Safar, Mami mau dengar kabar baik secepatnya, ya. Ini Abah mau ngomong."
"Assalamualaikum, Bah."
"Waalaikumsalam. Gimana di sana? Semua baik-baik aja 'kan?"
"Alhamdulillah, Bah.
"Oh, ya. Kamu lusa jadwal umrah, 'kan?"
"Ya, Bah. Insya Allah."
"Sekalian singgah ke toko karpet kita, ya. Sekalian juga bawa oleh-oleh untuk Ustadz Abdul Latif. Jangan lupa itu."
"Ya, Bah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilan sudah berakhir, Maher masuk ke kamar hotel. Sedangkan aku, masih berperang dengan pertanyaan-pertanyaan tentang yang baru saja aku dengar.
Toko karpet? Di Mekah? Ya Allah, kenapa banyak hal yang belum aku tahu tentangnya dan keluarga. Abi nggak salah menjodohkan aku dengan keluarga kaya seperti ini.
Suara jentikan jemari membuyarkan lamunan. Maher memeluk dari belakang dan membawaku bermain air dengannya. Entah kapan ia masuk, aku sama sekali tidak mendengarnya.
Puas bermain air di kolam, kami bangkit dan kembali membersihkan diri. Kulit juga sudah hampir terbakar karena matahari yang sudah mulai tinggi.
Derajat panas di Dubai jauh berbeda dengan Indonesia. Di sini, empat puluh derajat celcius itu sudah cuaca normal. Bagi kita, di atas tiga puluh derajat saja sudah banyak mengeluh.
__ADS_1
Allahu akbar, nikmat Allah yang mana lagi yang akan kita dustakan. Allah Maha Adil, tapi kadang kita selalu mengeluh dan menyalahkan-Nya atas segala sesuatu. Harusnya kita malu sebagai hamba, Dia satu-satunya tempat mengadu. Bukan mengeluh, biarkan Ia mengatur sebagaimana baik-baiknya atas hamba-hamba-Nya.
"Yuk, Sayang. Mas udah siap."
Aku menyapu pandangan dari ujung kepala hingga kaki. Benarkah ini suamiku yang selalu omesh dan bucin itu?
"Mas, ini kamu nggak salah?"
"Salah?"
Ia mengenakan kemeja yang digulung hingga siku dan dibiarkan terbuka, dengan dilapisi kaos dalam berwarna putih. Celana jeans warna denim dipadukan dengan sepatu boat coklat setinggi lima centimeter di atas mata kaki. Tidak lupa kacamata melekat di tulang hidung mancungnya.
Aku menganga dan berkedip sesekali. Masya Allah, ia sangat tampan. Persis Sharukh Khan versi Malang. Boleh dong, aku mendefenisikan dia seperti aktor idolaku yang semakin tua justru semakin menggairahkan.
"Sayang," ia mengahalau pandanganku yang masih kaget luar biasa, "apa mau Mas ganti aja pakaiannya, ya? Nggak cocok, ya?"
"He uh? Bukan, bukan itu maksudnya. Ini tuh out of the box, Mas."
"Hehe." Ia menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.
"Aku boleh juga dong pake celana jeans kayak kamu gitu. Boleh, ya," rayuku yang mendekati wajahnya.
"No!"
"Sayang, perempuan itu seluruh yang ada di tubuhnya aurat. Hanya telapak tangan yang boleh terlihat. Apa kamu mau Mas suruh pake cadar aja, ya? Biar cuma Mas doang yang bisa lihat keindahan wajahmu."
"Mas," gerutuku menjembikkan bibir kesal lalu sedikit menghentakkan kaki meninggalkannya menuju koper.
"Mas juga ganti. Ini pake!" aku melemparkan sarung asal, "itu juga aurat."
"Maksud kamu begini?"
Ia memakai sarung itu seperti akan salat, tapi tidak melepaskan apa yang ia pakai tadi. Aku mengulum senyum melihatnya, sumpah dalam hati sudah jungkir balik tertawa.
