Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Diketahui Publik


__ADS_3

"Abi, ah!" ucapku merengek dan meninggalkan beliau. Berjalan menuju musala. Ya, azan sudah berkumandang. Para santri juga tengah bersiap untuk melaksanakan kewajiban setiap muslim.


Aku mengambil wudu lalu masuk menuju ke musala setelahnya. Mengambil mukena asal dan ikut berdiri memenuhi saf.


Lantunan ayat suci telah terdengar dari abi yang memimpin salat berjamaah kali ini. Aku paham betul suara beliau. Setelah salam dan berdoa, aku segera keluar memakai kaos kaki juga sepatu.


Maher duduk di sampingku entah sejak kapan. "Makasih ya, Sayang. Kamu udah perhatian sama Mas," ucapnya mengelus pucuk kepalaku.


Aku menghalau tangannya. Ia justru tersenyum. "Istriku ini kenapa nggak selesai-selesai, sih ngambeknya."


Aku bangkit setelah mengenakan semuanya, menyapu gamis di hadapannya. Ingin rasanya kutinggalkan dia begitu saja. Tapi, apa pandangan orang-orang.


Dengan begini saja para santriwati yang melintas sudah terlihat berbisik-bisik. Mungkin mereka menganggap aneh ustadz tampan dan baru mereka sudah duduk bersebelahan dengan yang bukan mahromnya.


Belum lagi sekarang, sikap agresifnya menuai pro kontra semua orang. Tanganku sudah berada di genggamannya.


"Ayo. Nggak enak kalau terus-terusan jadi pusat perhatian. Takut tersebar fitnah, kasihan mereka."


Aku mengikuti langkahnya yang menuju ke taman belakang. Dia baru satu hari di sini, tapi kenapa sudah paham betul letak denah pesantren ini.


Kami berdua duduk di bangku keramik taman. Dengan penuh semangat ia membuka tas yang kubawa sedari tadi. Wajahnya begitu bahagia. Lengkungan senyum tidak berhenti terlukis di sana.


"Alhamdulillah. Walaupun bukan kamu yang masak, tapi kamu udah bawain ke sini aja Mas udah seneng banget."


"Apaan sih, Mas. Aku cuma takut dosa aja karena keluar tanpa izin suami," ucapku melipat tangan di depan dada. Dia mengernyitkan dahi, sepertinya bingung mengartikan kata-kataku.


"Kamu nggak baca wa dari aku?" tanyaku yang menatapnya dengan tajam. Maher langsung merogoh saku celananya. Membaca pesan yang kukirim sejak pagi.


"Ketemu temennya di mana?" tanyanya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. Aku diam, tidak ingin memberitahunya.


"Mas anter, ya?"


"Nggak usah! Aku 'kan pengen ketemu temen-temen aku!"


"Ya, tapi Mas antar, ya. Kalau nggak, kamu nggak boleh pergi."


Aku menarik napas panjang. Malas untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Kamu diam, berarti ya. Bagus, sering-sering diam ya, Sayang." Tangannya merangkul pinggangku. Langsung kutepuk kuat lengan berotot itu. Sontak ia melepaskannya.


Aku sudah berada di lingkungan tempat biasa berkumpul dengan para sahabatku. Umi dan Fadila telah duduk di kafe. Kali ini, aku tidak melihat Pasha, kebiasaannya sih selalu sudah hadir bersama mereka.


Aku melambaikan tangan seraya mengucapkan salam. Maher berdiri di sampingku. Umi dan Fadila terlihat saling sikut memperhatikan kami yang datang bersamaan, juga hampir tidak ada jarak. Belum lagi, Maher merangkul bahuku.


"Waalaikumsalam," jawab mereka dengan wajah aneh dan saling pandang. Aku dan Maher bergabung dengan mereka.


"Pasha mana? Biasanya juga bareng kalian?" Mereka berdua kompak mengangkat bahu.


"Pasha? Tetangga, sekaligus saksi pernikahan kita itu ya, Sayang?" tanya Maher tiba-tiba yang membuatku menutup mata sebentar. Aku yakin kedua sahabatku ini akan memekikkan suara mereka.


"Siti ...!" teriak mereka bersamaan yang memekakkan telinga.


"Apa?"


"Kamu nikah kok nggak bilang-bilang!" ucap mereka serentak. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Tanganku yang di atas meja langsung disapu lembut oleh Maher.


