
Aku menahan geraknya. "Mas, aku nggak nyaman kalau terang begini."
Maher bangkit dan mematikan lampu, menggantinya dengan cahaya temaram yang terletak di nakas. Perlahan gamis yang melekat telah terbuka. Baju yang dikenakan Maher juga sudah ia lepas saat melangkah mendekatiku.
Dada polosnya kulihat dengan saksama, roti sobek bersarang di sana. Kini, ia mengukung tubuh yang sudah tanpa sehelai benang.
Mencium keningku, lalu beranjak turun menuju mata kanan dan kiri. "Biar kamu nggak lihat pria lain, selain Mas," ucapnya setelah melakukan itu.
Beralih ke bibir dihisap hingga bengkak. Jemarinya meremas dada, membuatku mendesah.
"Mas, mulai ya, Sayang," bisiknya yang siap melakukan perpaduan.
"Aw. Sakit, Mas," keluhku yang merintih.
"Masih di ujung, Sayang. Belum masuk," katanya yang berusaha dengan sekuat tenaga.
"Mas, aku nggak kuat. Sakit banget," ucapku diiringi derai air mata.
"Ya udah. Kita lanjut besok lagi, ya. Itu belum masuk, Sayang. Setengahnya saja belum," jelasnya yang kini sudah merebahkan diri di sampingku.
"Maaf, Mas."
"Nggak apa-apa, Sayang." Ia mengecup pelipisku lembut.
"Besok-besok nggak boleh nolak, ya."
"Ya, Mas."
"Kita coba lagi, sampai benteng pertahanan kamu roboh, ya. Habis itu, Mas nggak akan kasih ampun!" sambungnya lagi diiringi tawa. Aku memukul dadanya pelan. Tangannya kujadikan bantal dan kini wajah sudah berada di bahunya.
"Dasar Ustadz Omesh!"
"Biarin! Omeshnya sama istri sendiri. Mau tau omeshnya Mas gimana?" Ia menerkam tubuhku yang polos dan menciuminya untuk menggodaku.
"Kita coba lagi, ya."
"Ya, Mas," jawabku pasrah. Lagi, aku merintih kesakitan. Maher menghentikannya.
**LA**
Resepsi pernikahan kami digelar. Kami belum melakukannya lagi sejak malam di rumahnya kemarin. Terlalu sibuk mengurus segala keperluan untuk pesta seumur hidup sekali ini.
__ADS_1
Kami bersanding bak raja dan ratu. Menyambut para tamu yang hadir. Pasha tidak terlihat sejak beberapa hari terakhir. Hanya Bu Tejo yang ikut datang membantu persiapan.
"Sayang, nanti malam kita coba lagi, ya?"
"Ih, Mas. Itu ngomongnya entar aja waktu di kamar. Nggak enak kalau ada yang dengar!"
"Biarin. Biar mereka tahu kalau aku ini Ustadz Omesh," ejeknya yang mencubit pinggangku. Aku terkekeh.
Pesta meriah dengan dekorasi yang cukup memanjakan mata. Pelaminan terbentang lebar lengkap dengan hiasan bunga dan lampu kristal.
Serangkaian acara adat dan menampilkan rebana membuat kami cukup menguras tenaga. Para tamu undangan terlihat ramai memeriahkan halaman rumahku.
Kami sudah berada di puncak acara. Tubuhku terasa lelah dan ingin langsung merebahkan diri. Sudah sejak beberapa hari yang lalu kurang tidur.
Sesampai di kamar, aku membersihkan diri. Lalu setelah keluar dari kamar mandi, aku langsung tergeletak lemas di kasur tanpa menunggu Maher masuk terlebih dahulu.
Ia tadi terlihat berbincang dengan abi. Aku tidak sabar menunggunya, karena sudah merasa gerah dan terlalu lama menahan air seni. Juga penat satu harian berada di atas singgasana.
Azan berkumandang membuatku perlahan mengerjapkan mata, tangan meraba ke arah nakas mengambil ponsel. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul lima. Lalu menyapu pandangan ke arah Maher yang tengah menopang kepalanya, lingkar panda tergambar di bawah matanya. Sangat mengerikan.
"Astaghfirullah, Mas. Kamu nggak tidur?"
"Bagaimana bisa kamu tidur dengan begitu lelapnya? Bahkan aku telah lelah menggodamu, tapi kamu tidak bergeming."
