Phobia Malam Pertama

Phobia Malam Pertama
Melahirkan si Orok


__ADS_3

Maher berselawat di kupingku. Aku terus mengejan dipandu dr. Dewi yang sudah ada di bawah sana. Kakiku sudah terbuka sempurna, perawat menyuntik entah apa. Mungkin untuk merangsang si orok.


"Terus, ya, Bu. Ayo, Bu."


"Huh, huh," aku mulai mengejan sambil terus membuang napas kuat. Maher berada di atas kepalaku, mencium tanpa henti.


"Sayang, kamu bisa 'kan?"


Aku hanya mengangguk, kembali dokter memandu. Sekuat tenaga aku mengejan. Terasa seluruh tulang remuk bersamaan. Si orok juga ikut aktif ingin keluar sepertinya.


"Terus ya, Bu. Sekarang ambil napas, dulu. Lalu buang, ayo.kita mulai lagi," sambung dokter juga perawat.


Aku meremas kedua ujung bantal dan mengejan kuat, sedikit berteriak untuk mendapat kekuatan.


"Sedikit lagi, Bu. Kepalanya hampir kelihatan itu. Ayo, Bu."


"Huh, huh."


Aku kembali mengejan kuat, Maher terus saja berada di pucuk kepalaku. Tak lupa ia ikut mengenggam jariku yang ada di ujung bantal.


"Owek, owek." Suara tangisan bayi terdengar, aku mengembuskan napas lega. Maher mendaratkan kecupannya lama sekali. Rasa sakitku hilang seketika mendengar suaranya.


Bulir bening luruh di ekor mataku, begitu juga kulihat Maher yang menyapu ujung matanya. Ia tersenyum bahagia, kini bayi perempuan cantik berada digendongan dokter Dewi.


Mereka melangkah mendekatiku. Perawat tengah menyelesaikan pekerjaan mereka di bawah sana.


"Bayinya cantik, persis ayahnya. Saya mandikan dulu, ya, Pak, Bu."


Maher mengernyitkan alisnya, tatapannya tidak lepas dari anak perempuan yang masih setia menangis digendongan dokter Dewi.


Cukup lama ia melihat ke arah putri kesayangannya itu. Ia beralih padaku.


"Makasih, Sayang. Cukup ya, Mas nggak mau tambah anak lagi."


Aku mengangguk, benar sakitnya luar biasa nikmat. Perjuangan panjang untuk menghadirkan dia ke dunia ini.


Perawat telah selesai, mereka menurunkan kakiku dan meluruskannya. Sepertinya aku telah bersih dari sisa-sisa darah melahirkan si orok.


Maher menciumi seluruh wajahku. Tidak henti-hentinya ia berterimakasih. Kubalas hanya dengan senyuman bahagia.


"Pak, Bu. Ini anaknya sudah bisa digendong."


Jelas, Maher yang pertama kali menggendongnya untuk mengkhomadkan. Tugas seorang ayah adalah, mengkomadkan dan menikahkan anak perempuannya.


Pelan memang dia melantunkan khomad, tapi berhasil membuatku menitikkan air mata. Aku meminta suster untuk mengabadikan momen itu. Menyuruhnya mengambil ponsel yang ada di sekitar tas Maher, di ujung sana.


Dokter tampak tersenyum bahagia. Mungkin situasi sekarang memiliki arti sendiri untuknya.


Setelah selesai, Maher kembali memberikannya pada dokter Dewi. Lalu ia menyerahkan bayi yang sudah dibalut kain bedongan itu ke genggamanku, setelah dibantu salah satu perawat aku duduk di kursi roda.


"Panjang bayinya 57 centimeter, beratnya 2.7kg. Termasuk mungil bayi ini," ucap dokter Dewi. Kami hanya tersenyum dan fokus pada perempuan yang ada dalam gendonganku.


"Sekarang, antar Bu Siti Maryam ke kamar rawat inap, ya. Sore nanti kita akan kontrol lagi. Bayinya, belum bisa satu ruangan sama Ibu dan Bapak, ya. Kita letakkan dia di ruangan khusus bayi."


"Kenapa gitu, Dok? Kalau ketuker gimana?"


"Hehe, ya nggak mungkinlah, Pak. Ini," wanita yang mengenakan jas putih ini menunjuk kotak bayi yang sudah bertuliskan nama Siti Maryam dan deskripsi anakku.


"Ini sudah ada keterangan bayi ini milik siapa ya, Pak. Jam kunjungan untuk bayi juga sudah ditetapkan dari pihak rumah sakit. Ada kalanya nanti kita akan bawa dia ketemu sama Bapak dan Ibu, meski hanya siang dan Malam di jam-jam tertentu.