"Mas boleh jelasin ke mereka?"


"What?! Mas?" Lagi mereka kompak.


"Allah yang mengatur semuanya, Mbak," timpal Maher yang membuat kedua sahabatku kini memandangnya dengan penuh pesona.


Aku mencubit pipi mereka agar tersadar. "Zina mata."


"Ya Allah, Ti. Dengar suaranya aja udah adem banget," kata Fadila seraya meletakkan tangan di depan dada.


"Assalamualaikum." Suara Pasha mengaburkan pandangan mereka dan menolehnya yang kini sudah duduk di samping Maher.


"Walaikusalam," jawab kami semua serentak.


"Sha, kamu kok nggak bilang-bilang kita kalau kamu jadi saksi pernikahan mereka berdua?"


"Ck! Ngapain aku bilang-bilang, kalau yang nikah aja nggak mau ngomong."


Fadila menyipitkan matanya memandang kami bertiga seperti terdakwa.

__ADS_1


"Kamu nggak hamil 'kan, Ti?"


"Astaghfirullah, Fadila. Kamu sendiri juga tahu aku gimana."


"Alhamdulillah, kami menikah bukan karena ada sesuatu hal. Hanya ingin menghindari dosa," sambung Maher yang tersenyum lalu menyapu pandangan hanya untukku.


"Sayang, Mas tunggu di mobil, ya?" ia pun bangkit lalu melihat ke arah Pasha yang masih terduduk diam di sana, "Bro, kamu nggak ikut sama saya aja?"


Pasha mendongak melihat Maher. Sorot matanya tidak begitu menyenangkan. Hawa dingin terasa di sini hingga membuat kami meremang. Bulu kuduk ikut berdiri, seolah mereka tengah bertarung sengit dan mengeluarkan cahaya yang saling tarik menarik.


"Udah sana, Sha. Kamu ikut. Temeni tuh suami Siti," ucap Umi yang menginginkan percakapan para wanita. Aku hanya diam, malas berurusan dengan Pasha atas kejadian tempo hari.


Pasha pun akhirnya bangkit, dengan menarik tasnya kuat. Bergerak dengan tidak senang.


"Aneh tuh Pasha. Kayak ketemu musuh bebuyutannya aja," ucap Fadila yang terus melihat ke arah mereka yang berjalan bersama.


"Patah hati kali," jawab Umi yang membuat Pasha bereaksi.


"Bukan patah hati, lebih tepatnya menjaga hati!" timpal Pasha yang kembali ke sini mengambil benda pipihnya yang ketinggalan di meja. Kami semua tidak ada yang sadar akan hal itu.


"Jika dia tidak baik, datanglah padaku, Ti," bisiknya di telingaku dengan badan yang sedikit membungkuk. Deg! Dadaku bergemuruh mendengar kata-katanya.


"Sayang?"


Aku segera beralih melihat ke arah Maher yang melangkah mendekat. Pasha berdiri tegak, mengangkat tubuhnya yang sedikit membungkuk tadi. Kedua tangan diletakkan di saku celana.


Tatapan mata Pasha nyalang, menunjukkan tidak suka dan terkesan siap untuk bertarung. Cap lima jari Maher menyentuh dadanya, sedikit menjauhkan Pasha dariku.


"Tolong jaga jarak! Anda terlalu dekat dengan istri saya."


Pasha menarik sudut bibir ke atas, menghela napas sebentar. Jari telunjuknya menekan ke dada Maher.


"Sebelum Anda bertemu dengannya, saya sudah terlebih dulu dekat dengan dia."


"Ya, tapi itu dulu. Sebelum Siti menjadi istri saya. Sekarang, dia sudah seutuhnya menjadi milik saya! Tolong hargai itu!"


Maher menggenggam tanganku dan mengajak diri ini untuk pergi. "Maaf, saya harus membawa Siti pergi. Saya rasa sudah cukup pertemuan kali ini. Assalamualaikum."

__ADS_1


Aku, Fadila dan Umi terpelongo melihat mereka berdua. Fadila terlihat menggerakkan tangannya di leher seraya mulut berkomat-kamit. Umi menggigit ujung kuku, mataku terus menoleh ke arah mereka yang merasa tidak enak karena harus pergi dengan cara begini.


__ADS_2