"Ya!" tandasku yang langsung beralih pandang karena tidak kuat menahan tawa.
"Nggak match, dong."
"Biarin!" Aku bersungut melirik sekilas ke arahnya yang masih berdiri memandangi pinggang ke bawah.
__ADS_1
Suara ketukan pintu kamar membuatku segera melangkah ke sana.
"Siapa itu, Mas?" Ia hanya mengendikkan bahunya, dengan bibir yang sudah manyun.
Aku membuka pintu kamar, staf hotel berdiri dengan gagah seraya membawa paper bag, berlogo kepala wanita yang itu merupakan brand ternama internasional.
Aku mengambilnya dan menandatangani tanda terima. Meski bingung, aku menatap ke arah Maher yang tengah bersiul, tangannya berada di belakang pinggang.
Pria itu pun pamit, tentu hijab aku sudah kenakan. Aku melihat isinya. Midi dress warna hitam penuh dengan motif dan corak berwarna emas, dari yang terlihat ini bukan baju murah. Mewah, itu kesan pertamaku melihatnya.
Lalu, sebuah handbag warna hitam dengan logo yang sama. Aku mengerutkan dahi, melihat semua ini. Rasa penasaran akan harga pasti bersarang dalam benakku sekarang. Belum usai dengan benda yang masih aku pegang, paper bag tadi jatuh.
Sepasang sepatu flat warna senada dengan tas terlempar keluar. Masih dengan logo yang sama.
"Mas?" ia hanya melirik dan berpura tidak mengerti dengan keadaan ini, "kamu tahu semua ini, 'kan?"
Kedua tangannya di saku celana depan, lalu menunduk memainkan kaki ke depan dan belakang.
"Mas, cuma bisa kasih itu sama kamu."
"Cuma? Mas tahu harga semua ini berapa?" ia seperti ingin menyembunyikannya. Dari raut wajahnya penuh dengan rasa bersalah sepertinya.
"Sini." Aku menarik lengannya dan duduk di sofa, membuka google untuk mencari merk itu. Muncul semuanya di sana beserta harga.
"Lihat, Mas," tunjukku dengan lirikan mata mengarah ke layar ponsel.
"Maafin Mas, Sayang. Mas cuma pengen kasih hadiah untuk kamu. Itu juga kepikirannya waktu lihat rok plisket kamu yang warna hitam, jadi Mas inisiatif beli itu," jawabnya masih dengan tertunduk lesu sembari memainkan jemarinya.
"Tapi, Mas. Ini tuh mahalnya kebangetan. Nggak masuk akal. Masa' dress begini aja 58 juta."
"Ya, 'kan Mas ikuti saran nabi. Membahagiakan istri akan mengalir rezeki untuk suami. Sedekah sama istri itu memperkaya suami di dunia dan akhirat. Dari yang Mas dengar sih, begitu."
"Mas, bayangin baju yang aku pake segitu mahal. Dengan harga segitu, kamu, kita, bisa kasih makan anak yatim di berapa panti asuhan? Atau bisa sedekah berapa masjid?"
Aku berdiri berkacak pinggang melihatnya yang hanya tertunduk seperti ayam kedinginan. Benar, harusnya aku bahagia diberi hadiah ratusan juta. Tapi, aku terlalu malu menerimanya.
Maher menarik ujung bajuku, lalu menyodorkan ponsel. "Jual lagi aja, Sayang."
"Nggak usah! Biar aku pake aja. Tapi ingat, besok-besok kalau beliin baju jangan norak begini modelnya," jawabku menahan senyum melihat ekspresinya yang langsung terbelalak.
__ADS_1
Buru-buru ia berdiri melihat wajahku. Aku terus saja menghindarinya. Aku tidak benar-benar marah padanya, hanya meluapkan rasa kesal tidak diperbolehkan mengenakan celana jeans seperti dia.
Maher terus saja mengitari tubuhku untuk melihat semburat senyuman yang sudah menghiasi pipi. "Kamu ngerjai, Mas?"