
"Aku pergi ya, Sayang. Assalamualaikum. Aku sayang kamu," ucapnya lagi lalu mencium keningku sangat lama.
"Ck! Kak!" bentak Daffa yang mungkin terbakar cemburu melihat kemesraan kami di depannya.
***
Pernikahan Fadila digelar hari ini. Ia sudah Bersungut-sungut kepadaku. Umi yang tampak ditemani suaminya, memeluk lengan kekasih halalnya.
Aku sudah izin sebelumnya pada Maher akan menghadiri hajatan ini. Ia memintaku untuk mengajak abi juga ibu. Meski dia jauh di sana, peraturannya tetap berjalan.
Pasha terlihat hadir memenuhi undangan. Beberapa hari terakhir ia memang tidak kelihatan, entah sengaja menghindari pesta pernikahanku atau tengah bekerja di luar kota.
Abi juga ibu sebenarnya sudah hilang respect padanya sejak hari itu. Abi sengaja memanggilnya menjadi saksi pernikahanku ingin menyadarkan Pasha bahwa ia tidak pantas bersanding denganku.
"Sayang, kita pulang sekarang, ya," ajak ibu saat melihat Pasha hadir. Pasha yang dari kejauhan memandangku perlahan berjalan mendekat ke arah kami.
"Assalamualaikum, Ustadz, Bu Rahma."
"Waalaikumsalam," jawab ibu ketus, aku langsung menundukkan pandangan. Ingat kata-kata Maher, zina mata.
"Kamu apa kabar, Ti?"
"Alhamdulillah, baik."
"Alhamdulillah. Ustadz, kenapa Anda tidak mengizinkan saya untuk menikahi Siti Maryam?" tanyanya tiba-tiba membuat beberapa orang yang mendengar menoleh ke arah kami.
Abi menyorot tajam melihat Pasha. Ia siap menerkam Pasha jika tidak ingat ini di hajatan orang.
"Siti, ayo kita pulang!"
"Ya, Bi."
Sesampai di rumah, abi mengeluarkan uneg-unegnya. Suaranya begitu menggelegar mengatakan tidak suka pada Pasha.
"Udah, Bi. Nanti hipertensi Abi kumat. Biarkan saja dia berkata apa."
"Ya, tapi dia nggak pantas mengatakan itu, Bu! Abi sengaja memintanya jadi saksi pernikahan Siti sama Safar supaya dia itu sadar dan tidak berharap menjadi menantu Abi. Tapi, tuh anak kurang ajar."
"Astaghfirullah, Bi. Nyebut, Bi. Abi ini Ustadz, omongannya harus dijaga."
"Astaghfirullahalazzim." Abi mengusap wajah gusar lalu pergi ke kamar mandi.
Ponselku berdering, Maher melakukan panggilan video. Aku pamit pada ibu untuk pergi ke kamar.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Sayang."
"Walaikumsalam, Mas. Kamu lagi nggak sibuk?"
"Nggak, ini lagi istirahat," ucapnya menunjukkan sekeliling yang terlihat beberapa santri tengah bersantai, ada juga yang membawa mushaf, "gimana acaranya tadi?"
"Alhamdulillah, lancar Mas."
"Em, kamu udah selesai haid?"
"Udah, Mas."
"Uh, Mas jadi pengen nerkam kamu, nih. Lihat," tunjuknya mengarahkan kamera belakangnya ke bagian bawahnya, "dia udah siap tempur nih, Sayang."
"Ih, Mas. Apaan, sih. Kita tuh lagi jauh. Mas juga, entar kalau guru-guru atau santri di sana dengar gimana?" Ia terkekeh mendengar ucapanku, sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Habisnya Mas kangen kamu. Sudah azan, Sayang. Mas salat Zuhur dulu, ya. Entar malam kita sambung lagi. Assalamualaikum." Aku menjawab salam dan mematikan panggilan itu. Segera menuju kamar mandi untuk salat.
DUa tahun sudah pernikahan kami, Umi sudah memiliki seorang jagoan yang sangat mirip dengannya. Fadila, ia tengah mengandung tujuh bulan.
Pasha, masih setia dengan status lajangnya. Tidak banyak yang berubah darinya, hanya situasi kami yang tak mungkin lagi untuk bercengkerama seperti dulu.
Liburan semester lalu, aku ingin mengunjungi Maher tapi kondisi fisikku lemah dan dilarikan ke rumah sakit. Beruntungnya ia mengerti. Maher sibuk akan pulang, tetapi aku cegah.
