Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Keahlian Pasha


__ADS_3

Aku merapatkan bibir mengusap jemari berputar bergantian. Keringat dingin sudah membanjiri tubuhku. Aku resah juga gelisah akan memulai dari mana.


"Em ...."


"Duduklah," pintanya yang menepuk-nepuk sofa pelan. Ia mengusap pucuk kepalaku lembut, jari telunjuknya mengusap pipiku.


"Katakan, jangan jadikan beban di hatimu."


"Mas, apa tidak sebaiknya perjalanannya kita tunda sebentar?"


"Kenapa?" Tatapannya sendu, suaranya lembut dan tersirat kecewa dari nada bicaranya. Ia memegang kedua tanganku, membawanya ke atas pahanya.


"Aku ingin semuanya baik-baik saja, Mas. Tidak ingin memperkeruh keadaan yang sudah sulit ini."


"So?"


Aku memejamkan mata sejenak, mengatur napas untuk memberanikan berbicara apa yang ada di otakku. "Mas, pandang Abi juga Ibu yang masih menjaga silaturahmi dengan Bu Tejo. Semuanya berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Bisakah hatimu melakukan itu juga, Mas?"


"Hal itu sangat ... sangat sulit untuk Mas. Tapi, Mas usahakan demi kamu."


"Terima kasih, Mas."


**LA**


Dedaunan di halaman sekitar rumah sudah dibasahi oleh embun, aku berdiri di balik kaca bening yang langsung dimanjakan mata ini melihat penghijauan.


Maher melingkarkan tangan di pinggangku dari belakang, aku mengusap punggung tangannya. "Pagi ini indah ya, Sayang." Ia melekatkan pipinya di wajahku, lalu mencium pundakku.


"Mas yakin nggak apa-apa?"


"He eh. Untuk kali ini Mas berbesar hati. Tapi, lain kali ... jangan harap, oke?"


Aku mengangguk, Maher mencium pipiku. "Ayo, siapin koper kamu. Mas nggak tahu apa-apa aja yang kamu perlukan."


"Hah? Bukannya kita tunda ya, Mas keberangkatannya?"


"Bener," jawabnya santai dan sekenanya. Maher sudah melepaskan pelukan tadi berjalan menuju koper kecil berwarna hitam yang masih terbuka. Hanya setengahnya yang sudah terisi.


Aku terbelalak melihat sekitar, Maher mengulum senyum. Sulit bagiku mengartikan raut wajahnya. Ia kemudian beralih mendorong tubuhku dari belakang menuju lemari.

__ADS_1


"Pulang dari pernikahan Pasha kita langsung ke Bandara, oke," bisiknya yang menepuk kedua bahuku pelan lalu pergi ke keluar kamar. Suara sepeda motornya terdengar meninggalkan rumah.


Sekian menit ia kembali, meskipun bersungut aku tetap mematuhi perintahnya. Koper sudah tertutup rapat dan berada di sisi kamar.


"Dari mana, Mas?"


"Beli makan. Yuk, kita makan."


"Selesai makan kita langsung berangkat ya, Mas. Nggak enak kalau kelamaan sampai di sana."


"Ya."


Satu jam setelah makan, kami pun sudah bersiap-siap akan berangkat. Maher mengenakan baju koko kekinian yang bisa dipadukan untuk acara kondangan. Aku memilih gamis yang menurutku layak dan pantas, juga tidak merendahkan harga diriku dan Maher.


Gamis dengan model kembang dan lengkap dengan mutiara di sisi pinggang, make up aku poles senatural mungkin. Tidak mencolok juga tidak biasa saja. Maher cukup tampan dengan baju yang ia kenakan, celana semi jeans berwarna denim melengkapi wajah dan tubuh sempurnanya.


Sebelum berangkat, aku sudah memesan kado untuk diberikan pada Pasha. Ya, walau bagaimanapun tidak mungkin datang dengan tangan kosong. Maher mengangkat benda yang cukup besar itu dengan kedua tangan lalu memintaku untuk mengunci pintu.


"Ini isinya apa sih, Sayang. Mas sampe ke tutup gini."


"Bed cover satu set, Mas."


"Hem, Mas lupa. Kunci mobil sudah Mas kantongi tadi. Tolong ambilkan di kantong, Mas."


"Kemeja?"


"Ini," tunjuknya dengan menyodorkan pinggang sebelah kirinya. Aku mulai mengikuti arahannya. Sedikit sulit tanganku untuk menggapai kunci tanpa mainan itu.