Mulut Maher membulat mendengar penjelasan dokter Dewi. Kami masih tidak rela sebenarnya berpisah dengan si orok. Kami menatap lekat wajahnya yang memang duplikat Maher, jari-jari kecilnya, hidung runcingnya, serta kulitnya yang berwarna merah. Ah, gemasnya.


Masya Allah sekali, Allah menghadirkan dia ditengah-tengah keluarga kami. Semoga menjadi anak yang salihah. Kalau boleh minta, omeshnya jangan ngikuti Papanya. Takut, soalnyan ini anak perempuan.

__ADS_1


"Mirip banget sama Mas ya, Sayang."


"He eh." Bayi merah ini tampak mengulet, mulutnya terbuka seperti tengah meminta sesuatu. Lucunya, melihat aksinya. Sekian detik kemudian ia menangis sekencang-kencangnya.


"Pak, silakan beli botol susu untuk bayinya ya. Sekalian juga susu formula untuk bayi 0-1 bulan di apotek bawah," perintah suster yang ada di belakangku. Aku menggoyangkan tangan berharap ia akan berhenti menangis. Namun, tangisnya justru semakin kencang.


"Gimana ini, Sus?"


"Nggak apa-apa, Bu. Semakin sering nangis saat baru lahir begini, justru akan baik untuk bayinya."


"Oh, ya?"


"Ya, Bu."


Maher kembali dengan kantong plastik berisi sesuai perintah suster tadi. Perawat satunta dengan sigap mencuci botol dan menyiapkan susu untuk si orok.


Ujung botol yang berbentuk karet itu sudah berada di mulut bayiku, tapi dia belum bisa mengisapnya. Ia justru marah karena tak kunjung mendapat asupan. Aku dan Maher tertawa melihatnya.


"Jadi, gimana ini, Sus? Dia nggak bisa minumnya pake itu."


"Pelan-pelan nanti bisa kok, Bu. Sekarang saya ambil alih ya, Bu anaknya. Ibu juga harus diantar teman saya ke ruangan rawat inap."


"Baiklah." Meski mata, hati dan jiwaku sebenarnya tidak rela kalau gadis mungil itu harus berpisah denganku.


Maher mengusap bahuku lembut. "Jangan sedih, Sayang. Nanti kita bisa ketemu dia lagi."


"Ya, Mas."


Kedua suster berjalan dengan berlawanan arah. Ruangan VIP sengaja dipilih Maher demi kenyamananku selama di rumah sakit.


Kami sampai di kamar yang tidak jauh di ruangan bayi, hanya terhalang tiga ruangan dari tempatnya. Saat akan masuk ke ruangan, ibu beserta rombongan tiba di sini.


"Siti, Safar, kalian kok nggak lebih cepat kabari Ibu. Harusnya 'kan Ibu bisa temeni dan lihat Siti melahirkan."


"Mas Safar aja cukup, Bu. Lagian, dini hari juga. Nggak mungkin ganggu Ibu."


"Apa anak kamu, Safar? Di mana sekarang cucu Mami. Semua normal, kan?"


"Mi, tanyanya satu-satu dong. Safar bingung itu mau jawab pertanyaan Mami yang mana dulu," timpal abah yang berdiri tidak jauh dari mami.


Daffa menyusul dan Khaira juga ikut serta. Kami dipandu masuk ke ruangan yang berAC dengan fasilitas lengkap, setelah perawat membuka kunci pintunya.


Perlahan Maher membantuku bangkit dari kursi roda untuk duduk di brankar. Selang infus di tangan sebelah kiri, membuatku tidak bisa sembarangan bergerak. Setelah botol infus dipasang di tiang, perawat memutuskan untuk pergi dan akan kembali mengontrol pasien beberapa jam lagi dari sekarang.


"Makasih, Sus."


"Sama-sama, Bu."


Ibu dan Mami meletakkan tas mereka di meja dekat sofa. Abah juga abi mendaratkan bokong di sana. Sedangkan Daffa dan Khaira masih setia berdiri.


Ibu duduk di brankar, berjarak beberapa centimeter dariku. Beliau mengusap pipiku lembut. "Kamu sudah jadi seorang ibu sekarang, Sayang. Kamu hebat," ucap beliau yang matanya sudah mendung.


"Alhamdulillah, Bu."


"Udah toh, Jeng. Siti 'kan baik-baik aja. Kok malah jadi mewek begini. Bahagia dong, kita ini sudah jadi nenek dan oma. Mana masih muda lagi, masih fit bawa cucu ke mana-mana."


Ibu mengangguk, lalu beliau memelukku. Tidak lama ia melepaskan dekapannya.


"Mami turut bahagia, Siti. Kamu melahirkan keturunan dari Safar. Anak kesayangan Mami. Makasih ya, Sayang." Aku mengangguk.


