
Kami pun tiba di universitas tempatku mengajar. Berkumpulnya para dosen seluruh Malang memang di sini. Bukan hanya luas, kampus kebanggaan kota ini cukup strategis dan mudah dijangkau.
Pasha melepas seat belt, lalu turun bersama dengan Maher. Maher membuka pintu mobil untukku, tidak lupa meminta tanganku untuk ia tuntun hingga keluar dengan selamat.
Perut yang memang cukup besar, membuatku sulit melihat ke arah bawah. "Pelan-pelan, Sayang."
Setelah merasa aman dan selamat, Maher membuka bagasi. Mengambil koper milikku yang ia simpan di sana.
Kami bergabung bersama rombongan yang sebagian sudah memenuhi halaman parkir dekat bus pariwisata yang sudah berjejer rapi di sana.
"Assalamualaikum..."
Mereka kompak menjawab salam dari Maher. Ada yang berbisik-bisik entah tengah membicarakan apa. Salah satu pria yang seumuran dengan kami menghampiri.
"Ustadz Safar, bukan?"
"Ya."
"Foto dong Ustadz," ucapnya yang tangannya sudah naik dan segera menekan tombol kamera. Maher yang sebenarnya masih bingung, terpaksa memenuhi keinginan si empunya ponsel.
Para dosen yang notabenenya ibu-ibu bergerombolan datang berdesakan, aku terasing hingga menepi dengan sendirinya. Saat hampir terjatuh, Pasha dan Bu Ira dengan sigap menangkap tubuhku.
"Sayang!" jerit Maher yang langsung membelah orang sekitarnya.
"Maaf, Bu, Pak, saya tidak tahu kenapa kalian mengerumuni saya. Tapi, kalian membahayakan istri saya. Mohon maaf, saya tidak izinkan istri saya ikut Diklat ini."
Semua orang hanya menatap tanpa bersuara. Aku juga tidak bisa menolak, benar yang dikatakan Maher. Jika saja aku terjatuh tadi, bagaimana dengan kondisi bayiku.
Jelas kekhawatiran yang amat sangat dirasakan Maher. Mengingat ini buah cinta pertama kami. Sanksi atas ketidakhadiranku sudah menanti, biarlah. Jika memang keluar surat peringatan dari pusat, aku dengan suka rela menerimanya.
Maher membawaku masuk ke dalam mobil. Ia berbincang sebentar dengan Pasha, entah apa. Aku memandang mereka berdua dari balik kaca yang tampak serius.
Maher sudah berada di balik kemudi. Ia menangkup wajahku, memandangku lekat.
"Kamu baik-baik aja 'kan, Sayang?"
"Alhamdulillah, Mas."
"Kita pulang sekarang, ya."
"Tapi, Mas."
"Mas nggak mau kamu dalam bahaya. Orang-orang itu mengerumuni Mas karena perkataan Pasha saat tasyukuran kemarin begitu menohok, belum lagi judul si pengunggah buat. Mengundang kontroversi."
"Emang apa Mas?"
"Mantan yang diceramahi Suami."
Aku menarik napas pelan mendengar tajuknya yang viral menurut mereka. Aku sendiri sampai sekarang masih belum tahu seperti apa adegannya dan tidak berniat untuk tahu itu.
__ADS_1
Berniat menguburnya hingga menjadi buih yang hilang perlahan dibawa deburan ombak.
***
Tiga bulan sudah berlalu sejak kejadian di kampus kemarin. Usia kandunganku sudah masuk sembilan bulan. Maher setiap pagi selalu melantunkan selawat dan mengajak berjalan-jalan selepas salat Subuh.
Aku sudah mengajukan cuti melahirkan. Tinggal menunggu hari, dianjurkan oleh dokter untuk sering melakukan hubungan intim. Katanya, untuk membantu proses persalinan.
Seperti sekarang, rambutku sudah basah akibat mandi besar bekas perpaduan tadi malam, juga sebelum Subuh menjelang. Terkadang suka heran dengan Maher, padahal begituan cukup melelahkan juga menguras tenaga, tapi selalu saja mau.
Belum lagi perut buncit yang menghalangi, sedikit kesulitan padahal saat bersenggama. Namun, nafsu birahinya semakin membuncah. Katanya lucu dan gemas melihatku yang tanpa busana, seperti winnie the pooh. Karakter kartun yang perutnya buncit dan hanya mengenakan kaos merah tanpa celana.
Tak jarang, ia memintaku berada di posisi atas. Lebih menggemaskan dan menaikkan libidonya hingga ke ujung kepala, katanya. Ia juga turut membantu kala aku bergerak sedikit kesusahan. Sentuhan jemarinya yang terkadang mengelus pusat yang sudah bodong, menjadi candu tersendiri untukku.
Sekarang Maher bersiap akan mengunci rumah, aku berdiri di sampingnya. Jemarinya selalu usil, saat ada kesempatan. Sebelum benar-benar keluar, ia menyempatkan diri bermain di pusat payudara yang memang sudah tegang sejak awal kehamilan.