"Geli, Sayang."


"Jadi gimana? Kalau ngga Mas letakin dulu itu di bawah, baru ambil kuncinya."


"Kepala tanggung, Sayang. Tangan kamu juga udah masuk ke sana." Jemariku terus merogoh semakin dalam dan bergerak mencari.


"Aduh, kamu bangunin yang sedang tidur. Jangan sekarang, dong. Entar aja kalau udah sampe di Dubai."


"Ih, Mas. Mana aku tahu kalau kesenggol."


"Jangan-jangan kamu sengaja, ya. Biar kita nggak jadi pergi," ucapnya yang mendekatkan hidungnya di wajahku.

__ADS_1


"Au, ah."


"Ya Allah, gitu aja ngambek. Entar Mas gigit lho hidungnya. Ke dalam lagi, Sayang. Kuncinya di pangkal kantong."


Dengan susah payah akhirnya aku bisa menemukan kunci pajero sport itu. Bergegas menekan remote kontrol membuka mobil. Maher berjalan menuju bagasi.


Lengannya tampak memerah bekas membawa kado tadi. Ia terlihat meregangkan otot-ototnya. Mengibas-ibaskan tangannya yang mungkin kram.


Maher mengemudikan mobil dengan sesekali menarik lengkungan senyum di wajahnya. Aku masih saja bersungut dengan kelakuannya barusan. Malu, lebih tepatnya itu yang menggambarkan suasana hatiku saat ini. Ya, ini kali pertamanya aku menyentuh area itu. Maher mencubit-cubit punggung tanganku.


"Sayang," panggilnya yang memecahkan lamunanku. Aku menjawab dengan deheman.


"Istri Mas ini kenapa sih suka banget ngambek-ngambek." Tangannya sudah mencubit gemas pipiku.


Malas menjawabnya, sebenarnya bukannya sedang merajuk. Hanya saja, aku terlalu malu untuk mengakui rasa di dada.


"Oke, kita udah sampai. Yuk, Sayang." Sepeti biasa, Maher membukakan pintu untukku. Lengannya ia naikkan untuk aku gandeng. Aku melingkarkan jemari di sana lalu berjalan bersama menuju rumah Pasha.


Abi juga ibu sudah hadir di sana. Mereka menyambut kedatangan kami dan memandu untuk bergabung bersama mereka. Tenda seluas halaman Pasha terpasang sedemikian indah. Pelaminan juga sudah tertata di sisi kiri rumah Pasha.


Maher tengah berbincang serius dengan abi. Aku masih setia duduk setelah memberikan kado yang kubawa tadi pada dayang yang menjaga meja tamu di depan. Pasha keluar dengan begitu gagahnya dibalik setelan jas berwarna hitam.


Gadis tempo hari yang kulihat datang ke rumah Pasha menggandeng lengannya. Wajah ayunya dihiasi lengkungan senyum yang mengembang menyapa tamu undangan. Sejujurnya ini begitu mendadak, semoga ini jalan terbaik untuk hidup Pasha dan aku.


"Kamu mau makan lagi, Sayang?"


"Ah? Enggak ah, Mas. Nanti aja, ya."


"Oke. Abi ajak Mas makan, jadi Mas duluan, ya. Enggak enak kalau nolak," bisiknya yang sekilas ingin menciumku, aku segera menghindar.


"Mas mau Siti ambilkan makannya?"


"Nggak usah, kamu tunggu di sini, ya." Aku mengangguk, ia pun berjalan bersama abi menuju meja prasmanan yang tidak jauh. Ibu tengah sibuk mengatur makanan yang tersedia di sana. Mungkin memberi arahan kepada orang-orang yang tengah menjaga hidangan untuk para tamu.


"Siti, terima kasih karena kamu sudah mau hadir." Pasha mendekat bersama sang istri.


"Ya." Singkat, padat dan cukup berat menjawabnya dengan jarak kami sekarang yang bisa saja mereka salah paham akan kedekatan kami.


"Kau tahu aku paling unggul dalam hal apa?" tanyanya yang sedikit mendekat ke arahku. Aku menoleh sebentar memberi jarak dan mencoba mencerna kata-katanya.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Aku unggul dalam tiga hal, Siti. Mencintaimu, menghancurkan kepercayaanmu dan yang paling unggul adalah menunggumu. Itu keahlianku."


__ADS_2