Ia meruntuhkan kepalanya di bahuku. Merengek tanpa sebab. Jemarinya meremas dadaku, ini menjadi bagian favoritnya sekarang. Jika ada kesempatan, ia akan menyentuhnya dengan sesuka hati.
"Abi menyuruh Mas keluar kota. Meninjau renovasi pembangunan pesantren di Riau. Enam bulan sampai satu tahun. Mas sekalian mengajar santri di sana."
"Ya Allah, Mas. Maaf, aku yang nggak tahu situasinya jadi begini."
"Pesawatnya berangkat pukul delapan." Ia terus merengek seperti anak kecil menenggelamkan wajah di bantal.
"Ya udah, sekarang kita salat dulu, ya. Selepas salat kita coba lagi, siapa tahu Mas bisa merobohkannya."
Aku bangkit mengambil air wudu, yang diikuti olehnya. Di daerah sensitifku terasa hangat. Aku menggigit bibir bawah kuat. Mengecek ke sana.
Darah tertinggal di ****** *****. Waktunya kenapa nggak tepat begini, sih. Tamunya datang nggak pakai permisi.
Aku keluar kamar mandi dengan menjembikkan bibir bawah. Maher yang melihatku berdiri langsung bersemangat akan menancap gas setelah salat.
"Kita main express ya, Sayang," ucapnya dengan mata berbinar dan masuk ke kamar mandi. Aku hanya menggelar sajadah untuknya.
__ADS_1
"Kamu nggak salat?"
"Mas, aku haid."
Maher menarik napas panjang dan dalam lalu menunduk lemas.
Aku tengah menyiapkan pakaian Maher dan beberapa alat mandi ke dalam koper kecil miliknya saat dibawa ke rumahku selesai acara kemarin.
Maher memelukku dari belakang, meletakkan dagunya di bahuku. Mengembuskan napas berat di leher hingga bulu kudukku berdiri.
"Ah, Mas. Geli, tau!" protesku yang setengah mati menahan gejolak di dada. Ia meremas dada dengan kedua tangannya.
"Hanya ini yang bisa Mas lakuin untuk melepas rindu selama setahun." Aku berbalik menghadapnya, melingkarkan tangan di lehernya. Ia ******* bibirku dalam dan kian memburu, kusambut hangat ciuman itu.
Ia memelukku kian erat dan tidak ingin melepaskanku barang sedetik. Napasku juga tercekat karena tidak diberi kesempatan olehnya sekadar membuang napas.
"Kapan selesainya sih, Sayang?" tanyanya yang terus mendekap erat tubuhku. Menciumi bahu dan seluruh wajahku.
"Satu minggu dari sekarang. Tapi Mas, udah jauh di sana 'kan?"
"Tidak bisakah kamu ikut denganku?"
"Em, kalau aku ingin pindah ke sana maka aku harus membayar penalti, Mas. Begitu peraturan dari universitas. Karena bukan pihak mereka yang memindahkan tugas."
"Berapa?"
"Sekitar 40 sampai 80 juta. Kan sayang, Mas. Entar aja, saat kuliah libur aku datang ke sana, ya?"
"Janji?"
"Insya Allah, Mas."
Kami telah berada di Bandara mengantarnya untuk meninjau cabang pesantren yang dipimpin abi. Kata abi, alasannya memilih Maher karena ia tidak percaya dengan siapa pun selain Maher.
Keberangkatannya telah diumumkan. Maher menuju kabin pesawat, sebenarnya berat hati untuk melepasnya pergi. Tapi, ini permintaan abi.
Saat hampir menuju ke petugas Bandara, ia berbalik dan berlari kecil ke arahku. Membuat semua orang melihatnya menjadi pusat perhatian.
Ia memeluk tubuhku sekali lagi, dan menciumi pipi, kening, hidung hingga mengangkat daguku lalu ******* bibir ini untuk waktu yang lama. Aku melotot sempurna. Menepuk bahunya minta dilepaskan. Malu.
Abi, abah, mami, dan ibu jadi terlihat kikuk dan berpura mencari kesibukan entah membahas apa. Aku masih bisa melirik ke arah mereka yang tampak canggung. Sedangkan Daffa, justru menarik tubuh Maher untuk menjauh.
__ADS_1
"Udah cukup, Kak. Entar kamu kena undang-undang pornografi."
"Ck! Syirik aja, sih."