Aku lebih rajin konsultasi ke dokter mengenai psikis tentang trauma yang tak kunjung hilang. Terlebih melihat Pasha, masih terngiang wajah beringasnya.
Aku berkumpul dengan para sahabatku, sudah lama sejak aku tidak ngobrol intens. Meski Umi kerepotan dengan membawa jagoannya yang bernama Muhammad Kahfi, tapi suaminya rajin membantu.
Aku yang gemas dengan bocah berbadan gembul ini langsung menggendongnya.
"Kamu udah pantas tau! Kenapa ditunda, sih?" kata Umi yang menyantap makanan di hadapannya.
"Tau, nih! Dia duluan yang nikah masa' aku duluan yang hamil," protes Fadila tengah mengunyah apa pun hingga mulutnya penuh.
"Gimana mau hamil, aku tuh masih takut begituan," ucapku sambil bermain dengan Kahfi.
"Sakit bentaran doang, Ti. Lupain deh, pikiran-pikiran itu."
"Kalian nggak tahu, sih gimana posisinya jadi aku," ucapku memelas lalu meletakkan Kahfi di kereta dorongnya.
"Lagian, suami diizinin jauh-jauh. Mana lama lagi," tandas Fadila yang membuatku menaikkan sudut bibir.
"Ya, gimana. Permintaan Abi. Kalian tahu sendiri Abi nggak bisa dibantah."
__ADS_1
"Kenapa nggak kamu aja yang ke sana, Ti?"
Aku membuang napas lemas, bukan tidak ingin meminta untuk pindah tugas ke sana. Tapi dendanya itu di luar nalar. Delapan puluh juta, mending duitnya untuk aku berkunjung sekalian healing.
"Lagian, udah tau 'kan ceritanya. Nggak perlu aku jelasin ulang." Mereka manggut-manggut.
"Assalamualaikum." Pasha ikut nimbrung yang ditemani oleh suami Umi. Ya, agar terhindar dari fitnah. Aku menunduk tidak ingin menatapnya meski kadang sekilas terlihat, Pasha memandangku lekat.
Aku tidak pernah bercerita mengenai kejadian beberapa tahun lalu pada sahabatku. Aib, harus aku tutupi rapat-rapat.
Ponselku berdering, ini jadwal aku ke psikiater untuk melakukan pengobatan soal phobia disentuh oleh pria.
"Aku pamit, ya. Hari ini jadwal ke psikolog."
"Aku antar ya, Ti?"
"Nggak usah. Bukan mahrom. Assalamualaikum."
Aku menyetir sendiri menuju praktek dokter Desi Khumairah. Ya, aku lebih leluasa ditangani oleh sesama jenis. Jadi bisa bercerita apa saja.
"Dok, saya sudah beberapa kali mencoba untuk ritual malam pertama, tapi pikiran-pikiran dan wajah lelaki itu selalu menari-nari di pikiran saya."
"Coba Anda bayangkan suami Anda yang menyentuhnya. Ingat semua perlakuan manisnya, kasih sayangnya, pelukan hangatnya. Lalu bayangkan yang indah-indah bersamanya. Insya Allah, Anda bisa lepas dari bayangan masa lalu yang menyakitkan."
"Kalau gagal gimana, Dok?"
"Dicoba dulu. Nanti saya kasih resep untuk menenangkan Anda ketika gejala itu muncul lagi, ya."
"Terima kasih, Dok. Assalamualaikum."
Aku keluar dari sana dan menuju ke rumah mertuaku. Beliau menelepon tadi, meminta diantar ke butik langganannya. Tidak banyak tuntutan dari beliau, meski sampai saat ini aku belum juga hamil. Sepertinya ia sadar dengan jarak kami.
"Mi, Daffa ikut, ya?"
"Nggak! Mami cuma pengen berduaan sama Siti."
Daffa mendekat ke arahku dan berbisik, "Bu, Anda apa tidak ingin berada di dekatku?" tangannya menyapu punggung tanganku, sontak aku menariknya cepat. Aku menjauhkan wajah, tidak ingin dekat-dekat.
Rasullullah pernah berkata bahwa ipar adalah maut. Itu juga yang harus aku hindari, yang jelas aku tahu Daffa menaruh hati padaku sejak dulu.
Menjaga marwah sebagai istri. Setiap langkah, aku melapor pada Maher. Begitu pun dengannya. Jadi, walaupun jauh komunikasi tetap lancar, kala malam kami video call melepaskan rindu. Kadang aksi nakalnya membuatku ingin segera bertemu dengannya.
"Yuk, Sayang. Mami udah siap, nih."
__ADS_1
"Ya, Mi."