"Daffa bukan anak kesayangan Mami?" celetuk Daffa tiba-tiba. Maher langsung saja memfiting adiknya itu.


"Kak, lepasin!" pinta Daffa yang memukul lengan Maher.

__ADS_1


"Daffa, Safar," ucap abah penuh penekanan. Maher langsung melepaskan cengekeramannya.


"Bayinya laki atau perempuan, Bu?" tanya Khaira seraya meletakkan buah di nakas.


"Perempuan, Ra. Cantik seperti kamu."


"Dia cantik Mbak bilang?" Daffa langsung memekikkan suaranya, Khaira menunduk dalam lalu pamit keluar. Daffa mengejarnya.


"Dasar Daffa. Nggak peka sama hati perempuan," timpal Maher.


"Biarin mereka menyelesaikan urusannya sendiri. Kita yang sudah tua nggak usah ikut campur ya, Ustadz," timpal abah yang terlihat menyunggingkan senyum.


**


Sejak hari di rumah sakit kemarin, Daffa dan Khaira menjadi lebih berhati-hati dalam berucap. Seperti sekarang, Khaira masih saja ikut menemani Daffa menantikan kepulanganku dari rumah sakit.


Maher dan Daffa tengah keluar. Maher mengurus biaya administrasi, entah bagaimana dengan Daffa.


"Skripsi gimana, Ra?"


"Alhamdulillah, sudah selesai, Bu. Meja hijau juga sudah. Tinggal nunggu jadwal wisuda, Bu."


"Alhamdulillah kalau begitu. Daffa, gimana?"


"Sama, Bu. Tinggal nunggu juga."


"Bukan, maksud saya, kamu sama Daffa gimana?"


"Lho, kok nggak tahu?"


"Daffa jelas tahu hati saya, Bu. Saya sudah mengungkapkannya kali terakhir datang ke sini."


"Oh, ya?"


"Ya, Bu. Tapi ya, gitu."


Aku menepuk bokong bayi yang sudah kugendong, berharap ia tertidur pulas. Nabila Shafira Safarudin, itu nama gadis kecil kami. Berharap ia secantik putri dan bersinar seperti batu safir.


Arti nama sebenarnya adalah Wanita terhormat dan pintar. Papanya bernama Safar jadi, kami sepakat menyamakan dan artinya yang cukup bagus, membuatku jatuh cinta untuk menamainya itu. Semoga, parasnya secantik nama yang kami pilih untuknya.


Sesampai di rumah kami, semua orang menyambut Nabila Shafira Safarudin dengan penuh suka cita. Bu ira juga turut hadir bersama seorang pria yang cukup tampan menurutku. Entah, dia bertemu dari mana pria bertubuh atletis juga wajah mulus ini.


Umi, Fadila dan Pasha menyiapkan surprise untuk kedatangan kami. Ruangan yang serba putih disulap dengan dekorasi warna merah muda, tidak lupa nama buah hati kami tertulis di sana.


Abah, abi, mami juga ibu sudah menyiapkan meja yang dipenuhi makanan. Semuat bersorak gembira. Fotografer juga sudah hadir untuk mengabadikan momen indah ini.


Di tengah-tengah kebersamaan semua orang yang menyambut kelahiran putriku, Daffa terlihat keluar sebentar. Gadis kecil dalam gendonganku ini diambil paksa oleh ibu juga mami.


Mereka rupanya sengaja melakukan itu untuk mendandani putriku. Tidak lupa, aku juga jadi objek utama Fadila juga Umi. Anak-anak mereka bersama sang suami yang sigap membantu mengurusnya.


Bajuku juga Nabila kompak. Lalu Daffa datang dan menyodorkan baju senada pada Maher. Ternyata ini memang sudah direncanakan mereka dengan matang. Pantas, saat aku minta mereka semua hadir di rumah sakit, pada mangkir.


Hanya Daffa yang bersedia. Suka cita kami rasakan di sini. Benar-benar diliputi kebahagiaan untuk semua orang. Terkecuali Daffa juga Khaira yang masih menggantun status hubungan mereka.


Saatnya kami menikmati hidangan yang sudah disiapkan mami juga Ijah. Ijah sudah mengenakan hijab sekarang, alhamdulillah melihat perubahannya.


Masih asyik menikmati hidangan, tiba-tiba Daffa meminta semua orang untuk diam. Daffa tampak menarik napas panjang. Lalu dengan begitu yakin ia berkata pada mami juga abah.


"Mami, Abah, aku ingin menikah dengan Khaira," ucapnya yang membuat Khaira menutup mulutnya karena kaget.


Kami semua juga sama kagetnya, lalu beralih tidak peduli. Asyik terus menyantap.


"Mi! Abah! Daffa serius!"

__ADS_1


Abah berjalan mendekat, "Apa kamu siap menikah malam ini?"


End


__ADS_2