Aku memutar bola mata jengah. Maher tersenyum penuh arti. "Gemes, Sayang."
"Pulang nanti lagi, ya." Aku menarik napas panjang, Maher nyengir menampakkan baris gigi putih rapi miliknya.
"Yuk, Sayang." Dia yang memakai kaos warna abu juga celana training berjalan di sampingku yang mengenakan daster panjang, juga khimar yang belakangnya sampai pinggang.
Kala pagi begini, kami sering bertemu dengan ibu-ibu sekitaran kompleks yang hanya bertegur sapa sekilas. Meski cuma membalas dengan senyuman hangat.
Satpam sesekali berkeliling menaiki kendaraan roda dua.
Kejadian yang viral beberapa waktu lalu hilang bak angin yang berembus. Ya, walau tidak bisa dipungkiri, banyak orang yang sudah mengenal kami bertiga.
Maher terus saja menggenggam tanganku. Terkadang ia berjalan sembari melihat wajahku. Kedua kaki sudah bengkak, HPL memang sekitar sepuluh hari lagi.
"Mas, pengen makan bubur ayam."
"Hem?"
"Bubur ayam, Mas."
"Kita cari ke depan kompleks, ya."
"Kalau nggak ada, gimana?"
Maher merapatkan bibirnya, berpikir keras. Lama sekali baru menjawab.
"Gampang, masih ada Daffa."
Kami berjalan ke depan, benar saja. Tukang bubur mungkin sedang naik haji, makanya tidak berjualan hari ini. Kami kembali masuk ke area kompleks.
Duduk sebentar di bangku taman. Bukan tempat Maher menjotos Pasha, melainkan ini di lingkungan sekitar rumah yang tidak jauh dari pos satpam.
Maher merogoh kantong celana, menelepon Daffa sepertinya. "Ck! Ke mana sih nih anak, kok nggak diangkat-angkat."
__ADS_1
"Masih tidur mungkin, Mas." Aku memilih bangkit dan berjongkok membuka kedua paha, harus rajin melakukan itu, katanya untuk membuka jalan buat si orok.
"Atau kamu di sini dulu, Mas pulang ambil motor."
"Enggak mau ah, Mas. Aku mau ikut."
"Nggak mungkin dong, Sayang. Perut kamu udah besar begitu, susah naiknya."
"Em, kemarin-kemarin Mas belum tepati janji untuk berkeliling naik motor."
"Ya 'kan kamu keburu hamil, Sayang."
"Ya, aku hamil gara-gara Mas."
Maher mengusap wajah kasar, lalu menggaruk pelipisnya. Sekian detik kemudian, ia menelepon seseorang.
"Assalamualaikum... Bro, aku mau minta tolong. Belikan bubur ayam, ya."
Maher melirik ke arahku sebentar lalu melanjutkan kata-katanya. "Ya, yang di mana aja. Siti nggak mau aku tinggal. Bisa 'kan? Nggak ganggu jadwal kamu sama anak-anak, kan?" Maher mengangguk-angguk pelan, "oke. Kami tunggu di taman sekitaran kompleks ya."
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Maher ikutan berjongkok denganku seraya meluruskan kaki bergantian. Berolahraga ringan.
"Kamu telepon siapa, Mas?"
"Temen." Aku malas menanyakannya lagi panjang kali lebar. Aku mengatur napas untuk menunjang proses melahirkan.
Suara sepeda motor rx king terdengar nyaring. Lalu memarkir tidak jauh dari taman. Kami serentak menoleh, Pasha turun dan langsung menghampiri. Kulihat di genggamannya kantong plastik putih dengan stirofoam warna yang sama.
"Wah, cepet nyampenya."
"Ini yang kamu bilang temen kamu, Mas? Dia tuh sahabat aku."
"Ya, tapi sekarang kami 'kan udah temenan. Lagian, sahabat kamu Fadila sama Umi aja dong, Sayang. Biar Mas yang sahabatan sama Pasha gantiin kamu."
"Ck!" desah tersenyum tipis melihatnya yang sudah merangkul bahu Pasha.
"Kamu cuma bawa satu?"
"Ya. Kamu juga nggak bilang 'kan harus bawa dua atau tiga."
"Allahu akbar." Maher berkacak pinggang, menggelengkan kepala melihat Pasha.
"Kalian berdua sama 'kan? Nah, cocok sahabatan. Sini itu, Sha. Si orok udah laper ini."
Maher menatap kantong plastik itu dengan pasrah. Berdebat denganku juga sepertinya tidak mungkin, ia lebih baik mengalah demi si jabang bayi. Maher menyikut perut datar Pasha.
"Argh!" rintihnya seraya membungkuk memegang perutnya.
"Kita cuma jadi penonton Siti makan ini?" bisiknya yang masih bisa kudengar jelas, Pasha hanya terkekeh dan menggaruk tengkuk belakangnya.
__ADS_1